SATU
LUKA
besar di bekas kutungan tangan kanannya itu membuat tenaganya semakin lama
semakin mengendur. Kalau tadi dengan segala tenaga yang ada macam manusia dikejar
setan dia melarikan diri dari pekuburan Djatiwalu itu, maka kini jangankan
lari, berjalan melangkahpun dia sudah tidak sanggup. Tubuhnya terhuyung-huyung. Nafasnya megapmegapseperti mau sekarat!
Saat itu dia berada di tepi sebuah
jurang. Dalam larinya tadi dia tak memperhatikan lagi ke mana tujuannya
sehingga di mana dia berada saat itu adalah satu tempat yang jarangdidatangi
manuisia. Sunyi senyap mencengkam menegakkan bulu roma. Matanya yang
berkunang-kunang, pemandangannya yang semakin mengelam dan daya tenaga yang
sudah habis sampai ke batasnya membuat tubuhnya tak ampun lagi jatuh terperosok
ke dalam jurang ketika salah satu kakinya terserandung di bebatuan yang
menonjol di tepi jurang.
Masih untun jurang itu bukanlah
jurang batu, tapi jurang yang penuh ditumbuhi semak belukar. Tubuhnya
menggelinding ke bawah membentur semak belukar mengait rantingranting pepohonan
rendah. Sakit tubuhnya bukan main, apalagi bekas luka kutungan di
tangankanannya. Ketika dia terhampar di dasar jurang, dia tiada sadarkan
diri lagi!
Dia – Kalingundil – beberapa jam
yang lalu telah bertempur melawan seorang pemuda sakti bernama . Dalam
pertempuran itu bukan saja dia terpaksa melarikan diri tapi juga terpaksa
kehilangan tangan kanannya karena telah dibetot puntung oleh lawannya!
Dan mengingat ini, diantara rasa
sakit yang tiada terkirakan, memerih pula rasa dendam kesumat yang amat sangat.
Walau bagaimanapun dia musti dapat meneruskan hidupnya, meski cuma bertangan
sebelah. Meski bagaimanapun dia harus dapat membalaskan dendam kesumat akibat
perbuatan pemuda yang telah membuat dia
cacat seumur hidup itu.
Ketika kedua matanya melihat
bintang-bintang yang bermunculan di langit di atasnya barulah disadarinya bahwa
hari sudah menjadi malam. Kalingundil tahu bahwa semalammalaman itu dia tak
akan bisa terus terbujur di situ. Dipalingkannya kepalanya ke kanan.
Hanya semak belukar dan pohon-pohon
berdaun lebar yang dilihatnya dalam kegelapan. Kemudian dipalingkannya pula
kepalanya ke samping kiri. Mula-mula juga hanya kegelapan yang dilihat lelaki
itu. Namun samar-samar kemudian diantara semak belukar dalam kegelapan itu
matanya masih dapat melihat satu legukan batu di dasar jurang. Jaraknya dengan
tempat dia terbujur saat itu kira-kira sepuluh tombak. Dari pada terbujur di
tempat terbuka begitu, Kalingundil berpikir lebih baik pindah tempat ke cegukan
batu itu.
Tapi dengan keadaan dan kekuatan
badan seperti itu tidak mudah bagi Kalingundil untuk berpindah tempat.
Jangankan untuk berdiri, merangkakpun tidak bisa. Jangankan untuk beringsut, bergerak sedikitpun sekujur tubuhnya
terasa sakit bukan main, tulang-tulang anggotanya serasa bertanggalan! Namun
dengan keyakinan penuh untuk bisa menyelamatkan diri, dengan mengumpulkan
segala sisa tenaga yang masih ada, seingsut demi seingsutakhirnya berhasil juga
Kalingundil mencapai legukan batu itu. Ternyata legukan ini adalah mulut sebuah
goa. Dan pada saat itu dia berhasil mencapai mulut goa itu, untuk kedua kalinya
Kalingundil jatuh pingsan kembali.
Kalingundil sadarkan diri pada
keesokan paginya. Beberapa jam sesudah matahari terbit. Anehnya tubuhnya terasa
lebih mendingan dibandingkan dengan keadaan hari kemarin.
Kalingundil tak habis pikir, kenapa
hal ini bisa terjadi. Bahkan ketika dia coba menggerakkan badan dirasakannya
kekuatannya yang malam tadi sudah habis sampai ke batas terakhir kini mulai
berangsur kembali. Dia duduk bersandar ke dinding goa. Pada saat itulah
dirasakannya bahwa dari dalam goa keluar semacam hawa yang lembab ngilu-ngilu
kuku. Hawa inilah agaknya yang telah mempengaruhi keadaan diri Kalingundil yang
telah memberikankepulihan kekuatan kepadanya.
Kemudian sewaktu dia memandang
meneliti ke dinding goa di sekelilingnya, samarsamar, tertutup oleh debu yang
menebal, tergugus oleh ketuaan zaman, Kalingundil melihat banyak sekali
tulisan-tulisan. Tulisan-tulisan ini kacau balau tak teratur, tapi bila dibaca
dan disambung satu persatu, akan merupakan rentetan kalimat yang memberi
pengertian pelajaran ilmu silat! Semakin lebar Kalingundil membuka kedua
matanya. Apa yang dibaca olehnya itu memang sulit dimengerti mula-mula, ini
lain tidak karena tulisan itu menerangkan tentang pelajaran silat yang memang
mempunyai dasar-dasar aneh serta tak diketahui dari cabang aliran mana. Semakin
naik matahari, semakin baikan terasa oleh Kalingundil keadaan badannya.
Dengan mebungkuk-bungkuk dan
tertatih-tatih, setelah habis dibacanya sekalian apa yang tertulis dibagian goa
sebelah luar itu maka Kalingundil memasuki goa lebih jauh.
Semakin ke dalam semakin terasa hawa
lembab yang hangat-hangat ngilu-ngilu kuku tadi. Menghirup udara itu
Kalingundil merasakan tubuhnya segar, dadanya lega. Dan semakin ke dalam
semakin banyak banyak dilihat Kalingundil tulisan-tulisan. Apa yang tertulis
kini adalah mengenai pelajaran ilmu pedang yang aneh dan tak pernah didengar
oleh Kalingundil sebelumnya. Tapi sayang sebagian besar tulisan-tulisan yang
bersifat pelajaran itu sudah tidak
kelihatan atau kabur tak dapat
dibaca lagi.
Hawa hangat ngilu-ngilu kuku semakin
santar terasa. Kalingundil terus juga masuk ke dalam goa itu sampai akhirnya
langkahnya terhenti pada satu pemandangan yang hampir tak dapat dipercayainya.
Goa itu berakhir pada sebuah telaga
kecil. Telaga ini lebih tepat disebut kolam karena tepinya dikelilingi oleh
batu-batu. Air telaga berwarna biru gelap dan mengepulkan asap kebiruan. Asap
inilah yang berhawa hangat ngilu-ngilu kuku dam mempunyai kekuatan ajaib yang
menyegarkan tubuh Kalingundil! Di tengah kolam itu terdapat sebuah batu licin
yang juga berwarna biru dan diatas batu ini terletak sebuah pedang yang telah
buntung, yangpanjangnya cuma dua jengkal. Seperti air kolam dan batu licin,
senjata ini juga berwarna dan memancarkan sinar biru. Mengapa pedang itu
tinggal buntung sedemikian rupa, kemana bagian yang lancip lainnya? Dan mengapa
sampai benda itu berada di situ?
Berdiri beberapa lama di tepi kolam
itu Kalingundil merasakan badannya semakin segar. Sedang ketika diteliti luka
di bahu kanannya yang buntung itu, luka itupun kelihatannya lebih sembuhan dari
saat-saat sebelumnya.
“Air kolam ini mengandung khasiat
yang hebat..,” pikir Kalingundil. Dia
membungkuk untuk menyiduknya dan
sekaligus untuk melihat lebih dekat pedang buntung yang di atas batu. Namun
setengah membungkuk, gerakannya terhenti. Di dinding goa di sebelah belakang
kolam, di balik kepulan asap samar-samar terlihat barisan huruf-huruf yang
sudah agak sukar untuk dibaca tapi masih dapat dikira-kirakan oleh Kalingundil.
Di situ tertulis:
GOA INI “GOA SILUMAN BIRU”
KOLAM INI “KOLAM SILUMAN BIRU,”
PEDANG DI ATAS BATU “PEDANG SILUMAN
BIRU,”
CUMA SAYANG KINI HANYA TINGGAL HULU
DAN BUNTUNG,
SIAPA BISA MENDAPATKAN UJUNG PEDANG
YANG HILANG DAN
MENYAMBUNGNYA,
SIAPA YANG MEMPELAJARI ILMU PEDANG
DALAM GOA INI, AKAN
MENJADI “RAJA PEDANG” SEUMUR
HIDUPNYA.
Membaca rangkaian kalimat itu,
Kalingundil kemudian memandang berkeliling. Apa-apa yang telah dibacanya tadi
sejak dari mulut goa sampai ke tepi kolam yaitu tulisan-tulisan di dinding goa
semuanya memang merupakan suatu ilmu silat dan ilmu pedang yang aneh.
Segala sesuatu yang ditemuinya di
dalam goa itu memberikan kenyataan kepada Kalingundil bahwa dulunya goa itu
adalah tempat kediaman seorang sakti yang bersenjatakan pedang bernama “Pedang
Siluman Biru” itu. Tapi kenapa pedang itu kini hanya tinggal begitu rupa, dan
ke mana buntungnya yang lain?
Untuk keda kalinya Kalingundil
membungkuk. Dengan tangan kirinya dijangkaunya pedang Siluman Biru. Pada detik
jari-jari tangannya memegang hulu senjata itu maka aneh sekali mengalirlah
suatu aliran yang membuat kekuatan Kalingundil dan keadaan tubuhnya benar-benar
pulih seperti sediakala! Bahkan bukan itu saja, kini tubuhnya juga terasa lebih
enteng. Dan ketika dicobanya menyiduk air kolam, lebih banyak kekuatan-kekuatan
dan keanehan-keanehan baru yang dialaminya!
Kalingundil gembira sekali.
Tanpa menunggu lebih lama dia
berlutut di tepi kolam dan berkata: “Pemilik Goa Siluman Biru, dimanapun kau
berada, siapapun kau adanya, aku Kalingundil mengucapkan terima kasih karena
apa yang ada dalam goamu ini telah menyembuhkan aku dari sakit dan luka yang
aku alami. Hari ini aku – Kalingundil – mengharapkan segala kerelaanmu untuk
sudi mengangkat kau sebagai guru. Apa-apa yang tertulis di goamu ini akan
kupelajari dengan
tekun…”
Demikianlah mulai hari itu dengan
seorang diri dia menekuni setiap apa yang tertulis di dinding goa. Ilmu silat
dan ilmu pedang yang coba dipelajarinya seorang diri itu yang hilang dan tak
terbaca sehingga dari keseluruhan Ilmu Pedang Siluman yang dipelajari
Kalingundil, hanya sepertiganya saja yang berhasil didapat dan difahami oleh
Kalingundil.
Namun demikian itupun sudah luar biasa sekali.
Sehingga empat bulan kemudian ketika dia keluar dari Goa Siluman itu, maka
Kalingundil yang kini sudah berobah seratus delapan puluh derajat dalam ilmu persilatan! Dan ini
menambah keyakinan Kalingundil bahwa dia akan berhasil menuntutkan sakit
hatinya terhadap pendekar 212, !
DUA
MENCARI seorang musuh di daratan
pulau Jawa yang luas bukan suatu pekerjaan
mudah. Ratusan kilometer harus
dijalani, puluhan bukit harus didaki dan dituruni, belasan
sungai musti diarungi, diseberangi
belasan rimba belantara harus dimasuki dan diantara
semua itu puluhan halangan harus
dihadapi. Halangan atau bahaya yang ditimbulkan alam
sendiri serta yang ditimbulkan oleh
manusia-manusia yang hidup dalam itu, terutama sekali
dalam rimba dunia persilatan!
Mungkin berbulan-bulan, mungkin pula bertahun-tahun baru
musuh besar itu berhasil dicari.
Tapi sebaliknya mungkin pula itu tak pernah berhasil,
mungkin si pencari musuh besar itu
akan tertimpa bahaya lebih dahulu dalam perjalanan dan
meregang nyawa sebelum dendam
kesumat terbalaskan.
Kalingundil tahu semua itu. Tapi dia
tidak khawatir. Dengan ilmu baru yang kini
dimilikinya, meski tidak sempurna,
dia yakin akan sanggup untuk menghadapi segala sesuatu
dalam perjalanannya mencari pendekar 212, musuh besar yang telah membuat
tangannya
buntung, yang telah membuat dia cacat seumur hidup! Disamping itu Kalingundil
memang
sudah punya rencana tersendiri untuk menjelaskan persoalan dendamnya dengan
pendekar
212. Dia yakin akan dapat menemui pemuda sakti itu dan dia yakin pula bahwa
rencana
besarnya untuk menuntut balas akan berhasil!
Pertama
sekali ditemuinya Mahesa Birawa atau Suranyali di Pajajaran karena terakhir
sekali
diketahuinya bekas pemimpin dan guru silatnya itu tengah berada di kerajaan
itu.
Namun
sampai di sana
Kalingundil kecewa besar. Bahkan juga dendam yang ada di dalam
hatinya
jadi tiada terkirakan bahwa Mahesa Birawa telah menemui ajalnya, mati ditangan
,
sewaktu terjadi pemberontakan besar-besaran tempo hari.
Dengan
segala dendam kesumat yang semakin dalam berurat berakarnya itu
Kalingundil
meninggalkan Pajajaran. Diseberanginya sungai Kendang, diteruskannya
perjalanan
ke bukit Siharuharu yang terletak tak berapa jauh dari kaki gunung.
Pada
masa itu di puncak bukit Siharuharu terdapat sebuah perguruan silat yang
bernama Perguruan Teratai Putih.
Perguruan ini baru tiga tahun berdiri tapi sudah
mendapat nama tenar di di sapanjang
daerah perbatasan Jawa barat dan Jawa Timur. Bukan
saja karena Perguruan Teratai Putih
ini didirikan untuk menolong kaum yang lemah dan
menghancurkan golongan hitam
penimbul segala kebejatan dan malapetaka serta kemaksiatan
tapi juga adalah karena perguruan
silat ini dipimpin oleh seorang tokoh yang sejak sepuluh
tahun belakangan ini mendapat nama
tenar dalam dunia persilatan. Tokoh ini ialah
Wirasokananta, seorang tokoh silat yang berumur lebih dari setengah abad.
Pada saat itu Wirasokananta berada
di puncak Gunung Galunggung tengah bertapa
memperdalam ilmu bathin dan dan
mempersuci diri dari segala kekhilafan-kekhilafan dan
dosa-dosa yang pernah dibuatnya
selama hidupnya. Pimpinan perguruan diserahkannya pada
murid tertua, terpandai dan yang
paling dipercayainya yaitu Gagak Kumara.
Perguruan Teratai Putih saat itu
kelihatan diselimuti suasana ketenangan. Di dalam
rumah besar murid-murid perguruan
yang berjumlah delapan orang, enam laki-laki dan dua
perempuan duduk bersila dengan
khidmat mendengarkan apa uyang tengah dibacakan oleh
Gagak Kumara yaitu sebuah kitab yang
ditulis oleh guru mereka, mengenai sastra hidup,
kerohanian, kebathinan dan
keduniaan.
Suara Gagak Kumara terang dan jelas,
sedap didengarnya sehinga setiap nasihat dan
pelajaran yang dibacakannya dapat
segera dimengerti oleh saudara-saudara seperguruannya
yang tujuh orang itu.
“Dalam hidup ini…,” membaca Gagak
Kumara, “setiap manusia akan dan musti
melalui tiga tahap kehidupan.
Pertama saat atau dimana dia dilahirkan dari rahim ibunya ke
atas dunia ini. Kedua tahap selama
umur kehidupannya di dunia dan ketiga tahap dia
meninggalkan dunia ini, kembali pada
asalnya atau mati….”.
Samapi di situ pembacaan Gagak
Kumara maka di luar rumah besar terdengar suara
tertawa
bergelak yang disusul dengan ucapan: “Tepat… tepat… sekali! Lahir, hidup dan
mati!
Dibrojotkan
ke duni malang
melintang di dunia ini, dan akhirnya mampus! Ha… ha… ha….”.
Tentu
saja suara yang lantang mengumandang berisi tenaga dalam yang tinggi dan
yang
bernada menghina ini mengejutkan semua anak murid Perguruan Teratai Putih,
termasuk
Gagak Kumara sendiri! Semuanya sama memalingkan kepala ke pintu pada saat
mana
seorang laki-laki berpakaian lusuh, kotor, bermuka angker dan tangna kanannya
buntung berdiri diambang pintu.
“Sasudara, kau siapa…?” Tanya Gagak
Kumara sesudah meneliti sebentar diri tamu
tak dikenal itu. Dia tetap duduk
tenang di tempatnya dengan kitab masih terus di atas
pangkuannya.
“Tak perlu tanya dulu!,” menyahuti
laki-laki diambang pintu seraya menyeringai
buruk. “Bicaraku belum habis…!”
Beberapa orang diantara murid-murid
Perguruan Teratai Putih kelihatan menjadi
penasaran
dan menggeser duduk mereka. Namun dengan membrei isyarat diam-diam Gagak
Kumara
memberi kisikan agar jangan bertindak dulu.
Dan
orang yang diambang pintu meneruskan ucapannya. Terlebih dahulu dengan jari
telunjuk
tangan kirinya ditunjukkannya kitab yang ada dipangkuan Gagak Kumara. “Apa
yang tertulis di sana, apa yang kau
baca tadi betul sekali! Lahir, hidup, mati! Tapi apa kalian
di sini tahu bahwa segala apa yang
tertulis dan apa yang dibaca tadi itu hari ini akan kalian
alami sendiri…?”
“Apa maksudmu saudara?,” tanya Gagak
Kumara. Masih
tetap dengan tenang dan
tidak
beringasan.
Si
tangan buntung tertawa mengekeh. “Percuma saja kalau kalian memiliki kitab itu,
percuma
saja kalian memilikinya kalau kalian tidak tahu apa mkasud kata-kataku! Kalian
sudah
dilahirkan, kalian sudah pernah hidup malang
melintang di dunia ini, tapi kalian masih
belum
pernah merasakan kematian, belum pernah mencoba mampus! Nah… hari ini, untuk
membuktikan
kebenaran isi kitab butut itu, aku –Kalingundil – akan bersedia menolong
kalian
untuk mengetahui bagaimana rasanya mampus itu! Ha… ha… ha…!”
Maka
kini berdirilah Gagak Kumara dari duduknya. Kitab yang dipangkuannya dilipat
dan
diserahkan pada salah seorang saudara seperguruannya.
“Saudara,” kata Gagak Kumara pula. “Di dunia ini memang banyak orang-orang yang
berotak miring. Aku khawatir kau
adalah salah seorang dari mereka dan kesasar datang ke
sini!”
Kekehan Kalingundil terhenti.
Mukanya membesi. Rahang-rahangnya bergemeletuk.
Tangan kirinya bergerak ke pinggang
dan sekejapan mata kemudian tangan itu telah
memegang
sebilah pedang buntung yang memancarkan sinar biru. Pedang Siluman Biru!
Sekali
lihat saja, meski senjata itu buntung, namun murid-murid Perguruan Teratai
Putih
sama memaklumi bahwa pedang yang ditangan manusia tak dikenal dan mengaku
bernama
Kalingundil itu adalah sejenis senjata sakti, sekalipun puntung tapi tetap
berbahaya!
Tiba-tiba
Kalingundil berteriak nyaring. Tubuhnya melompat ke muka, pedang
buntung
bergerak, sinar biru membabat ke samping dan kini tidak sungkan-sungkan lagi
melepaskan
pukulan tangan kosong yang mengandung tenaga dalam yang tinggi. Namun
betapa
terkejutnya Gagak Kumara ketika sambaran pedang buntung di tangan lawannya
membuat
angin pukulan tenaga dalamnya terpental ke samping!
“Saudara-saudara!,” seru salah
seorang anak murid Perguruan Teratai Putih. “Manusia
kesasar macam begini tak perlu
dihadapi satu demi satu. Mari kita tumpas beramai-ramai!”
“Semuanya tetap ditempat!,” teriak
Gagak Kumara. “Walau bagaimanapun kita harus
jaga naman Perguruan dan jangan
mencemarkan nama guru! Pegang
teguh sifat ksatria dunia
per…”.
Kata-kata Gagak Kumara tak dapat diteruskan karena saat itu Kalingundil kembali
datang
menyerang dalam satu jurus yang aneh. Bagaimanapun Gagak Kumara yang sudah
berilmu
tinggi ini mengelak namun tetap saja ujung yang buntung dari pedang biru di
tangan
lawan
berhasil membabat pakaiannya dan menggores kulit dadanya! Pada detik goresan
itu
maka
Gagak Kumara merasakan badannya menjadi panas.
Kalingundil
terkekeh.
“Pedang
buntung ini Pedang Siluman Biru… mengandung racun yang jahat. Dalam
tiga
jam nyawamu akan melayang! Ha… ha… ha…!”.
Terkejutlah
Gagak Kumara. Demikian juga saudara-saudara seperguruannya yang
lain. Gagak Kumara cabut sebilah
keris dari pingganngnya. Saudara-saudara seperguruannya
yang lainpun segera cabut keris pula
dan kali ini Gagak Kumara tidak berkata apa-apa lagi.
Maka delapan anak murid Perguruan
Teratai Putih dengan sebilah keris di tangan masingmasing
mengurung Kalingundil yang
bersenjatakan sebilah pedang buntung sakti itu!
Kalingundil
hanya tertawa buruk melihat hal ini.
“Sebaiknya
kalian bunuh diri saja dari pada mampus di ujung patahan Pedang
Siluman-ku
ini!”
“Pedang
Siluman…,” desis anak-anak murid Perguruan Teratai Putih dalam hati.
Mereka pernah mendengar tentang
kehebatan pedang ini dari guru mereka. Tapi dikabarkan
sejak beberapa tahun yang silam
pedang itu lenyap dan kini muncul dalam keadaan buntung,
tapi benar-benar tidak mempengaruhi
kehebatannya! Namun apapun senjata yang di tangan
lawan saat itu anak-anak murid
Wirasokananta tidak mempunyai rasa gentar atau kecut
sedikitpun!
Kedelapannya menyerbu ke muka.
Delapan keris berkiblat kearah delapan bagian dari
tubuh Kalingundil! Yang diserang
menyeringai lalu membentak keras. Tubuhnya berkelebat,
sinar
biru dari pedangnya menderu seputar badan! Tiga jeritan terdengar hampir
bersamaan
dan
tiga saudara seperguruan Gagak Kumara roboh mandi darah, nyawanya putus di situ
juga!
Gagak
Kumara kertakkan geraham. Darahnya mendidih oleh amarah. Namun goresan
luka
telah membuat tubuhnya menjadi kehilangan tenaga. Dikerahkannya seluruh tenaga
dalam
yang ada di tubuhnya. Dan mengamuklah gagak Kumara dengan segala kehebatannya.
Namun
permainan pedang lawan benar-benar hebat, sulit dan sukar diduga
jurus-jurusnya.
Satu
jurus dimuka, dua orang saudara seperguruannya lagi roboh tanpa nyawa. Melihat ini
Gagak Kumara segera berseru pada dua
orang saudara seperguruannya yang perempuan.
“Wurnimulan, Nyiratih… kalian
segeralah tinggalkan tempat ini! Cepat lari
selamatkan diri…!”
Tapi kedua gadis itu meski betina
adalah betina yang berhati jantan! Wurnimulan
menyahuti: “Hidup mati kita bersama
kakak Gagak Kumara!.” Gadis ini itu berkelebat cepat
dan kirimkan satu tusukan cepat ke
leher lawan.
Kalingundil
tertawa. Dielakkannya tusukan keris itu dengan miringkan badan dan di
saat
itu pula kaki kirinya bergerak.
“Bluk!”
Saudara
seperguruan Gagak Kumara laki-laki yang terakhir terpelanting ke dinding.
Tulang dadanya melesak ke dalam
dihantam tendangan Kalingundil. Jantung dan paruparunya
pecah! Nyawanya lepas!
Gagak Kumara sendiri saat itu sudah
kehabisan tenaga. Luka di dadanya dan racun
pedang siluman sangat mempengaruhi
keadaan tubuhnya ke segenap pembuluh darah! Dia
tahu sebentar lagi dia pasti akan
menyusul saudara-saudara seperguruannya yang lain. Karena
itu sekali lagi dia berseru memberi
ingat: “Wurnimulan! Nyiratih! Larilah sebelum
terlambat!”
“Gadis-gadis caritik ini tak akan
bisa pergi jauh! Nasib kematian kalian sudah ada di
ujung Pedang Siluman-ku! Tapi
sebelum mati keduanya akan kuhadiahkan dunia terlebih
dahulu!”
Kalingundil tertawa mengekeh! Gagak
Kumara yang tahu maksud dan arti kata-kata
lawannya itu untuk kesekian kalinya
berteriak memberi ingat namun kedua gadis itu tak mau
ambil perduli malahan menyerang
dengan hebat! Kalingundil mengelak gesit beberapa kali.
Kemudian dengan kecepatan yang luar
biasa, dengan mempergunakan hulu belakang senjata
di tangan kirinya laki-laki itu
menotok Wurnimulan dan Nyiratih! Keduanya kini kaku tak
bergerak. Tahu malapetaka apa yang
bakal menimpa kedua saudara seperguruannya itu,
dengan sisa tenaga yang ada, dengan
segala kehebatan yang masih dimilikinya Gagak
Kumara menyerbu Kalingundil dari
samping.
Yang diserang sambil putar badan
berkata: “Ajalmu sudah di depan mata, maut sudah
di depan hidung! Baiknya bunuh diri
saja…!”
“Terima kerisku lebih dulu, manusia
durjana! Kami tidak ada permusuhan dengan
kau. Kenapa kekejamanmu lewat
takaran macam begini…?!”
“Akh… sudahlah! Biar mulutmu kututup
saja saat ini!,” kata Kalingundil pula.
Pedang Siluman Biru membabat ke
perut Gagak Kumara, dialakkan dengan melompat
oleh murid Wirasokananta itu namun
begitu melompat, senjata lawan kembali memburu lebih
cepat, kini menderu ke muka Gagak Kumara, tak
sanggup lagi dikelit oleh laki-laki ini!
TIGA
USAHA terakhir yang dilakukan Gagak
Kumara untuk menyelamatkan dirinya ialah
melintangkan keris dimukanya. Pedang
Siluman Biru buntung terus membabat, senjata
masing-masing beradu keras, bunga
api memercik dan keris Gagak Kumara patah dua sedang
senjata
lawan terus membabat mukanya!
Murid
tertua dari Perguruan Teratai Putih itu terhuyung ke belakang. Mukanya banjir
oleh
darah dan mengerikan sekali. Perlahan-lahan lututnya tertekuk dan pinggangnya
meliuk.
Gagak
Kumara terduduk di lantai, sebelum tergelimpang dan menghembuskan nafas
penghabisan,
buntungan keris yang masih tergenggam di tangannya dengan segala tenaga
yang
ada dilemparkannya ke arah Kalingundil. Tapi serangan
yang hampir tiada artinya ini
dengan mudah dielakkan oleh
Kalingundil.
Kalingundil tertawa mengekeh. Noda
darah yang membasahai Pedang Siluman Biru
yang buntung itu disekakannya
kembali ke balik pinggang. Kemudian laki-laki ini memutar
tubuh. Sepasang matanya kini
berkilat-kilat memandangi tubuh dan paras Wurnimulan serta
Nyiratih yang saat itu berdiri kaku
tak berdaya karena ditotok tadi.
“He…
he… he… kalian berdua tak perlu mati buru-buru….,” kata Kalingundil. Ujung
lidahnya
dijulurkannya untuk membasahi bibirnya. Dia melangkah mendekati Wurnimulan.
Tangan
kirinya bergerak dan “bret!” Robeklah baju perguruan yang dipakai oleh gadis
itu.
Dadanya terbuka lebar, putih dan
mulus padat. Kalingundil menjadi terbakar tubuhnya oleh
nafsu yang menggelegak. Tangan kirinya
bergerak lagi…. bergerak lagi… bergerak lagi….
SEMENTARA itu di puncak Gunung
Galunggung…
Dalam
tapanya yang sudah berjalan sembilan belas hari itu tiba-tiba saja
Wirasokananta
tak dapat meneruskan memusatkan segenap jalan pikirannya. Satu demi satu
panca
inderanya mulai terganggu. Walau bagaimanapun usahanya untuk memusatkan pikiran
dan
tenaga bathin serta menutup segenap pancainderanya namun sia-sia saja. Semuanya
membuyar
kembali. Semakin dipaksanya semakin sulit. Mau tak mau akhirnya tokoh silat
yang
sudah setengah abad ini umurnya terpaksa buka kedua matanya yang sejak sembilan
belas
hari telah dipejamkannya.
Kedua
matanya itu memandang jauh ke muka, memandang ke luar pintu goa dimana
dia
bertapa. Segala apa yang dilihatnya saat itu, rimba belantara, bukit sunga,
matahari, langit
dan
awan… semuanya masih seperti sebelumnya dia datang ke situ, tak ada perubahan.
Namun
hatinya tidak enak, nalurinya membawanya ke satu hrasat yang mendebarkan dada
dan
menggelisahkan dirinya. Dan meski ujud kenyataan dari benda-benda dihadapannya
yang
dapat
dilihatnmya dari puncak Gunung Galunggung itu tiada perubahan, namun orang tua
yang
sudah banyak pengalaman dan mengecap ragam kehidupan itu tahu, bahwa dibalik
semua itu pasti telah terjadi
apa-apa di dunia luar sana. Diusapnya wajahnya dengan kedua
tangannya. Dia merenung, sejurus
kemudian perlahan-lahan turun dari batu hitam di mana dia
sebelumnya duduk bertapa. Batu hitam
yang diduduki orang tua ini kelihatan berbekas leguk.
