SATU
LUKA
besar di bekas kutungan tangan kanannya itu membuat tenaganya semakin lama
semakin mengendur. Kalau tadi dengan segala tenaga yang ada macam manusia dikejar
setan dia melarikan diri dari pekuburan Djatiwalu itu, maka kini jangankan
lari, berjalan melangkahpun dia sudah tidak sanggup. Tubuhnya terhuyung-huyung. Nafasnya megapmegapseperti mau sekarat!
Saat itu dia berada di tepi sebuah
jurang. Dalam larinya tadi dia tak memperhatikan lagi ke mana tujuannya
sehingga di mana dia berada saat itu adalah satu tempat yang jarangdidatangi
manuisia. Sunyi senyap mencengkam menegakkan bulu roma. Matanya yang
berkunang-kunang, pemandangannya yang semakin mengelam dan daya tenaga yang
sudah habis sampai ke batasnya membuat tubuhnya tak ampun lagi jatuh terperosok
ke dalam jurang ketika salah satu kakinya terserandung di bebatuan yang
menonjol di tepi jurang.
Masih untun jurang itu bukanlah
jurang batu, tapi jurang yang penuh ditumbuhi semak belukar. Tubuhnya
menggelinding ke bawah membentur semak belukar mengait rantingranting pepohonan
rendah. Sakit tubuhnya bukan main, apalagi bekas luka kutungan di
tangankanannya. Ketika dia terhampar di dasar jurang, dia tiada sadarkan
diri lagi!