Ini cukup memberi pertanda bagaimana
kehebatan tenaga dalan dan luar Wirasokananta.
Diusapnya lagi mukanya. “Mungkin ada
apa-apa terjadi di Perguruan…,” kata
Wirasokananta dalam hatinya. Dengan
mempergunakan ilmu lari “seribu angin” maka sekali
berkelebat lenyaplah sosok tubuh
orang tua itu dari mulut goa dan kemudian kelihatanlah dia
berlari menuruni puncak Gunung
Galunggung cepat sekali laksana angin!
Karena sangat terkejutnya, di ambang
pintu rumah besar itu sampai-sampai
Wirasokananta berdiri mematung untuk
beberapa lamanya! Kemudian tubuh yang mematung
ini sekujurnya jadi bergetar.
“Demi Tuhan… siapakah yang punya
pekerjaan ini?,” desisnya.”Dosa besa apakah
yang telah kami perbuat sampai
menerima malapetaka begini rupa…?”
Murid-muridnya bergeletakan di
mana-mana. Semuanya tanpa nyawa dan
bergelimang darah. Namun apa yang
sangat menusuk mata Ketua Perguruan Teratai Putih itu
ialah akan keadaan diri dua orang
murid perempuannya, Wurnimulan dan Nyiratih. Keduanya
menggeletak di lantai rumah besar
tanpa tertutup selembar benangpun. Keris milik masing-masing menancap
ditenggorokan dan darah mengelimangi hampir sekujur tubuh kedua gadis
itu, dari leher sampai ke dada terus
ke selangkangan….
Wirasokananta pejamkan kedua
matanya, tak tahan memandangi lebih lama apa yang
membentang dihadapannya itu.
Bagaimana juga.dikuatkannya hatinya, namun air mata meleleh
juga dari. sela-sela kelopak mata
yang dipejamkannya itu. Tenggorokannya turun naik menahan
keluarnya suara isakan. Beberapa
tahun dia telah mendidik kedelapan muridnya itu, beberapa tahun
mereka telah berjuang bersama-sama
untuk menegakkan kebenaran dan menghancurkan
kebathilan beberapa tahun mereka
bersama-sama telah berjuang untuk menghancurkan
kemaksiatan dan memusnahkan
kebejatan serta kejahatan. Namun hari ini mereka semua menemui
nasib semacam itu. Menemui kematian
dengan cara yang mengenaskan di luar dugaan
Wirasokananta.
Dalam masih pejamkm kedua matanya
itu. Ketua Perguruan Teratai Putih ini coba berpikir dan menduga-duga siapakah
kiranya manusia yang telah menjatuhkan malapetaka yang begini kejam terhadap
anak-anak muridnya, tak bisa diduganya, tak bisa dipikirkannya karena
seingatnya dia tak pernah mempunyai seorang musuhpun dalam dunia
persilatan.Wirasokananta membuka kedua matanya kembali. Pada saat inilah, di
balik pandangan matanya yang masih digenangi air mata itu pandangannya
membentur buku besar buah tulisannya sendiri yang dipantek dengan sebilah keris
milik salah seorang muridnya! Serentetan kalimat yang ditulis dengan darah
tertera dikulit buku itu.
Kepada Ketua:
“Perguruan Teratai Putih “
Kalau ingin menuntut balas kematian murid-muridmu datanglah ke puncak
Gunung Tangkuban perahu pada hari 13 bulan 12.
Pendekar Kapak Maut
Naga Geni 212
Mata yang digenangi air mata dari
Wirasokananta menyipit, membuat air mata yang tadi
mengambang menjadi turun meleleh
membasahi pipinya.
Ingatannya kembali pada masa puluhan
tahun yang silam: Dulu, dunia persilatan memang
pemah dibikin geger oleh seorang
tokoh utama yang digjaya tiada tandingan. Tokoh yang telah
merajai dunia persilatan selama
bertahun-tahun ini adalah Eyang Sinto Gendeng, seorang pendekar
perempuan yang bersenjatakan sebuah
kapak sakti bernama Kapak Maut Naga Geni 212. Namanya
harum dikalangen tokoh-tokoh silat
golongan putih karena Pendekar 212 adalah pembasmi
kejahatan dan penolong kaum lemah.
Sedang bagi golongan hitam, tokoh ini sudah barang tentu
menjadi momok besar yang sangat
ditakuti!.
Pada masa kehidupan Pendekar 212
itu, di mana saat itu Wirasokananta masih belum
mendirikan Perguruan Teratai Putih,
karena sama-sama dari golongan putih yang sehaluan dalam
perjuangan maka dengan sendirinya
tiada permusuhan atau silang sengketa antara dia dengan
Pendekar 212.
Tapi hari ini terjadi peristiwa
berdarah itu, peristiwa maut yang diakhiri dengan
meninggalkan pucuk surat tantangan,
dan surat ini justru ditandatangani dengan nama
“”…! Tentu saja ini satu hal yang
tidak dimengerti
Wirasokananta. Kemudian apa pula arti
dan hubungannya nama. “” itu ?!
Ketua Perguruan Teratai Putih itu
coba merenung.
Renungannya ini menyangkut pada masa
puluhan tahun yang silam itu. Di masa
dunia persilatan geger oleh
kehebatannya Pendekar 212, tiba-tiba entah kemana perginya
Pendekar 212 lenyap! Tentang
kelenyapannya ini banyak tokoh-tokoh persilatan
memberikan
tanggapan, Mungkin Pendekar 212 sendiri yang sengaja lenyap mengundurkan
diri
dari dunia persilatan, mungkin juga tokoh itu telah menemui kematiannya dengan
cara
yang
tak bisa diduga, meski tanggapan yang kemudian ini agak diselimuti rasa
keraguraguan.
Tapi
kini dengan adanya kejadian maut di Perguruan Teratai Putih itu,
Wirasokananta
merasa yakin bahwa sesuatu memang telah terjadi dengan diri Eyang Sinto
Gendeng atas Pendekar 212. Dia
berkesimpulan bahwa Pendekar 212 dalam satu
pertempuran hebat dan tak diketahui
oleh dunia luar telah dikalahkan oleh seorang
pendatang baru bernama . Kemungkinan
sekali Pendekar 212 menemui
ajalnya di tangan itu, merampas Kapak Maut Naga Geni 212 yang
kemudiannya
malang melintang di dunia persilatan
dengan memakai gelar Pendekar Kapak Maut
Naga Geni 212!
Dan kelanjutan renungan Ketua
Perguruan Teratai Putih itu ialah siapa manusia
ini sebenarnya. Nama itu satu nama baru
baginya. Namun meski nama baru
satu hal diyakini oleh Wirasokananta
bahwa dengan itu manusia baik dia maupun Perguruan
Teratai Putih, tak pernah mempunyai
permusuhan dan menanam dendam kesumat! Apa
yang menjadi latar belakang
pembunuhan besar-besaran atas murid-muridnya benar-benar
sangat gelap bagi Wirasokananta. Dan
bila matanya membentur lagi tulisan berdarah yang
menyatakan tantangan itu,
benar-benar Ketua Perguruan Teratai Putih ini merasa dibakar
hatinya!
Bulan 12 masih sembilan bulan lagi! Apakah dia akan
menunggu sampai sekian
lama untuk kemudian baru bertemu
muka dan membuat perhitungan dengan ?
Ataukah detik itu juga ia
meninggalkan Perguruan dan mencari musuh durjana itu ?
Namun, Wirasokananta tahu, bahwa apa
yang musti dilakukannya saat itu ialah
menguburkan jenazah-jenazah ke delapan orang
muridnya di halaman Perguruan.
EMPAT
ANTARA sungai Cidangkelok di sebelah
timur dan sungai Cimanuk di sebelah
barat, terbentanglah satu daerah
yang sangat subur. Ladang-ladang menghijau oleh hasil
yang menakjubkan. Sawah-sawah menguning
laksana hamparan permadani emas.
Lumbung-lumbung
padi petani penuh, tak akan habis dimakan selama satu dua tahun.
Penduduknya
sendiri hidup dalam tingkat kehidupan yang jauh lebih tinggi dibandingkan
dengan
penduduk daerah sekitar lainnya. Mereka sehat-sehat, ramah dan rajin bekerja.
Desa
Bojongnipah adalah desa yang paling utama pada daerah yang membentang
antara sungai Cidangke!ok dan sungai
Cimanuk itu. Hasil
ladang, hasil sawah dan hasil tebattebat
pemeliharaan
ikan penduduk tumpah ruah tiada terkirakan dan desa ini dikepalai oleh
seorang
Lurah yang bijaksana dan cakap bernama Ki Lurah Kundrawana. Begitu
bijaksana
dan
pandainya Ki Lurah Kundrawana mengatur desa dan penduduknya sehingga banyak
Lurah-lurah
dari desa lain yang datang untuk meminta bantuan Kundrawana dalam hal yang
ada
hubungannya dengan kehidupan penduduk , dan pengaturan hidup agar bisa makmur
serta
tenteram.
Di
satu malam yang mendung gelap dan berangin kencarig dingin, Ki Lurah
Kundrawana
masih kelihatan duduk-duduk di langkan rumahnya yang sederhana, bercakapcakap
dengan
isterinya Warih Sinten. Di sela bibir Ki Lurah Kundrawana yang sudah berumur
empat puluh lima
tahun itu terselip sebuah pipa yang api tembakaunya hampir mati.
“Dingin
di luar ini, kakang…,” kata Warih Sinten sambil, merapatkan kainnya yang agak
menyingkapkan betisnya yang putih bagus.
“Ya.
Tampaknya mau hujan. Kita masuk saja…,” sahut Ki Lurah Kundrawana seraya
berdiri.
Namun
belum lagi kedua suami isteri itu melangkah ke pintu mendadak sekali tiga sosok
bayangan hitam berkelebat. Tubuh mereka rata-rata tinggi kekar dan
tampang-tampang mereka buruk serta angker !
Melihat
ini, Ki Lurah Kundrawana yang tahu gelagat segera ulurkan tangan kanan ke
pinggang di mana kerisnya tersisip. Namun dengan kecepatan yang luar biasa
salah seorang dari manusia-manusia berpakaian hitam itu tahu-tahu sudah
melintangkan sebatang golok di batang leher. Ki Lurah Kundrawana! Warih Sinten
yang hendak berteriak ditekap mulutnya oleh laki-laki yang laini
Ki
Lurah Kundrawana maklum bahwa ketiga orang itu tentulah dari satu komplotan
rampok terkutuk. Tapi ini adalah untuk pertama kalinya desanya didatangi
rampok-rampok macam begini pada hal sejak selama dalam pegangannya desa
senantiasa aman tenteram.
Namun demikian Ki Lurah Kundrawana
dengan mempertenang diri coba bicara.
“Kalian siapa, ada maksud apa datang
ke sini…?!”
Orang yang melintang golok di leher
Lurah Bojongnipah itu menyeringai
menggidikan. Giginya yang
tersungging kelihatan hitam, sehitam pakaian yang
dikenakannya.
“Aha… bagus kau tanya begitu. Tapi
sebelum aku berikan jawaban kau musti ingat
satu hal. Jika kau banyak tingkah
dan membantah segala apa yang kami perintahkan, jangan
menyesal bila melihat anak
laki-lakimu yang tidur di dalam sana ku pantek di tiang rumah!”
Terkejutlah Ki Lurah Kundrawana.
Warih Sinten sendiri menggigil. Laki-laki
berpakaian hitam menyeringai lagi.
“Sekarang tentang siapa kami. Kau
pernah dengar nama Komplotan Tiga Hitam dari
Kali Comel?”
Paras Ki Lurah Kundrawana memucat.
“Saat ini kau berhadapan dengan
mereka, Kundrawana. Aku Tapak Luwing adalah
pemimpin mereka !”
Ki Lurah Kundrawana tahu betul dan
sering mendengar tentang Komplotan Tiga Hitam dari Kali Comel itu. Mereka
adalah tiga rampok jahat dan ganas yang malang melintang disepanjang Kali Comel
bahkan sampai ke perbatasan. Kali Comel jauh sekali dari desa Bojongnipah,
kenapa tiga manusia bejat ini bisa sampai ke sini, demikian pikir Kundrawana.
'Tapak Luwing! Kalau kau mau
merampok, lakukanlah! Bawa apa yang kalian bisa ambil dan
berlalu dari sini dengan cepat !”
Kepala Komplotan Tiga Hitam itu
tertawa. “Kami selama ini memang dikenal sebagai perampok. Tapi dengan Ki Lurah
Kundrawana, hari ini kami datang bukan untuk melakukan perampokan!”
Tentu saja ucapan ini mengherankan
Ki Lurah Kundrawana. “Jadi apa mau kalian ?!” tanyanya.
“Kami datang untuk bikin perjanjian
dengan kau !”
“Perjanjian apa…?”
“Mulai hari ini, kau musti tunduk
kepada segala apa yang kami atur dan perintahkan, mengerti!”
Ki Lurah Kundrawana menelan
ludahnya. “Aturan dan perintah macam mana maksudmu?” tanyanya. Sementara itu
diam-diam tangan kanannya kembali bergerak dan menyusup ke pinggangnya: Kepala
desa Bojongnipah ini sudah bertekat bulat untuk melakukan perlawanan meski saat
itu golok Tapak Luwing masih menempel di batang lehernya sedang isterinya
sendiri masih disekap oleh salah seorang anak buah Tapak Luwing”.
Ki Lurah Kundrawana berhasil
memegang hulu kerisnya. Secepat kilat senjata itu
ditusukkannya ke perut Tapak Luwing.
Namun Kepala Komplotan Tiga Hitam ini tidaklah
sebodoh dan selengah yang
diperkirakan oleh Ki Lurah Kundrawana. Sekali tangan
kanannya bergerak turun menyapu ke
bawah maka terdengarlah suara beradunya senjata dan
percikan bunga api. Disusul oleh
jeritan tertahan dari Warih Sinten, yang mulutnya disekap.
Golok Tapak Luwing membuat mental
keris di tangan Ki Lurah Kundrawana sedang
ibu jari laki-laki ikut terbabat
putus ujungnya sampai ke kuku. Ki Lurah Kundrawana
merintih kesakitan. Darah mengucur
dari ibu jarinya yang putus. Sementara itu golok Tapak
Luwing telah menempel kembali pada
batang lehernya !
“Agaknya
kau minta batang lehermu cepat-cepat ditebas huh?,” bentak Tapak
Luwing.
“Tebaslah,
aku tidak takut! Kalian manusia, manusia lak….”
Tamparan tangan kiri Kepala
Komplotan Tiga Hitam itu menghajar pipi
Kundrawana. Pandangannya berkunang,
pipinya merah sekali dan sudut bibirnya pecah
berdarah!
“Masih mau buka mulut?!” tanya Tapak
Luwing.
Ki Lurah Kundrawana menggeram dalam
hatinya. Tapi tak berkata apa-apa.
“Kau mau dengar dan turut perintahku
atau pilih mati?!”
“Aku tidak takut mati! Isteriku juga
tidak takut mati” jawab Ki Lurah pula.
Tapak
Luwing menyeringai. “Kalian memang tak takut mati. Tapi apa kalian
sanggup
menyaksikan anakmu yang di dalam sana
kubikin menggelinding kepalanya di
lantai
ini?!”
Ki
Lurah Kundrawana terdiam.
Tapak
Luwing kemudian mendorong, laki-laki itu ke dalam dan memerintahkan
duduk
di kursi. “Demi nyawamu dan nyawa keluargamu, ada bagusnya kita bicara baikbaik
Ki
Lurah! Dengar, mulai hari ini ke atas kau harus tunduk kepadaku. Aku tanya
kapan
pemungutan pajak penduduk kau lakukan setiap bulan…?”
Ki
Lurah Kundrawana tak mengerti maksud pertanyaan ini tapi dia menjawab juga:
“Hari
Senin minggu pertama”.
“Bila
pajak-pajak itu sudah terkumpul, ke mana kau serahkan?,” tanya Tapak
Luwing
lagi.
“Pada
Adipati di Linggajati dan Adipati itu kemudian meneruskannya ke
Kotaraja”.
“Hem…
begitu ... Itu satu aturan yang bagus. Tapi mulai penarikan pajak bulan
yang
akan datang jumlah pajak yang harus dipungut adalah sepuluh kali lebih besar
dari
yang
sudah-sudah…!”
Ki
Lurah Kundrawana terkejut.
Dia
tambah terkejut lagi ketika Tapak Luwing menyambung kalimatnya tadi:
“Pajak
itu harus kau pungut tiga kali dalam satu bulan! Mengerti…?!”
“Aturan macam mana ini ?!”
“Tak usah tanya aturan macam mana,
yang penting lakukan perintahku!,” sahut
Tapak Luwing,
“Kau tak bisa berbuat seenaknya,
Tapak Luwing! Salah-salah kau bisa berurusan
dengan Adipati Linggajati, bisa
berurusan dengan Kerajaan!”
“Urusan dengan Adipati, itu
urusanmu, juga urusan dengan Kerajaan. Tapi jika kau
berani mengadukan hal ini kepada
siapa saja, kulabrak seluruh keluargamu! Mengerti?!”
“Kalian bisa melabrak keluargaku.
Tapak Luwing, tapi kalian tak bisa melabrak
Adipati dan Kerajaan!”
“Aku sudah bilang urusan dengan
Adipati adalah urusanmu, juga dengan
Kerajaan! Aku hanya tahu bahwa tiga
kali dalam satu bulan aku harus terima sejumlah uang yang besarnya sepuluh kali
besar pajak yang kau pungut selama ini dari penduduk desa!”
“Keterlaluan! Keterlaluan kau Tapak
Luwing! Tak satu pendudukpun yang sanggup membayar pajak sekian besarnya itu !”
“Penduduk di sini kaya-kaya! Punya
sawah, punya ladang, punya kerbau, sapi, kambing dan ayam serta itik!!”
“Tapi
sepuluh kali, mana mereka…”
Tapak
Luwing memotong dengan cepat: “Apa aku musti paksa kau memungut lima belas kali lebih
banyak, atau dua puluh kali?!”
“Aku
tak akan lakukan perintahmu ini Tapak Luwing! Aku tak sanggup memeras rakyat!”
“Perduli amat! Kalau tak saggup
memeras rakyat apa kau sanggup menyaksikan
kematian anak laki-laki mu?”
Kalau Kepala Komplotan Tiga Hitam
itu sudah mengancam demikian rupa, mau
tak mau Ki Lurah Kundrawana terdiam
bungkam.
Tapak Luwing menggoyangkan kepalanya
pada anak buahnya yang berdiri dekat
pintu. Melihat isyarat ini laki-laki
itu segera masuk ke dalam kamar tidur Ki Lurah
Kundrawana. Kundrawana berdiri dari
kursinya. “Kau mau buat apa…!,” bentaknya.
Tapak Luwing mendorong laki-laki itu
hingga Kundrawana terduduk kembali ke
kursi. Tak lama kemudian anak buah
Tapak Luwing yang masuk kamar muncul di
ruangan itu kembali dengan mendukung
anak laki-laki Ki Lurah Kundrawana. Anak
laki-laki ini baru berumur empat
tahun. Dalam di dukung itu dia masih tertidur nyenyak,
tak tahu apa yang terjadi atas
dirinya.
Kecemasan segera terbayang diparas
Warih Sinten dan Kundrawana.
“Kalian mau bikin apa dengan
anakku?!” tanya Kundrawana.
“Selama kau mengikuti perintahku,
anakmu akan selamat tak kurang suatu apa.
Dia kubawa untuk sementara sebagai
jaminan bahwa kau tidak akan mengadukan
persoalan ini pada siapa pun! Kau
dengar Ki Lurah Kundrawana!”
Laki-laki itu tak menjawab.
“Dengar?!”
ulang Tapak Luwing membentak. Ki Lurah Kundrawana mau tak mau
terpaksa
mengangguk pelahan.
“Hasil-hasil
pungutan pajak itu selambat-lambatnya harus kau serahkan kepadaku
satu
hari sesudah terkumpulnya. Antarkan ke satu pondok tua di persimpangan jalan
yang
menuju
ke Linggajati. Aku sendiri yang akan menunggu kau di sana pada tengah hari
tepat!”
“Aku
tak akan mengantarkannya!” kata Ki Lurah Kundrawana. “Silahkan datang
sendiri
kesini!”
Tapak
Luwing tertawa dingin. “Jangan lupa keselamatan anakmu, Ki Lurah,”
katanya.
Kemudian Kepala Komplotan Tiga Hitam dari. Kali Comel ini berikan isyarat
dan bersama kedua anak buahnya segera meninggalkan
rumah Ki Lurah. Kundrawana.
LIMA
SEMALAM-MALAMAN itu Warih Sinten
tiada hentinya menangis. Matanya sudah merah
dan bengkak. Ki Lurah. Kundrawana
sendiri yang juga tak bisa tidur, melangkah mundar mandir tak
berketentuan. Hatinya gelisah dan
cemas, memikirkan diri anaknya yang telah dibawa oleh komplotan
Tapak Luwing. Tapi hatinya juga
gemas dan geram tiada terperikan!
Baginya keselamatan diri dan
isterinya tidak begitu penting jika dia ingat nasib anak lakilakinya
itu,
anak satu-satunya yang mereka miliki. Dan soal pajak
itu, benar-benar membuat Ki Lurah
Kundrawana seperti mau gila
memikirkannya. Dia tak akan bisa mengadukan persoalan ini pada
Adipati di Linggajati atau kepada
Raja demi keselamatan anaknya. Satu-satunya jalan hanyalah
mengikuti aturan dan perintah gila
Tapak Luwing. Tapi bagaimana nanti sikap rakyat terhadapnya?
Bukan saja pajak itu sangat berat
bagi mereka, tapi penduduk .pasti akan mencapnya sebagai tukang
peras dan mungkin akan timbul
kemarahan di kalangan penduduk!
Kalau dia musti memungut sepuluh
kali jumlah pajak yang harus diserahkan pada Tapak
Luwing, maka ditambah dengan yang
harus diserahkan pada Adipati di Linggajati akan menjadi
sebelas kali dari yang sudah-sudah!
Kalau tidak ingat-ingat kepada Tuhan maulah Lurah Bojongnipah
itu ambil kerisnya dan menusuk diri
dengan senjata itu! Namun dia tahu ini bukanlah penyelesaian
yang baik.
Keesokan paginya terpaksa juga dia
melalui seorang pembantunya mengirimkan kabar
berkeliling penduduk desa bahwa
mulai bulan depan pemungutan pajak besarnya sebelas kali dari
yang sudah-sudah. Ini adalah sesuai
dengan garis kebijaksanaan Raja demi untuk, pembangunan dan
memelihara balatentara yang kuat,
demikian alasan yang dibuat-buat oleh Ki Lurah Kundrawana
untuk menutupi apa yang sebenarnya.
Bila berita itu sudah sampai ke
seluruh pelosok maka dalam sikap penduduk Bojongnipah
mulai kelihatan
pertentangan-pertentangan. Rata-rata mereka mengatakan bahwa ini adalah satu
penindasan.
satu pemerasan terang-terangan. Demi pembangunan dan
demi balatentara yang kuat
apakah rakyat harus dkekik lehernya
dengan pajak yang besar tiada terkirakan lihat gandanya itu?!
Beberapa orang tua-tua desa menemui
Ki Lurah Kundrawana tapi Ki Lurah tak bersedia
berhadapan dengan mereka. Orang
tua-tua desa tentu saja heran kali melihat sikap Lurah mereka yang
dulunya itu begitu baik bijaksana
dan ramah tapi kini, jangankan untuk bicara tentang persoalan
kenaikan pajak itu, bahkan untuk
bertemu sajapun dia tidak mau! Disamping itu ketika mereka berada
di rumah Ki Lurah, telinga mereka
mendengar terus-terusan suara tangis Warih Sinten, isteri Lurah.
Ada apa pula dengan diri perempuan
itu? Betul-betul banyak hal yang tidak mengerti orang tua-tua
desa saat itu! Dan ketika tiba saat
pemungutan pajak yang pertama, banyak di antara.penduduk yang
tak mau membayar. Dengan menekan
pertentangan yang senantiasa melekat dihatinya Ki Lurah
terpaksa mengancam orang-orang itu.
Siapa-siapa penduduk yang tak mau membayar pajak dalam
jumlah yang telah ditentukan, akan
ditangkap dan dibawa ke Kotaraja! Akhirnya terpaksa juga
penduduk membayar.
Dalam pemungutan pajak-yang kedua
terjadi kekacauan namun masih sanggup
diatasi oleh Ki Lurah Kundrawana.
Menjelang pemungutan pajak yang ketiga Ki Lurah
Kundrawana mendengar kabar bahwa
penduduk akan mengadakan pemberontakan! Lakilaki
ini tak bisa menyalahkan penduduk. Suatu
malam dengan diam-diam pergilah Ki Lurah
Kundrawana ke Linggajati untuk
menemui Adipati Boga Seta. Kepada Adipati ini
dilaporkannya
segala apa yang terjadi. Boga Seta kelihatan terkejut sekali. Ketika Ki Lurah
Kundrawana
minta diri, Boga Seta berjanji akan mengirimkan serombongan pasukan
Kadipaten
selekas mungkin. Namun menjelang semakin dekatnya hari pemungutan pajak
yang
ketiga itu tak satu prajurit Kadipatenpun yang muncul!
Ki
Lurah Kundrawana kehabisan akal, betul-betul bingung. Sementara itu tandatancia
bakal terjadinya pemberontakan
semakin jelas dan santar. Dalam kebingungannya di
waktu yang sempit itu Ki Lurah
Kundrawana akhimya berhasil menemui Tapak Luwing di
luar desa.
“Ada keperluan apa, kau menemui aku,
Ki Lurah ?” bertanya Tapak Luwing sambil
menggerogoti daging panggang yang
barusan dipanggang oleh anak-anak buahnya. Saat itu
Tiga Hitam dari kali Comel berada di
pinggiran hutan.
“Ada kesulitan katamu ? Hem… Apa kau
tahu bahwa besok adalah hari pemungutan
uang pajak itu dan lusanya menyerahkan
pada kami di persimpangan jalan yang menuju ke
Linggajati?”
“Aku tahu Tapak Luwing. Justru kesulitan ini ada sangkut pautnya dengan
pemerasanmu!” jawab Ki Lurah
Kundrawana pula.
Tapak Luwing tertawa dan melemparkan
tulang daging yang dimakannya ke dekat
kaki kepala desa Bojongnipah itu.
“Tentang kesulitan ini, apakah kau
sudah pergi kepada Adipati Boga Seta di
Linggajati?,” Tanya Tapak Luwing
seraya tertawa dan berdiri dari duduknya di batang kayu
tumbang.
Ki Lurah Kundrawana terkejut dan
berubah parasnya. Dalam hati dia bertanya-tanya
apakah kepala perampok ini
mengetahui kepergiannya ke Linggajati menemui Adipati
Boga Seta itu?
Suara tertawa Tapak Luwing semakin
keras. Tampangnya kelihatan tambah angker
dan tiba-tiba, tak terduga oleh Ki
Lurah Kundrawana, tamparan tangan kanan kepala
rampok itu mendarat di pipinya.
“Tapak Luwing kau…”
“Plak!”
Untuk kedua kalinya tamparan Tapak
Luwing menghajar muka Kundrawana.
“Berbacot
lagi,” bentaknya, “Kurobek mulutmu!”.
“Tapi
Tapak Luwing…”
“Aku
sudah bilang agar jangan mengadukan persoalan ini kepada siapapun! Dan kau
telah
pergi kepada Adipati Boga Seta! Apa kau lupa hukuman yang bakal diterima
anakmu?!”
Maka
pucatlah muka Ki Lurah Kundrawana!
“Kau…
kau apakan anakku, Tapak Luwing…?
“Sekarang
kau ketakutan sendiri ya? Sialan! Adipati Boga Seta telah rnengirimkan
kelimanya
telah menemui ajal akibat kebodohanmu!”
“Anakku…
anakku bagaimana…?” tanya Ki Lurah Kundrawana setengah menangis
setengah
merengek!
“Aku
masih berbaik hati untuk kasih ampun kesalahanmu kali ini! Di lain hari,
jangan
harap aku bakal mau memaafkan kau…”
Legalah
dada Ki Lurah Kundrawana. Tapi jika dia mau berpikir panjang sedikit dan
tidak
keliwat gelisah maka dia akan melihat adanya keganjilan dengan ucapan Tapak
Luwing
hari ini dengan tiga minggu yang lalu. Dulu Tapak Luwing mengancam akan
membunuh anaknya bila dia mengadu
kepada Adipati atau Raja. Dan dia telah mengadukan
hal itu kepada Adipati Boga Seta dan
anehnya Tapak Luwing mau memberikan ampun
kepadanya, padahal dengan demikian
persoalan kejahatannya bukan saja telah sampai ke
tangan Adipati tapi pasti akan
diteruskan ke Kotaraja, apalagi sesudah pembunuhan atas
lima prajurit Kadipaten itu !
“Sekarang terangkan mengenai
kesulitan yang kau katakan itu, Ki Lurah!,” kata
Tapak Luwing pula.
“Penduduk desa akan melakukan
pemberontakan besok kalau aku masih juga
memungut pajak gila itu!,” kata Ki
Lurah Kundrawana pula.
“Begitu? Dulu kau bilang tidak takut
mampus! Kini ada bahaya yang mengancam
jiwamu kenapa terbirit mencari
aku…?!”
Ki Lurah Kundrawana mengatupkan
rahangnya rapat-rapat.
“Kembalilah ke Bojongnipah. Ki
Lurah, Besok kami akan datang ke sana…” berkata
Tapak Luwing.
“Kuharap jangan sampai terjadi
kekerasan”.
“Soal itu urusan kami. Kau tak perlu
ikut campurl,” kata Tapak Luwing pula.
“Bisa aku ketemu anakku, Tapak
Luwing ?” tanya Ki Lurah Kundrawana.
“Kali ini tidak dulu,” jawab kepala
rampok itu. Kepala desa Bojongnipah itu
termenung sejurus. Kemudian dengan
langkah gontai dia berjalan ke kudanya dan naik ke
atas punggung binatang itu
Sebelum berlalu Ki Lurah Kundrawana
bertanya, 'Tapak Luwing, sampai kapan
kebejatanmu ini kau timpakan
padaku…?”
Tapak
Luwing tertawa. “Tak usah banyak tanya ! Lebih baik pikirkan.nasibmu
besok
hari. Mungkin penduduk desa sudah mencincang tubuhmu sebelum kami datang…!”
*
* *
DI
pelosok-pelosok desa terdengar kokokan-kokokan ayam bersahut-sahutan.
Puncak
dinginnya malam telah lewat dan kesegaran pagi yang ditandai oleh terangnya langit
di ufuk timur menyatakan bahwa malam sudah sampai ke ujungnya untuk digantikan
kini oleh kehadiran pagi.
Ki
Lurah Kundrawana menyalakan tembakau pipanya. Mukanya sudah cekung dan matanya
kelihatan kuyu sedang parasnya pucat. Namun dibalik keredupan wajahnya itu
tersembunyi sesuatu yang seperti menyala. Sesuatu itu ialah amarah dan rasa geram yang tiada terperikan!
Di
sedotnya pipa itu. Mulutnya terasa tak enak. Dia meludah ke tanah lewat
langkan.
Sejak
dulu apalagi sejak beberapa hari terakhir ini lidahnya memang terasa tidak
enak, pahit.
Makannya
boleh dikatakan dapat dihitung suapnya. Semakin terang hari semakin gelisah
dia, semakin kuatir Lurah Bojongnipah ini. Yang dikhawatirkannya ialah
kalau-kalau penduduk akan datang lebih dahulu dari pada Tiga Hitam dari Kali
Comel! Sebentar-sebentar matanya memandang ke luar halaman.
Namun segala sesuatunya dipagi itu masih diliputi oleh kesunyian. Dan kesunyian ini
pula justru tidak menyenangkan hati Ki Lurah Kundrawana !
Ditempelkannya
lagi ujung pipa ke bibirnya. Disedotnya dalam-dalam kemudian
dihembuskannya
asap pipa itu. Sekali lagi dia meludah ke tanah lalu mengusap-usap bibimya.
Dia
terkejut dan memutar kepalanya mendengar langkah-langkah kaki di belakangnya.
Yang
datang
temyata isterinya sendiri. Badan perempuan ini sudah jauh susut, lebih kurus
dari dahulu. Seperti suaminya, parasnya juga pucat. Warih Sinten
seorang perempuan berwajah ayu, namun keayuan itu kini tiada kelihatan lagi
karena tertutup mendung kegelisahan. Gelisah memikirkan nasib anaknya, gelisah
memikirkan nasib suaminya jika sebentar lagi pen.duduk benar-benar datang.
Hari
itu adalah hari pemungutan pajak yang ketiga. Semestinya pembantu Lurah
Bojongnipah
yang
biasa berkeliling di seluruh desa memungut pajak itu sudah datang. Tapi kali ini
tak kelihatan mata hidungnya. Bagaimana dia akan berani memunculkan diri jika
sudah tahu kalau hari ini penduduk akan berontak!.
“Mudah-mudahan
saja penduduk tidak datang…”
Ki
Lurah Kundrawana menggigit bibirnya. Dia tahu bicara
isterinya itu hanya sekedar bicara saja. Memang apa yang diharapkan isterinya
itu juga menjadi harapannya. Namun dia tahu betul bahwa harapan itu adalah satu
hal yang mustahil! Rakyat
akan datang. Penduduk akan datang! Dia tahu, dia pasti!
Warih
Sinten memandang lagi ke luar halaman. Lalu berkata lagi: “Kalaupun mereka
datang, kurasa kita tak bisa lagi menyembunyikan kebejatan ketiga manusia
terkutuk itu, Kakang! Kita musti katakan terus terang pada penduduk sebelum
penduduk membunuh kita beramai-ramai!”
“Nyawaku
tak ada harganya, Warih…,” ujar Ki Lurah Kundrawana. “Demi segala-galanya
aku
rela mati! Tapi percuma saja arti kematian jtu, kalau keselamatan jiwa anak
tunggal kita sendiri akan tersia-sia pula....”
Kesepian
berjalan beberpa lamanya.
Tiba-tiba.
“Kakang…”.
Warih Sinten memegang lehernya dengan kedua tangan. “Mereka… mereka
datang…”
Ki
Lurah Kundrawana mengangkat kepalanya dan memandang ke luar halaman. Apa yang
dikatakan
isterinya memang betul. Serombongan laki-laki penduduk, desa kelihatan rnuncul
di
tikungan
jalan dibalik pohon-pohon bambu. Rombongan yang muncul ini merupakan kepala
saja dari barisan penduduk yang jumlahnya tak kurang dari seratus orang. Dari
jauh tak kelihatan mereka membawa senjata. Tapi Ki Lurah Kundrawana tahu bahwa
di antara mereka pasti, ada yang membawa dan menyembunyikan senjata!
Sesaat
kemudian halaman luas itupun penuhlah oleh penduduk desa. Suasana
menjadi
bising kini. Ki Lurah Kundrawana dan isteranya berdiri mematung di atas
fangkan.
Hanya
kedua bola mata mereka yang berputar memandangi penduduk Bojongnipah itu.
Seorang
di antara penduduk kemudian menyeruak ke muka dan naik ke langkan,
berdiri
beberapa langkah dihadapan Kundrawana. Kundrawana kenal baik dengan laki-laki
ini. Dia adalah seorang petani yang
diam di desa sebelah timur. Namanya Kratomlinggo.
Sewaktu laki-laki ini bertindak naik
ke langkan, maka suasana di tempat itu sehening di
pekuburan.
“Ki Lurah…, Kratomlinggo buka mulut
merobek keheningan itu. “Kau tentu sudah
tahu maksud kedatangan kami bukan…?”
Kundrawana tak menjawab. Pada wajah
Kratomlinggo dilihatnya senyum mengejek.
“Ketahuilah bahwa aku berdiri
dihadapanmu saat ini adalah, sebagai wakil dari sekian
banyak penduduk Bojongnipah…,”
Kratomlinggo menunding ke belakang lalu meneruskan:
“penduduk Bojongnipah yang sejak
satu bulan belakangan ini telah menjadi korban
pemerasan, korban penindasan, korban
pengisapan, dkekik oleh pajak sebelas kali lipat!
Penduduk Bojongnipah…”
“Saudara Kratomlinggo,” memotong Ki
Lurah Kundrawana. “Ringkaskan saja
bicaramu. Katakanlah apa yang kalian
mau”.
Dan lagi-lagi Kundrawana melihat
senyum mengejek tersungging di mulut
Kratomlinggo.
“Apa mau kami…? Itu semua sudah kami
katakan pada saat pertama kali kau
memungut pajak gila itu!”
“Aku
pribadi memang tak ingin berbuat begitu. Tapi ini adalah perintah atasan.
Perintah
Raja, untuk pembangunan dan pemeliharaan pasukan…”
“Perintah
atasan tinggal perintah atasan! Apakah kalau atasan menyuruh kau cebur
ke
sumur lantas kau akan berbuat begitu? Nyemplung ke sumur?! Setiap perintah
harus
berdasarkan
pertimbangan otak Ki Lurah!”
Merah
muka Kundrawana.
Sementara
itu Warih Sinten mulai menangis terisak-isak.
“Saudara
Krato, mungkin pemungutan pajak itu hanya bersifat sementara saja…”
“Ya sementara! Sementara! Baru
dihentikan bila semua penduduk Bojongnipah ini
mati dkekik pajak ?1” .
“Aku tahu pajak sebesar itu memang
berat…”
“Kalau berat mengapa dilaksanakan?!”
tukas Kratomlinggo.
Ki
Lurah Kundrawana lagi-lagi menggigit bibirnya. lngin saja saat itu dia
mengatakan
apa sesungguhnya yang menjadi latar belakang dari pemungutan pajak itu.
Ingin
saja saat itu dia menerangkan siapa sebenarnya yang menjadi dalang pemungutan
pajak
gila itu! Tapi bila diingatnya anak tunggalnya yang ada di tangan Tiga Hitam
dari
Kali
Comel itu…
“Kami
penduduk desa Bojongnipah ingin agar peraturan pajak gila itu dkabut
kembali!”
berkata Kratomlinggo.
“Aku
tak punya wewenang untuk melakukan hal itu, saudara Krato”.
“Kau
bisa menyampaikan kepada Adipati di Linggajati. Adipati meneruskannya ke
Kotaraja.
Dan kalau kau tidak mau melakukan hal itu, kami tidak ragu-ragu untuk bertindak
berdasarkan apa yang kami rasa
benar…!”
“Apakah ini suatu ancaman?”
“Kau boleh bilang begitu., Ki
Lurah!”
“Saudara Krato…,” terdengar suarar
Warih Sinten. “Kau… kau dan semua penduduk
Bojongnipah tidak tahu… tidak tahu…”
“Kami lebih dari tahu!” geretus
Kratomlinggo. “Meskipun apa yang kini kami ketahui itu
adalah hal yang tak pernah kami
duga! Kami tahu bahwa suamimu, Ki Lu.rah Kundrawana tak lebih dari seorang
tukang peras! Yang menjilat ke atas dan menggilas ke bawah! Yang cari nama ke
atas dan menjerat leher penduduk di bawah! Kami lebih dari ta….”
“Kuharap bicara sepantasnyalah
Kratomlinggol” memotong Ki Lurah Kundrawana karena
panas hati dan telinganya mendengar
dkap sebagai penjilat dan pemeras demikian rupa.
Kratomlinggo berpaling ke arah orang
banyak. Kemudian dia tertawa bergelak. Sementara itu
salah seorang pendduk berteriak:
“Buat apa bicara sepanjang lebar dengan biang lintah darat itu?!
Sumpal saja mulutnya dengan golok !”
Kratomlinggo berpaling pada Kundrawana
kembali. “Kau dengar teriakan itu Ki Lurah?” tanyanya.
Mulut Kundrawana komat kamit. “Kalau
kalian ingin pajak itu dkabut, silahkan. pergi sendiri menghadap Raja di
Kotaraja…”
“Lantas, apa perlunya kau jadi Lurah
di sini'?!” teriak seorang penduduk pula.
“Apa hanya untuk ongkang-ongkang ?!”
teriak penduduk yang lain.
“Ongkang-ongkang dan memeras?!”
teriak yang lain lagi.
“Kemudian penduduk lainnya berteriak
pula: “Kami tidak percaya ini aturan dari Raja!
Bukan mustahil pajak itu adalah
aturan gila yang, kau buat sendiri !” .
Masih banyak lagi teriakan-teriakan
yang membuat muka Kundrawana menjadi merah dan
tebal rasanya: Telinganya berdesing.
“Kratomlinggo, kuharap kau bawalah orang-orang itu
meninggalkan tempat ini,” kata
Kundrawana.
“Begitu ...?,” ujar Kratomlinggo
dengan lontarkan senyum sinis. “Kami semua baru akan
pergi sesudah kau menyatakan
blak-b!akan bahwa mulai saat ini aturan pajak gila itu dkabut!”
“Tak satupun yang bisa mencabut
segala keputusan Raja!,” jawab Kundrawana. Suaranya
saja yang keras namun ucapannya itu
sama sekali tiada dengan kesungguhan hati.
“Kalau begitu agaknya kami terpaksa
menggunakan kekerasan…”
“Kau menentang Kerajaan,
Kratomlinggo?” tanya Ki Lurah Kundrawana. Pertanyaan yang
setengah menggertak ini
dimaksudkannya untuk dapat ke luar dari keadaan yang terdesak saat itu.
Namun jawaban Kratomlinggo adalah
lontaran seringai mengejek. “Jangan takuti
penduduk Bojongnipah dengan
kata-kata Kerajaan, Ki Lurah! Kami semua yakin bahwa pajak gila
itu adalah kau punya bisa! Kerajaan
selama ini selalu bertindak adil dan bijaksana…!”
Kratomlinggo melangkah kehadapan Ki
Lurah Kundrawana dengan kedua tinju terkepal.
Beberapa penduduk Bojongnipah
melangkah pula naik ke atas langkan.
Ki Lurah Kundrawana mundur beberapa
langkah ke belakang. Warih Sinten menjerit.
“Kratomlinggo, kau… kalian mau bikin
apa…?”
“Kami coba minta keadilan dengan
cara wajar, tapi kau maukan kekerasan…!” jawab
Kratomlinggo. Tangan kanannya
bergerak.
Tiba-tiba terdengar ringkikan kuda
dan suara hiruk pikuk. Penduduk di halaman muka
berhamburan.cerai berai.
“Atas nama Kerajaan, yang tidak mau
mati, minggirlah !”
Terdengar jeritan beberapa orang
yang terserampang kuda !
* * *
TIGA penunggang kuda melompat dari
punggung kuda masing-masing. Gerakan mereka
enteng sekali dan sekejapan mata
saja ketiganya sudah berada antara Kratomlinggo dan Ki Lurah
Kundrawana. Ketiganya berpakaian
seragam prajurit dan tampang-tampang mereka angker buruk.
Baik Ki Lurah Kundrawana maupun
Kratomlinggo dan penduduk Bojongnipah, semuanya sama
terkejut. Dalam keterkejutannya itu
Ki Lurah Kundrawana merasa lega juga karena dia segera
mengenali ketiga orang itu tak lain
adalah Tapak Luwinng dan dua orang anak buahnya! Namun apa
yang tidak dimengerti oleh Lurah
Bojongnipah itu ialah mengapa ketiga orang komplotan rampok itu
mengenakan pakaian keprajuritan.
Sementara itu Tapak Luwing yang
berdiri tepat dihadapan Kratomlinggo dengan bertolak
pinggang
dan membentak maju ke muka: “Kami prajurit-prajurit Kadipaten Linggajati! Kamu
jadi
biang
keribuan di sini ya?!”
Terkejutlah
Kratomlinggo dan penduduk Bojongnipah sedang Ki Lurah Kundrawana dan
isterinya
merutuk dalam hati melihat betapa lihaynya Kompolotan Tiga Hitam itu
menjalankan peran
sebagai
prajurit-prajurit Kadipaten palsu untuk mengelabui mata penduduk dan juga
menyembunyikan
rahasia besar latar belakang pemerasan mereka! Kratomlinggo menindih rasa
terkejutnya.
Dia merasa tak perlu takut terhadap ketiga prajurit Kadipaten itu bahwa
bukankah ini
kesempatan
di mana dia bisa sekaligus menerangkan pemerasan pajak yang dilakukan oleh
Kundrawana
itu?
“Saudara,”
kata Kratomlinggo, “jika kalian adalah prajurit-prajurit Kadipaten, kebetulan
sekali
kalau begitu…!
“Kebetulan
apa maksudmu?!” bentak Tapak Luwing.
Kratomlinggo
kemudian menerangkan sejelas-jelasnya mengenai soal pajak itu kepada
Tapak
Luwing. Namun dia begitu kaget ketika mendengar jawaban Tapak Luwing.
“Jadi
kau sengala pimpin penduduk Bojongnipah untuk mengikuti maumu sendiri?! Untuk
menepuh
jalan kekerasan! Ini namanya, satu pemberontakan! Ini namanya satu penantangan
terhadap Kerajaan, satu pembangkangan terhadap peraturan-perraturan Raja karena
soal pajak itu memang datang dari Raja disampaikan melalui Adipati di
Linggajati!”
“Tapi
mengapa hanya penduduk Bojongnipah saja yang dipajaki segila ini!,” kata salah
seorang penduduk yang berdiri di samping Kratomlinggo: “Ya, desa-desa lain
tidak!” seru yang lain dari luar halaman.
“Kamu semua tahu apa!” semprot Tapak
Luwing. “Ini adalah keputusan Raja! Bojongnipah yang subur tak bisa disamakan
dengan desa-desa lain. Karenanya sudah pantas kalau dibebani pajak yang agak besaran…”
“Agak
besaran…,” gerendeng seorang penduduk mengejek.
Kratomlinggo
kemudian mengetengahi suasana panas itu. “Kami merasa sama sekali tidak
menentang
Raja, sama sekali tidak membangkang apalagi memberontak. Kami hanya inginkan
agar pajak dikembalikan sebesar yang lama…”
“Tapak
Luwing meludah ke lantai langkan. “Kau memang biang racun
pemberontak yang
pintar omong! Terhadap Lurah kalian,
kalian boleh bicara kasar dan seenaknya, tapi terhadap kami prajurit-prajurit
Kadipaten jangan coba-coba! Pimpin seluruh penduduk untuk angkat kaki dari sini
!
Cepat!”
Maka berkatalah Kratomlinggo: “Kami
penduduk Bojongnipah datang ke sini untuk menegakkan keadilan. Kalau kami harus
angkat kaki dari sini maka keadilan itu musti sudah berhasil ditegakkan!”
“Hem...
begitu…?”. Tapak Luwing menyeringai. Gigi-giginya yang hitam kecoklatan serta
besar-besar ketihatan menjijikkan. “Sebelum kau dan yang lain-lainnya
menegakkan keadilan itu, coba terima tangan kananku ini !”
Sesudah
berkata demikian Tapak Luwing hantamkan tangan kanannya ke dada Kratomlinggo.
Yang dipukul dengan cepat melompat ke samping.
Namun
! “Buukk !”
Tangan
kiri Tapak Luwing bersarang di perut Kratomlinggo. Nyatanya pukulan tangan
kanan Tapak Luwing tadi hanyalah satu tipuan belaka! Kratomtinggo melintir dan
terjajar ke belakang. Perutnya sakit- sekali, mual seperti mau muntah, nafasnya
menyesak.
Laki-laki
ini rupanya bukanlah hanya sekedar seorang petani saja, namun juga seorang yang
pernah mempelajari ilmu silat. Dengan cepat dia atur nafas dan jalan darah.
Lalu dengan sebat rnenyerang ke muka. Enam orang penduduk ikut menyertai
serangannya inir Maka dengan demikian pertempuranpun pecahlah.
Empat
penduduk terjerongkang ke lantai langkan. Dua pingsan, dua lagi patah tulang
iganya
serta
terlepas sambungan sikunya. Sedang Kratomlinggo terhempas ke tiang langkan.
Dadanya kena dipukul oleh Tapak Luwing. Dia berusaha berdiri mengimbangi badan
kembali dan siap melancarkan serangan balasan. Tapi apa lacur, belum lagi
kakinya menindak pemandangannya sudah gelap dan dari mulutnya bermuntahan darah
kental berbuku-buku! Sesaat kemudian tubuh laki-laki ini tergelimpang ke
lantai!
Melihat
ini sebagian penduduk menjadi kalap. Mereka menyerbu berserabutan ke atas
langkan dengan berbagai macam senjata.
“Siapa
yang mau mampus, majulah!” teriak Tapak Luwing seraya melintangkan golok.
Mereka
yang menyerbu menjadi ragu-ragu kini namun beberapa orang diantaranya yang
tetap kalap menyerang dengan membabi buta. Maka terjadilah hal yang mengerikan.
Orang-orang ini bergelimpangan bermandikan darah, dibabat dan dipapas oleh
senjata Tapak Luwing dan anak-anak buahnya! Yang lain-lainnya kini tak berani
lagi bertindak lebih jauh meskipun jumlah mereka jauh lebih banyak!
Warih
Sinten sudah sejak lama lari ke dalam rumah sambil menjerit-jerit ketakutan
sedang Kundrawana menggigit bibir dan pejamkan mata melihal kengerian itu.
Kalau saja tidak ingat akan keselamatan anaknya, sudah sejak tadi dia mencabut
keris dan turut menyerbu!
“Siapa
lagi yang mau berkenalan dengan golokku, silahkan maju!,” kata Tapak
Luwing
tolakkan tangan kirinya ke pinggang kiri.
Tapak
Luwing tertawa. “Nah, kalau kalian masih belum punya nyali untuk masuk
ke
liang kubur, gotong kunyuk-kunyuk yang malang
melintang di langkan rumah ini
kemudian
angkat kaki dari sini cepat !”
Kemarahan
penduduk meluap-luap. Namun apa yang terjadi di depan mata mereka
membuat
nyali mereka menjadi ciut dan bulu kuduk meremang. Ki Lurah Kundrawana
sendiri
berdiri mematung. Rahangnya terkatup rapat-rapat. Kegeramannya tiada
terlukiskan.
Kebenciannya terhadap Tiga Hitam dari Kali Comel tiada terkirakan lagi!
Namun
seperti penduduk Bojongnipah, dia juga tak dapat berbuat suatu apa!
Penduduk
menggotong Kratomlinggo dan korban-koban lainnya. Sebelum mereka
berlalu
berserulah Tapak Luwing.
“Aku
tak ingin melihat keonaran macam begini untuk kedua kalinya, kecuali kalau
kalian
sendiri yang sengaja minta dibereskan macam kawan-kawan kalian itu! Siapa yang
mau
berontak boleh saja! Golakku memang sudah sejak lama haus darah!”
Tak
ada yang menyahuti ucapan Tapak Luwing itu.
Dan
Tapak Luwing yang menyamar sebagai prajurit Kadipaten itu berseru lagi:
“Jangan
lupa, paling lambat tengah hari besok, kalian semua sudah harus melunasi pajak
itu!
Jika ada yang membantah untuk membayarnya, kalian cukup tahu apa akibatnya!”
ketika
seturuh penduduk Bojongnipah sudah meninggalkan tempat itu maka Tapak
Luwing
menyarungkan goloknya kembali dan berpaling pada Ki Lurah Kundrawana.
“Kau
harus berterima kasih padaku yang telah selamatkan kau punya batang leher,
Ki
Lurah...!” Ki Lurah Kundrawana berkemik. Rahang-rahangnya bertonjolan. Tapak
Luwing
tertawa mengekeh. “Selambat-lambatnya senja besok uang pungutan pajak harus
sudah
kau antarkan ke pondok tua dipersimpangan jalan yang menuju ke Linggajati!”
Kundrawana
masih diam.
“Eh,
apa kau sudah tuli!” tanya Tapak Luwing.
Dan
Lurah Bojongnipah itu masih juga diam. Maka membentaklah Tapak
Luwing.
“Kamu tuli hah?!”
“Aku
tidak tuli, Tapak Luwing…”
“Lalu mengapa ditanya diam saja?
Mungkin gagu?!”
Dua orang anak buah Tapak Luwing
cengar cengir.
“Sesenja-senjanya hari uang itu
sudah harus ku terima. Kau dengar…?!” .
“Bagaimana kalau penduduk tak mau
membayamya ?”
“Aku tak perlu pertanyaan itu! Bayar
atau tidak bayar, pokoknya besok aku cuma tahu terima
uang!”
Tapak Luwing memberi isyarat pada
kedua anak buahnya. Ketiganya menuruni langkan
rumah dan melangkah menuju ke kuda
masing-masing.
Malam itu, dengan segala daya dan
sedikit ilmu pengetahuan yang dimilikinya, Kratomlinggo
berhasil menyembuhkan luka di dalam
yang dideritanya akibat pukulan Tapak Luwing. Pada
dasarnya bukan daya dan pengetahuan
silat Kratomlinggolah yang menolong melainkan adalah
karena pukulan Tapak Luwing pagi
tadi tidak mempergunakan keseluruhan tenaga dalamnya.
Dendam terhadap Tapak Luwing dan
kawan-kawannya, kebencian yang tak terkendalikan
terhadap Ki Lurah Kundrawana serta
pajak yang tetap harus dibayar esok hari, semuanya itu
bertumpuk menjadi satu sehingga
malam itu, rneskipun baru saja sembuh dari luka namun tekat
Kratomlinggo sudah bulat untuk
berangkat ke Kotaraja! Niatnya ini diberitahukannya pada beberapa
kawannya. Dan malam itu bersama
empat orang lainnya, dengan menunggangi kuda maka
berangkatlah Kratomlinggo ke
Kotaraja.
Malam gelap. Sinar bintang dan
cahaya bulan sabit tak dapat mengalahkan kegelapan itu.
Kratomlinggo dan empat orang
kawannya memacu kuda masing-masing, melewati sebuah tikungan
dan sampai di sebuah jembatan yang
menghubungkan kedua tepi sebuah anak sungai.
Pada saat itu pulalah Kratomlinggo
dan kawan-kawannya melihat serombangan penunggang
kuda di seberang jembatan. Mereka
berjumlah tiga orang dan ketiganya menghentikan kuda di
seberang jembatan itu. Melihat
gelagat yang tidak baik ini. Kratomlinggo segera hentikan kudanya.di
tengah-tengah jembatan dan memberi
isyarat pada keempat kawannya. Malam memang gelap namun
mata Kratomlinggo masih sanggup,
mengenali penunggang kuda yang paling depan dihadapannya.
Manusia itu ternyata adalah prajurit
Kadipaten yang siang tadi menanganinya!.
“Celaka,” bisik Kratomlinggo.
“Bagaimana bangsat-bangsat Kadipaten ini bisa tahu
keberangkatanku ke Kotaraja?!”
Sampai saat itu baik dia mau pun kawan-kawannya sama sekali
masih tidak mengetahui siapa ketiga
manusia yang menghadang di ujung jembatan itu!
Penunggang kuda sebelah muka yang
tiada lain dari Tapak Luwing adanya tertawa
mengekeh. “Rupanya pelajaran dan
peringatanku siang tadi masih belum cukup huh!,” sentak Tapak
Luwing. Kratomlinggo -tak menjawab.
Namun dia diam tangan kanannya menyelinap ke balik
pinggang meraba hulu golok. Hal yang
sama dilakukan juga oleh keempat kawannya. Dan di
seberang jembatan kembali terdengar
kekehan Tapak Luwing.
Begitu kekehannya berhenti maka
terdengar bentakannya. “Kalian kunyuk-kunyuk mau ke
mana?!”
“Kami tak ada permusuhan dengan
kalian. Karena itu minggirlah, beri jalan…” kata
Kratomlinggo pula.
“Minta jalan? Boleh… lewatlah!,”
kata Tapak Luwing pula sambil pinggirkan kudanya.
Dipersilahkan begitu rupa malah
membuat Kratomlinggo dan kawan-kawannya menjadi terpatung,
tak
bergerak di punggung kuda masing-masing. “Ayo, kenapa tidak mau lewat?!,” tanya
Tapak
Luwing.
Kratomlinggo
bimbang.
Dan
Tapak Luwing buka suara lagi: “Kalau begttu roh busuk kalian yang akan lewat
jembatan
ini !”
“Sret
!”
Tapak
Luwing cabut goloknya. Terdengar lagi dua kali suara “sret” yaitu dari
golok-golok
yang
dkabut oleh anak buah Tapak Luwing. Melihat ini Kratomlinggo dan kawan-kawannya
segera pula menghunus golok masing-masing !
“Aku
tahu kalian hendak ke Kotaraja…,” berkata Tapak Luwing seraya larik tali
kudanya,
“Tapi
ketahuilah hanya roh-roh busuk kalian yang akan menghadap Raja di istana!”
Dalam
jarak dua tombak, dengan satu sentakan keras maka kuda Tapak Luwing melompat ke
muka. Dua anak buahnya menyusul. Tiga golok berkelebat di bawah cahaya redup
bulan sabit. Lima
golok menyambutinya !
“Trang
..... trang ..... trang….!”
Bunga
api memercik. Suara beradunya golok-golok itu disusul oleh seruan kesakitan.
Dua kawan Kratomlinggo rebah dari atas punggung kuda. Yang satu terbabat
perutnya, yang lain puntung lengan kanannya!
Dalam
gebrakan kedua, Tiga Hitam dari Kali Comel yang saat itu masih mengenai
pakaian,
prajurit-prajurit
Kadipaten, kembali mengirimkan serangan hebat tanpa memberikan kesempatan pada
lawan! Dua orang lagi menjerit dan roboh, tubuh salah satu dari padanya
kemudian kecebur ke dalam sungai. Kratomlinggo sendiri dibikin terjerongkang
dari atas punggung kuda, goloknya lepas. Masih untung
sarripai saat itu dia belum cidera apa-apa. Dan memaklumi bahwa untuk melawan
terus adalah satu kesia-siaan maka laki-laki ini segara putar tubuh ambil
langkah seribu!
Tapak
Luwing tertawa bergelak. “Dasar manusia kintel! Kamu mau lari ke mana?!” Dari
balik sabuknya kepala Komplotan Tiga
Hitam dari Kali Comel ini keluarkan sebilah pisau belati.
Senjata ini melesat dengan
mengeluarkan suara berdesing! Kratomlinggo yang tak tahu dirinya
tengah dikejar maut, terus juga
lari.
Hanya satu jengkal saja lagi belati
yang mengandung racun itu akan menancap di
punggungnya maka pada saat itu
pulalah dari jurusan semak belukar gelap di tepi sungai melesat
sebuah
benda berbentuk bintang berwarna putih perak !
“Tring
!”
Bunga
api memercik.
Bukan
saja benda berbentuk bintang ini berhasil membuat pisau beracun Tapak Luwing
mental, tapi juga membuat pisau itu
patah dua !
Terkejutlah Tapak Luwing. Lupa dia
pada niatnya hendak membunuh Kratomlinggo. Dengan
serta merta diputarnya tubuhnya.
Matanya yang tajam telah melihat dari arah mana datangnya
sambaran benda putih perak berbentuk
bintang itu. Dan memakilah kepala Komplotan Tiga Hitam
dari Kali Comel itu.
“Setan alas yang ikut campur urusan
orang ke luar dari persembunyianmu dan terima pisaupisau
ku ini !”
Habis bilang demikian Tapak Luwing
lemparkan sekaligus tiga bilah pisau beracunnya ke
arah semak belukar di kegelapan.
Terdengar suara siulan yang disusul
oleh suara tertawa bergelak.
“Aku di sini bung! Kenapa serang
tempat kosong?!,” kata, manusia yang muncukan diri itu
dengan
nada mengejek.
“Bangsat
betul!,” maki Tapak Luwing. Di lemparkannya lagi dengan tangan kiri
sepasang pisau belati ke arah laki-laki yang berdiri
sekira enam tombak di tepi sungai.
ENAM
ORANG
yang berdiri di tepi sungai sambuti serangan itu dengan melambaikan tangan
kirinya.
Sekali lambai saja maka kedua pisau beracun itupun mentallah.
Kaget
Tapak Luwing membuat- laki-laki ini keluarkan seruan tertahan.
“Manusia
yang sengaja cari penyakit, siapa kau!” tanyanya membentak dan diam-diam
memberikan
isyarat pada kedua anak buahnya untuk bersiap-siap dan mengambil posisi
mengurung.
Yang
ditanya. “Ada ribut-ribut apa di sini?!”.
“Ee
kunyuk gondrong!,” maki salah seorang, anak buah Tapak Luwing. “Kau berani.
bicara
edan
sama prajurit-prajurit Kadipaten?!”
“Oh....
jadi kalian prajurit-prajurit Kadipaten…”. Laki-laki di tepi sungai, keluarkan
suara
mendengus.
“Setahuku prajurit-prajurit Kadipaten tidak suka urusan kekerasan, apalagi
membunuh
manusia begini rupa…!”.
Sementara itu. Kratomlinggo yang
tadi hendak larikan diri, mendengar ada keributan baru
di belakangnya perlahan-lahan
palingkan kepala lalu putar tubuh dan berhenti di belakang sebuah
pohon. Apa yang disaksikannya
kemudian sungguh tidak diduganya.
“Kita tak perlu sembunyikan siapa
kita terhadap monyet bermuka manusia ini!'', kata Tapak
Luwing.
“Nah, terus terang lebih bagus!”
menimpali laki-laki di tepi sungai. “Katakan saja siapa
kalian!”.
“Sebelum tahu siapa kami sebaiknya
lekas-lekaslah berlutut minta ampun!” kata Tapak
Luwing
pongah.
“Eh,
kenapa begitu?''.
Karena
menyangka bahwa Kratomlinggo sudah larikan diri dan tak ada lagi di tempat
itu,
maka berkatalah Tapak Luwing;”Ketahuitah. Tiga Hitam dari Kali Comel tidak pernah
membiarkan terus bernafasnya seorang
biang runyam yang ikut campur urusan!”
“Ooo… jadi kalian Tiga Hitam dari
Kali Comel, rampok-rampok ganas tiada kernanusiaan
itu? Pantas… pantas tampang-tampang
kalian hitam macam arang…”
“Haram jadah! Terima golokku!,”
teriak anak buah Tapak. Luwing yang di samping
kanan. Dengan gerakan enteng dia
melompat dari punggung kuda, derngan sebat goloknya
berkelebat ke arah batok kepala laki-laki
muda yang berdiri tetap tenang malahan dengan
tertawa-tawa!
Tiba-tiba dengan kecepatan yang luar
biasa laki-laki muda itu melompat ke belakang.
Serangan anak buah Tapak Luwing
mengenai tempat kosong. Karena begitu kesusu dan sebatnya
maka laki-laki itu jadi
terhuyung-huyung sendiri. Sebelum dia sempat mengimbangi badan, satu
tendangan menghantam pantatnya!
“Manusia tidak tahu peradatan! Orang
bicara dipotong seenaknya! Rasakan sendiri
olehmu!”
Melihat kawan dan anak buahnya
dipermainkan begitu rupa sampai tersungkur di tanah.
Tapak Luwing dan anak buahnya yang
satu lagi segera loncat dari kuda.
“Beri tahu namamu lebih dulu,
kunyuk!,” bentak Tapak Luwing. “Kalau tidak rohmu akan
minggat percuma!”
“Bicaramu terlalu tinggi! Kalau mau
tahu namaku majulah…!”.
Dengan tertawa bergelak Tapak Luwing
menyerbu ke muka. Sambaran goloknya deras
sedang tangan kirinya laksana palu
godam membabat ke arah ulu hati lawan. Inilah jurus “angin
mengamuk pohon tumbang” yang memang
bukan olah-olah dahsyatnya.
“Ah, rupanya kau punya ilmu yang
diandalkan juga eh?” ejek lawan yang diserang. Dia
merunduk untuk elakkan sambaran
golok lalu lompat ke samping guna hindarkan sodokan tinju
lawan dan dengan secepat kilat
kemudian tangan kanannya yang terbuka menyeruak di antara
kedua serangan lawan tadi, menderas
ke arah kening Tapak Luwing.
Kepala Tiga Hitam dari Kali Comel
itu bukan orang yang berilmu rendah. Kalau tidak
percuma saja dia menjadi kepala
komplotan yang ditakuti selama bertahun-tahun disepanjang
Kali Comel dan perbatasan.
Dengan sebat, dengan keluarkan
bentakan dahsyat Tapak Luwing membuat satu gerakan
yang luar biasa. Tubuhnya mencelat
satu tombak ke atas dan dalam lompatan itu kaki kanannya
menderu muka lawan dan disaat yang
sama pula dari sebelah belakang menderu golok anak buah
Tapak Luwing ke arah punggung
laki-laki muda itu.
Yang
diserang bersiul. “Akh… kalian rupanya betul-betul maui jiwaku! Tapi kurasa
saat ini
belum
waktunya!”. Pemuda ini berkelebat. Lututnya menekuk kedua tangannya berputar
seperti kitir
dan:
“bluk ....... buk”!.
Anak
buah Tapak Luwing terjerongkang ke belakang, muntah darah dan menggeletak,di
tanah.
Tapak Luwing sendiri merintih kesakitan sewaktu lengan lawan menghantam tepat
tulang
keringnya!
Di
saat itu anak buah Tapak Luwing yang tadi ditendang pantatnya sudah bangun
kembalidan
dengan ganas lancarkan serangan
dahsyat. Namun
nasibnya juga sial. Sekali lawannya berkelebat
maka
goloknya kena dihantam sikut lawan! Yang satu inipun roboh pula menyusul
kawannya
Merasakan
sakit pada kakinya, melihat kedua anak buahnya dibuat begitu rupa, benar-benar
Tapak
Luwing hampir-hampir merasa seperti orang mimpi. Apakah agaknya kali, ini
komplotan yang
dipimpinnya
menemui “batunya”? Selama bertahun-tahun bertualang dan menjadi Pemimpin
Komplotan Tiga Hitam dari Kali Comel
baru hari itu dia melihat dengan mata kepala sendiri
bagaimana kedua anak buahnya dibikin
menggeletak hanya dalam satu gebrakan saja! Bahkan dia
sendiri merasakan pula bekas tangan
lawannya. Lawan yang masih muda belia dan sama sekali tidak
dikenalnya.
Dengan penuh geram_Tapak Luwing
salurkan tenaga dalamnya lewat lengan kanan terus
kegolok sedang tangan kirinya saat
itu sudah memegang tiga pisau beracun. Kedua kakinya
terpentang, pinggangnya sedikit
membungkuk ke muka. Tangan yang memegang pisau dinaikkan ke
atas agak ke belakang sedang tangan
kanan memegang golok lurus-lurus ke muka.
“Kenalkah kau jurus ini, pemuda
keparat?!”.
“Ah… hanya jurus -- menyebar bunga
menusuk buah -- nenek-nenek keriputpun bisa
mengenalnya!,” sahut si pemuda.
Bukan saja Tapak Luwing menjadi
geram diajek demikian rupa namun dia juga kaget
melihat bahwa lawannya bisa menerka
jurus yang bakal dikeluarkannya itu!
Untuk menutupi keterkejutannya Tapak
Luwing berkata: “Kau sudah tahu nama jurus ini, baik
sekali!. Tapi juga ketahuilah ini
adalah jurus kematianmu! Bagusnya kasih tahu namamu sekarang
juga agar kau mampus tidak dengan
penasaran!”.
“Sudahlah…. jangan banyak bacot!
Buktikanlah kehebatan jurus yang kau andalkan itu!”.
Tapak
Luwing tertawa dingin. Tubuhnya semakin membungkuk. Hampir tak kelihatan dia
menggerakkan
tangan kirinya maka tiga pisau yang dipegangnya tahu-tahu sudah meluncur sebat
sekali
ke arah si pemuda. Yang pertama menjurus batang leher, yang kedua mencuit ke
dada dan yang
terakhir
menggebubu ke bawah perut!
Bukan
saja daya lesat pisau itu hebat sekali mengingat hanya di lemparkan dengan
tangan kiri,
namun
juga tempat-tempat yang diserangnya juga adalah tempat-tempat yang berbahaya
mematikan.
Pada
detik pisau-pisau beracun itu melesat ke muka, pada saat itu pulaTapak Luwing
menerjang
dan putar goloknya dengan sebat. Dorongan angin golok yang. menderu menambah
kencangnya daya lesat tiga pisau
itu. Maka itulah jurus “menyebar bunga rnenusuk buah”. Pisau dan
golok datang susul menyusul!
“Akh jurusmu ini boleh juga!,” kata
si pemuda. “Tapi coba terima dulu telapak tanganku!”.
Si pemuda pukulkan tangan kirinya ke
muka. Angin
dahsyat melanda dan mementalkan ketiga
pisau.
Tapak Luwing berseru kaget karena dua dari pisau itu akibat dorongan angin
pukulan
lawan
berbalik menyerang ke arahnya. Mau tak mau Tapak Luwing terpaksa pergunakan
goloknya
untuk meruntuhkan dua pisau itu.
“Tring.....
tring!”
Dua
pisau beracun patah-patah dan terlempar jauh. Gerakan untuk menangkis dua
pisau
ini membuat Tapak L.uwing melupakan pertahanan dirinya seketika. Ketika dia
memasang
kuda-kuda baru maka telapak tangan kanan lawan sudah berada dekat sekali ke
kepalanya.
Kepala Tiga Hitam dari Kali Comel ini pergunakan goloknya untuk membabat
lengan
lawan namun kurang cepat karena lengan kiri si pemuda lebih cepat menyusup
membentur
sambungan sikunya.
“Krak”!
“Plak”!
Tapak
Luwing mengeluh dan huyung kebelakang.
Lengannya
patah.
Keningnya
yang kena dihantam telapak tangan lawan sakit dan panas bukan main.
Pada
kulit kening itu kini kelihatan tertera angka 212! Tapak Luwing coba alirkan
tenaga
dalam dan atur jalan darahnya. Namun
kekuatannya seperti punah. Keringat dingin
membasahi sekujur tubuhnya.
Keningnya panas, sakit dan pemandangannya berkunang,
lututnya
gontai!
“Keparat…,”
desis Tapak Luwing.
“Ee…
masih bisa memaki?”
“Kalau
hari ini aku kena kau celakai jangan anggap kau sudah mempecundangi aku,
orang
muda. Suatu hari kelak aku akan mencarimu dan mematahkan batang lehermu!”.
Tapak
Luwing ambil tiga pisau terbang dengan tangan kirinya. Cepat sekali senjata
itu
dilemparkannya ke arah si pemuda lalu secepat itu pula dia putar tubuh untuk
larikan
diri. Si pemuda melompat ke samping.
Dua pisau lewat di kiri kanannya. Pisau ketiga
diluruhkannya dengan lambaian tangan
kiri! Kemudian sambil totokkan dua jari tangan
kanannya mengirimkan totokan jarak
jauh berserulah si pemuda: “Kenapa pergi buru-buru?!
Bicaraku tadi padamu belum habis!”
Kontan saat itu juga tubuh Tapak
Luwing menjadi kaku tegang tak bisa bergerak
lagi! Si pemuda tertawa dan
berpaling pada pohon besar di tepi sungai.
“Saudara
yang sembunyi di belakang pohon. keluarlah. Aku mau bicara juga dengan
kau!”.
Kratomlinggo, yang berdiri di
belakang pohon itu terkejut. Namun karena tahu
bahwa itu pemuda bukanlah dari
golongan jahat maka tanpa ragu-ragu dia segera keluar.
Lagi pula penuturan Tapak Luwing
tadi yang mengaku bahwa dia.dan kawan-kawannya
adalah Komplotan Tiga Hitam dari
Kalkomel membuat dia merasa perlu melakukan penyelidikan
lebih jauh.
“Saudara, apakah yang telah terjadi
di sini sebelumnya dengan kau dan kawankawan...?”.
“Panjang ceritanya, saudara. Tapi
sebelumnya kalau aku boleh tahu siapa
namamu…?”
“Aku Wiro…,” jawab si pemuda.
“Aku Kratomlinggo. Aku dan
kawan-kawanku yang malang itu sama-sama dari desa
Bojongnipah. Kami bermaksud pergi ke
Kotaraja…”
Maka Kratomlinggopun menuturkan
segala sesuatunya, mulai dari soal pajak gila yang dilarik
oleh Ki Lurah Kundrawana sampai
dengan kematian keempat kawannya itu.
Wiro atau alias Pendekar 212 geleng-gelengkan
kepalanya. “Aku memang
sudah lama dengar nama Komplotan
bejat mereka. Yang satu ini kalau tak salah bernama Tapak
Luwing. Pantas saja selama beberapa
waktu terakhir ini tak kelihatan mereka malang melintang di
sepanjang Kali Comel. Rupanya tengah
bikin kejahatan di sini…”.
“Dan pastilah penjahat-penjahat ini
bekerjasama atau jadi- kaki tangan Ki Lurah
Kundrawana…”.
“Boleh jadi,” sahut pendekar 212.
“Tapi mungkin juga merekalah biang runyam yang
melakukan pemerasan terhadap Ki
Lurah!”
Kratomlinggo mengangguk.
“Supaya jelas biar bangsat yang satu
ini kita tanyai,” kata pula. Dia
melangkah
mendekati Tapak Luwing untuk
melepasakan totokan di tubuh kepala Komplotan Tiga Hitam itu.
Namun baru saja satu tindak dia
melangkah tiba-tiba sekali berkelebatlah satu sosok tubuh dari
kegelapan. Makhluk ini langsung
meraih pinggang Tapak Luwing dan membopong melarikannya!
Kratomlinggo terkejut
berteriak: “Maling tengik! Berhenti!”.
Sebagai jawaban, terdengar suara
tertawa bekakakan dari orang yang melarikan Tapak Luwing
itu.
“, pemuda gendeng! Jangan sangka
cuma kau sendiri yang jago dan sakti di jagat
ini! Aku tunggu kau besok siang di
Rawasumpang! Kuharap kau punya nyali unhuk menerima
undangan kematianmu ini! Ha… ha… ha
…!”
“Sompret betul! Siapa kau!
Berhentil”.
“Besok siang. Wiro!” “
Dengan, geram pendekar 212 lepaskan
pukulan “kunyuk melempar buah”! ke arah manusia
tak dikenal itu! Deru angin yang
tiada terkirakan dahsyatnya menyerang si orang asing. Pada saat itu
pula terlihat selarik sinar biru. Dan angin
pukulan terbendung laksana membentur
dinding baja! Terkejutlah pendekar
212. Pukulan yang dilancarkannya tadi disertai hampir sepertiga
dari tenaga dalamnya. Namun manusia
yang tak dikenal itu berhasil meruntuhkan pukulan tersebut!
Besarlah dugaan bahwa orang yang memboyong Tapak Luwing itu adalah
guru
Tapak Luwing., setidak-tidaknya
kakak seperguruannya. Atau mungkin juga seorang sakti dari
golongan hitam yang berkawan dengan Tapak Luwing.
TUJUH
HALAMAN
rumah lurah bojongnipah penuh oleh penduduk. Suasana malam terang benderang
oleh puluhan obor. Agaknya penduduk Bojongnipah sudah tak dapat menahan ke
sabarannya lagi untuk mencincang dengan segala senjata yang mereka bawa, kedua
manusia yang saat itu terikat ke tiang langkan rumah. Mereka tiada lain
daripada anak-anak buah Tapak Luwing yang telah dirobohkan oleh Pendekar 212.
Keduanya telah siuman. Di samping terikat ke tiang, keduanya juga berada dalam
pengaruh totokan .
Kratomlinggo
berdiri di samping Ki Lurah Kundrawana. Beberapa tombak dari mereka
berdiritenang-tenang . Kratomlinggo barusan saja menerangkan apa yang
diketahuinya tentang
kedua
orang itu kepada Ki Lurah dan juga apa yang telah terjadi di tepi sungai dekat
jembatan.
Bola
mata Ki Lurah Kundrawaana pulang balik memandangi dan kedua anak buah Tapak Luwing. Saat itu
Lurah Bojongnipah ini tak dapat lagi menahan hati dan mengendalikan amarahnya.
Untuk sesaat lupa dia bahwa anaknya masih berada di dalam tawanan Tapak Luwing
dan Tapak Luwing sendiri saat itu tidak berhasil ditangkap!
“Saudara-saudaraku
se-Bojongnipah…,” kata Kundrawana seraya maju beberapa langkah ke
hadapan
penduduk yang berdesak-desakan. “Sekarang kurasa sudah waktunya untuk
menerangkan
kepada
kalian apa sesungguhnya latar belakang timbulnya pajak gila itu! Aku dengan
hati hancur dan
seribu
satu kepahitan telah terpaksa menerima segala kata-kata dan cap yang kalian
lemparkan
padaku!
Kalian mencap aku sebagai tukang peras, aku telah terima. Kalian cap aku
sebagai lintah
darat,
sebagai tukang tindas... sebagai ini, sebagai itu, semuanya aku terima! Namun hari
ini, malam
ini
kalian terimalah juga satu penuturan dariku, satu kenyataan yang menyebabkan
terjadinya
pemungutan
pajak berat itu. Dulu aku pernah berkata bahwa pajak itu dipungut atas perintah
Raja!
Untuk
pembangunan dan pemeliharaan balatentara Kerajaan. Kini kuakui itu semua hanya
alasan
belaka,
hanya dusta besar yang aku karang-karang demi untuk menyelamatkan keluargaku
dan juga
menyelamatkan
kalian semua dari keganasan dan kejahatan yang kalian tidak ketahui ...”
PendudukBojongnipah
saling pandang memandang satu sama lain penuh ketidak mengertian.
Ki
Lurah Kundrawana menyapu wajah mereka seketika lalu meneruskan bicaranya.
“Tadi
kalian sudah dengar semua keterangan Kratomlinggo. Ini satu kenyataan bagus
yang
dengan sendirinya telah mencuci
diriku. Tapi biar aku beri penjelasan lebih lengkap. Dua manusia
yang terikat itu adalah anak buah
Komplotan Tiga Hitam dari Kali Comel, komplotan rampok-rampok
bejat yang dikepalai oleh Tapak
Luwing yang berhasil melarikan diri ditolong oleh seorang tak
dikenal. Jadi ketiganya sama sekali
bukanlah prajurit-prajurit Kadipaten seperti yang mereka sengaja
menyamar pagi tadi! Tiga minggu yang
lewat, di satu malam mereka telah datang ke rumahku dan
memaksaku untuk menarik pajak
sepuluh kali lebih besar dari yang sudah-sudah. Jadi berarti aku harus
menarik pajak sebanyak sebelas kali
terhadap kalian. Yang sepuluh bagian harus kuserahkan pada
mereka sedang yang satu bagian
sebagaimana biasa diserahkan ke Linggajati di mana Adipati
Linggajati kemudian meneruskan ke
Kotaraja…
Aku coba untuk melawan. Tapi di
samping mereka bertiga berilrnu tinggi aku tak bisa berbuat
apa-apa karena anakku satu-satunya
mereka bawa! Anakku akan mereka bunuh kalau pajak itu tidak
aku pungut dari penduduk di sini!
Kalian bisa merasakan dan mengetahui sendiri kini. Tak ada jalan
lain bagiku untuk membantah, kecuali
kalau ingin putera tunggalku rnenemui kematiannya…!”.
Suasana malam sesepi dipekuburan
kini! Penduduk sama menganga dan terlongong-longong.
Tentu saja hal ini tiada diduga sama
sekali oleh mereka. Dan serentak pula dengan itu maka
menggelegaklah kemarahan penduduk.
Ketika seseorang di antara mereka berseru: “Cincang dua
bangsat ini!,” maka menyerbulah
penduduk Bojongnipah dengan senjata masing-masing. Namun
disaat
itu pendekar 212 maju ke muka dan berseru nyaring. Sengaja seruannya itu disertai tenaga dalam
untuk mempengaruhi. penduduk yang
tengah marah itu.
“Saudara-saudara, jangan ceroboh!
Kunyuk-kunyuk ini akan dapat bagiannya juga! Tapi
kalian harus ingat pada nasib anak
Lurah kalian! Karena itu biarkan aku bicara sebentar dengan salah
satu dari mereka… !”
Kalau saja penduduk tidak mendapat
keterangan dari Kratomlinggo siapa adanya pemuda
berambut gondrong itu, pastilah
penduduk tak akan mau ambil perduli akan ucapan , lagi
pula tenaga dalam si pemuda
diam-diam sudah meresap mempengaruhi mereka!
Wiro mendekati anak buah Tapak
Luwing yang terikat di tiang langkan sebelah kanan.
“Namamu siapa, sobat?,” tanyanya.
Laki-laki itu diam saja. Hanya kedua
bola matanya berputar menyorot melontarkan
pandangan sangat membenci dan
mendendarn.
“Eeeh rupanya bekas tanganku membuat
kau jadi tuli, huh!”.
“Keparat! Tak usah banyak bicara…
Kelak hari pembalasan dari pemimpinku Tapak Luwing
akan tiba! Kalian semua di sini akan
dikirim ke neraka!”.
menyeringai.
“Mungkin kau dan kawanmu yang akan
lebih dahulu dkincang penduduk sampai lumat!” kata
pula. “Tak usah banggakan pemimpinmu! Dia
sudah kabur bersama seorang
kawannya!”.
Keterangan ini mengejutkan kedua
anak buah Tapak Luwing. Memang sejak mereka siuman
tadi mereka tidak melihat pemimpin
mereka dan tak tahu berada di mana.
Dan Wiro berkata lagi: “Aku
mempunyai dugaan bahwa kau ada sangkut pautnya dengan
Adipati di Linggajati. Katakan saja
terus terang .... Anak buah Tapak Luwing diam.
“Katakan!,” bentak Wiro.
Sebaliknya laki-laki itu meludah ke
lantai. “Beset
saja mulutnya!,” teriak Kratomlinggo yang
sudah
tak sabaran.
“Kau
tak mau kasih keterangan?” tanya pendekar 212.
Anak
buah Tapak Luwing itu meludah sekali lagi ke lantai langkan!
Wiro
tertawa.
Dijangkaunya
sebuah obor yang dipegang oleh seorang penduduk.
“Pernah
rasa panasnya api?,” tanya pendekar ini dengan tertawa-tawa. “Tampangtampang
macammu
ini akan lebih keren bila disundut begini rupa!”.
lantas menyorongkan api obor ke muka laki-laki
itu. Anak buah
Tapak
Luwing tak sanggup gerakkan kepalanya karena tertotok. Keluhan kesakitan
terdengar tiada henti. Udara malam
kini berbau hangusnya bulu mata, alis dan sebagian
rambut laki-laki itu. Kulit mukanya
kelihatan merah terbakar.
“Mau sekali lagi?!,” tanya Wiro
dengan tertawa-tawa.
“Aku bersumpah kalau lepas akan
membunuhmu dan tujuh keturunanmu!,” kata
anak
buah Tapak Luwing penuh penasaran.
“Jangan ngaco! Kau tak akan lepas
dari sini. Kalaupun lepas mungkin cuma rohmu
saja! Dan aku belum punya keturunan…!”.
Pendekar muda itu tertawa mengekeh. Mau tak
mau orang banyak yang menyaksikan
itu jadi ikut-ikutan geli.
“Ayo, katakan apa hubunganmu dengan
Adipati Linggajatit,” bentak Wiro seraya
mendekatkan api obor ke muka
laki-laki itu.
“Tak ada hubungan apa-apa…!,” jawab
anak buah Tapak Luwing.
“Ah…
ini satu kebohongan atau kedustaan?!”.
“Aku
tidak dusta. Tidak bohong!”.
“Lantas apa perlumu pagi tadi
menyamar bertiga-tiga menjadi prajurit-prajurit
Kadipaten…?”.
“Itu
bukan urusanmu!”.
“Oh
begitu? Memang bukan urusanku. Tapi urusan api obor ini!”. Dan sekali lagi
api
obor menjilati muka laki-laki itu. Dia menjerit-jerit. Wiro
rnenunggu sampai beberapa
detik di muka. “Mau kasih keterangan
apa tidak?” tanyanya.
“Aku akan terangkan… !” berkata juga
laki-laki itu pada akhirnya.
Wiro tersenyum. Dilariknya obor
kembali. “Nah bicaralah. Biar kerasan agar semua
orang dengar!”.
Maka anak buah Tapak Luwing itupun
memberikan penuturan: “Adipati Seta Boga
dari Linggajati mengirimkan seorang
utusan pada kami. Dia telah membuat rencana untuk
melakukan pemerasan di sini. Kami
ditawarkannya pekerjaan untuk menarik pajak itu
dengan perjanjian hasilnya dibagi
dua. Pemimpin kami menerimanya dan… dan…”.
“Sudah. Itu sudah cukup terang!”
kata pula.
Ki Lurah Kundrawana maju ke muka.
“Jadi ini semua dibiangi oleh Adipati Seta
Boga ...?”.
“Ya...”.
“Kita harus tangkap Adipati itu!”
teriak penduduk.
“Gantung saja bersama kunyuk-kunyuk
yang dua ini!” teriak yang lain.
Pendekar 212 angkat tangan kirinya.
“Soal Adipati itu serahkan padaku,” katanya.
“Yang penting kini ialah
menyelamatkan anak laki-laki Ki Lurah…”.
Tersiraplah darah Ki Lurah
Kundrawana bila dia ingat kembali akan anaknya.
Dijambaknya
rambut anak buah Tapak Luwing. “Anakku di mana kalian sekap?!”
tanyanya.
Laki-laki
itu tertawa buruk. Sangat buruk, apalagi melihat mukanya yang hangus
dan
merah mengelupas. “Jangan harap anakmu akan selamat Kundrawana!”
Kundrawana
menyentakkan kepala laki-laki itu. “Dimana?!”.
“Mungkin sudah mampus di tangan
pemimpinku!”
Kundrawana mengambil obor dari
tangan . Anak buah Tapak Luwing
menjerit keras ketika obor itu
disodokkan ke mata kanannya, Mata itu pecah dan darah
meleleh di kulit mukanya yang
mengelupas hangus!
“Kedua matanya akan kubikin buta
keparat! Kecuali, kalau kau segera
menerangkan di mana anakku kalian
sekap!”.
Laki-laki itu sebenarnya menyadari
bahwa kalau sudah tertangkap demikian rupa
dirinya tak akan mungkin lagi bisa
selamat. Adalah percuma saja baginya untuk
memberikan keterangan. Namun dalam
diri manusia yang berkeadaan seperti anak buah
Tapak Luwing saat itu, walau
bagaimanapun senantiasa selalu terdapat sekelumit harapan
untuk bisa menyelamatkan diri
sehingga ancaman matanya akan dibutakan kedua-duanya
itu mau tak mau mengerikannya juga!
Maka diapun memberikan keterangan :
“Anak itu disekap di satu kuil tua di Parit
Kulon…”.
Lega sedikit hati Kundrawana.
“Tapi,” katanya, “bila aku datang ke sana anakku
tidak ada atau kutemui dia dalam
keadaan sudah mati jangan harap kau bisa melihat dunia
ini sampai esok lusa!”. Kini
pendekar 212 yang buka suara : “Saudara-saudara apapun
yang kalian lakukan terhadap dua
kunyuk ini, itu bukan urusanku lagi. Tapi sedapatdapatnya
jangan diapa-apakan dulu dia sebelum
anak Ki Lurah ketemu dalam keadaan
selamat. Soal Adipati Seta Boga di
Linggajati, serahkan padaku. Besok kalian bisa
mengambil sosok tubuhnya di
Kadipaten Linggajati. Cuma aku tak dapat memastikan
apakah dalam keadaan masih bernafas
atau tidak. Itu tergantung pada sikapnya sendiri!
Sekiranya dia masih hidup, ada
baiknya kalian giring saja ke Kotaraja… Nah, selamat
tinggal!”.
“Saudara tunggu dulu!” seru
Kratomlinggo dan Kundrawana hampir berbarengan.
Namun sudah berkelebat lewat langkan, lewat
kepala-kepala penduduk Bojongnipah
lalu lenyap ditelan kegelapan malam.
* * *
HANYA sebentar suasana sepi
menyeling. Bila bayangan sosok tubuh pendekar
212 sudah lenyap ditelan kegelapan
malam maka lupalah penduduk Bojongnipah akan
pesan pendekar itu. Beramai-ramai
mereka menyerbu kedua anak buah Tapak Luwing
yang berada dalam keadaan tak
berdaya, terikat ketiang langkan dan tertotok. Puluhan
senjata laksana hujan bertubi-tubi
mampir ke kepala dan tubuh kedua orang itu. Tiada
terdengar suara jeritan kedua orang
ini, rintihanpun tidak! Mereka telah menemui nasib
pembalasan atas kejahatan mereka.
Keduanya menghembuskan nafas dengan tubuh mandi
darah dan muka hancur tak bisa
dikenali lagi. _
Ki Lurah Kundrawana tidak
menyaksikan lagi apa yang diperbuat penduduk
Bojongnipah itu. Bersama
Kratomlinggo dan tiga orang lainnya, dengan menunggangi kuda, dia
meninggalkan Bojongnipah menuju
Parit Kulon, sebuah pesawangan yang jarang didatangi manusia,
terletak kira-kira ernpat kilometer
dari desa. Satu-satunya bangunan di Parit Kulon adalah kuil tua yang
diterangkan anak buah Tapak Luwing.
Karenanya meskipun malam tak sukar untuk mencarinya.
Ki Lurah Kundrawana menyalakan obor
yang dibawa. Diiringi oleh keempat orang lainnya dia
masuk ke dalam kuil tua itu. Meski
dia menemui anaknya dalam keadaan menyedihkan namun
Kundrawana merasa. lega dan gembira
karena anak satu-satunya itu ternyata masih bernafas. Anaknva
tidur di ubin kotor dengan pakaian
yang juga kotor. Tubuhnya kurus dari parasnya pucat karena tak
terurus. Tangan dan kakinya diikat.
Kundrawana bertutut lalu memeluk anaknya itu. Kratomlinggo
membuka tali yang mengikat tangan
serta kaki si anak yang saat itu sudah bangun. Tetesan air mata
mengalir di pipi Ki Lurah
Kundrawana. Tapi air mata kali ini adalah air mata gembira.
Sementara itu di tempat lain ....
Tapak Luwing merasa tubuhnya yang
kaku karena ditotok itu dibawa lari dalam kegelapan
malam oleh seseorang. Bila sinar
bulan yang tidak begitu terang menyeruaki pohon-pohon sepanjang
jalan yang mereka lalui dan
menyinari paras laki-laki itu samar-samar. Tapak Luwing terheran dan
berpikir-pikir. Laki-laki yang
membawanya berlari itu tidak dikenalnya sama sekali. Siapa dia dan ke
mana manusia ini mau membawanya!
Kemudian apakah dia seorang yang akan menolongnya atau
bukan? Tapi melihat gelagat dan
ucapannya terhadap pemuda berambut gondrong tadi Tapak Luwing
bisa sedikit memastikan bahwa
laki-laki ini tidak bermaksud jahat terhadapnya. Diam-diam hatinya
merasa lega. Maka bertarryalah dia:
“Sobat, kau siapakah?”.
“Jangan banyak tanya dulu!” menjawab
orang yang memanggulnya. Suaranya besar dan
parau, larinya laksana angin.
“Kita ini kemanakah?,” tanya Tapak
Luwing lagi.
“Aku bilang jangan bertanya apa-apa
dulu. Apa tidak mengerti?!”
Tapak Luwing penasaran sekali. Namun dia menurut dan menutup mulutnya. Sepanjang
perjalanan itu, satu hal saja yang
diketahui oleh Tapak Luwing tentang orang yang memanggul dan
membawa larinya yaitu laki-laki itu
puntung tangan kanannya sampai sebatas bahu!
Ketika sampai di sebuah telaga kecil
akhirnya laki-laki bertangan buntung itu menghentikan
larinya. Tapak Luwing diturunkan dan
disandarkan ke sebatang pohon di tepi telaga. Kemudian
dilepaskannya totokan di tubuh Tapak
Luwing.
“Atur nafas dan jalan darahmu. Kerahkan tenaga dalam!” berkata si tangan buntung.
Tapak
Luwing segera melakukan hal itu. Tidak disuruhpun memang semustinya dia sudah
bermaksud
demikian, sesuai dangan setiap ajaran ilmu silat dari aliran dan golongan
manapun.
Kemudian
dengan tangannya yang cuma satu laki-laki itu dangan cekatan mengobati lengan
Tapak
Luwing yang patah dan membalutnya dangan secarik kain.
“Aku
berhutang budi dan nyawa padamu sobat,” kata Tapak Luwing.
Laki-laki
yang menolongnya tertawa. “Ada hutang ada
piutang…,” katanya di antara
tertawanya, “ada budi ada balas”.
“Maksudmu sobat?” tanya Tapak
Luwing. “Di satu hari kelak pertolongan yang
kuberikan padamu ini akan kutagih…”.
Tapak Luwing kerenyitkan kening.
“Tidak kau tagihpun, jika ada kesempatan aku pasti
akan membalasnya. Bahkan jika aku
sudah sembuh dan kau bersedia ikut ke Kali Comel, aku
akan hadiahkan kepadamu harta benda,
perhiasan dan uang seberapa saja kau suka”
Si tangan buntung menyeringai.
Gigi-giginya hitam kecoklatan. “Aku tidak butuh
semua itu,” desisnya. Dipegangnya balutan
di lengan Tapak Luwing. Sesaat kemudian Tapak
Luwing
merasakan aliran tenaga dalam yang ampuh merembas ke dalam tubuhnya. Tubuhnya
menjadi
segar kini dan rasa sakit pada lengannya yang patah itu berkurang.
“Terima
kasih,” kata Tapak Luwing. “Apa sudah boleh aku kenal padamu. Aku Tapak
Luwing...”
“Aku
tahu siapa kau. Aku sudah lama dengar tentang komplotanmu yang malang
melintang
di sepanjang Kali Comel. Dan ketika tahu bahwa kau berada di sekitar sini,
timbul
satu
maksud untuk menemuimu”.
“Apakah
maksud itu?” bertanya Tapak Luwing. “Tadi aku sudah bilang,
ada hutang
ada piutang, ada budi ada balas.
Satu hari kelak aku membutuhkan tenagamu…!”.
“Jangan kawatir, aku pasti bersedia.
Tapi untuk keperluan apakah?”.
“Kau tak usah tahu untuk keperluan
apa. Kau nanti akan tahu juga. Dengar, nanti pada
hari tigabelas bulan dua belas kau
harus dating ke Gunung Tangkuban Perahu…”
“Gunung Tangkuban Perahu…?”.
“Ya. Masih kira-kira delapan bulan
dari sekarang. Dan
satu hal harus kau ingat. Jangan
sekali-kali
coba kembali ke desa Bojongnipah untuk buat perhitungan dengan Ki Lurah
Kundrawana,
salah-salah kau bisa ketemu dangan bangsat yang telah mencelakaimu tadi!
Walau
bagaimanapun untuk saat ini kau tak akan mampu menghadapinya! Ada saat untuk
menyelesaikan
urusan dangan dia. Karena itu kau musti datang ke Tangkuban Perahu pada
hari tiga belas bulan dua belas
nanti. Dengar?”
Tapak Luwing mengangguk. “Kau tahu
siapa bangsat itu agaknya?,” dia bertanya.
“Angka pengenalnya telah
dituliskannya dikeningmu”.
Terkejutlah Tapak Luwing. Dirabanya
keningnya. Tak ada rasa sakit tapi memang kulit
kening itu agak kesat dari
sebelumnya.
“Berkacalah ke telaga itu”.
Tapak Luwing merangkak ke tepi
telaga. Dia membungkuk dekat-dekat ke air telaga
yang jernih itu dan di bawah
penerangan sinar bintang-bintang serta bulan sabit samar-samar
dilihatnya tertera tiga buah angka. Angka 2 1 2 ! Tapak
Luwing memandang keheran-heranan
pada
si tangan buntung lalu memperhatikan lagi mukanya di air telaga. Diusapnya
keningnya.
Diusapnya
lagi sampai beberapa kali tapi angka 212 itu tidak mau hilang. Dibasahinya
keningnya
dangan air telaga lalu diusapnya lagi berulang kali. Tetap saja angka 212 itu
tidak
mau
hilang!
“Dengan.
apapun dan cara bagaimanapun angka itu tak akan bisa pupus dari
keningmu
Tapak Luwing! Angka itu ditera dengan telapak tangan yang mengandung tenaga
dalam
dan kesaktian yang luar biasa. Sekalipun kulit keningmu dikelupas sampai ke
batok
kepalamu
maka pada tulang batok kepalamupun angka itu sudah meresap!”
“Siapa sesungguhnya manusia muda
berambut gondrong dengan angka pengenal 212
itu…”
tanya Tapak Luwing pula.
“Namanya
. Dia sakti sekali…” jawab si tangan buntung. “Tapi,”
katanya
kemudian menambahkan, “dihari tiga belas bulan dua belas nanti, kelak ajalnya
akan
sampai!”.
Diam-diam,
meskipun si tangan buntung tidak menerangkan tapi Tapak Luwing tahu,
kini
bahwa antara si tangan buntung dan pemuda rambut gondrong yang telah
mencelakainya itu terdapat sangkut
paut dendam kesumat.
“Selama waktu delapan bulan
mendatang,” berkata lagi si tangan buntung,
“kuanjurkan kepadamu untuk berlatih
ilmu silat yang telah kau miliki agar lebih hebat.”
Tapak Luwing mengangguk.
Si tangan buntung berkata: “Sekarang
kita berpisah. Jangan lupa hari tiga belas bulan
dua belas itu. Dan jangan coba-coba
untuk tidak memenuhi perintahku ini…”
“Kau mau kemana sobat?”
“Urusanku masih banyak…”
“Tapi kau masih belum menerangkan
namamu”.
“Namaku Kalingundil!”
DELAPAN
LINGGARJATI sudah agak sepi ketika
dia sampai ke sana karena hari sudah menjelang
larut malam dan udara dingin
mencucuki kulit tubuh sampai ke tulang-tulang. Di
sebuah kedai dia berhenti untuk
membasahi tenggorokan dan menghangatkan tubuhnya
dengan segelas bandrek. Di kedai ini
juga dia telah menanyakan di mana letak tempat
kediaman Adipati Seta Boga.
Tak sukar mencari tempat kediaman
Adipati Seta Boga. Rumahnya adalah sebuah
gedung
yang paling bagus dan paling besar di Linggarjati. Saat itu gedung tersebut
berada
dalam
suasana tenang tenteram. Dua orang pengawal berdiri di pintu masuk dan di ruang
tamu
kelihatan beberapa orang laki-laki. Rupanya Adipati Seta Boga tengah menerima
beberapa
orang tamu.
Laki-laki
itu melangkah seenaknya di depan kedua pengawal Kadipaten. “Di sini
rumahnya
Adipati Seta Boga ?” tanyanya pada salah seorang pengawal.
“Betul. Ada apa…?” balik menanya si
pengawal.
“Ah tidak apa-apa. Aku cuma tanya…,”
jawab si pemuda. Digaruknya rambutnya
yang gondrong.
“Adipatinya ada .... ?”
“Ada sedang merierima tamu. Kau
siapa? Perlu apa tanya-tanya…?”
“Cuma tanya,” jawab si pemuda.
Digaruknya lagi rambutnya lalu tanpa bilang apaapa
dia melanjutkan langkahnya.
“Sialan . . . ,” maki pengawal itu.
Yang
dimaki jalan terus.
Pengawal
yang satu berkata “orang gendeng…” Keduanya memandang sampai
pemuda
tadi lenyap di tikungan jalan yang gelap.
Setengah
jam kemudian, ketika pemuda itu kembali maka tamu-tamu di Kadipaten
sudah
tak kelihatan lagi. Lampu besar di ruang depan sudah diganti dengan lampu
kecil.
Melihat
kedatangan si pemuda dan yang seperti tadi berhenti di depan mereka maka
membentaklah
salah seorang dari pengawal.
“Orang
sinting! Ada
apa kau datang lagi ke sini?!”
“Pergi
sebelum kepalamu kupentung dengan gagang tombak ini!,” menghardik yang
seorang
lagi.
Si
pemuda menyeringai.
“Dengar
sobat-sobatku,” katanya. Kedua tangannya diacungkan ke muka. Jari-jari
telunjuk
dan jari jari tengah diluruskan. “Kalian lihat jari-jari tanganku ini .... ?,”
tanyanya.
“Kunyuk
gendeng! Berlalulah atau kuremukkan kepalamu!” bentak pengawal sambil
acungkan
tombaknya.
“Ah…
jangan buru-buru marah tak karuan. Bicaraku masih belum
habis!,” menyahuti
si pemuda tanpa acuhkan ancaman
pengawal. Jari jari tangannya masih diluruskan. “Coba
kalian hitung jari-jari tangan yang
kuacungkan ini,” katanya.
Tentu saja kedua pengawal jadi
tambah mengkal melihat tingkah dan mendengar
ucapan si pemuda. Maka dua gagang
tombakpun meluncur deras ke kepala pemuda itu.
Namun lebih cepat lagi dari luncuran
kedua tombak itu, maka kedua tangan si pemuda tahutahu
sudah menotok urat di pangkal leher
pengawal-pengawal. Kontan keduanya menjadi
gagu dan kaku menegang.
Si pemuda tertawa. Kedua pengawal
itu sekaligus dipanggulnya di bahu kiri kanan
kemudian dimasukinya halaman
Kadipaten. Pengawal-pengawal yang dipanggul kemudian
dilemparkannya ke kandang kuda di
belakang rumah. Lewat pintu belakang dia masuk ke
dalam gedung Kadipaten yang saat itu
belum dikunci. Seorang perempuan separuh umur,
yang bekerja sebagat pembantu rumah
tangga dan yang saat itu tengah mencuci piring
terkejut melihat munculnya seorang
pemuda berambut gondrong yang tak dikenalnya. Dan
pemuda itu tersenyum kepadanya.
“Kau... kau siapa...?” tanyanya.
Si pemuda masih senyum. Tangan
kirinya dilambaikan. Selarik angin tajam
menyambar ke leher si perempuan.
Perempuan ini hendak berteriak. Namun saat itu
mulutnya sudah gagu, lidahnya sudah
kelu sedang tubuhnya tak bisa lagi digerakkan akibat
totokan jarak jauh yang lihay
sekali. Si pemuda kemudian memasukkan perempuan itu ke
dalam sebuah bilik kosong di bagian
belakang gedung.
Saat itu Adipatit Seta Boga tengah
membuang hajat kecil di kamar mandi. Ketika dia
masuk kembali ke dalam gedung maka
terkejutlah Adipati Linggarjati ini. Betapa tidak!
Di atas kursi goyang, di mana dia
sering dudak bila melepaskan lelah, kini dilihatnya
duduk enak-enakan sambil
memejam-mejamkan mata seorang pemuda berbadan kekar dan
berambut gondrong yang sama sekali
tidak dikenalnya!
“Setan atau manusia dari mana yang
kesasar ke gedungku ini…?” ujar Adipati Seta
Boga di dalam hati. Dan pemuda di
atas kursi terus juga menggoyang-goyangkan badannya dan
kedua matanya masih dipejamkan.
“Siapa kau?!” bentak Adipati itu
dengan suara menggeledek dan menggema di empat dinding
ruangan.
Kursi goyang itu bergoyang-goyang
juga. Pemuda yang duduk di atasnya masih terus duduk
enak-enakan dan memejamkan mata.
Geram sekali Adipati Seta Boga jadinya. Dengan langkah besar besar dia maju
mendekat kursi goyang dan orang yang mendudukinya. Telapak tangan kanan
terkembang dan detik itu juga maka melayanglah tamparannya!
Beberapa saat lagi tangan kanan itu
akan mendarat di pipi si pemuda tiba-tiba si pemuda bukakan kedua matanya. Dan
seperti alas kursi itu mempunyai per yang melesatkan si pemuda ke atas demikianlah
tubuh pemuda itu melayang enteng sampai dua tombak dari kursi yang didudukinya!
Dan sebagai akibatnya maka tangan kanan Adipati Seta Boga kini menghantam
sandaran kursi goyang.
Sandaran kursi itu pecah. Kayunya
berkeping-keping berantakan. Dapat dibayangkan bagaimana jika seandainya
tamparan itu mendarat di pipi si pemuda karena tamparan itu tidak boleh tidak
tentu mengandung tenaga dalam yang luar biasa!
“Ah.... kau rupanya Seta Boga…,”
kata si pemuda sambil mengusap matanya. “Aku sedang
enak-enakan tidur, kau mengganggu
saja…!”
“Anjing kurap kenapa kau bisa
kesasar ke mari? Apa minta ditebas batang lehermu?!,” radang
Adipati Seta Boga. Geram sekali dia.
Selama menjadi Adipati baru hari ini ada seseorang yang
memanggilnya dengan “Seta Boga,”
saja !
Sipemuda tertawa dan seperti tak ada
hal apa-apa dia duduk kembali seenaknya di atas kursi
goyang, kembali bergoyang-goyang dan
memejamkan matanya.
“Setan alas betul!,” damprat Seta
Boga. Sekali kaki kanannya bergerak maka mental dan
hancurlah kursi goyang itu. Tapi si
pemuda sekejapan sebelum itu sudah melompat dan berdiri di sudut
ruangan dekat sebuah meja kecil.
“Kursi bagus ditendang sampai
hancur. Kau sudah sinting rupanya Seta Boga?,” tanya si
pemuda sambil menyengir.
Sementara itu karena suara ribut-ribut
di ruang tengah maka istri Seta Boga ke luar dan
disamping heran dia juga terkejut
melihat apa yang terjadi.
“Kakang ada apakah? Siapa manusia
ini?!” tanya perempuan itu.
“Pergi, panggil pengswal!,” teriak
Seta Boga pada istrinya. Perempuan itu berteriak
memanggil pengawal. Namun tiada
pengawal yang datang. Dua pengawal Kadipaten sebelumnya
sudah dibikin “mendengkur” oleh si
pemuda di kandang kuda!
Kegeraman Seta Boga tak terkirakan
lagi ketika dilihatnya pemuda berambut gondrong itu
mengambil sebatang serutu miliknya
dan dalam kotak serutu yang terletak di atas meja kecil di sudut
ruangan lalu menyalakannya
sekaligus!
Rahang-rahang Seta Boga bertonjolan.
Jari-jari tangan kanannya diremas-remaskannya satu
sama lain. Sesaat kemudian
kelihatanlah jari-jari tangan itu menjadi merah. Warna merah terus
menjalar sampai sebatas siku.
“Anjing kurap yang kesasar, hari ini
terima nasibmu harus mampus oleh pukulan wesi
geniku!” Tangan kanan yang merah itu
dipukulkan ke muka. Selarik angin yang tidak terkirakan
panasnya menggebubu ke arah si
pemuda.
Tubuh si pemuda berkelebat.
“Wuss!”
“Brak!”
Istri Seta Boga menjerit.
Dinding di muka mana pemuda itu tadi
berdiri hancur berlubang dan menjadi hitam hangus!
Orang yang diserang kelihatan
disudut ruangan sebelah kanan, asyik-asyikan menyedot serutu!
Dada Seta Boga menjadi sesak oleh
amarah yang meluap. “Siapa kau sebenarnya ?!” bentak
Adipati Linggarjati ini,
Si pemuda batuk-batuk lalu cabut
serutunya dari sela bibir. “Namaku ... ?,” ujarnya. “Masakan
kau
tidak tahu ?!”
“Setan
alas .... !”
Si pemuda tertawa menanggapi makian
itu.
“Namaku Tapak Luwing,” katanya. “Aku
datang untuk menyerahkan sebagian dari uang
pungutan pajak di desa Bojongnipah. Ini terimalah…!”
Si pemuda mengeruk saku bajunya.
Sesuatu dalam genggamannya kemudian dilemparkannya
ke arah Adipati Seta Boga. Laki-laki
ini cepat menghindar dan lambaikan tangan kanannya. Benda
yang dilemparkan ternyata adalah
kira-kira selusin kalajengking yang saat itu sudah mati dan
bertebaran di lantai. Istri Seta
Boga memekik lalu lari ke dalam kamar. Si pemuda tertawa bekakakan!
Adipati Seta Boga tak menunggu lebih
lama menyambar sebuah tombak yang dipanjang di
dinding. Dengan senjata ini dia
kemudian menyerang si pemuda! Si pemuda tenang-tenang selipkan
serutunya ke bibir, menghisapnya
dengan cepat lalu menghembuskan asapnya ke arah Seta Boga.
Adipati ini terpaksa melompat ke
samping sekali lagi karena asap serutu itu mengandung tenaga dalam
dan menyambar ke arah kedua matanya!
Dari samping kini Seta Boga
melancarkan serangan. Tombak di tangannya membabat kian
kemari. Tangan kiri melakukan
pukulan-pukulan tangan kosong jarak jauh beberapa kali berturutturut!
Inilah jurus “kitiran dan alu sabung
menyabung” Jurus ini biasanya dilaksanakan dengan
memakai pedang. Tapi dengan tombakpun
kehebatannya tidak olah-olah.
Tapi betapa terkejutnya Seta Boga
ketika si pemuda dengan tertawa-tawa berkata : “Ah, cuma
jurus
kitiran dan alu sabung menyabung, siapa takut? Sambuti serangan balasan ini,
Seta Boga!”
Demikianlah,
meskipun diserang tapi si pemuda bukannya mengelak malahan menyambut
dengan serangan pula!
“Ini jurus membuka jendela memanah
rembulan Seta Boga!,” kata si pemuda. Lengan kirinya
dipukulkari melintang dari atas ke
bawah sedang tangan kanan meluncur ke atas dalam gerakan yang
cepat sekali dan sukar dilihat oleh
mata !
“Ngek”
“Buk !”
Tombak di tangan Seta Boga terlepas
mental karena lengannya kena dibabat oleh lengan
lawan. Suara ngek yang ke luar dari
tenggorokannya adalah akibat urat besar di bawah dagunya telah
kena ditotok oleh sipemuda. Di saat
itu pula tubuhnya tak bergerak lagi alias kaku tegang! Karena
sebelum ditotok Seta Boga telah
menyeringai kesakitan akibat benturan lengan lawan maka di saat
tubuhnya menjadi kaku itu, mimik
parasnya sungguh tak sedap untuk dipandang!
Si pemuda cabut serutu dari sela
bibirnya don meniupkan asap serutu itu ke muka
Seta Boga. “Sayang sekali,” katanya.
“Jurus kitiran dan alu sabung menyabungmu terpaksa
bertekuk lutut di bawah jurus
membuka jendela memanah rembulan-ku…”.
Ditiupkannya lagi asap serutu ke
muka Seta Boga. Totokan pada urat besar di bawah
dagu Seta Boga tetah melumpuhkan
tubuhnya, membuat mulutnya menjadi gagu dan,
perasaannya menjadi tumpul. Cuma
telinganya saja saat itu yang masih sanggup mendengar.
Maka berkatalah si pemuda. “Dengar
Seta Boga… besok Ki Lurah Kundrawana dan
penduduk Bojongnipah akan datang ke
sini. Kalau nasibmu baik kau akan mereka seret ke
hadapan Raja di Kotaraja. Tapi kalau
nasibmu buruk, mereka akan mengeremusmu beramairamai!
Dan sebelum aku pergi, terima hadiah
kenang-kenangan ini dariku....”.
Si pemuda acungkan jari telunjuk
tangan kanannya. Dengan mempergunakan ujung
jari itu diguratnya tiga buah angka
di kening Seta Boga, 212 ...!
Ketika pada keesokan harinya Ki
Lurah Kundrawana dan dua lusin penduduk
Bojongnipah bersenjata lengkap
datang ke gedung Kadipaten di Linggarjati, mereka heran
menemui gedung itu dalam keadaan
kosong. Tak satu manusiapun ada di dalamnya.
“Pasti Adipati keparat itu sudah
melarikan diri!,” Kata Kundrawana geram.
Tiba-tiba terdengar seseorang
berteriak dari belakang gedung. Ketika Kundrawana
dan yang lain-lainnya pergi ke
belakang gedung mereka hampir tak percaya dengan
penglihatan mereka. Lima orang
kelihatan berdiri tak bergerak-gerak di kandang kuda. Di
sebelah muka adalah Adipati Seta
Boga dan istrinya. Di kiri kanan mereka pengawalpengawal
Kadipaten dan di sebelah belakang
perempuan yang menjadi pembantu rumah
tangga! Ketika diperiksa kelimanya
masih dalam keadaan bernafas dan ditotok urat darah
mereka.
Ki l:urah Kundrawana memandang pada
angka 212 yang tertera di kening Adipati
Seta Boga. “Dua satu dua . . . . ,” desisnya. Dia hanya goleng-goleng kepala lalu
memerintah: “Perempuan-perempuan dan
pelayan lepaskan totokannya. SetaBoga kita seret
ke Kotaraja!”
* * *
melangkah pelahan menuju ke
tepi sungai. Di tempat yang agak
kelindungan dia membuka pakaian dan mandi
membersihkan diri Sambil mandi itu
kadang-kadang dia tertawa sendiri bila mengingat
kejadian malam tadi di Kadipaten
Linggarjati. Mungkin
pagi itu Kundrawana sudah sampai
di
Linggajati, mungkin masih dalam perjalanan. Satu manusia jahat, satu kejahatan
telah
berakhir.
Tapi pendekar 212 tahu bahwa selama dunia terbentang,
selama itu pula kejahatan
tak pernah akan berakhir !
Selesai mandi badannya terasa segar.
Matahari sudah mulai tinggi. Suara siulan ke
luar dari sela bibirnya sedang
pikirannya mengingat-ingat pertempurannya dengan Tapak
Luwing dan laki-laki yang telah
melarikan Tapak Luwing serta menantangnya itu.
Tantangan ini mengingatkannya pada
pertempurannya di Gua Sanggreng dengan
Bergola Wungu tempo hari. Kali ini
untuk kedua kalinya dia ditantang. Siapa pula gerangan
kali ini yang menantangnya ?
“Hidup ini memang penuh tantangan?
Tantangan yang timbul dari diri kita sendiri
dan dari diri manusia-manusia lain…
Sungguh gila kehidupan ini! Tapi kegilaan inilah yang
mendatangkan kenikmatan…”. Maka
siulan pendekar 212 itu semakin meninggi dan
melengking membawakan lagu tak
menentu.
Tentang diri manusia yang telah
melarikan Tapak Luwing itu hanya dua hal yang
diketahui oleh . Pertama, dalam
kegelapan malam dia melihat bahwa manusia
itu buntung tangan kanannya. Kedua,
ketika dia melancarkan pukulan kunyuk melempar
buah dengan mempergunakan sepertiga
bagian dari tenaga dalamnya, manusia bertangan
buntung itu telah menyambuti pukulan
tersebut dengan selarik sinar biru! Dan pukulan
kunyuk melempar buah telah
terbendung oleh selarik sinar biru itu! Ini membawa pertanda
bahwa si tangan buntung itu siapapun
adanya pastilah memiliki ilmu yang tinggi. Pendekar
212 menduga manusia ini mungkin
sekali guru atau kakak seperguruan Tapak Luwing.
Dikenakannya pakaiannya kembali dan
diteruskannya perjalanannya.
Rawasumpang satu daerah tandus penuh
rawa-rawa maut yang menghisap setiap
benda apa saja yang masuk ke
dalamnya. Daerah ini terletak empat kilo di sebelah timur
Linggajati. Kesinilah menuju.
Angin dari utara bertiup kencang
membuat pakaian dan rambutnya yang gondrong
berkibar-kibar. Dia memandang ke
bawah. Pedataran luas penuh rawa-rawa maut itu sunyi
sepi. Tak satu manusiapun yang dilihatnya.
Wiro memandang ke langit. Matahari tengah
bergerak dalam gerakan yang tidak
kelihatan menuju ke titik tertingginya.
Tiba-tiba dari arah timur terdengar
suara bergelak yang santar sekali! Pendekar kita
berpaling ke arah itu. Sesosok tubuh
laksana anak panah berlari kencang sekali di pedataran
luas di sela-sela tebaran rawa-rawa.
Begitu
suara gelaknya hilang maka tubuhnya sudah
berada di bawah bukit di mana
pendekar 212 berada. Bukit itu tidak berapa tinggi dan dalam
jarak sejauh itu segera dapat mengenali siapa adanya manusia
yang bertangan
buntung itu.
“Kalau dia yang menjadi penantangku
malam tadi, pastilah dia telah memiliki ilmu
yang tinggi dan sangat diandalkan…,”
kata dalam hati. “Tapi...,” ujarnya
lagi,
“bagaimana mungkin dalam tempo beberapa
bulan saja kepandaiannya sudah seluar biasa
ini...?”.
“Manusia yang merasa bernama ,
merasa bergelar Pendekar Kapak
Maut Naga Geni 212, turunlah! Atau
aku yang musti naik ke atas bukit itu?!”. Terdengar
suara laki-laki di bawah bukit.
Pendekar kita keluarkan suara
bersiul.
“Tikus buduk cacingan kalau sudah
jadi kucing dapur memang berabe!,” katanya.
“Ada kabar apa kau mengundang aku ke
sini kucing dapur...?”.
Paras Kalingundil kelam membesi.
Dengan suara keras dia menyahuti: “Tadinya aku
kira kau tak punya nyali untuk
datang ke sini pendekar edan! Hitungan kita tempo hari
masih belum selesai…”
“Oho, jadi untuk maksud itukah kau
kehendaki pertemuan ini? Bagus sekali
Kalingundil. Memang urusan yang
belum selesai harus diselesaikan. Benang kusut harus
diurai baik-baik kembali!”.
“Tepat sekali,” jawab Kalingundil.
“Cuma satu hal pendekar gila. Kalingundil yang
dulu tidak sama dengan yang kau
lihat hari ini!”.
tertawa bergelak. “Tentu saja. Tadipun aku
sudah bilang bahwa dari
tikus buduk cacingan kau sudah berubah
menjadi kucing dapur. Tapi kau tak banyak
berbeda Kalingundil! Tanganmu yang
dulu buntung sekarang masih tetap buntung!
Seharusnya kau cari tukang kayu yang
pandai untuk membuat tangan palsu…!”.
Mendidih darah di kepala
Kalingundil. Tangan kirinya bergerak, memukul ke atas.
Setiup
angin biru deras menyambar ke arah . Pendekar itu lompat ke samping
dengan
sebat dan menyaksikan bagaimana tanah bukit tempatnya berdiri tadi terpupus
berhamburan laksana longsor dihantam
angin pukulan Kalingundil! Diam-diam Wiro
Sableng menjadi kagum juga terhadap
lawannya itu. Kepada siapakah Kalingundil telah
menuntut ilmu selama beberapa bulan
ini?
“Pendekar gila, jangan petatang
peteteng juga! Turunlah ke pedataran rawa-rawa
ini!,” teriak Kalingundil. “Turun
untuk terima kematianmu!”.
“Setiap undangan baik dan buruk
pantang kuelakkan, Kalingundil,” sahut Wiro
Sableng. Laksana seekor burung
garuda dia melompat ke bawah.
Dalam keadaan tubuh melayang di
udara itu, Kalingundil kirimkan tiga pukulan
tangan kosong sekaligus, beruntun
hebat sekali. Pendekar 212 sambut pukulan ini dengan
pukulan “benteng topan melanda
samudera”!
Maka beradulah pukulan-pukulan
dahsyat yang mengandung tenaga dalam yang
tinggi itu sehingga menimbulkan
suara meletus hebat. Untuk sesaat pendekar 212 merasakan
tubuhnya yang melayang di udara
laksana tertahan oleh sebuah dinding yang tak kelihatan
sedang di bawah sana Kalingundil
melesak kedua kakinya sampai dua dim ke dalam tanah!
Sungguh pendekar 212 tidak menyangka
kehebatan tenaga dalam Kalingundil
berlipat ganda banyak sekali dari
beberapa bulan yang lalu! Di lain pihak Kalingundil
sendiri mengeluh dalam hati. Waktu
melancarkan tiga pukulan beruntun tadi dia telah
mengerahkan tiga perempat bagian
tenaga dalamnya: Meski dia telah memiliki ilmu silat,
yang aneh dan tinggi mutunya namun
nyatanya lawan itu masih lebih tangguh!
Kalingundil kertakkan geraham.
“Pemuda gila, terima pukulan jotos
siluman biru ini!,” bentak Kalingundil. Tangan
kanannya dipukulkan ke muka. Sinar
biru berkiblat menyambar ke arah pendekar 212 yang
saat itu baru saja injakkan kaki
kanannya di tanah dekat tepian rawa!
Pendekar kita lompat setinggi empat
tombak dan dari atas ganti mengirimkan
pukulan balasan yang tak kalah
hebatnya.
Pukulan
angin menimbulkan suara seperti ratusan seruling yang ditiup secara
bersamaan. Debu berputar-putar ke
udara, lumpur rawa-rawa seperti mendidih. Kalingundil
kerahkan tenaga dalamnya ke kaki
untuk mempertahankan diri. Tubuhnya bergetar dilanda angin
pukulan lawan namun sepasang kakinya
laksana baja tetap bertahan ditempatnya. Penasaran sekali,
dengan membentak. Pendekar 212 lipat
gandakan tenaga dalamnya dalam pukulan itu!
Kini Kalingundil tak dapat lagi
bertahan dengan segala kehebatan yang dimilikinya itu. Kedua
kakinya laksana akar pohon
berserabutan dari dalam tanah, terlepas dari pertahanannya. Tubuhnya
terhuyung keras ke belakang ke arah
rawa-rawa maut. Dihantamkannya tangannya ke muka untuk
membendung angjn pukulan lawan dan
serentak dengan itu dia jungkir balik di udara melompati
sebuah
rawa kecil dan berdiri di bagian lain dari pedataran! Dengan demikian kedua
manusia itu
berhadapan
satu sama lain. terpisah oleh sebuah rawa-rawa!
Laki-laki
bertangan buntung itu tertawa dingin. Tangan kirinya bergerak ke balik
pakaian..
Sesaat
kemudian di tangan kiri itu tergenggam sebuah pedang buntung yang berwarna
biru. Meskipun
buntung,
melihat kepada kilauan sinar biru dari senjata itu maklum bahwa pedang di
tangan
lawannya adalah sebuah pedang mustika.
“Kau lihat pedang ini, pemuda
edan?!” bentak Kalingundil. “Nyawamu ada diujung senjata
ini!”. Pendekar 212 tertawa
mengekeh.
“Orang dan. senjatanya sama saja! Sama-saama buntung!” mengejek murid Eyang Sinto
Gendang itu,
Merah padam muka Kalingundil.
“Mengejek memang mudah. Tapi
ketahuilah, membunuhmu dengan senjata ini jauh lebih
mudah lagi!,” kata Kalingundil pula.
“Buka matamu lebar-lebar orang gila dan lihat ini!”.
Kalingundil menyapukan pedang
buntungnya ke arah rawa-rawa di hadapannya. Lumpur rawa
itu muncrat ke atas sampai tujuh
tombak. Sebagian besar menyibak laksana terbelah sehingga dasar
rawa yang hitam legam terlihat jelas
beberapa detik lamanya !
“Senjata hebat,” ujar dalam hati. “Dalam keadaan buntung demikian
luar
biasanya. Apalagi kalau dalarn
keadaan. Sempurna. Bagaimana ini kucing dapur dapatkan senjata
itu...?”
“Kau sudah lihat pendekar gila?!,”
terdengar bentakan Kalingundil.
“Senjatamu boleh juga, Kalingundil.
Tapi dari pada dipakai buat kejahatan lebih baik ditempa
untuk
membikin sambungan tangan palsumu!”.
Marahlah Kalingundil. Disapukannya senjata
itu ke arah pendekar 212. Maka berkiblatlah
sinar biru yang menyilaukan!
Pendekar 212 tidak bodoh. Dengan
cepat dialirkannya tenaga dalamnya ke kedua telapak
tangan. Dia melompat ke udara.
“Ciat!”
Didahului oleh bentakan yang
menggeledek itu maka lepaskan pukulan
dinding
angin berhembus tindih menindih.
Begitu pukulan ini melesat memapasi serangan lawan maka Wiro
susul dengan pukulan kunyuk melempar
buah yang perbawanya disertai aliran tenaga dalam sampai
setengah bagian dari yang
dimilikinya!
Pukukan yang pertama membuat
serangan Kalingundil tertahan laksana menumbuk dinding
karang yang atos. Pukulan yang kedua
bukan saja membuat buyar sinar biru dari pukulan Kalingundil,
tapi sekaligus melabrak pukulan
tersebut sehingga kini Kalingundil yang berada dalam keadaan
diserang! Ini memaksa Kalingundil
menyingkir dua tombak ke samping. Kemudian tanpa membuang
waktu lebih lama laki-laki ini
menerjang ke muka. Pedangnya membabat deras, sinar biru yang
menghamburkan hawa dingin serta
tajam menyambar ke arah pendekar 212!
membentak nyaring! Suara bentakannya ini
membuat gendang-gendang telinga
Kalingundil
tergetar. Pedangnya melabrak ke arah perut lawan tapi dalam kejapan itu pula
lawannya
berkelabat dan lenyap dari
pemandangan! Penasaran sekali Kalingundil putar pedang buntungnya
demikian
rupa. Maka sinar birupun bergulung-gulung mengurung !.
Sebagaimana
kebiasaan pendekar 212, dalam setiap pertempuran yang mulai menghebat maka
disaat
itu pula mulai terdengar suara siulannya melengking-lengking membawakan lagu
tak menentu!
Tubuhnya
hanya merupakan bayang-bayang kini. Karena sukar untuk menentukan mana tubuh
yang
sebenarnya
dan mana yang hanya baying-bayang, maka hampir keseluruhan serangan-serangan
Kalingundil
menghantam tempat kosong. Namun demikian memang permainan silat siluman yang
didapat
Kalingundil di Gua Siluman tempo hari meskipun cuma sepertiganya saja yang
dikuasainya,
benar-benar
patut dikagumi.
Pendekar
212 tahu bahwa lawannya sampai dua puluh jurus dimukapun tak akan dapat
mendesaknya,
apalagi melukainya. Tapi di samping itu, pihaknya sendiri sukar pula melakukan
serangan
balasan karena setiap serangan yang dilancarkan Kalingundil merupakan jurus
pertahanan!
Demikianlah
kehebatan ilmu silat siluman yang dimiliki oleh manusia bertangan buntung itu!
Tapi adalah percuma saja menjadi murid dan digembleng selama tujuh
belas
tahun
oleh nenek-nenek sakti Eyang Sinto Gendeng kalau dia tak bisa menghadapi lawan
begitu rupa
satu
lawan satu!
Maka segera robah permainan silatnya. Jurus-jurus
yang
tak terduga dari Kalingundil dihadapinya dengan jurus-jurus tak teratur yang
gerabak gerubuk
kian
kemari. Kedua tangannya terkembang di kedua sisi laksana sayap burung garuda
sedang dari
mulutnya
senantiasa terdengar suara siulan melengking yang menyamaki liang telinga
Kalingundil!
Saat
itu kedua orang ini sudah bertempur sampai tiga puluh jurus! Sungguh hebat!
Tiga puluh
jurus
seperti tidak terasa! Dan kini kentara sekali bagaimana Kalingundil terdesak
hebat.
Bagaimanapun
Kalingundil mempercepat jurus-jurus permainan silatnya, bagaimanapun dia
merobah
gerakan-gerakannya dan mengamuk laksana banteng terluka, namun tetap saja dia
berada
dibawah
angin, malahan kini terdesak ke arah rawa-rawa maut!
“Ha...
ha.... rupanya jalan ke nerakamu harus melalui rawa-rawa maut ini, Kalingundil!”.
“Budak hina dina jangan ngaco!
Sambut bintang silumanku ini!”.
Sambil melompat jauh, dengan masih
memegang pedang buntung, Kalingundil gunakan
tangan kirinya untuk mengirimkan
selusin benda berbentuk bintang yang berwarna biru ke
arah lawannya.
“Akh... mainan anak-anak ini kenapa
musti dipertontonkan?!” ejek pendekar 212.
Tangan kanannya diputar ke udara.
Serangkum angin puyuh menggebubu dan bintangbintang
siluman itupun berhamburanlah kian
ke mari tiada mengenai sasarannya.
Pada detik gunakan tangannya untuk menyambuti senjata
rahasia
lawan maka kesempatan ini
dipergunakan oleh Kalingundil untuk melompat ke seberang
rawa-rawa
kecil.
“Kucing
dapur! Kau mau lari ke mana....?!” teriak .
Sebagai jawaban Kalingundil
lemparkan segulung benda putih ke arah pendekar 212.
Mulanya Wiro menyangka benda itu
sebuah senjata rahasia, tapi ketika diketahuinya hanya
secarik kertas putih yang digulung
maka segera ditangkapnya dan di saat itu pula
Kalingundil pergunakan kesempatan
sekali lagi untuk melompat jauh lalu dengan ilmu
larinya yang lihay ditinggalkannya
tempat itu.
Wiro tidak punya maksud untuk
mengejar laki-laki bertangan buntung itu. Dengan
penuh tanda tanya dibukanya gulungan
kertas di tangannya. Ternyata selembar surat yang
ditujukan oleh Kalingundil
kepadanya.
Cacat di tubuhku tak akan terlupa
seumur hidup. Kematian
kawan-kawanku dan kematian Mahesa
Birawa tak akan
terlupa selama hayat. Semua itu kau
yang menjadi biang
sebab.
Hari pembalasan akan tiba! Berani
berbuat berani tanggung
jawab!
Hari tiga belas bulan dua belas
kutunggu kau di puncak
Gunung Tangkuban Perahu. Kalau kau
tak punya nyali
untuk datang lebih baik bunuh diri
sekarang juga!
Pendekar 212 penasaran sekali.
Diremasnya surat itu. “Sialan betul kucing dapur
itu!,” gerendang . Dia lari ke
bukit. Namun bayangan Kalingundil sudah tak
kelihatan lagi.
Tantangan yang dibuat Kalingundil di
Rawasumpang itu hanyalah sekedar untuk
menjajaki sampai di mana kehebatan
ilmu silat silumannya bisa menghadapi musuh
besarnya itu. Nyatanya masih tetap jauh lebih digjaya dari dia.
Namun dia
tidak kecewa. Pada hari yang telah
direncanakannya itu, kelak dendam kesumatnya akan
kesampaian. Dan sekaligus di
Rawasumpang itu dia te!ah menyampaikan surat undangan
kematian bagi musuh besamya itu. Dia
yakin pendekar 212 akan datang ke puncak Gunung
Tangkuban Perahu!
SEMBILAN
PUNCAK
Gunung Halimun….
Puncak
gunung ini kelihatan diselimuti awan putih. Bila angin barat bertiup maka
beraraklah
awan
itu kejurusan timur dan Puncak Gunang Halimun kembali kelihatan dengan jelas
dan megah.
Selewatnya
tengahari, sesosok tubuh berlari laksana angin, menuju ke puncak gunung.
Semakin ke puncak udara semakin
sejuk serta segar. Laki-laki itu mempercepat larinya seakan-akan
tak
sabar untuk lekas-lekas sampai ke tempat yang ditujunya. Maka lewat sepeminuman
teh
sarnpailah
dia ke puncak tertinggi dari gunung itu.
Dia
memandang berkeliling. Kernana mata memandang hanya bebatuan saja yang
kelihatan.
Mulai dari kerikil-kerikil kecil sampai kepada unggukan-unggukan batu besar sebesarbesar
rumah!
Di kaki-kaki batu-batu besar yang rata-rata licin berlumut itu tumbuh
rumput-rumput
liar.
Laki-laki itu bertangan bunting. Dia tak lain adalah Kalingundil. Mengapa dia
berada di puncak
gunung
ini ialah dalam meneruskan rencana besarnya yaitu membalaskan dendam kesumat
terhadap
pendekar
212 .
Kalingundil
dengan gerakan yang enteng melompat ke salah satu batu besar. Seseorang yang
tidak
memiliki ilmu meringani tubuh yang ampuh pasti tak akan sanggup mernbuat
lompatan lihay
itu,
kalaupun dapat mungkin begitu menginjak batu, kakinya akan terpeleset karena
lincinnya lumut!
Kalingundil
memandang keseantero puncak gunung yang telah mati itu. Di antara
unggukanunggukan
batu-batu
rnaka di tengah-tengah kelihatanlah kawah yang besar yang sudah padam.
Kawah
ini berbentuk kerucut dan dalarn sekali. Kalingundil melompat lagi ke batu
besar
yang
lebih tinggi. Sekali lagi dilayangkannya pandangannya ke seantero puncak
gunung. Bila dia
sudah
yakin betul bahwa tempat kediaman orang yang hendak ditemuinya itu bukalah di
permukaan
puncak
gunung maka segeralah dia melompat ke tepi kawah. Dari sini dia terus turun ke
dalam
kawah.
Selain
dalam, kawah Gunung Halimun sukar sekali untuk dituruni. Tapi Kalingundil
dengan
cekatannya
lompat sana
lompat sini sehingga dalam waktu yang singkat dia sudah berada di
dasar
kawah.
Udara
di dalam dasar kawah gunung ini pengap dan menyesakkan pernafasan. Karenanya
Kalingundil
segera atur jalan nafasnya. Begitu dirinya dapat menguasai kepengapan, itu maka
dia
segera meneliti keadaan dasar kawah
di mana dia berada. Luas dasar kawah yang merupakan pusat
kerucut itu hanya beberapa kali
lebih besar dari sebuah sumur. Seluruh dasar kawah merupakan pasir
campur tanah yang sudah membeku den
mengeras selama berabad-abad sesudah gunung itu meletus.
Putaran bola mata Kalingundil
terhenti pada sebuah lobang yang besarnya selebar bahu manusia.
Laki-laki ini segera mendekati
lobang itu. Menelitinya sesaat lalu tanpa ragu-ragu segera
memasukinya. Mula-mula dia hanya
bisa merangkak. Tapi semakin ke dalam lobang itu semakin
besar sehingga dari merangkak kini
dia dapat membungkuk-bungkuk dan akhirnya berjalan seperti
biasa.
Kalingundil sampai ke sebuah ruang
empat persegi berdindingkan batu-batu hitam yang kasar.
Dari keempat sudut ruangan ini keluar
empat liukan asap tipis yang berwarna hitam. Begitu,
hidungnya mencium bau yang
disebar oleh asap ini mendadak sontak kepala Kalingundil menjadi
pusing. Cepat-cepat Kalingundil
kerahkan tenaga dalam dan tutup jalan nafasnya.
Kalingundil tahu bahwa ruangan batu
itu bukanlah ruangan buntu. Tapi matanya tiada melihat
adanya pintu atau sebuah celahpun.
Laki-laki ini menengadah ke atas. Maka kelihatanlah di langitlangit
ruangan sebuah liang tangga batu. Dia memandang
berkeliling lalu enjot kedua kaki dan
melompat
ke tepi liang, terus menaiki tangga batu. Anehnya, bagaimanapun tingginya ilmu
mengentengi
tubuh yang dimilikinya namun setiap iangkah yang dibuatnya di tangga batu itu
berbunyi
dan
bergema keras!
Begitu
sampai di anak tangga yang teratas maka sampailah Kalingundil ke satu ruangan
putih
yang
sangat bersih. Demikian bersih dan berkilatan putihnya dinding-dinding serta
lantai dan langitlangit
ruangan
itu, sehingga tak ubahnya seperti berada di satu ruangan kaca.
Tepat
di tengah-tengah ruangan terdapat sebuah batu besar dan di atas batu besar ini
sesosok
tubuh
laksana patung tengah bersemedi jungkir balik, kaki ke atas kepala ke bawah di
atas batu. Sosok
tubuh
ini mengenakan sehelai kain putih yang dibalutkart sekujur badan mulai dari
betis sampai ke
dada.
Kepala dan paras orang yang bersemedi tiada kelihatan karena tertutup oleh
janggut putih yang
panjang,
hampir menyamai panjangnya rambut yang menjulai di lantai dan juga berwarna
putih!
Sungguh
hebat cara manusia ini bersemedi!
Namun
pandangan Kalingundil segera terbagi pada seekor harimau besar belang tiga yang
berbaring
di samping laki-laki yang tengah bersemedi. Begitu melihat kemunculan
Kalingundil,
makhluk
ini berdiri dan menggereng. Mututnya membuka lebar. Gigi dan taringnya
kelihatan besarbesar
serta
runcing mengerikan. Didahului dengan auman yang dahsyat dan menggetarkan
ruangan
putih
itu maka melompatlah binatang itu. Kedua kaki terpentang ke muka, kuku-kuku
yang tajam dan
panjang siap merobek tubuh
Kalingundil!
Kalingundil yang maklum bahwa harimau
itu bukan binatang biasa tapi peliharaan seorang
sakti
dengan cepat segera melompat ke samping hindarkan diri. Namun meskipun demikian
cepatnya,
sang harimau lebih cepat lagi! Laksana seorang jago silat kawakan, masih
melayang di udara
binatang
itu putar tubuh, ekornya berkelebat!
Ekor
yang panjang laksana cambuk itu menghantam bahu Kalingundil yang buntung.
Pakaiannya
robek. Bahunya sakit tiada terkirakan. Kalingundil kerahkan tenaga dalam dan
disaat itu
terpaksa
segera melompat pula ke samping karena si belang sudah menyerangnya kembali!
Hanya
dengan berkelabat-kelabat cepat dan sigaplah maka Kalingundil berhasil
mengelakkan
setiap serangan. Dia
menghitung-hitung, sampai saat itu telah dua puluh jurus dia bertempur
menghadapi sang harimau. Dan selama
itu Kalingundil terus-terusan bersikap mengelak, sama sekali
tak mau menyerang! Kalau dia
mengelak terus, di satu ketika mungkin sekali harirmau itu berhasil
juga mengoyak daging tubuhnya! Kalau
dia melawan, sedangkan binatang itu adalah peliharaan orang
sakti dengan siapa dia ingin bertemu
dan bicara! Inilah yang menyulitkan Kalingundil! Dan sementara
dia bertempur demikian rupa, orang
yang bersemedi masih juga terus bersemedi, seperti tiada
terganggu, seperti tak mengetahui
adanya pertempuran yang dahsyat itu!
Satu-satunya jalan bagi Kalingundil
untuk tidak mendapat celaka dan tidak mencelakai ialah
meninggalkan ruangan putih itu,
menghindar keluar untuk sementara, menunggu sampai orang yang
bersemedi menyelesaikan semedinya.
Maka ketika harimau itu mengaum dan
menyerang, Kalingundil jatuhkan diri ke lantai lalu
bergulingan ke arah tangga. Pada
saat harimau itu hendak menubruknya sekali lagi. Kalingundil sudah
lenyap ke bawah tangga…
Telah tiga hari Kalingundil menunggu
di dasar kawah itu. Telah tiga kali pula dia masuk ke
dalam ruang putih dan mengintai dari
balik anak tangga teratas, namun sampai saat itu orang yang
bersemedi masih juga belum
meninggalkan batu persemediannya.
Menunggu sampai satu minggupun bagi
Kalingundil bukan suatu apa, tapi yang
menyusahkannya ialah untuk
mendapatkan bahan makanan selama hari-hari penungguan itu.
Empat hari kemudian, pada kali yang
ke tujuh Kalingundil mengintai dari balik anak tangga,
orang itu dilihatnya masih juga
bersemedi. Dengan hati kesal Kalingundil menuruni tangga kembali.
Tapi begitu dia keluar dari liang
tangga dan sampai di ruang bawah maka mendadak terdengar suara
menggema dari ruang putih.
“Manusia yang berani-beranian
menginjakkan kaki kotor di tempatku cepat datang
menghadap untuk terima hukuman!”.
Terkesiap Kalingundil mendengar ini.
“Ayo cepat! Tunggu apa lagi?!,” kata
suara dari ruang putih.
Kalingundil memutar langkahnya
kembali. Dalam melangkah kembali ke liang tangga,
terdengar lagi suara tadi.
“Hemm… seorang bertangan buntung
macammu sungguh tak pantas masuk ke tempatku!
Hukumanmu lipat ganda hai manusia!”.
Tentu saja Kalingundil terkejut
mendengar ini. Bagaimana orang di dalam ruangan putih itu
bisa mengetahui bahwa tubuhnya
cacat? Meski dia sakti luar biasa tapi mereka belum pernah bertemu
muka dan tak mungkin menurut pikiran
Kalingundil orang itu mengetahui hal keadaan dirinya!
Kalingundil lupa bahwa dinding dan
langit-langit ruangan putih di atas sana tak ubahnya seperti kaca
sehingga orang yang ada di ruangan
putih akan mudah melihat siapa saja yang ada di ruang bawah!
Kalingundil melompat ke atas dengan
gerakan enteng lalu menaiki tangga. Ketika dia muncul
di ruangan putih anehnya harimau
yang berbaring tidak lagi menyerangnya. Sedang manusia
berselempang kain putih masih tetap
berdiri dengan kepala di atas batu kaki ke atas! Seperti hari-hari
sebelumnya parasnya masih tertutup
oleh julaian janggut putihnya yang panjang menjela-jela.
Meski. harimau belang tiga itu tidak
rnenyerangnya, namun Kalingundil berdiri dengan
waspada. “Kau siapa?!” membentak si
kepala ke bawah kaki ke atas.
“Namaku Kalingundil. Apakah saat ini
aku berhadapan dengan Begawan
Sitaraga?,” tanyaKalingundil setelah
terangkan dia punya nama.
Yang ditanya tak menjawab melainkan
ajukan pertanyaan: “Perlu apa kau datang
mengotori tempatku ini, manusia
tangan buntung?!”.
“Harap dimaafkan kalau kedatanganku
rnengotori tempatmu. Tapi sesungguhnya
aku tiada maksud demikian,” kata
Kalingundil pula. “Aku...”
“Sudah! Jangan berbacot juga!
Melangkahlah lebih dekat untuk terima
hukumanmu!”.
Sebaliknya justru Kalingundil
hentikan langkah. Diperhatikannya manusia yang
berdiri jungkir balik di atas batu
itu.
“Melangkah lebih dekat!” bentak
orang itu. Suaranya menggaung di ruangan putih
sedang harimau di sampingnya
menggeram tak kalah hebat. “Begawan…”.
Kalingundil putuskan kalimatnya.
Kaki kiri manusia dihadapannya dilihatnya
bergerak. Serangkum angin yang
sangat deras melanda ke arah Kalingundil. Ruangan itu
bergetar. Dengan jungkir balik
secepat yang bisa dilakukannya Kalingundil berhasil
elakkan serangan dahsyat itu!
Terdengar suara gelak mengekeh.
“Pantas... pantas kau berani petatang peteteng
datang ke sini untuk bikin kotor
tempatku. Rupanya kau memiliki ilmu yang diandalkan
juga! Aku mau lihat apakah kau juga
sanggup mempertahankan diri dengan jurus kaki
selaksa baja ini?!”.
Kepala yang di atas batu itu
berputar. Kedua kaki bergerak. Tahu kalau dirinya
hendak diserang lagi dengan
tendangan jarak jauh yang lebih dahsyat dari tadi,
Kalingundil
cepat mendahului berseru.
“Begawan!
Tahan! Aku datang membawa kabar untukmu!”.
Oleh
ucapan yang lantang ini maka orang. itu hentikan maksudnya untuk kirimkan
serangan: “Aku tidak kenal padamu!
Kabar apa yang kau bawa?! Cepat katakan!”
hardiknya. Dia masih juga berdiri,
dengan kepala ke bawah kaki ke atas seperti tadi.
“Kabar ini kabar buruk Begawan…”
“Sialan! Buruk atau baik cepat
katakan! Jangan
habiskan, kesabaranku monyet
alas!”
Kalingundil
pada dasarnya sangat tidak senang mendengar kata-kata makian seperti
itu. Namun dia menjawab juga. “Sobat
kentalmu Mahesa Birawa menemui kematiannya di
tangan seorang manusia keparat…”
Tubuh di atas batu kelihatan
bergerak dan tahu-tahu manusia itu kini sudah tegak
dengan kedua kakinya di atas batu.
Maka kini kelihatannya parasnya yang sejak tadi
tertutup oleh geraian janggut putih
panjang. Kulit mukanya sangat pucat seperti tiada
berdarah. Pipinya cekung dan rongga
matanya lebih cekung lagi membuat wajahnya
angker sekali untuk dipandang.
Rambutnya putih panjang sampai ke bahu sedang
janggutnya menjulai sampai ke perut.
Kalingundil menjura memberi hormat.
“Jadi betul saat ini aku berhadapan dengan
Begawan Sitaraga..?” tanyanya.
Si muka pucat. tidak ambil perduli
pertanyaan itu.
“Siapa yang bunuh dia dan dari mana
kau bisa tahu?!”
Kalingundil segera buka mulut
berikan keterangan. “Mahesa Birawa dan beberapa
orang Adipati memimpin sejumlah
batatentara untuk memerangi Pajajaran. Tapi mereka kalah.
Semua Adipati menemui ajalnya.
Mahesa Birawa sendiri tewas di tangan seorang pemuda sakti “
Maka kelihatanlah kerutan-kerutan muncul
di paras Begawan Sitaraga yang membuat
parasnya menjadi tambah angker.
Kedua matanya menyipit, pandangannya setajam mata pedang!
Rencana untuk memerangi Pajajaran
memang dia sudah tahu lama bahkan sebagaimana
perundingannya dengan Mahesa Birawa,
dia sendiri telah menjanjikan akan turun tangan membantu
pemberontakan Mahesa Birawa karena
memang sejak lama dia mempunyai dendam kesumat dengan
keluarga istana Pajajaran! Di puncak
Gunung Halimun dia hanya menunggu kabar dari Mahesa
Birawa kapan penyerangan dilakukan.
Tapi hari ini datang seseorang yang membawa kabar bahwa
pemberontakan gagal dan Mahesa
Birawa sendiri menemui kematian! Tehtu saja ini tak bisa
dipercayainya.
“Aku tidak percaya pada kau punya
bicara, manusia tangan buntung!” bentak Begawan
Sitaraga.
“Demi apapun aku berani sumpah bahwa
aku tidak dusta, Begawan” jawab Kalingundil
dengan suara merendah meskipun
hatinya gusar karena dipanggil dengan nama “manusia tangan
buntung” itu.
“Namamu siapa…”
“Kalingundil”.
“Punya hubungan apa kau dengan Mahesa
B irawa?”.
“Dia adalah pemimpin dan sobat
kentalku sejak tahunan, Begawan…”
“Baik! Tapi aku tidak tahu apa itu
betul atau tidak. Jawab pertanyaanku untuk membuktikan
kebenaran keteranganmu! Siapa nama
Mahesa Birawa sebenarnya…?”.
Kalingundil tertawa. “Kau keliwat
tidak percaya pada pihak sendiri, Begawan…”.
“Siapa akui kau pihakku...?
Tampangmu yang jelek inipun baru kali ini aku lihat!”.
Kalingundil menggerutu dalam hati.
“Ayo jawab pertanyaanku! Siapa nama
asli Mahesa Birawa?!”.
“Suranyali!” jawab Kalingundil.
“Hem…” Sitaraga merenung, “Mahesa
Birawa seorang berkepandaian tinggi. Tidak semudah
itu untuk merenggut nyawanya…”
“Di luar langit ada langit lagi
Begawan! Kesaktian pemuda tandingannya melebihi kesaktiannya…”.
Begawan Sitaraga kerutkan kening.
Dan Kalingundil teruskan ucapannya.
“Aku sendiri pernah menghadapinya. Masih untung
cuma tanganku yang dimintanya, bukan
nyawaku!”
“Ho-o… jadi maksudmu datang ke sini
untuk mengadu dan merengek macam anak kecil agar
aku
turun tangan…?”.
Merah
muka Kalingundil. “Itu adalah terserah padamu Begawan. Sebagai sobat dan bekas
pemimpinku,
aku telah cari pemuda yang membunuh Mahesa Birawa. Namun dia lebih tinggi ilmu
silatnya
dan lebih tinggi…”.
“Siapa nama bangsat itu?!” tanya
Sitaraga pula.
“. Tapi dia lebih dikenal dengan
julukan Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212...”
Mendengar ini maka terkejutlah
Begawan Sitaraga. “Kau bilang dia bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni
212…?”.
“Ya…”
“Kalau begitu dia adalah nenek-nenek
keriput si Sinto Gendeng!”.
“Tidak... dia adalah seorang pemuda.
Masih sangat muda, bahkan tampangnya macam anakanak, berambut gondrong dan
berotak miring sinting!”
Sitaraga
merenung lagi. Kemudian desisnya: “Kalau begitu mungkin sekali dia adalah murid
nenek-nenek itu yang diam di puncak Gunung Gede. Tapi setahuku Sinto Gendeng
tidak punya murid sejak puluhan tahun berselang…” Sitaraga tarik nafas dalam. “Kalau betul dia murid Sinto Gendeng, tidak
salah Mahesa Birawa dipecundangi…” Sitaraga memandang jauh ke muka seperti
pandangannya itu mau menembus dinding putih di belakang Kalingundil.
Melihat ini maka Kalingundil mulai
masukkan jarum hasutannya. “Sewaktu aku bertempur dengan dia di Rawasumpang aku
beri peringatan bahwa kelak sobat-sobat Mahesa Birawa yang terdiri dari
tokoh-tokoh silat utama akan turun tangan untuk menuntut balas. Dan mengumbar bahwa terhadap siapapun dia tidak
takut! Bahkan
dia menantang untuk bikin perhitungan di puncak
Gunung
Tangkuban Perahu pada hari tigabelas bulan duabelas nanti!”.
Mata Begawan Sitaraga menyipit lagi.
“Pongah betul,” desisnya. “Rupanya sudah kepingin cepat-cepat merasakan
gelapnya liang kubur! Sudah
cepat-cepat ingin minggat ke neraka!”.
“Betul
Begawan. Bukan saja kepongahannya itu yang menyakitkan hati, tapi tantangannya
itu adalah juga sangat menghina dan tiada memandang sebelah matapun terhadap
tokoh-tokoh silat utama macam Begawan....”.
Sitaraga
manggut-manggut. “Manusia-manusia macam begitu musti dilenyapkan dengan lekas.
Kalau tidak akan menjadi biang runyam golongan dan aliran kita....”
Hati
Kalingundil menjadi gembira karena tahu hasutannya sudah menyamaki dan
mengobari dendam serta amarah Begawan itu.
“Tantangan
itu...,” kata Kalingundil pula meneruskan hasutannya, “sekaligus menghina
terhadap guru Mahesa Birawa yang diam di Gunung Lawu... Aku bermaksud untuk
menemuinya dan meminta langkah-langkah yang segera akan kita laksanakan”.
“Kalau
cuma untuk memecahkan batok kepala pemuda sedeng itu, aku sendiripun
menyanggupinya!”
“Betul Begawan. Tapi untuk tidak
mengecewa kan guru Mahesa Birawa di kemudian hari, ada baiknya kematian
muridnya itu diberi tahu...''
“ltu urusanmu,” jawab Sitaraga.
Matanya. memandang tepat-tepat ke pinggang Kalingundil.
Sesungguhnya sejak tadi matanya itu
memperhatikan secara diam-diam ke pinggang Kalingundil.
“Coba aku mau lihat apa yang kau
simpan di balik pinggangmu,” katanya tiba-tiba.
Kalingundil kaget sekali. Dia
melirik ke pinggangnya. Dia telah menyimpan senjatanya baikbaik namun mata
Sitaraga yang tajam masih sanggup mengetahuinya.
“Ah, tidak apa-apa Begawan. Cuma…”
“Cuma apa?!” Sitaraga pelototkan
mata.
“Cuma sebilah pedang buruk…” sahut
Kalingundil.
“Keluarkan!”
“Begawan....”
“Jangan
banyak bicara. Keluarkan!”
Kalau
bukan berhadapan dengan Begawan Sitaraga dan kalau tidak mengingat kepada
rencana besarnya, maka pastilah saat itu Kalingundil akan beset mulut manusia
yang dihadapannya itu. Dia memang mengharapkan bantuan Sitaraga tapi kalau
dirinya dianggap remeh terus menerus dan dihina dimaki serta dibentak, siapa
yang bisa sabarkan diri?! .
“Kau membangkang Kalingundil?!”
Penasaran sekali Kalingundil cabut
Pedang Siluman buntungnya. Maka sinar birupun memancarlah di ruangan putih itu.
Begawan
Sitaraga terkejut.
“Pedang
Siluman Biru..,” desisnya. Dia di samping terkejut juga heran melihat pedang
sakti
itu kini hanya merupakan sebuah puntungan belaka. “Dari mana kau dapat senjata
itu?
Bagaimana
bisa buntung? Apakah kau muridnya Siluman Biru?!”
Kalingundil menyeringai mendengar
pertanyaan-pertanyaan menyerocos itu. “Itu semua adalah urusanku Begawan. Yang
penting hari ini kita telah berjumpa dan kau telah mengetahui nasib Mahesa
Birawa. Sampai bertemu di puncak Gunung Tangkuban Perahu!”.
Kalingundil berkelebat ke arah
tangga.
“Tunggu!” teriak Sitaraga.
Tapi Kalingundil tak mau ambil
perduli.
Maka marahlah Begawan Sitaraga. “Kalau
tidak memikir kau bekas anak buah Mahesa Birawa, sudah terlalu pantas aku minta
nyawamu, Kalingundil! Tapi saat ini cukup kau tinggalkan saja salah satu dari
daun telingamu!”
Sebuah senjata rahasia melesat ke
arah telinga kanan Kalingundil. Laki-laki ini segera lambaikan tangan kirinya.
Tapi celaka senjata rahasia itu tak sanggup dibuat mental dengan pukulan tenaga
dalam! Terpaksa Kalingundil cabut pedang saktinya kembali. Namun gerakanini
tentu saja sudah terlambat!
Kalingundil mengeluh kesakitan. Darah
membasahi pipi dan bahu pakaiannya. Daun telinganya sebelah kanan terbabat
buntung oleh senjata rahasia Sitaraga! Kalau tidak mengingat-ingat akan rencana
pembalasan dendamnya, maulah Kalingundil menyerang Begawan itu dengan kalap,
lebih-lebih ketika didengarnya kekehandak Sitaraga yang menusuk liang
telinganya!
Dalam waktu yang singkat Kalingundil
sudah berada di luar Kawah Gunung Halimun.
Dibersihkannya darah yang membasahi
pipi kemudian dengan sehelai kain dibalutnya kepalanya tepat pada batasan
telinga yang buntung. Kemudian diambilnya sebuah pil lalu ditelan untuk menolak
racun senjata rahasia Sitaraga itu.
Di dasar kawah Gunung Halimun, tak
lama sesudah Kalingundil lenyap, kembali Sitaraga merenung.
Siapa Kalingundil sebenarnya masih
agak samar baginya. Tapi
itu tidak begitu penting.
Yang
menjadi tanda tanya besar ialah siapa itu pemuda yang bergelar Pendekar Kapak
Maut Naga Geni 212? Apa betul murid Sinto Gendeng? Kalau
Kalingundil telah menghadapinya dengan Pedang Siluman dan berhasil dikalahkan
oleh si pemuda, maka sudah dapat dijajaki oleh Sitaraga sampai di mana
ketinggian ilmu pendekar 212 itu! Ini membuat dia ingin lekas-lekas
berhadapan dengan sang pendekar
muda. Namun dia musti menunggu beberapa bulan di muka sampai saat yang
ditentukan yaitu hari tigabelas bulan duabelas!
* * *
SIAPA penduduk desa bukit tunggul
yang tidak tahu dengan Asih Permani. Tanyakan pada
yang tua-tua, mereka akan tahu,
tanyakan pada yang muda-muda mereka akan lebih dari tahu.
Tanyakan pada anak-anak kecil yang
mengangon bebek atau menggembala kerbau, mereka juga akan tahu. Jika.ditanyakan
bagaimana paras Asih Permani maka semua mulut akan memuji. Semua mulut akan
mengatakan: Asih Permani gadis yang tercantik se-Bukit Tunggul. Mukanya bujur
telur.
Hidungnya kecil mancung bak daun
tunggal. Bibirnya seperti delima merekah, merah dan segar.
Matanya bening bercahaya laksana
bintang di angkasa raya. Dagunya seperti lebah bergantung, leher jenjang dan
suaranya halus merdu, serasa digelitik liang telinga jika kita mendengar suara
Asih Permani. Dan keseluruhan tubuhnya yang montok padat itu dibungkus oleh
kulit yang halus mulus.
Asih Permani memang cantik seperti
perbandingan di atas. Kawannya sesama gadis di desa
Bukit Tunggul banyak yang merasa iri
dengan kecantikan yang dimiliki gadis itu. Pemuda-pemuda banyak yang tergila.
Tapi semua mereka bertepuk sebelah tangan. Karena pada bulan di muka, tepat di
waktu bulan rembulan empat belas
hari. Asih Permani akan dinikahkan dengan Ranggasastra, anak lurah Bukit
Tunggul. Memang di samping kaya raya, banyak harta dan sawah berlimpah kerbau
berkandang, maka Ranggasastra cocok dan pantas menjadi suami Asih Permani.
Pemuda ini gagah.
Badannya tegap, hatinya polos dan
ramah kepada setiap orang. Sehingga kalau bersanding dengan Asih Permani di
pelaminan nanti tentulah tak ubahnya seperti pinang dibelah dua!
Semakin lama, semakin dekat juga
hari pernikahan itu. Tentu sama dapat dibayangkan
bagaimana perasaan kedua calon
pengantin itu menjelang hari perkawinan mereka. Hari yang
bersejarah dan tak dilupakan seumur
hidup mereka. Hari di mana mereka akan sama-sama membuka suatu “rahasia
kebahagiaan hidup”.
Saat itu Ranggasastra tengah
duduk-duduk di depan rumahnya memandangi bintang-bintang
yang bertaburan. Entah mengapa malam
itu hatinya gelisah saja. Dan dia tak tahu apa sebenarnya yang digelisahkannya
itu. Larut matam baru dia dapat tertidur. Tapi menjelang fajar
dia tersentak.
Ranggasastra adalah seorang yang
pernah menuntut ilmu silat dan kesaktian pada seorang guru di pantai utara.
Nalurinya menyatakan bahwa ada seseorang lain di dalam kamarnya saat itu.
Dibukanyakedua kelopak matanya. Dia terkejut melihat sesosok tubuh manusia
sangat kate berdiri dekat tempat tidur. Manusia ini berkepala botak sudah licin
berkilat ditimpa kelap-kelip sinar lampu pelita dalam kamar.
Manusia kate ini memiliki hidung
yang sangat besar. Hidungnya yang besar itu seperti
mau menutupi mukanya yang kecil.
Ketika dia menyeringai dan mengeluarkan suara
mendesau, maka kelihatanlah giginya
yang cuma satu di sebelah atas.
Ranggasastra segera melompat dari
tempat tidur.
“Manusia kate! Siapa kau?!” bentak
si pemuda. Matanya meneliti manusia dihadapannya dengan tajam. Dan meskipun
cahaya lampu minyak di dalam kamar tidak begitu terang, namun Ranggasastra
dapat melihat bahwa manusia kate itu mempunyai telapak kaki yang lebar dan
besar sekali. Tapak kaki itu sampai sebatas mata kaki sama sekali tidak
merupakan tapak kaki manusia, tapi seperti kaki seekor gajah!
“He... he... he…”. Manusia kate
berkaki besar tertawa berkemik. “Kau manusianya
yang
bernama Ranggasastra, yang bakal jadi penganten minggu depan...?!”.
Tentu
saja apa yang ditanyakan manusia itu, mengejutkan Ranggasastra. “Itu bukan
urusanmu!
Jawab dulu siapa kau!”
“He...
he... he…”. Tamu tak diundang itu mengekeh lagi. “Maksudmu untuk menjadi
penganten,
untuk menjadi suami Asih Permani tidak akan kesampaian Ranggasastra...!”.
“Manusia kate, jangan ngaco
pagi-pagi buta!,” bentak Ranggasastra dengan marah.
“Keluar dari kamarku!”. Pemuda itu
kepalkan tinjunya.
“Kau tak akan pernah menjamah tubuh
Asih Permani, anak muda. Karena mulai detik
ini ke atas, dia adalah milikku dan
akan kubawa ke mana aku suka, akan kuperbuat apa aku
senang!”.
Manusia kate ini mengekeh lagi.
“Kalau
kau mau mengigau, pergilah mengigau di liang kubur!”. Habis berkata
demikian
Ranggasastra menerjang ke muka. Tinju kanannya menderu!
Tapi dia hanya
memukul tempat kosong. Hampir tak
terlihat oleh matanya, manusia kate itu telah berkelebat
dan lenyap dari pemandangannya!
Tinggal seorang diri di dalam kamar
Ranggasastra merasa seperti orang yang tertidur
dan tersentak oleh mimpi.
Digosok-gosoknya kedua matanya dengan telapak tangan berulang
kali. Tidak, dia tidak mimpi! Dia
yakin betul bahwa dia tidak mimpi! Dan ketika dia
memandang ke lantai kamar yang
terbuat dari papan, maka pada lantai itu jelas dilihatnya
bekas-bekas telapak kaki manusia
kate tadi.
Ketika ingat akan ucapan-ucapan
orang kate berkepala sulah tadi maka khawatirlah
Ranggasastra. Segera dijangkaunya
tongkat besi berujung runcing yang tersisip di dinding.
Senjata ini adalah pemberian
gurunya. Tanpa menunggu lebih lama, pemuda ini segera
tinggalkan rumahnya menuju ke desa
sebelah timur di mana terletak rumah orang tua Asih
Permani.
Sepuluh tombak akan sampai ke
halaman muka rumah gadis calon isterinya, mendadak
Ranggasastra melihat sesosok tubuh
melompat keluar dari jendela samping rumah! Sosok
tubuh ini tak lain dari manusia kate
yang telah mendatanginya tadi. Dan pada bahu manusia itu
kelihatan sosok tubuh seorang
perempuan. Meskipun halaman samping gelap tapi
Ranggasastra tahu betul, perempuan
yang dipanggul itu adalah calon isterinya. Asih Permani!
“Bangsat rendah! Pencuri busak!
Lepaskan perempuan itu!,” bentak Ranggasastra.
Si kate kepala sulah tertawa dingin.
“Sekali aku bilang bahwa gadis ini jadi milikku,
tak satu manusia lainpun yang bisa
menghalanginya!”.
“Kalau begitu terpaksa kukermus
kepalamu!”. Maka tongkat besi di tangan
Ranggasastra menderu ke kepala si
kate. Gesit sekali yang diserang melompat ke samping.
Ranggasastra susul dengan satu tusukan
ke dada kiri. Namun dengan kecepatan yang luar
biasa orang kate itu gerakkan kaki
kanannya!
Tendangan yang keras menghajar
tangan kanan si pemuda. Besi panjangnya lepas.
Tangannya hancur dan jeritan
kesakitan keluar dari mulut Ranggasastra. Pemuda ini
terhuyung sebentar lalu mental
sampai beberapa tombak ketika tendangan lawan terus
menyerempet perutnya! Perut si
pemuda robek besar. Tubuhnya menggeletak tanpa nyawa.
Si kate tertawa buruk.
“Maling hina dina!! Nyawamu di ujung
golokku!” teriak seseorang yang melompat
dari dalam rumah lewat jendela.
Si kate berkepala botak cepat putar
badan pada saat sebuah golok berkiblat memapasi
batok kepalanya!
“He... he... Kau juga inginkan
mampus Ki Lurah!” ujar si kate. Manusia yang
menyerangnya itu adalah Tanuwira,
ayah Asih Permani.
“Kau yang akan mampus lebih dahulu
manusia laknat!”. Golok Tanuwira berkelebat
lagi. Tapi si kate sungguh luar
biasa. Serangan itu dihadapinya dengan tertawa tawar. Sekali
dia gerakkan kaki kanannya maka
hancurlah dada Ki Lurah Tanuwira.
Si kate tertawa mengekeh.
“Calon mantu dan calon mertua
sama-sama bernasib sial! Kasihan…”. Dihirupnya
udara segar menjelang pagi itu
sejurus lenyaplah dia dari tempat itu.
KETIKA dia sampai kepertapaannya di
puncak Gunung Lawu maka terkejutlah
manusia kate berkepala botak itu
sewaktu melihat ada seorang bertangan buntung yang tak
dikenalnya berdiri dekat pintu.
Orang yang bertangan buntung agaknya juga terkejut melihat
kedatangan si kepala botak yang
membawa seorang gadis cantik di pundak kirinya. Tapi dia
cepat-cepat menjura.
“Pastilah saat ini aku berhadapan
dengan tokoh silat terkemuka yang bernama Tapak
Gajah…”
Laki-laki kate yang memang bernama
Tapak Gajah turunkan tubuh Asih Permani
dari pundaknya. Matanya meneliti
tajam orang di hadapannya lalu bertanya: “Kau sendiri
siapa? Apakah datang kesini membawa
maksud baik atau buruk?”. Sambil bertanya
demikian Tapak Gajah memperhatikan
telinga kanan tamunya yang juga buntung tiada
berdaun.
“Namaku Kalingundil. Aku datang
dengan maksud baik, tapi membawa berita
buruk”.
“Aku tidak kenal padamu sebelumnya.
Berita buruk apakah yang kau bawa...?” tanya
Tapak Gajah.
Maka Kalingundil segera mulai pasang
jarum penghasutnya. “Pembunuhan atas diri
seorang murid adalah satu hal yang
pahit bagi gurunya! Begitu pahit sehingga menanamkan
dendam kesumat…”.
“Jangan bicara berbelit!,” potong
Tapak Gajah. “Katakan
langsung berita buruk itu!”
“Muridmu
dibunuh orang, Tapak Gajah…”
Berubahlah paras si tubuh kate
kepala sulah. Sedang Kalingundil saat itu melirik
memperhatikan Asih Permani yang
berdiri tak bergerak, “Pastilah tubuhnya ditotok'', pikir
Kalingundil dan dalam hatinya dia
bertanya-tanya: “Siapa gerangan gadis cantik ini…”.
Sesak nafas Kalingundil melihat
kejelitaan Asih Permani.
“Aku mempunyai beberapa orang murid
yang telah turun ke dalam rimba persilatan.
Murid yang mana yang kau
maksudkan?!” tanya Tapak Gajah.
Kalingundil memalingkan mukanya
kepada laki-laki itu kembali. “Mahesa Birawa...”
“Aku tak punya murid bernama Mahesa
Birawa!” berkata Tapak Gajah.
Kalingundil kaget. Dia
berpikir-pikir seketika. Kemudian dia ingat.
“Maksudku
muridmu Suranyali…”
Sekali lagi berubah paras Tapak
Gajah. Di hatinya timbul kesyakwasangkaan.
“Apakah kau bicara, ngelantur atau
bagaimana...?”.
“Demi setan dan iblis aku tidak
bicara dusta, Tapak Gajah!”.
“Suranyali bukan manusia
sembarangan. Ilmu kesaktiannya tinggi!”
“Tapi manusia yang membunuhnya lebih
sakti lagi!”.
“Siapa ?!”
“Pendekar 212....”.
Tapak Gajah merenung. Kedua
tangannya terkepal. “Kau dusta Pendekar 212 Sinto
Gendeng sudah sejak puluhan tahun
lenyapkan diri dari dunia persilatan!”.
“Tapi....”
“Tutup mulut! Terima hukuman dariku
bangsat bermulut bohong!”.
Tapak Gadjah hantamkan kaki
tangannya ke muka.
“Wutt !”
Angin sedahsyat badai yang ke luar
dari tendangan itu lebih dahulu menyerang ke
arah Kalingudil sebelum tendangannya
sendiri sampai !
Kalingundil tak mau ambil risiko.
Dia berteriak nyaring dan lompat delapan tombak
ke udara.
“Byur!”
Kaligundil palingkan kepala ke
belakang. Tersekat rasanya tenggorokannya sewaktu
melihat bagaimana angin tendangan
Tapak Gadjah menghancurkan batu besar di
belakangnya!
Sewaktu manusia kate itu hendak
lancarkan serangan kedua Kalingundi cepat
berseru: “Tahan! Kita berada di
pihak yang sama!”
Tapak Gadjah tarik serangannya.
“Apa maksudmu kita di pihak yang
sama huh?”
“Aku adalah bekas anak buah
Suranyali sewaktu kami masih sama-sama di
Jatiwalu!”
“Jangan coba kelabui aku!,”
membentak Tapak Gadjah.
“Perlu dan untung apa aku
mengelabuimu!” baias membentak Kalingundil dengan
beringas.
“Berikan bukti bahwa muridku yang
satu itu benar-benar dibunuh orang!”
Kalingundil tertawa dingin. “Tidak
mau percaya pada orang sepihak akan merugikan
diri sendiri Tapak Luwing…” Lalu
Kalingundil memberikan keterangan selengkapnya.
Kini mulai kelihatan bayangan rasa
percaya di paras Tapak Gadjah. Namun apa yang
meragukannya ialah keterangan
Kalingundil mengenai Pendekar 212 . Satusatunya
kesimpulan bagi Tapak Gadjah ialah
bahwa pemuda bernama itu
adalah murid Sinto Gendeng.
“Golongan hitam memang sejak dulu
menaruh dendam pada itu nenek-nenek
sialan…,”
ujar Tapak Gadjah pula. “Tapi sebelum kami bersepakat untuk menghabiskan
jiwanya,
dia sudah lenyapkan diri! Kini muridnya muncul dan membunuh muridku! Benarbenar
laknat!”
“Aku
sendiri telah tantang dia di Rawasumpang demi untuk menuntut balas kematian
Suranyali
atau Mahesa Birawa. Tapi… itu pemuda keparat memang luar
biasa tinggi
ilmunya. Kalau aku kalah dalam
pertempuran di Rawasumpang itu bukan suatu apa tapi ada
satu hal yang benar-benar menyakiti
hatiku Tapak Gadjah…”
Kalingundil menunjukkan paras yang
mengandung dendam. Sepasang matanya
memandang lurus-lurus jauh ke muka.
.
“Katakan apa yang menyakiti hatimu
itu!,” kepingin tahu Tapak Gadjah.
“Sebelum mengundurkan diri dari
Rawasumpang aku bilang pada itu pemuda keparat
bahwa kelak pembalasan dari guru
Sunranyali akan tiba! Pemuda itu ketawa bekakakan dan
berkata bahwa sekalipun ada seribu
guru Suranyali, akan diterabasnya sama rata dengan
tanah!”
Rahang-rahang Tapak Gadjah
mengembung. “Begitu keparat itu bilang…?”
Kalingundil manggut.
“Meski dia murid si Sinto Gendeng,
tapi jangan merasa sudah setinggi langit
kepandaiannya! Katakan di mana
bangsat itu berada! Aku Tapak Gadjah akan pecahkan
kepalanya!”
“Kau tak perlu susah-susah
mencarinya Tapak Gadjah,” menjawab Kaligundil.
“Bukankah tadi aku sudah katakan
bahwa dia sudah umbar mulut menentangmu? Katanya
dia tunggu kau pada hari tigabelas
bulan duabelas di puncak Gunung Tangkuban Perahu!”
“Anjing
kurap betul itu manusia!”. Tapak Gadjah meludah ke tanah.
Dan Kalingundil berkata lagi:
“Beberapa tokoh silat utama yang ditantang pendekar
212 itu juga telah kuberi tahu!
Mereka sudah memastikan untuk datang ke Tangkuban
Perahu guna mengkeremus si pemud !”
“Seribu tokoh utama boleh datang ke
sana. Namun kematian anjing kurap itu aku
yang tentukan!” Kaligundil
manggut-manggut. Hatinya gembira. Memang itulah yang
diharapkannya. Sudah terbayang
bagaimana akan berhasilnya dia purrya rencana nanti.
Seorang diri dia memang tak sanggup
untuk menghadapi . Tapi kalau Tapak
Gadjah, Begawan Sitaraga,
Wirasokananta. dan Tapak Luwing yang berkumpul jadi satu
untuk
membuat perhitungan, tiga Pendekar 212-pun tak bakal sanggup!
“Aku gembira mendengar keputusanmu
itu. Tapak Gadjah. Akupun pasti pula akan
datang ke puncak Tangkuban Perahu…”
Tapak Gadjah tertawa dingin. “Kalau
kau punya nyali tapi punya sedikit ilmu untuk
diandalkan sebaiknya tak usah datang
ke sana!”
Merah padam paras Kalingundil.
“Sekarang aku tak ada urusan lagi
dengan kau! Silakan angkat kaki dari sini!” bentak
Tapak Gadjah.
Kelingundil melirik pada Asih
Permani. Kemudian katanya pada Tapak Gadjah:
“Jangan terlalu memandang rendah
terhadap sesama kawan Tapak Gadjah. Aku memang tidak
dikenal dalam dunia persilatan tapi
untuk menghancurkan batu besar sepertimu tadi, aku
masih sanggup!”. Kalingundil
gerakkan tangan kanannya ke pingaang. Kemudian selarik sinar
biru melesat ke arah batu besar yang
terletak sekira sembilan tombak dari hadapannya.
“Byur!”
Batu itu hancur berkeping-keping dan
bayangan Kalingundil sendiri sesudah itu lenyap
dari pemandangan!
Terkejutlah Tapak Gadjah! Tiada
disangkanya kalau manusia bertangan buntung
bertelinga sumpung itu memiliki
kehebatan demikian rupa! Tapi manusia kate ini tidak
berpikir lebih lama. Begitu matanya
membentur paras dan tubuh Asih Permani maka lupalah
dia pada Kalingundil. Segera
diboyongnya gadis itu ke dalam pertapaan. Apa yang kemudian
dilakukannya terhadap gadis suci itu
tak seorang manusiapun yang tahu. Namun pada hari itu
satu kesucian telah lenyap dirampas oleh
kebejatan!
SEPULUH
PUNCAK gunung tangkuban perahu. Hari
tigabelas bulan duabelas…
Angin dari utara bertiup kencang,
mengalahkan tiupan angin barat yang menghembus
sepoi-sepoi basah. Puncak Gunung
Tangkuban Perahu diselimuti kesunyian abadi. Tapi hari
itu agaknya kesunyian abadi itu akan
sirna oleh kedatangan manusia-manusia pembuat perhitungan.
Akan pupus di landa dendam kesumat
orang sakti! Kawah gunung yang lebar
mengepulkan tiada henti asap tipis
berbau belerang.
Beberapa puluh kaki dari tepi kawah
berderet pohpn-pohon cemara berdaun lebat
subur, menjulang tinggi dan lurus!
Saat itu matahari pagi sudah naik tepat antara titik tertinggi
dan titik permulaan terbitnya.
Angin utara bertiup lagi dengan
kencang, Daun-daun pohon cemara melambai-lambai.
Dan diantara kerisikan-kerisikan
geseran daun pohon-pohon cemara itu maka terdengarlah
suara siulan yang mengumandangi
seluruh puncak Gunung Tangkubanperahu. Suara siulan itu
juga seperti mau menggelegaki kawah
belerang dan menampar-nampar kabut belerang yang
meliuk-liuk kepermukaan kawah. Suara
siulan itu tidak teratur, tidak membawakan sebuah
lagu atau tembang, nadanya tak
menentu. Namun ketidakteraturan dan ketidakmenentuan itu
anehnya bila didengar dengan seksama
akan merupakan suatu lagu aneh bernada ajaib! Suara
siulan itu membuat pendengarnya akan
terkatung-katung ke dalam satu dunia khayal. Tapi di
pagi yang menjelang siang itu di
puncak Gunung Tangkuban Perahu itu tak satu orang pun yang ada selain manusia
yang mengeluarkan suara siulan tadi. Dan siapakah manusia ini adanya?
Suara siulan itu datang dari pohon
cemara yang paling tinggi tanda bahwa manusianyapun
berada di sana. Dan manusia ini
tiada lain dari pada , si Pendekar Kapak Maut Naga
Geni 212! Mengapa dia sampai berada
di puncak gunung itu adalah sehubungan dengan tantangan musuh lamanya
Kalingundil. Namun pendekar muda itu sampai saat itu tak pernah menyangka bahwa
yang bakal ditemuinya di puncak
gunung itu kelak bukan hanya Kalingundil seorang tapi juga
beberapa tokoh dunia persilatan yang
terkenal serta sakti!
Wiro terus juga bersiul-siul sambil
sekali-sekali layangkan pandangannya ke seantero puncak
gunung.
Sepi dan suasana tenang-tenang saja. Dilayangkannya pandangan ke kaki dan
lereng gunung.
Juga
segala sesuatunya masih diselimuti kesunyian dan ketenangan. Dua kali
sepeminuman teh lewat.
Telinga
pendekar 212 yang tajam dan terlatih baik itu sayup-sayup mendengar suara
sesuatu. Segera pemuda ini hentikan siulannya. Kepalanya diputar ke arah timur puncak gunung dari mana datangnya suara
itu. Masih belum kelihatan apa-apa tapi suara yang didengarnya tambah nyaring.
Beberapa ketika kemudian dari balik gundukan tanah keras tepi kawah sebelah
timur kelihatan muncul kepala seseorang, menyusul dada dan badannya. Sosok
tubuh manusia ini ternyata bukanlah Kalingundil karena tangannya tidak buntung!
“Lain
yang ditunggu, lain yang datang !” desis
dalam hati. Kedua matanya terus
memandang
tak berkesip pada manusia yang baru datang ini. Orang ini dilihatnya memandang
berkeliling agaknya mencari-cari
sesuatu, mungkin mencari seseorang. Umurnya sudah lanjut.
Menurut taksiran Wiro paling rendah
lima puluh tahun. Meskipun tua tapi tubuhnya kekar. Pada
pinggangnya kelihatan tersisip
sebilah keris emas. Dari gerak geriknya yang enteng dan tenang Wiro tahu bahwa
orang tua ini pastilah seorang yang menguasai ilmu silat dari tingkat tinggi.
“Mungkin sekali dia diam di sekitar
puncak gunung Tangkuban Perahu atau mungkin pula
kedatangannya ke situ hanya satu
kebetulan saja dengan hari di mana aku akan membuat perhitungan dengan
Kalingundil…,” demikianlah Pendekar 212 berpikir-pikir di dalam hatinya.
Sementara itu si orang tua tak dikenal dilihatnya berdiri di tepi kawah
memandang ke bawah lalu memutar tubuh danmenjelajahi seluruh permukaan gunung
dengan sepasang matanya yang kecil tetapi tajam. Kemudian orang tua ini pada
akhirnya melangkah ke arah deretan pohon-pohon cemara dan di sini duduk melepaskan
lelah. Wiro maklum kini bahwa orang tua ini datang ke situ adalah mencari
seseorang dan ketika orang itu tak ditemuinya dia memutuskan untuk menunggu. Karena merasa tak punya urusan dengan si orang tua. Wiro tetap saja berada
di tempatnya, di atas pohon cemara tinggi.
Matahari bergerak juga menuju ke
puncak tertingginya. Wiro masih terus memperhatikan si
orang tua. Mendadak diputarnya
kepalanya ke arah selatan. Sesosok tubuh kelihatan berkelebat.
Kedatangan manusia ini boleh
dikatakan tidak terdengar atau tak tertangkap oleh telinga Wiro
Sableng. Nyatanya kehebatan ilmu
lari dan ilmu mengentengkan tubuhnya. Apa yang menarik
pendekar 212 ialah bahwa manusia ini
bukanlah Kalingundil yang tengah ditunggunya!
Orang ini berbadan kate. Kepalanya
sulah licin dan berkilat-kilat ditimpa sinar matahari.
Kedua telapak kakinya bukan saja
lebar tapi juga tebal seperti kaki gajah. Tiba-tiba pendekar 212 ingat akan
keterangan gurunya Eyang Sinto Gendeng. Menurut gurunya itu di puncak Gunung
Lawu berdiam seorang tokoh silat utama bernama Tapak Gadjah. Kehebatan Tapak
Gadjah ialah telapak pada sepasang kakinya yang berbentuk kaki gajah. Jangankan manusia, batupun kalau ditendang akan hancur lebur. Dan memang
pada saat itu Wiro menyaksikan sendiri bagaimana tanah gunung yang diinjak
kedua kaki laki-laki itu meninggalkan bekas amblas sampai setengah dim!
“Mungkin sekali manusia ini adalah
Tapak Gadjah,” membatin . “Tapi kenapa
pula dia jauh-jauh bisa muncul di
sini...?”
Selagi dia membatin begitu rupa terkejut pula melihat bagaimana siorang tua?
yang duduk di bawah pohon cemara
tiba-tiba berdiri tegak menyambuti kedatangan simanusia kate!
kedua
orang itu saling pandang seketika. Sekali melompat maka si kate sudah berada
dua tombak di hadapan si orang tua berkeris emas! Kembali keduanya saling
pandang dan meneliti. Kemudian terdengar suara si kate membentak.
“Jadi
kau sudah datang duluan pendekar gila ?! Rupanya memang kau betulbetul
ingin
mati lekas-lekas!” Kemarahan yang meluap membuat Tapak Gadjah lupa akan
keterangan
Kalingundil bahwa adalah seorang muda! Bukan saja siorang
tua nampak terkejut dan
heran,
tapi Pendekar 212 di atas puncak pohon cemara jedi kernyitkan kulit kening
waktu mendengar bentakan si manusia kate itu !
Sebelum si orang tua sempat bicara
maka si kate sudah bertanya dengan membentak:
“Mampus cara mana yang kau kehendaki
Pendekar 212! Aku Tapak Gadjah segera
melaksanakannya!”
“Kalau betul aku berhadapan dengan
Tapak Gadjah, tokoh silat terkenal dari Gunung Lawu
saat ini…,” menyahuti si orang tua,
“maka dugaanmu meleset sekali!”
Tapak Gadjah pelototkan mata.
“Meleset bagaimana maksudmu?” Dan Tapak Gadjah ingat
akan keterangan Kalingundil. Lalu
diajukan pertanyaan: “Apakah kau bukannya
si
manusia geblek bergelar Pendekar 212
itu...?!”
Si orang tua gelengkan kepata. “Aku
adadalah Wirasokananta, Ketua Perguruan Teratai Putih
di bukit Siharuharu…”
“Ah... tak disangka datang dari jauh
kiranya akan berjumpa dengan tokoh silat ternama,”
Tapak Gadjah pula ramah. Mengingat
Wiasokananta adalah tokoh silat dari golongan putih dating dia sendiri dari
golongan hitam maka bertanyalah Tapak Gadjah: “Gerangan apakah yang membuat Ketua
Perguruan Teratai Putih sampai datang ke sini...”
“Panjang ceritanya Tapak Gadjah,”
menyahuti si orang tua berkeris emas. “Ringkasrrya adalah
untuk mencari den memenuhi undangan
seorang manusia bejat bernama bergelar
Pendekar 212!”
“'Ah... ah... ah...! Kalau begitu
kita sama-sama datang untuk maksud yang serupa. Dan pastilah
mempunyai tujuan terakhir yang
serupa-pula yaitu menamatkan riwayat manusia terkutuk itu.
Bukankah demikin?”
Meskipun heran bagaimana Tapak
Gadjah bias tahu hal itu namun Wirasokananta
mengangguk juga.
“Maksud sama, tujuan terakhir sama
tapi latar belakang tentu lain. Kalau aku boleh
tanya, apakah sebabnya Ketua
Perguruan Teratai Putih sampai turun tangan dan bukan
menyuruh anak-anak murid
Perguruan...?”
“Semua murid-muridku musnah di
tangan manusia laknat itu! Dua diantaranya
diperkosa!” jawab Wirasokananta. Suaranya bergetar. Kemudian dituturkannyalah apa yang
telah menimpa Perguruan dan
murid-muridnya.
Di atas pohon cemara Pendekar
212 pentang telinga buka mata tak
berkesip. Penuturan Wirasokananta
tentu saja sangat mengejutkannya.
Semenjak turun gunung bukan saja dia
tidak pernah mendengar nama Perguruan
Teratai Putih, bahkan bertemu muka
dengan Wirasokanantapun baru hari ini. Dan hari ini pula
Ketua Perguruan itu menuturkan bahwa
dia -- -- telah melakukan pembunuhan
besar-besaran atas diri murid-murid
Perguruan Teratai Putih! Ini adalah satu hal yang sama
sekali tidak benar! Kalau ini bukan
satu kekeliruan tentu ini adalah fitnah. Dan bila ini juga
bukan fitnah, apakah yang telah
menyebabkan Wirasokananta merasa yakin bahwa Pendekar
212 lah yang telah memusnahkan
Perguruannya ?
“Nasibmu dan nasibku rupanya tidak
banyak beda Ketua Teratai Putih,” terdengar
suara Tapak Gadjah. “Muridku
Suranyali juga kunyuk sedeng itu yang membunuh!”
Kini tahulah . Tapak Gadjah rupanya
adalah guru Suranyali alias Mahesa
Birawa ! “Tapi muridmu cuma seorang
yang mati di tangannya sedang aku keseluruhannya,”
menjahuti Wirasokananta.
“Yang penting bukan soal jumlah.
Ketua Teratai Putih. Yang penting ialah bahwa
kunyuk sedeng itu seorang manusia
bejat yang musti kita lenyapkan dari muka bumi ini!”
Wirasokananta mengangguk.
Tapak Gadjah hendak buka mulutnya
kembali. Tapi batal karena saat itu sudut
matanya melihat sesosok tubuh
berkelebat dan tahu-tahu sudah berada di hadapan mereka.
“Siapa
lagi yang datang ini…?” membatin .
Sedang
sesat kemudian didengarnya suara Tapak Gadjah berkata sambil menjura:
“Sungguh
pertemuan yang tak terduga. Tokoh silat dari Gunung Halimun kenapa bisa muncul
di
sini…?”
Orang
yang baru datang tertawa lebar. Dia berpakaian kain putih. Rambutnya panjang
diriap
seperti perempuan, janggutnya menjela sampai ke perut. Rambut dan janggut itu
berwarna
putih dan melambai-lambai tertiup angin.
“Kau sendiri mengapa bisa nongkrong
di sini…?” balik
menanya si janggut putih, dia
melirik
pada Wirasokananta.
Tapak
Gadjah mula-mula perkenalkan si janggut putih pada Wirasokananta. Ternyata
si
janggut putih itu adalah Begawan Sitaraga, seorang sakti dari Gunung Halimun.
Setelah
mendengar penuturan Tapak Gadjah yang juga sekalian menuturkan tentang
Wirasokananta
maka Sitaraga tarik nafas dalam dan berkata “Betul-betul tak bisa diduga kalau
kedatangan
kita ke sini tiga-tiganya adalah membawa maksud yang sama! Aku kenal baik
dengan
Mahesa Birawa. Aku telah berjanji untuk membantu perjuangannya menghancurkan
Pajajaran
karena memang aku tejak lama punya permusuhan dengan itu Kerajaan! Tapi
nyatanya
Mahesa mendahului aku! Ini kuketahui dari seorarg anak buahnya yang datang
ke
tempatku! Rupanya sebelum pecah perang Mahesa ada mengirim kurir. Kurir itu
tertangkap
peronda Pajajaran!”
Kesunyian
menyeling seketika. Di atas pohon camera masih tak
bergerak
di tempatnya. Dengan munculnya ketiga orang itu dan dengan penuturan
masingmasing
mereka
Wiro kini bisa menjajaki bahwa ada sesuatu yang tak bares. Dan ketidak
beresan
ini ditimpakan kepadanya. Siapa yang menjadi dalang ketidakberesan ini tak
susah
untuk diterka yaitu Kalingundil !
Tapi Kalingundil sendiri ke mana mana? Yakin bahwa
bukan hanya tiga orang itu saja yang
bakal muncul maka Wiro memutuskan untuk
menunggu. Dugaannya rnemang betul.
Lewat sepeminum teh maka dari jurusan barat
kelihatanlah
dua soaok tubuh berlari cepat laksana angina! Yang satu bertangan buntung
dan
segera dikenali oleh sebagai Kalingundil
adanya. Yang seorang lagi
pendekar
212 lupa-lupa ingat. Tapi metihat angka 212 pada keningnya Wiro baru ingat
bahwa
manusia ini adalah Tapak Luwing, kepala komplotan Tiga Hitam dari Kali Comel
yang
tempo hari bertempur melawannya tapi kemudian dilarikan oleh Kalingundil!
Begitu
sampai dihadapan Tapak Gadjah, Wirasokananta dan Begawan Sitaraga
keduanya
segera menjura. Kalingundil memandang berkeliling. “Harap maafkan kalau
kami
datang agak terlambat”. Dia memandang lagi berkeliling. Orang-orang yang
diundangnya
sudah lengkap. “Pendekar gila itu masih belum muncul!”
Tapak Luwing berdehem. “Aku
mempunyai firasat bahwa itu manusia tak
bernyali untuk datang antarkan nyawa
kemari!”
“Kalau dia berani menantang, dia
berani datang,” menyahuti Kalingundil.
“Kita tunggu saja,” buka suara
Begawan Sitaraga.
“Dan kalaupun nanti ternyata
silaknat itu tidak muncul, ke pintu nerakapun aku
akan cari dia!” berkata Ketua
Perguruan Teratai Putih.
Gembira sekali Kalingundil mendengar
katakata Wirasokananta itu. Nyatalah
bagaimana dendam kesumat si orang
tua terhadap .
Sementara itu dari atas pohon cemara
pendekar 212 memperhatikan
ke bawah dengan seksama. Kini tak
ada keragu-raguan lagi bahwa segala sesuatunya
sampai tiga tokoh silat utama itu
berada di sana adalah Kalingundil yang punya rencana.
Lima orang yang akan dihadapinya. Kalingundil dan Tapak
Luwing sudah bisa dijajakinya
ketinggian
ilmu kedua orang itu, tapi bagaimana dengan tiga orang lainnya? Sanggupkah
dia menghadapi mereka berlima
sekaligus? Pendekar 212 diam-diam tarik nafas dalam.
Dia memandang ke langit. Matahari
sudah sampai ke puncak tertingginya. Apakah dia
segera unjukkan diri atau menunggu
sampai saat yang dirasakannya tepat?
Di saat itu di bawah didengamya
suara Tapak Gadjah berkata: “Aku masih belum
yakin kalau kunyuk ingusan itu
benar-benar murid Sinto Gendeng. Itu nenek-nenek keriput
sudah sejak lama minggat dari dunia
persilatan...!”
Panaslah
hati mendenger gurunya, disebut demikian
rupa. Tiada
terasakan
lagi, didorong oleh naluri yang telah membuat dia menjadi bisa maka keluarlah
suara
siulan dari sela bibirnya.
“Kurang
ajar, rupanya kunyuk sedeng itu sudah lama mendekam di atas!,” maki
Kalingundil.
“Pendekar gila turunlah untuk terima
mampus!” teriak Wirasokananta.
Pendekar 212 tertawa bergelak.
“Ketua Perguruan Teratai Putih, aku kasihan pada
kau! Tidak tahu bahwa kau telah kena
dikelabui oleh manusia tangan buntung itu!”
Kalingundil cepat membentak.
“Agaknya kau memilih kematian di atas pohon itu.
?! Memang pohon itu cukup tinggi
untuk mempercepat roh busukmu terbang
ke neraka!”
Wiro tertawa lagi seperti tadi.
“Biar aku paksakan dia turun !” buka
mulut Tapak Luwing. Tangan kanannya
bergerak. Maka tiga pisau terbang
beracun melesat ke puncak pohon cemara di mana
pendekar 212 herada !
TAPAK Luwing! Kalau merasa sudah
berilmu tinggi, biar kukembalikan pisaumu!”
teriak Wiro dari atas pohon.
Sesaat sesudah dia berkata begitu
maka menderulah angin deras. Tiga pisau terbang
kembali ke bawah menyerang
pemiliknya sendiri!
Dua buah masih sanggup dielakkan
oleh Tapak Luwing tapi yang ketiga sangat cepat
sekali meleset ke arah batok
kepalanya.
“Awas!” seru Begawan Sitaraga.
Sekali dia lambaikan tangan maka mentallah pisau
itu dan Tapak Luwing yang diam-diam
keluarkan. keringat dingin terlepaslah dari bahaya
kematian!
kini tertawa membahak. “Kau terlalu bodoh
untuk ikut-ikutan datang
ke
mari Tapak Luwing ! Seharusnya saat ini kau cuci kaki dan pergi tidur!”
Saat
itu Wirasokananta tak dapat lagi menahan kesabarannya. Dengan tangan kanan
dipukulnya
batang pohon cemara.
“Kraaak!”
Pohon
itu tumbang.
Wiro
melompat ke samping dan melayang ke bawah dengan gerakan enteng. Sambil
melayang itu dia berkata: “Musuh
penantang cuma satu, mengapa sekarang bisa jadi lima?
Apakah kau bisa beranak,
Kalingundil?” Lalu pada tiga tokoh silat utama itu Wiro berseru:
“Kalian sudah tua bangka masih saja
mau derigan urusan dunia dan nafsu membunuh! Apa
tidak malu kena dihasut oleh kunyuk
tangan buntung itu?”
“Jangan
banyak bacot manusia gelo! Ajalmu hanya tinggal
sekejapan mata saja!”
bentak Tapak Gadjah. Dia maju ke
muka dan kirimkan tendangan kaki kanan di saat
Pendekar 212 masih juga belum
menjejakkan kaki di tanah!
Angin
tendangan kerasnya bukan main. Debu beterbangan. Untuk menjajaki sampai
kemana
kehebatan tenaga dalam lawan Wiro sengaja tidak mengelak tapi memapasi
serangan
tersebut dengan lancarkan pukulan “kunyuk melernpar buah”. Ketika dua angin
pukulan
itu beradu terkejutlah Tapak Gadjah! Kedua kakinya melesak sampai tiga senti ke
tanah
sedang angin tendangannya yang sanggup menghancurkan batu itu buyar! Ternyata
tenaga
dalam Pendekar 212 tidak berada di bawahnya!
Dengan
membuat dua kali jungkir balik di udara, pada jungkiran yang ketiga Wiro
sudah
berdiri di atas kedua kakinya. Lima manusia dihadapannya
segera mengurung.
“Kalian kunyuk-kunyuk tua bangka apa
tidak malu main keroyok begini rupa?!”
Pendekar 212 masih sanggup bertanya
sambil sunggingkan senyum mengejek.
“Seekor anjing kurap macam kau sudah
terlalu pantas untuk dijagal bersama-sama!”
menyahuti Wirasokananta.
“Ah, kau orang tua... Rupanya masih
belum tahu kalau dikelabui orang lain! Demi
kebenaran aku sama sekali tak pernah
mendatangi Perguruanmu. Apa yang terjadi di
Perguruanmu aku tidak tahu menahu. Itu semua adalah fitnah. Seseorang lain yang
bertanggung jawab. Kurasa manusianya
adalah si tangan buntung ini!,” Wiro menuding ke
arah Kalingundil.
“Ha... ha! Bukan saatnya untuk cuci
tangan pendekar gila!” seru kalingundil seraya
main-mainkan
pedang buntung di tangan kirinya. “Tak perlu kambing hitamkan orang lain!
Tak
perlu lempar batu sembunyi tangan....!”
“Aku
memsng tak mengambinghitamkan kau orang buntung. Tapi eoba berkaca di
cermin
Begawan Sitaraga, kau akan melihat bagaimana tampangmu memang persis seperti
kambing!”.
Merah padam muka Kalingundil.
Wiro tertawa mengekeh.
Begawan Sitaraga yang merasa dihina
segera maju ke muka. “Sobat-sobat, tak perlu
bicara panjang lebar dengan orang
sedeng ini! Mari kita kermus dia!”. Habis berkata begitu
Sitaraga gerakkan tangannya. Sinar
putih yang panas dan menyilaukan menyambar ke arah
muka . Begitu matanya tersambar
sinar tersebut gelaplah pemandangan
pendekar 212.
“Celaka!” kata Wiro dalam hati.
Tenaga dalamnya dialirkan ke kepala dan dia melompat cepat ke salah satu pohon
cemara untuk berlindung dari serangan lawan.
Tapak Gajah juga tidak berdiam diri.
Tendangannya menggebubu. Pohon cemara patah dah disaat itu Wiro sudah berpindah
ke tempat lain. Dengan mata masih terpejam dia putar kedua tangannya di udara.
Maka menderulah angin pukulan “benteng topan melanda samudera”. Meski pukulan
ini hanya mempergunakan sebagian tenaga dalam karena yang sebagian masih tetap
dialirkan ke muka tapi kehebatannya cukup membuat lima penyeranghindarkan diri
ke samping. Ketika matanya dibuka kembali maka pemandangannya sudah terang
seperti semula.
Begawan Sitaraga terkejut ketika
melihat kedua mata lawannya tidak menjadi buta oleh kilapan sinar cerminnya. Di
lain pihak Wiro menganggap bahwa senjata yang paling berbahaya di antara
penyerang-penyerangnya ialah cermin di tangan Sitaraga itu. Maka dia memutuskan
untuk menghancurkan senjata itu terlebih dahulu.
Namun dikurung lima begitu rupa
tidak mudah bagi untuk melaksanakan
niatnya. Serangan
lima tawan
bertubi-tubi. Setiap dia coba untuk menghancurkan senjata di tangan Sitaraga
maka pedang Kalingundil atau golok Tapak Luwing atau keris emas ataupun
tendangan Tapak Gajah datang pula menyerangnya, kadangkala berbarengan
sekaligus! Dengan bergerak gesit, dengan lancarkan seranganserangan balasan,
dengan hanya bertangan kosong itu, pendekar 212 cuma sanggup bertahan sampai
duabelas jurus. Jurus-jurus selanjutnya dia didesak hebat Golok besar empat
peregi berkali-kali membabat ke arah dada dan perutnya. Sinar biru Pedang
Siluman di tangan Kalingundil tiada henti berkiblat ke sekujur tubuhnya sedang
keris emas Wirosokananta laksana hujan mengirimkan tusukan-tusukan mematikan. Dan di antara itu tendangantendangan
Tapak Gajah tiada terkirakan
ditambah yang paling berbahaya cermin di tangan Sitaraga berkata-kali menyambar
kemukanya, masih untung sanggup dialakkannya!
Jurus kelima belas murid Eyang Sinto
Gendeng itu terdesak ke tepi kawah. Sinar cermin menyambar kemukanya. Di saat
itu pula tendangan Tapak Gajah menyeruak ke arah selangkangan. Dari atas
menderu Pedang Siluman Biru, keris emas menikam ke dada dan golok besar Tapak
Luwing menggebubu ke perut!
“Tamatlah riwayatmu pemuda gila!”
teriak Kalingundil.
“Jangan lupa sampaikan salamku pada
setan-setan neraka!” menimpali Wirasokananta.
“Bret”!
Ujung Pedang Siluman Biru menyambar
lewat dada, merobek pakaian pendekar 212!
“Sialan!” maki .
“Memakilah sekenyangmu setan alas!
Setan-setan neraka memang paling suka pada manusia-manusia tukang maki
macammu!” teriak Kalingundil kertakkan geraham. Kedua pipinya menggembung.
Sedetik kemudian meledaklah bentakan yang keras, demikian kerasnya sehingga
menggema sampai ke dasar kawah Gunung Tangkuban Perahu! Tubuh pendekar 212
lenyap! Serentak dengan itu terdengarlah suara siulan yang melengking-lengking.
Dan di antara lengkingan siulan itu menderu suara laksana ratusan tawon,
mendengung menyamaki liang telinga! Sinar putih bergulung-gulung! Lima
penyerang tersurut mundur.
“Kapak Naga Geni!” seru Begawan
Sitaraga ketiga melihat senjata di tangan Wiro Sableng. Belum lagi habis gaung
seruannya itu sudah menyusul suara jeritan setinggi langit.
Satu tubuh angsrok terpelanting di
tanah mandi darah, kepala terbelah dua! Korban Maut Naga Geni 212 yang pertama
itu ialah Tapak Luwing!
“Kurung biar rapat!” teriak Tapak
Gajah. Dia melompat tinggi. Kedua kakinya menendang susul menyusul. Dua senjata
lainnya menderu pula ke arah .
“Ketua Perguruan Teratai Putih!”
berseru pendekar 212. “Antara kau dan aku tak ada permusuhan. Sebaiknya
undurkan diri saja!”
“Jangan bicara melangit pemuda
sedeng! Delapan arwah muridku minta roh busukmu!”. Wirasokananta percepat
tusukan kerisnya. Maka keris emas, Pedang Siluman Biru dan Kapak Naga Geni 212
beradu dengan mengeluarkan suara nyaring.
Wirasokananta berseru kaget.
Tangannya tergetar hebat dan pedas panas. Keris saktinya terlepas mental.
Cepat-cepat Ketua Perguruan Teratai Putih ini melompat mundur.
Kalingundil sendiri tak kalah
kagetnya. Bagian yang tajam dari pedang buntungnya gompal sedang tangannya
menjadi seperti kaku. Kalau tidak sinar cermin Sitaraga menyambar ke arah lawan
pastilah Kapak Maut Naga Geni 212 membabat perutnya. Kalingundil keluarkan
keringat dingin!
Suara siulan Pendekar 212 kini
sekali-sekali diselingi oleh suara tawa mengekeh!
Tubuhnya hampir tak kelihatan lagi.
Kapak Naga Geni mengaung mencari maut. Keempat lawan menjadi sibuk. Merasa
mulai terdesak, Tapak Gadjah segera keruk saku pakaiannya.
Tanpa memberi peringatan lagi tokoh
silat ini segera lepaskan seratus senjata rahasia yang berupa jarum-jarum hitam
ke arah . Tapi angin putaran Kapak Naga Geni yang ampuh sekaligus meluruhkan
jarum-jarum beracun itu. Malahan Tapak Gajah dan kawankawan menjadi sibuk
karena harus mengelakkan jarum-jarum hitam yang terdorong berbalik
menyerang
mereka sendiri!
“He..
he.. he..,” Pendekar 212 tertawa mengekeh. “Wirasokananta, untuk penghabisan
kali aku kasih peringatan padamu. Mundur atau mampus dengan percuma!”.
Ketua
Perguruan Teratai Putih menjadi bimbang. Dia membatin “Adakah seorang musuh
yang sehebat ini sampai memberi dua kali peringatan kepadaku?”.
“Wirasokananta
jangan bodoh!” teriak Kalingundil. “Manusia yang telah membunuh delapan
muridmu, ape hendak kau lepaskan begitu sa… akh.....”
Kata-kata
Kalingundil tak sampai pada ujungnya. Salah satu dari mata kapak di tangan membabat putus lengan kirinya. Tangan dan
pedang buntung mental masuk kawah. Darah muncrat. Laki-laki ini terhuyung ke
belakang kesakitan. Akhirnya ketika dia kehabisan darah nafasnya megap-megap
dan dia jatuh menelentang di tanah tapi belum mati!
Tapak
Gajah dan Begawan Sitaraga tertegun seketika. Namun sesaat kemudian serentak
pula keduanya menyerang sebat. Serangan ini disambut
dengan siutan dan tawa mengejek oleh Wiro Sabteng. “Kalian berdua adalah
tokoh-tokoh silat dari golongan hitam!
Manusia-manusia macam kalian pantas
menjadi umpan cacing di liang neraka!”.
Pendekar 212 putar kapaknya.
“Buyar!”
Cermin di tangan Sitaraga pecah
berhamburan. Begawan itu keluarkan seruan tertahan dan memandang senjatanya
yang hancur dengan rasa tak percaya.
“Begawan
awas!” teriak Tapak Gajah. Tapi terlambat!
Kapak
Maut Naga Geni 212 datangnya tiada sanggup lagi untuk dielakkan.
“Crras”!
Putuslah
leher Begawan Sitaraga. Darah seperti air mancur muncrat ke udara. Kepala yang
buntung mengelinding seperti bola terus masuk ke dalam kawah Gunung Tangkuban
Perahu!
Melihat
kematian sobatnya ini, si kate kepala sulah Tapak Gajah menciut nyalinya!
Tanpa buang waktu dia segera putar
tubuh.
“Eit
orang kate, mau minggat ke mana?!”
berseru. “Ayo berhenti!”.
Tapi
mana Tapak Gajah mau berhenti. Malahan ini manusia
tancap gas dan lari lintang pukang. Wiro menyeringai. Tangan kanannya bergerak
menekan bagian dekat hulu kapak yang berbentuk kepala naga-nagaan. Maka
mengaunglah 212 batang jarum putihberacun ke arah Tapak Gajah. Tapak Gajah coba
melompat ke samping namun dia kurangcepat. Hampir keseluruhan jarum-jarum putih
itu menembus daging tubuhnya. Tapak Gajah meraung setinggi langit! Begitu racun
jarum merembas jantungnya maka tubuhnya kelojotan seketika lalu menggeletak di
tanah tanpa bergerak lagi!
Wirasokananta
leletkan lidah melihat kehebatan pendekar; tapi diam-diam bulu tengkuknya
merinding karena ngeri! Sedang ketika dia berpaling pada pendekar itu,
dilihatnya berdiri sambil garuk-garuk
rambutnya yang gondrong! Wiro tarik nafas dalam
lalu putar tubuh dan memandang pada Wirasokananta. “Ketua Perguruan
Teratai Putih,” katanya. “Kenyataan
yang kita tidak saksikan dengan mata kepala sendiri adalah terlalu sukar untuk
dipercaya. Demikian juga dengan peristiwa di perguruanmu.
Sama sekali tak ada sangkut pautnya
denganku! Aku yakin manusia inilah yang jadi biang racun!”.
Wiro mendekati Kalingundil yang
tengah megap-megap. Dari dalam sakunyadikeluarkannya sebuah pil. Dia
senyum-senyum dan menimang-nimang obat itu. “Kau masih inginkan hidup
Kalingundil?” tanyanya.
Kalingundil diam saja.
“Obat ini bisa menyembuhkan lukamu
dan memunahkan racun Kapak Naga Geni yang mengalir di darahmu. Aku akan berikan
kepadamu jika kau menerangkan dan mengaku bahwa kaulah yang telah membunuh
delapan anak murid Perguruan Teratai Putih...”.
Kalingundil masih diam.
“Kau tak mau hidup..... ?”.
Kalingundil memandang dengan matanya
yang berbinar-binar pada pil di tangan Wiro. Dalam diri setiap manusia yang
tengah meregang nyawa akan selalu datang harapan untuk dapat terus hidup. Demikian juga dengan
Kalingundil.
“Masukkan
dulu pil itu ke dalam mulutku,” katanya.
Wiro
memasukkan obat itu ke dalam mulut Kalingundil dan Kalingundil cepat-cepat
menelannya. “Sekarang terangkan cepat!”.
Kalingundil
buka mulut mengakui apa-apa yang telah diperbuatnya terhadap Perguruan Teratai
Putih. Akan Wirasokananta begitu mendengar penuturan tersebut, takdapat lagi
menahan luapan amarahnya. Tanpa banyak cerita dengan kaki kanan ditendangnya
Kalingundil. Demikian kerasnya sehingga tak ampun lagi tubuh Kalingundil
mencelat beberapa tombak ke udara dan malang
baginya tubuhnya terlempar tepat ke kawah.
Masih
terdengar jeritan laki-laki itu menggaung ketika tubuhnya melayang ke bawah
sebelum amblas di dalam kawah belerang!
Sekali lagi pendekar 212 hela nafas
dalam dan berpaling pada Wirasokananta. Satu senyum terlukis di bibir pendekar
muda itu. Ketua Teratai Putih belas tersenyum.
“Orang muda, apakah kau betul-betul
muridnya Sinto Gendeng?”.
“Ah.... murid siapapun aku butan
menjadi soal, Ketua Perguruan Teratai Purih”
menyahuti Pendekar 212. “Orang-orang
mencap aku pemuda edan, sinting, gila, geblek...
Kurasa memang suatu ketika kegilaan
itu ada perlunya. Hanya manusia-rnanusia gila semacam kita inilah yang sanggup
membunuh manusia-manusia bejat dan menghancurkan kebejatan. Coba saja kau pikir
mana ada manusia waras mau membunuh sesama manusia...?”.
Wirasokananta tertawa. “Ucapanmu
benar juga, pendekar,” katanya.
Wiro mendongak ke langit. “Ah,
matahari sudah tinggi. Banyak
urusan baru yang menunggu kita. Ketua Perguruan Teratai
Putih, pertemuan kita hanya sampai di sini. Aku senang bisa berkenalan dengan
kau. Semoga kita bisa jumpa lagi....”.
“Pendekar 212, tunggu dulu...!” seru
Wirasokananta. Tapi percuma saja. Sangpendekar saat itu sudah berkelebat dan
lenyap! Wirasokananta goleng-goleng kepala.
“Pemuda hebat sikapnya seperti
betul-betul gila tapi hatinya polos, ilmunya……. ah, aku yang sudah tua ini
mungkin tak pernah bisa mencapai ilmu setinggi yang dimilikinya. Belum lagi
sempat mengucapkan terima kasih, dia sudah lenyap...”
Wirasokananta memandang ke dasar kawah lalu mengikuti
jejak meninggalkan tempat itu.
--- TAMAT---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar