SATU
PADA abad ke 15, Kerajaan Demak
diperintah oleh Baginda Trenggono. Di bawah Trenggono maka Demak mencapai
puncak kejayaannya. Di masa itu pula adik perempuan Trenggono kawin dengan
Fatahillah.
Untuk meluaskan daerah perdagangan
serta kekuasaan Demak maka Trenggono merasa perlu untuk menduduki Banten. Maka
pada tahun 1527, di bawah pimpinan Fatahillah menyerbulah balatentara Demak.
Banten jatuh, pelabuhan Sunda Kelapa diduduki dan sebagai wakil Demak
memerintahlah Fatahillah di Banten. Sebenarnya kurang tepat kalau dikatakan
bahwa Fatahillah bertindak sebagai wakil Trenggono atau wakil kerajaan Demak
karena luas lingkup kekuasaan serta pengaruh Fatahillah tak ubahnya seperti
Raja. Disamping itu, terlepas dari Demak, Fatahillah membentuk balatentara
tersendiri. Nama Fatahillah menjadi besar dandihormati. Namun demikian
kesetiaannya terhadap kerajaan induk yaitu Demak tetap seperti sediakala.
Pangkat itu terus dijabatnya sampai
pada suatu hari di mana dia terpaksa mengorbankan jiwanya sendiri untuk
keselamatan kerajaan dan demi kesetiaan pengabdiannya pada atasan!
Saat itu belum lagi satu bulan
Hasanuddin yang muda belia dinobatkan sebagai Sultan atau Raja Banten. Baik
patih Wira Sidolepen, maupun penasihat tua Mangkubumi Mitra serta kepala
balatentara Bradja Paksi, ataupun Sultan sendiri, mereka tak satupun yang tahu
kalau di batang tubuh kerajaan saat itu terdapat musuh dalam selimut yang
berbahaya, yang bergeraksecara diam-diam!
Dan siapa yang akan menyangka kalau
musuh dalam selimut itu adalah Parit Wulung,perwira yang menjadi wakil langsung
dari kepala balatentara kerajaan! Hubungan ParitWulung dengan Bradja Paksi
bukan saja sebagai bawahan dengan atasan, tetapi juga sebagai
ipar karena adik perempuan Bradja
Paksi kawin dengan Parit Wulung.
Tapi
Parit Wulung telah tersesat. Lupa dia bahwa jabatan yang dipangkunya itu adalah
berkat diangkat atas kebijaksanaan Bradja Paksi. Lupa dia bahwa kerajaan yang
telah memberipangkat kedudukan serta kehormatan dan kehidupan mewah. Nafsu
hendak berkuasa sendiri,nafsu hendak duduk ditakhta kerajaan sebagai Raja telah
merangsang segenap hati dari jiwaraganya!
Dalam
mencapai usahanya merebut takhta Kesultanan Banten itu sudah barang tentu dia
tak bisa bergerak sendiri. Disamping itu dia tahu pula bahwa untuk mencari
pengikutpengikutdari kalangan pihak dalam yaitu perwira-perwira dan
menteri-menteri istana tidak mungkin karena semua perwira dan menteri, apalagi
patih Wira Sidolepen sangatlah setianya kepada Kerajaan dan Sultan Hasanuddin.
Karenanya maka perwira pengkhianat itupun mencari sekutu di luar Banten.
Peluang yang sangat baik dilihatnya datang dari kerajaan tetangga yaitu
Pajajaran. Beberapa perwira Pajajaran secara diam-diam ditemuinya dan
perwira-perwira itu sesudah diberikan janji yang muluk-muluk bersedia
mengirimkan ratusan prajurit untuk membantu pemberontakan bila saatnya sudah
tiba kelak.
Ratusan prajurit masih belum dirasa
mencukupi bagi Parit Wulung. Pengkhianat ini kemudian mendatangi seorang sakti
yaitu Resi Singo Ireng yang berdiam di pantai selatan.
Resi ini bukan saja mau membantu
maksud busuk Parit Wulung karena dijanjikan akan dilimpahkan harta kekayaan
yang tiada terkira banyaknya, tapi juga mengikut sertakan kakak kandungnya yang
juga seorang Resi yaitu Resi Matjan Seta. Matjan Seta diam di TelukKeletawar.
Tokoh silat ini baru saja membentuk satu partai silat yang dinamainya Partai
Api Selatan. Meski keduanya adalah Resi namun mereka telah terperangkap oleh
kesenangan duniawi sehingga masuk ke datam golongan hitam!
Pada hari yang telah ditentukan maka
pecahlah pemberontakan menggulingkan kerajaan itu! Ratusan pasukan dari
Pajajaran menyerbu. Pertempuran hebat terjadi di seantero Kotaraja dan yang
paling hebat adalah sekitar halaman istana.
Sebentar
saja kaum pemberontak sudah membobolkan pertahanan Banten. Istana dikepung,
prajurit-prajurit pemberontak di bawah pimpinan Parit Wulung, Singo Ireng dan
Matjan Seta menyerbu ke dalam istana. Menteri-menteri dan orang-orang cerdik
pandai yangterkurung dan tak dapat diselamatkan semuanya menemui ajal dipancung
secara kejam.
Kepala
balatentara Banten, patih Wira Sidolepen dan beberapa orang penting lainnya
turut serta menjadi korban keganasan kaum pemberontak itu !
Banten
jatuh sebelum hari rembang petang. Prajurit-prajurit Banten yang masih hidup
dan terpaksa menyerah bersama-sama rakyat disuruh membersihkan semua
mayat-mayat yang bergeletakan di setiap pelosok. Sedangkan di satu ruangan
dalam istana Banten terjadi
pertemuan
panting. Pertemuan penting ini diketuai oleh Parit Wulung. Yang hadir ialah
Resi Singo Ireng, Resi Matjan Seta, Karma Dipa dan Djuanasuta. Kedua orang
terakhir ini adalah penrwira-perwira Pajajaran sekutu Parit Wulung !
"Resi Singo Ireng, Resi Matjan
Seta dan saudara-saudara Karma Dipa, Djuapasuta.
Kalian lihat sendiri, berkat
kerjasama kita maka apa yang kita rencanakan telah berhasil. Kini Banten adalah
milik kita bersama. Namun ada beberapa hal yang mengecewakan dilaporkan oleh
seorang perwira penghubung pihak kita. Sultan Hasanuddin lenyap tak diketahui ke
mana perginya. Kemungkinan besar bersama penasihat tua Mangkubumi Mitra karena
orang tua inipun tak diketahui di mana dia berada saat ini…".
Sampai di situ maka Karma Dipa buka
suara. "Kalau mereka hendak melarikan diri dari Banten adalah mustahil.
Seluruh perbatasan dijaga ketat oleh prajurit-prajurit kita!"
"Itu betul sekali,” jawab Parit
Wulung. "Disamping orang-orang kita terus melakukan penyelidikan atas
jejak kedua orang itu maka kita juga telah menangkap tiga orang yang diduga
keras mengetahui di mana bersembunyinya Sultan!"
Parit
Wulung bertepuk tiga kali. Pintu ruangan perundingan terbuka. Seorang pengawal
masuk. "Bawa ke sini Said Ulon !,” kata Parit Wulung pada pengawal itu.
Pengawal ke luar dengan cepat. Sesaat kemudian masuk lagi bersama seorang
kawannya membawa seorang laki-laki tua berambut putih. Dialah Said Ulon, kepala
rumah
tangga
istana. Kedua pengawal ke luar lagi.
"Said
Ulon, kau tahu dimana Sultan sembunyi, bukan?!" ujar Parit Wulung.
Orang tua itu memandang ke muka
sebentar. Hatinya
geram sekali melihat tampang Parit Wulung. Dua orang anaknya telah menjadi
korban akibat pemberontakan manusia itu. Seperti hendak ditelannya bulat-bulat
tubuh Parit Wulung saat ini. Kedua tangannya berusaha melepaskan ikatan tali
tapi tak berhasil.
Melihat
ini Parit Wulung segera berkata. "Jangan khawatir, kau akan kulepaskan
dankujamin keselamatanmu bila memberi keterangan di mana Sultan
berada...!"
"Ya…
memang aku tahu...” berkata Said Ulon.
"Haaaa…”
Parit Wulung tertawa lebar. "Di mana?," tanyanya.
Orang
tua itu maju ke hadapan Parit Wulung. "Di sini," katanya. Dan habis
mengucapkan
perkataan itu maka diludahinya muka Parit Wulung!
"Jahanam
hina dina!" suara Parit Wulung menggeledek.
"Sret!"
Pedangnya dicabut dan "cras!” maka putuslah leher Said Ulon. Kepalanya
menggelinding
di lantai tepat di muka pintu. Darah muncrat membasahi permadani yang
menutupi
sebagian dari lantai ruangan !
Resi
Matjan Seta tertawa mengekeh melihat peristiwa itu.
Karma Dipa berkata dengan suara
datar. "Seharusnya kita tak perlu membunuh
sekaligus manusia itu, Parit Wulung.
Kita bisa siksa dia sampai mengaku di mana adanya
Sultan
Hasanuddin!"
Parit
Wulung tak menjawab. Noda darah dipedangnya disapukannya kepakaian Said
Ulon
lalu dimasukkannya ke dalam sarungnya kembali. Kemudian Parit Wulung bertepuk
lagi
tiga
kali.
Pintu
terbuka. Pengawal yang masuk tergagau melihat adanya kepala manusia di muka
pintu.
"Bawa masuk tukang kuda itu!" kata Parit Wulung.
Tak
lama kemudian pengawal membawa masuk seorang pemuda bermuka pucat pasi.
Baik
Parit Wulung maupun pemuda ini sebelumnya sudah saling mengenal.
"Siman
Tjonet, kau lihat mayat dan kepala di lantai itu?!"
Siman
Tjonet si tukang urus kuda-kuda milik istana mengangguk.
"Tentunya
kau tak ingin bernasib demikian, bukan? Nah coba terangkan di mana
Sultan
bersembunyi...!”
"Aku
tak tahu…".
"Ah
kau musti tahu. Mungkin sekali Sultan telah melarikan diri bersama beberapa
orang
dengan menunggangi kuda. Betul..."
"Aku
tidak tahu..," jawab Siman Tjonet lagi seperti tadi.
Maka.
marahlah Parit Wulung. "Dangar Siman…,” desisnya. "Aku tahu bahwa
beberapa
bulan di muka kau akan kawin. Kalau kau tetap ingin merasakan kenikmatan
perkawinanmu
itu, cepat beri tahu di mana Sultan berada…”
"Kalau
kau kasih keterangan...," menyambung Djuanasuta, "kami akan berikan
uang
serta
perhiasan! Kau akan beruntung seumur hidup…"
"Aku
tidak tahu…"
"Betul-betul
tidak tahu...?!"
"Kalaupun
tahu aku tidak akan kasih keterangan pada bergundal pemberontak dan
pengkhianat
macam kau!"
Parit
Wulung tertawa buruk. Pelipisnya bergerak-gerak. Tangan kanannya bersitekan
pada hulu pedang. "Jangan jadi
orang tolol Siman Tjonet!" berkata Karma Dipa sementara
Resi Matjan Seta dan adiknya
asyik-asyik makan buah anggur yang terhidang di atas meja.
"Bicaralah, kau akan selamat
dan jadi orang kaya!"
Siman Tjonet diam saja.
"Agaknya kau lebih suka mati
daripada hidup senang. Siman…?" tanya Parit Wulung.
"Disangkanya kalau dia mati
akan masuk surga dan ketemu bidadari!" berkata Resi
Matjan Seta sambil tertawa dan
mengunyah buah anggur dalam mulutnya.
"Aku masuk surga atau tidak itu
bukan urusan kalian! Sebaliknya kalian semua kelak
akan menjadi puntung api
neraka!" jawab Siman Tjonet dengan beraninya.
"Wah… kau benar-benar tidak
takut mati, anak muda. Tapi bagaimana kalau sebelum
mati aku siksa kau lebih dahulu,
heh?!"
"Kalian boleh siksa aku tapi di
mana Sultan berada tetap kalian tak bisa tahu!"
"He...
he... he..,” Resi Matjan Seta berdiri dari duduknya. Mulutnya masih mengunyah
buah
anggur. Dia melangkah ke hadapan Siman Tjonet, Tangan kanannya diletakkannya di
atas kepala pemuda itu.
"Manusia bermuka setan,
pergi!" hardik Siman Tjonet. Pemuda ini pergunakan kaki
kanannya untuk menendang tulang
kering Resi Matjan Seta. Tapi aneh! Kedua kakinya terasa
sangat berat dan sukar digerakkan.
Sementara itu kepalanya yang dipegang terasa panas bukan main. Disamping panas
kepalanya juga terasa seperti dicucuki oleh ratusan jarum! Dari kepala
rasa sakit menjalar ke sekujur tubuh
si pemuda.
Pemuda ini merintih kesakitan. Bila
rasa sakit tak tertahankan lagi maka mulailah dia
menjerit-jerit setinggi langit.
Betapa mengerikan suara jeritan itu terdangarnya. Peluh dingin
membasahi seluruh tubuh Siman
Tjonet.
"Masih belum mau bicara?!"
bentak
Parit Wulung.
"Pengkhianat
terkutuk! Pembalasan akan datang untuk kalian semua!".
"Bikin
mampus dia Resi Matjan Seta!,” perintah Parit Wulung.
Sang
Resi mengekeh, telapak tangannya semakin keras menekan batok kepala pemuda
tukang
kuda. Asap mengepul dari telapak tangan laki-laki sakti itu.
Jeritan Siman Tjonet terdangar semakin
keras dan berubah menjadi suara erangan.
Dari telinga, dari mata dan dari
lubang hidung serta mulutnya mengalir darah kental. Kedua
lututnya terlipat dan sesaat
kemudian tubuh pemuda itu terhempas ke lantai, nyawanya lepas!
Resi Matjan Seta mengekeh lagi!
Dan Parit Wulung bertepuk lagi. Maka
tawanan yang ketigapun dibawa masuklah.
Tawanan ini ternyata seorang
perempuan muda berparas rupawan.
Begitu dia masuk ke, ruangan itu
maka menjeritlah dia. Kedua tangannya yang tidak
terikat dipakai untuk menutupi muka
dan matanya. Kengerian membuat tubuhnya gemetar
ketika menyaksikan kepala dan tubuh
Said Ulon serta tubuh pemuda tukang kuda!
Resi Singo Ireng menunda anggur yang
hendak disuapkannya ke dalam mulut.
Matanya menjalari si perempuan muda
mulai dari ujung rambut sampai ke kaki.
"Ah... ah... ah…! Yang satu ini
tak boleh dibunuh, Parit Wulung. Dia cukup pantas
untuk jadi peliharaanku!,” kata Resi
bertampang singa itu.
Parit
Wulung tak ambil perhatian ucapan itu. Dia berkata pada
si perempuan muda.
"Suri Intan, kau tak usah
khawatir atau takut. Tidak ada yang akan menyakiti kau…”
"Aku tak percaya pada kalian!
Keluarkan aku dari sini!,” teriak perempuan itu. Suri
Intan adalah istri Braja Paksi
kepala balatentara Banten yarig telah gugur dalam
mempertahankan kerajaan. Karena adik
Bradja Paksi kawin dengan si pemberontak Parit Wulung maka dengan sendirinya
antara Parit Wulung dengan Suri Intan terdapat hubungan
keluarga yang dekat.
Parit Wulung coba tersenyum
mendangar ucapan perempuan itu. "Suri, apakah kau
tahu di mana Sultan Hasanuddin
bersembunyi? Juga penasihat tua Mangkubumi Mitra...?!"
Si perempuan tiada peduli dengan
pertanyaan itu. "Keluarkan aku dari sini!" teriaknya.
"Dewiku manis...!"kata
Singo Ireng mengetengahi. "Kau akan ke luar dari sini, aku
yang akan bawa kau dan kita berdua
akan senang-senang di tempatku di pantai utara. Tapi apa
salahnya sebelum pergi kau suka
kasih penuturan apa yang kau ketahui mengenai Sultan…"
"Aku tidak tahu apa-apa
mengenai Sultan. Yang aku tahu ialah bahwa kalian semua
manusia-manusia pengkhianat
terkutuk! Balasan Tuhan akan datang kelak atas diri kalian!"
"Ah... ah... ah! Bicaramu hebat
sekali manisku...!" kata Singo Ireng. Dia berdiri dari
kursinya. Sambil melangkah mendekati
Suri Intan dia meneruskan. "Aku suka pada
peremppan-perempuan yang pandai
bicara…". Dia berdiri dua langkah di hadapan Suri Intan.
Bola matanya berkilat-kilat
memandangi perempuan berparas rupawan itu lalu dia berpaling
pada
Parit Wulung. "Aku yakin betul," katanya pada Parit Wulung. "perempuan ini pasti tidak
dusta dengan keterangannya. Dia tak
tahu apa-apa tentang Sultan. Parit Wulung, biar aku
minta diri saja siang-siang untuk
membawa dia ke kamar sebelah.... he... he... he…!"
"Singo
Ireng! Jangan ribut soal lampiaskan nafsu saja. Kita harus cari dulu Sultan
Hasanuddin
sampai dapat...!" Yang bicara ini adalah Matjan Seta, kakak Singo Ireng.
"Ladalah..,"
menyahuti Singo Ireng. "Itu urusan kalian. Aku sudah letih. Tubuhku
pegal-pegal. Perempuan ini pasti
lihay sekali memijit. Bukankah begitu dewiku…?" Dan
Singo Ireng mencubit dagu Suri
Intan.
"Tua bangka hidung
belang!" memaki Suri Intan. Tangannya bergerak hendak
mencakar muka Singo Ireng. Tapi
sekali cekal saja maka perempuan itu sudah tak bisa
berdaya lagi!
"Lepaskan aku, lepaskan!,” Suri
Intan meronta sekuat tenaga. Entah cekalan Singo
Ireng yang kemudian agak kurang
ketat, entah karena rontakan Suri Intan yang memang
sangat keras maka perempuan itu
berhasil melepaskan diri dari cekalan Singo Ireng. Kemudian
secepat kilat dia lari ke pintu.
Tapi nyatanya pintu dikunci dari luar oleh pengawal.
Dalam bingung dan ketakutan
sementara itu Suri melihat Singo Ireng mendatanginya dengan
menyeringai dan bola mata
berkilat-kilat sedang hidung kembang kempis.
"Singo Ireng! Biarkan dulu
perempuan itu!" bentak Matjan Seta.
"Sudah diam sajalah Seta!,”
menggerendang Singo Ireng. "Sekarang kau terlalu
banyak ribut, nanti kalau aku lagi
asyik kau dobrak pintu kamar dan minta diberi bagian!
Puh...!"
Singo
Ireng maju ke muka dan ulurkan tangan. "Jangah
jamah aku!,” teriak Suri Intan.
Dia lari seputar ruangan dan Singo
Ireng mengejarnya. Mengejar dengan tertawa terkekehkekeh.
"Manisku, kenapa musti main
kucing-kucingan? Tampangku memang buruk. Tapi
nantilah, kalau kau sudah rasakan
bagaimana pandainya aku di atas tempat tidur, kau akan
ketagihan… ha... ha... ha...!"
Suri Intan semakin kepepet ke sudut
ruangan.Tiba-tiba terjadilah hal yang tidak diduga
oleh Singo Ireng dan siapapun yang
ada di ruangan itu.
Suri Intan melompat ke samping,
membenturkan kepalanya ke dinding ruangan!
Semua orang yang ada di ruangan itu
sudah biasa dengan segala macam pemandangan maut,
sudah biasa melihat kematian
manusia. Tapi mendangar suara beradunya kepala perempuan
itu dengan dinding yang keras,
menyaksikan bagaimana kemudian Suri lntan terkapar di lantai
dengan kepala rengkah berlumuran
darah, semuanya sama menjadi merinding bulu
tengkuknya! Suasana di ruangan itu
seperti di pekuburan sunyinya!
Kesunyian itu kemudian dipecahkan
oleh suara Matjan Seta. "Aku bilang apa, Singo
Ireng! Kau lihat sendiri sekarang.
Apa kau masih bernafsu terhadap perempuan itu?!"
Singo Ireng tak menjawab. Diputarnya
badannya. Dia duduk kembali ke tempatnya.
Dan seperti tak ada apa-apa dia
mulai lagi mengunyah buah anggur yang terhidang di atas
meja!
Sesudah
para pengawal diperintahkan menyeret ketiga mayat itu maka Parit Wulung
melanjutkan
pertemuan dengan membuka pembicaraan.
"Kurasa mengenai Sultan tak
perlu kita bicarakan panjang lebar. Cepat atau lambat
orang-orang kita akan segera
menangkapnya. Tapi apa yang menjadi pikiranku ialah
lenyapnya keris pusaka kerajaan
Tumbal yang menjadi syahnya kedudukanku sebagai seorang
Raja, nanti!"
"Keris itu pasti dibawa kabur
oleh Sultan Hasanuddin!" kata Resi Matjan Seta pula.
"Mungkin, tapi mungkin pula
dicuri atau dilarikan oleh seorang lain!"
Singo
Ireng mengetengahi. "Tanpa itupun
tak akan seorang
yang
bisa menolak penobatanmu sebagai Raja Banten, Parit Wulung! Kecuali kalau
mereka
mau
terima nasib digerogoti cacing di liang kubur!"
"Soal
itu aku tak khawatir. Tapi dalam hal ini kita berhadapan dengan rakyat. Rakyat
hanya
akan mengakui aku sebagai raja, bila ada
di tanganku!"
"Kenapa
ambil pusing dengan rakyat?,” tukas Singo Ireng. Mereka mau terima atau
tidak,
mereka mau mampus sekalipun, kita tak perlu ambil peduli! Rakyat tidak lebih
dari
domba-domba
yang bisa kita halau sesuka hati !"
"Tapi,
disamping itu adalah satu senjata sakti
dan keramat…,”
ujar
Parit Wulung.
"Sakti
aku percaya, tapi kalau dikatakan keramat itu adalah takhyul!,” menyahut Singo
Ireng.
Parit Wulung tak berkata apa-apa namun dalam hati dia merasa tidak senang. Maka
berkatalah
dia. "Aku minta pada kalian, terutama Resi Matjan Seta dan Singo Ireng
untuk
mencari
Sultan dan menemukan itu sampai
dapat!"
Singo
Ireng mengunyah anggurnya lambat-lambat lalu berkata. "Ini tak termasuk
dalam
hitungan kita Parit Wulung. Tempo hari kau hanya minta aku dan kakakku membantu
pemberontakan
sampai terlaksana. Kini Banten sudah jatuh dan berada di tangamu, perjanjian
kita
beres dan kami sudah saatnya menerima balas jasa!"
"Mengenai
soal balas jasa Resi berdua tak usah cemas, kalian berdua boleh membawa
segala
harta kekayaan apa saja dari Banten ini sebanyak yang kalian bisa bawa. Tapi
bila
kalian
bersedia pula membantu mencari dan menangkap Sultan serta menemukan keris
pusaka
Tumbal
kerajaan itu, maka bagian kalian tentu akan lipat ganda !"
Singo
Ireng manggut-manggut. "Baiklah,” katanya. "Soal harta aku tidak begitu
temahak. Tapi setiap perempuan
cantik di Banten ini adalah milikku!"
DUA
HARI itu adalah hari kedua sesudah
jatuhnya takhta kerajaan Banten ke dalam tangan
kaum pemberontak pimpinan Parit
Wulung. Suasana di Kotaraja yang sehari sebeIumnya
senantiasa diliputi kepanikan kini
mulai mereda. Namun di mana-mana kelihatan berkeliaran
tentara-tentara pemberontak sedang
di setiap tempat yang dianggap penting terutama di
sepanjang perbatasan senantiasa
dijaga ketat oleh tentara.
Pagi itu, pagi ketiga dari
berkuasanya kaum pemberontak kelihatanlah dua orang
berjalan kaki. Yang satu sudah tua
dan terbungkuk-bungkuk. Yang satu lagi masih muda.
Keduanya mengenakan pakaian
bertambal-tambal serta kotor. Kulit badan dan muka
merekapun
coreng moreng dan rambut awut-awutan. Dari keadaan
kedua orang ini, sepintas
lalu saja orang segera berkesimpulan
bahwa mereka adalah pengemis-pengemis. Dan setiap
orang yang memapasi mereka tentu
saja tak akan mau ambil peduli! Namun siapa nyana kalau
kedua orang ini adalah dua orang
penting yang tengah dicari oleh Parit Wulung dan pentolan-pentolan pemberontak
lainnya!
Yang tua adalah penasehat istana
yaitu Mangkubumi Mintra sedang yang masah sangat
muda tiada lain daripada Sultan
Banten sendiri yakni Hasanuddin! Sewaktu maletusnya
pemberontakan, sewaktu istana sudah
dikepung, dengan melalui jalan rahasia kedua orang ini
telah berhasil menyelamatkan diri.
Dan bukan keselamatan mereka saja yang penting, tapi
keduanya juga berhasil menyelamatkan
keris pusaka tumbal kerajaan yaitu keris Tumbal
Wilayuda, keris yang menjadi lambang
dan ketentuan bahwa siapa pemiliknya maka dialah
pewaris syah dari takhta kerajaan
Banten. Dan juga keris inilah yang pula dicari-cari oleh Parit
Wulung
bersama pemberontak-pemberontak lainnya! Masing-masing mereka sama membawa
buntalan
kecil. Sebenarnya baik Mangkubumi Mintra maupun Sultan Hasanuddin adalah orang-orang
yang berkepandaian silat dan kelas tinggi. Namun menghadapi sekian banyak
pemberontakan
dan demi untuk menyelamatkan keris tumbal kerajaan, keduanya memutuskan
dengan
terpaksa dan berat hati untuk mengundurkan diri.
Demikianlah,
dengan menyamar kedua orang itu meninggalkan Kotaraja. Matahari pagi
masih
belum sanggup memupuskan butiran-butiran embun di daun-daun, namun panasnya
terasa
sudah memerihkan kulit kedua orang itu. Mereka berhasil melewati pintu gerbang
Kotaraja
tanpa halangan sesuatu apa meski pintu gerbang itu dijaga ketat oleh duapuluh
orang
prajurit.
Si orang tua Mangkubumi Mintra
menarik nafas lega demikian juga Sultan. Namun
penasehat tua ini kemudian berkata
dengan perlahan. "Kita masih jauh dari selamat, Sultan.
Cuma satu pesanku, bila terjadi
apa-apa yang tak diingini kau lekaslah menghindar dan lari ke
tempat keluarganya Wirya Pranata di
Ujung Kulon....”
Si pemuda anggukkan kepala. Namun
pada parasnya kelihatan sekelumit rasa jengah
yang memerahkan kedua pipinya yang
kotor itu. lni suatu pertanda bahwa ada sesuatu hubungan antara dia dengan
keluarga Wirya Pranata di Ujung Kulon itu.
Pemuda atau Sultan menghela nafas
lagi. "Mudah-mudahan saja kita bisa terus selamat,
bapak Mangkubumi,” katanya.
"Memang itulah yang kita harapkan.
Semoga Tuhan melindungi kita". Mereka
mendekati perbatasan kini. Di
sepanjang perbatasan dijumpai prajurit yang mengawal semakin
banyak. Keduanya diperiksa oleh
beberapa orang prajurit. Bungkusan masing-masing digeledah.
Untunglah
Sultan Hasanuddin telah menyembunyikan
di dalam lipatan
pakaiannya yang dikenakannya saat
itu ! Dan kedua orang inipun selamat pula dari
pemeriksaan. Mereka bergegas
menjauhi perbatasan.
"Aman sekarang…" kata
Sultan Hasanuddin. Tapi baru saja dia habis berkata begitu
maka
muncullah serombongan pasukan berkuda. Pimpinan rombongan, seorang perwira
pemberontak
lambaikan tangan memberi isyarat berhenti pada anak-anak buahnya. Perwira ini
membawa
kudanya ke hadapan kedua orang tersebut."
"Pengemis-pengemis
hina dina!,” bentak perwira itu. "Apa kalian lihat dua orang
pelarian
melintas di sini? Keduanya adalah Mangkubumi Mintra penasihat istana dan Sultan
Hasanuddin".
Sambil bertanya begitu mata sang perwira menyorot meneliti kedua orang di
hadapannya.
Si
orang tua menjawab . "Tak satu orangpun yang kami lihat, Yang mulia…”
Jawaban
yang hormat dan mempergunakan tutur kata yang halus tinggi dari si orang tua
mencurigakan sang perwira. Biasanya
pengemis-pengemis macam mereka bicara dalam bahasa rendahan. Maka, terbitlah
sekelumit kecurigaan di hati perwira itu. "Kami akan geledah kalian!"
katanya,
"Ah…, kami hanya
pengemis-pengemis yang hina dan terlantar. Apa untungnya
menggeledah kami?"
"Memang tak perlu menggeledah
manusia-manusia ini raden,” berkata seorang prajurit
yang berada di samping sang perwira.
"Hanya akan mengotorkan tangan saja! Bau mereka
sangat menusuk hidung!"
Si perwira memang menganggap betul
katakata bawahannya itu. Tapi bila sepasang
matanya yang tajam melihat bagaimana
telapak dan jari-jari tangan kedua orang yang
dihadapannya sangat halus, bukan
seperti tapak dan jari-jari tangan yang biasa dilihatnya pada
diri pengemis-pengemis maka
memerintahlah dia. "Tangkap manusia-manusia hina dina ini!"
Mangkubumi Mintra yang tahu bahwa
penyamamaran mereka pasti akan terbuka, tanpa
membuang waktu segera maju ke muka
dan berkata "Kalian keterlaluan, manusia-manusia
macam kamipun masih hendak kalian
ganggu!" Bentakan ini, adalah juga terdorong rasa
dendam kesumat terhadap kaum
pemberontak.
"Kurang ajar kau berani bicara
kasar terhadapku huh!" dengus perwira itu dan segera
hunus pedangnya sementara setengah
lusin bawahannya segera mengurung mereka.
Mangkubumi Mintra tidak tinggal
diam. Dari balik pakaian pengemisnya dikeluarkannya
sebilah pedang.
"Hemm… bagus! Sekarang lebih
jelas siapa kau adanya kunyuk tua hina-dina!"
Perwira itu tetakkan pedangnya ke
kepala Mangkubumi Mintra. Si orang tua membentak
nyaring dan mundur beberapa langkah
sementara enam prajurit lainnya begitu cabut pedang
masing-masing segera pula menyerbu.
Mangkubumi Mintra putar pedang
dengan deras. Sinar pedang bergulung-gulung.
Trang… trang… trang... trang
Terdengar suara beradunya pedang susul menyusul! Waktu
pedangnya beradu dengan pedang
prajurit-prajurit, Mangkubumi Mintra tak terasa suatu apa,
tapi ketika membentur senjata sang
perwira maka terkejutlah orang tua itu. Tangannya tergetar
keras. dan panas! Mangkubumi Mintra
mengeluh. Nyatanya sang perwira mempunyai kepandaian tingkat atas!
Maka berserulah Mangkubumi Mintra
pada Su1tan Hasanuddin. "Sultan larilah
selamatkan diri. Biar aku yang
hadapi bergundal-bergundal pemberontak ini!"
"Tidak!" jawab Sultan
Hasanuddin. "Mati hihidup kita berdua, bapak!"
"Jangan bodoh Sultan! Lari
kataku!". Si orang tua putar pedangnya lebih sebat. Seorang
lawan yang mengurung menjerit keras
dan melompat nanar dengan dada robek dimakan ujung
pedang!
"Keparat!,” maki perwira
pemberontak. Dia melompat dari kudanya. Sambil melompat,
laksana seekor alap-alap dia
mengirimkan serangan ganas.
Pedangnya menderu memepas ke arah
batang leher Mangkubumi Mintra. Di saat itu si
orang tua sedang menangkis serangan
seorang prajurit. Tangkisan ini terpaksa dibatalkannya
dengan melompat dan sebagai gantinya
pedangnya diputar untuk menangkis pedang si perwira!
Tapi si perwira rupanya memiliki
ilmu pedang dari Cabang Pantai Selatan yang terkenal
tangguh karena dengan tak terduga
dan sangat cepat sekali serangan yang tadi merupakan satu tebasan dengan
tiba-tiba sekali berubah menjadi satu tusukan tajam dan cepat!
Si perwira tertawa mengekeh. Itulah
jurus mematikan dari ilmu pedang yang dianutnya,
yang dinamakan jurus "menabas
gunung menusuk bukit!"
Tentu saja tangkisan Mangkubumi
Mintra tidak mempunyai arti apa-apa. Orang tua ini
cepat rubah posisi senjatanya namun
sia-sia karena ujung pedang lawan lebih dahulu
menghunjam di dadanya! Maka
terdengarlah keluhan mengerikan dari tenggorokan orang tua
malang itu.
Di saat itu, Sultan Hasanuddin sudah
berhasil ke luar dari kurungan prajurit-prajurit
pemberontak dan meskipun hatinya
berat namun dia terpaksa melarikan diri, bukan saja untuk
menyelamatkan diri sendiri, tapi
juga menyelamatkan keris pusaka Tumbal Wilayuda demi
untuk menegakkan kembali kelak
Kerajaan Banten! Namun sewaktu telinga mendengar keluhan Mangkubumi Mintra,
Sultan hentikan lari dan putar badan. Maka naik pitamlah dia ketika menyaksikan
bagaimana orang tua itu tersungkur di tanah bermandikan darah.
"Pemberontak-pemberontak
durjana! Aku mengadu jiwa dengan kalian!,” seru Sultan
Hasanuddin. Dia menyerbu ke muka
namun belum lagi dia melancarkan serangan maka
terdengarlah suara mengaung seperti
suara tawon. Enam
benda putih aneh dan berbentuk
bintang
yang berkilauan melesat deras ke arah pemberontak-pemberontak. Lima prajurit
pemberontak coba hindarkan diri atau menangkis benda itu namun tiada ampun!
Kelimanya menjerit keras, rebah ke tanah, kelojotan seketika lalu kaku tegang
tiada nyawa!
Perwira
pemberontak dalam terkejutnya dan dengan kepandaiannya yang lebih tinggi
pergunakan
pedang untuk memapaki benda bintang berkilau itu.
"Trang !"
Tampang perwira itu menjadi pucat.
Pedangnya memang bisa membuat mental benda
maut yang menyerangnya namun
senjatanya sendiri putung dua dihantam benda tersebut !
Baik sang perwira maupun Sultan
Hasanuddin serentak putar kepala ke arah atas pohon
besar dari arah mana datangnya
senjata-senjata rahasia tadi.
"Iblis keparat di atas pohon
turunlah! Jangan sembunyikan diri!,” bentak sang perwira.
Sebagai jawaban terdengar suara
tertawa bergelak kemudian sesosok tubuh dengan
entengnya melayang turun ke tanah
dari atas pohon besar itu. Nyatanya dia adalah seorang
pemuda bertampang keren dan berambut
gondrong. Umurnya mungkin tiada banyak beda
dengan Sultan sendiri. Saat itu
bajunya tiada terkancing dan angin yang bertiup agak kencang
menyibak-nyibakkan baju putihnya sehingga
jelaslah kelihatan angka 212 tertera di dada
kanannya Pendekar 212.
Melihat si pemuda ini menghadapinya
dengan tertawa mengejek demikian rupa maka
membentaklah perwira tadi.
"Rupanya kau masih belum tahu dengan siapa berhadapan! Masih
belum tahu apa akibat campur
tanganmu dalam uru...” Ucapan sang perwira cuma sampai di
situ. Hampir tak kelihatan Pendekar
212 telah gerakkan tangan dan lemparkan bintang 212 ke
arah perwira pemberontak yang sedang
bicara itu. Maka "heggg,” terdengarlah suara tercekik
dari rangkungan si perwira ketika
senjata rahasia 212 dengan tepatnya masuk ke dalam mulut.
Senjata rahasia itu lenyap dan darah
segera muncrat ke luar dari mulut sang perwira. Nasibnya
kemudian tidak beda dengan nasib
bawahannya yang terdahulu!
Sultan Hasanuddin segera dekati
Pendekar 212. "Saudara, kau telah tolong. Aku…”
Pendekar 212 memberi isyarat. Dia
melangkah cepat dan membungkuk di hadapan
Mangkubumi Mintra. Ternyata orang
tua itu masih bernafas satu-satu. Mulutnya bergerak-gerak.
"Sultan… mungkin dia mau bicara
padamu,” memberi tahu Pendekar 212 atau Wiro
Sableng. Mendengar itu Sultan
Hasanuddin segera pula berlutut di samping tubuh si orang tua
Mangkubumi Mintra dengan sisa-sisa
tenaga yang ada buka kedua matanya yang berbinar-binar.
Bila pandangannya menyentuh paras
Sultan Hasanuddin maka tersenyumlah dia.
"Sultan, kau tak
apa-apa...?"
"Tidak bapak…". Sultan
membelai rambut orang tua itu dan menyeka keringat di
keningnya.
Keringat dan kening itu sangat dingin seperti es.
"Syukurlah..,"
desis Mangkubumi Mintra. "Aku yakin di bawahmu Kerajaan Banten
yang
syah akan bisa ditegakkan kembali…"
Sultan
Hasanuddin mengangguk. Dia hendak mengatakan sesuatu tapi tak jadi karena
dilihatnya
orang tua itu memalingkan kepalanya kepada pemuda yang telah menolongnya.
"Pendekar muda... aku gembira
kau datang. Lebih gembira lagi karena kau telah berhasil
menyelamatkan Sultan. Tuhan kelak
akan membalas jasamu yang besar ini...” Orang tua itu
terhenti bicaranya sejenak. Agaknya
dia tengah mengumpulkan tenaga baru dari sisa-sisa
tenaganya yang terakhir. Lalu
mulutnya terbuka kembali.
"Yang pasti adalah, bila takhta
Banten telah kembali pada pemiliknya yang syah, maka
Kerajaan dan rakyat Banten tak akan
melupakan pertolongan atau jasamu ini...”
Pendekar 212 coba tersenyum. Dia
tahu bahwa keadaan orang tua itu tak mungkin lagi
untuk
ditolong. Maka berkatalah dia. "Menyesal orang
tua, aku tak bisa berbuat sesuatu apa
dengan lukamu…”
"Ah diriku yang sudah rongsokan
ini tak perlu diambil peduli. Aku gembira menemui
kematian dengan cara begini rupa…
Gembira karena di saat menjelang kematian ini aku telah
dapat melihat sinar terang bahwa
Banten pasti akan kembali kepada pewarisnya yang syah…"
Mangkubumi memutar matanya pada
Sultan Hasanuddin. Mulutnya terbuka untuk
mengatakan sesuatu namun malaekat
maut meminta nyawanya lebih dahulu. Air mata menggenang di kedua mata Sultan
Hasanuddin. Digigitnya bibir sendiri untuk menahan
keluarnya suara isakan.
Tiba-tiba
kening Pendekar 212 kelihatan mengerenyit. Kepalanya diputar ke jurusan
timur.
"Ada apa…?" tanya Sultan yang saat itu masih
belum mendengar suara apa-apa.
"Cecunguk-cecunguk pemberontak
itu kurasa...” ujar Pendekar 212.
Beberapa ketika kemudian barulah
Sultan mendengar suara derap kaki kuda yang
banyak sekali, mendatangi ke arah di
mana mereka berada saat itu. Disusul beberapa saat lagi
maka diantara pohon-pohon dan
semak-semak belukar tinggi kelihatanlah kira-kira dua puluh
prajurit pemberontak yang dipimpin
oleh seorang berselempang kain putih bermuka sangat
hitam
dan berambut gondrong acak-acakan. "Sultan, tinggalkan
tempat ini cepat!"
"Tidak bisa sobat! Mangkubumi
Mintra terbujur begini rupa dan adalah pengecut sekali
meninggalkan kau seorang diri.
Apalagi kau adalah tuan penolongku !,” membantah Sultan
ketika dia diminta pergi. "Ini
bukan soal pengecut Sultan! Yang penting adalah keselamatan
dirimu dan keselamatan yang ada di tanganmu."
Tentu saja Sultan Hasanuddin menjadi
kaget mendengar ucapan Pendekar 212. Sewaktu
pertama kali pemuda itu memanggilnya
dengan sebutan "Sultan" dia telah terkejut dan kini
bahkan dia mengetahui pula
bahwa berada di tangannya!
Sementara itu rombongan
penunggang-penunggang kuda semakin dekat.
atau Pendekar 212 berkata lagi.
"Pergilah cepat sebelum terlambat! Soal jenazah orang tua ini
aku yang akan urus. Selama gunung
masih hijau, kelak kita akan bertemu kembali!"
Mendengar itu dan lagi memang tak
ada lain hal yang bisa diperbuatnya maka Sultan
Hasanuddin segera tinggalkan tempat
itu.
Begitu dia lenyap di balik
semak-semak maka dua puluh prajurit pemberontak di bawah
pimpinan si muka hitam sampai di
tempat itu. Dia memberi isyarat. Prajurit-prajurit menyebar.
Dan
kini terkurung di tengah lingkaran dua puluh prajurit
bersenjata lengkap, di bawah
pimpinan seorang tokoh silat yang kosen!
TIGA
DIKURUNG begitu rupa Pendekar 212
tetap tenang-tenang saja seperti saat itu cuma
dua sendirian saja berada di situ.
Si muka hitam yang tak lain Resi Singo Ireng kaki tangan Parit Wulung adanya,
menyapu tebaran-tebaran mayat di hadapannya dengan pandangan sedingin salju.
Yang agak mengherankan Resi muka hitam ini ialah mengapa di antara mayat-mayat pasukan
Parit Wulung juga terdapat mayat Mangkubumi Mintra. Tak mungkin si pemuda
rambut gondrong itu yang telah
menebar mayat kecuali jika dia mempunyai dendam kesumat
terhadap kedua belah pihak yaitu
pihak pasukan dan Mangkubumi Mintra. Disamping itu
dengan adanya mayat si orang tua
tergeletak di situ, pastilah sebelumnya Sultan Hasanuddin
juga berada di situ! Singo lreng
memang berpikiran tajam. Melihat kepada pakaian
Mangkubumi Mintra tahulah dia bahwa
penasihat istana itu berusaha melarikan diri dari Banten
dengan menyamar sebagai pengemis!
"Mana Sultan?" bertanya
Singo Ireng derrgan suara lantang kasar.
Pendekar 212 tidak menjawab. Malahan
dia memandang seperti tiada melihat apa-apa
berada-disekelilingnya saat itu! Dia
menengadah ke atas memperhatikan matahari yang menaik
tinggi.
Melihat sikap yang sangat menghina
ini, apa lagi di hadapan sekian banyaknya prajurit
tentu saja Resi Singa Ireng menjadi
sangat penasaran serta malu. Mukanya yang hitam kelihatan semakin tambah hitam.
"Bocah gondrong! Apa kau tuli atau gagu? Orang bertanya tidak dijawab?!"
Pendekar
212 masih tidak menyahut. Malah kini jari-jari tangan kirinya mencungkilcungkil
tepi
lubang hidungnya kemudian dia berbangkis dua kali berturut-turut!
"Keparat!"
bentak Singo Ireng dengan- suara menggeledek.
"Eeeeh…
kau memaki pada siapakah?!" bertanya Pendekar 212 sambil putar kepala
seperti baru saat itu disadarinya
bahwa dia tidak berada sendirian di tempat itu!
"Prajurit-prajurit! Tangkap
bocah edan ini perintah Resi Singo Ireng dengan geramnya.
Maka dua puluh prajurit pemberontak
melompat turun dari kuda masing-masing, hunus
senjata dan bergerak cepat mendekati
Pendekar 212.
"Bergundal pemberontak,"
berseru atau Pendekar 212. "Kalau
kau ingin
tangkap aku mengapa tidak turun
tangan sendiri?!"
Di saat itu dua puluh prajurit sudah
menyerbu untuk menangkap Pendekar 212.
"Kalian kunyuk-kunyuk
pemberontak hanya datang minta digebuk!" ujar Pendekar 212
dengan tersenyum. Tapi bila
senyumnya itu putus maka mengumandanglah bentakan dahsyat.
Lima prajurit yang paling dekat dan
hendak turun tangan menangkapnya terpelanting dan
bergetimpangan di tanah tiada nyawa
lagi!
Tersiraplah darah Resi Singo Ireng!
Tiada disangkanya pemuda gondrong bertampang
bodoh itu mempunyai kehebatan
demikian rupa! Maka
berserulah dia! "Tak perlu budak hina
dina
ini ditangkap hidup-hidup. Cincang di tempat!"
Maka
lima belas
senjata tajam berkiblat ke arah Pendekar 212.
"Heiyaaah
!"
Tubuh
Siro Sableng mencelat tiga tombak ke atas, Seluruh serangan senjata lawan lewat
di
bawah kakinya. Detik senjata-senjata itu menderu memapas angin kosong maka
detik itu pula dengan kecepatan yang hampir tak sanggup disaksikan oleh mata
Pendekar 212 menukik ke bawah merampas pedang salah seorang prajurit. Dan
ketika pedang itu menderu laksana kitiran maka lima prajurit meregang nyawa
mandi darah, dua lainnya luka parah!
Dalam
kejutnya menyaksikan gebrakan yang dahsyat itu Resi Singo Ireng melihat satu
bayangan
berkelebat ke arahnya. Dia tarik tali kekang kuda dengan cepat. Namun sebelum
binatang
tunggangannya itu sempat bergerak, tubuh kuda ini sudah angsrok ke tanah!
Keempat
kakinya
terbabat putus. Binatang ini berguling di tanah melejang-lejangkan kakinya yang
buntung
dan meringkik tiada henti! Untung saja Resi yang kosen ini Cepat menyadari apa
yang
terjadi
sehingga lekas-lekas dia melompat ke samping dan berdiri dengan muka kelam
membesi, mata menyorot!
Pendekar
212 tertawa gelak-gelak sementara prajurit-prajurit yang masih hidup dengan
nyali
menciut segera menjauhi ini pemuda yang dianggap mereka sangat berbahaya.
"Pemuda
gondrong! Kehebatanmu cukup untuk dikagumi! Tapi bila kau tahu dengan
siapa
saat ini berhadapan, maka lekaslah berlutut minta ampun!" berkata Singo
Ireng.
"Uh!
Sama manusia jelek macam kau buat apa perlu takut!". ujar dan
tawanya
semakin menjadi-jadi!
"Ah...
kalau begitu kau sebutkanlah nama! Terhadap manusia-manusia yang punya
sedikit
ilmu, aku tidak begitu senang jika membunuhnya tanpa tahu namanya terlebih
dahulu!"
"Kalau
butuh namaku aku tak keberatan. Majulah biar kutulis dijidatmu!" kata Wiro
Sableng
pula sambil acungkan jari telunjuk!
Menggeramlah
sang Resi bermuka hitam itu. Selama dunia terbentang, selama malang
melintang
dalam dunia persilatan, baru hari itulah dia dihina dan direndahkan
terus-terusan oleh
seseorang!
Oleh seorang yang berusia jauh lebih muda dari padanya. Dari balik pakaian Resi
ini keluarkan sebuah senjata berbentuk aneh yaitu sebuah besi panjang yang
ujungnya berbentuk Iingkaran.
"Kalau
kau punya senjata pusaka, sebaiknya lekas keluarkan supaya mampus tidak
rnenyesal!"
"Tak
perlu banyak cerewet!" semprot Pendekar 212. "Majulah! Senjataku
cukup pedang
butut
milik cecungukmu yang sudah mampus itu!"
Resi
Singo Ireng yang berbadan kate ini segera maju dan hamburkan serangan dahsyat.
Senjata
anehnya mengeluarkan suara menderu, menimbulkan angin yang deras dan tajam.
Ujung senjata yang berbentuk lingkaran itu berubah laksana ratusan banyaknya!
Searang lawan yang berilmu tanggung dan bermata tidak awas akan sulit
membedakan mana lingkaran senjata yang asli dan mana yang bukan. Dalam lawan
kebingungan maka senjata itu akan menyeruak lewat kepalanya dan sekali putar
saja pastilah patah dan putus batang leher dibuatnya! Inilah kehebatan senjata
sang Resi dari pantai selatan itu!
Namun
yang dihadapi Singo Ireng dihari itu bukanlah seorang lawan berilmu tanggung,
bukan
seorang pemuda yang hanya mengenal sejurus dua ilmu silat! Begitu senjata lawan
membadai menghampiri kepalanya, cepat
merunduk dan selinapkan satu tusukan deras kearah perut sang Resi!
Kaget
Singo Ireng bukan olah-olah! Cepat dia undur dua
langkah dan papasi pertengahan
senjata lawan dengan tongkat besi
lingkarannya.
"Trang" !
Dua senjata beradu Karena senjata
ditangan Singo Ireng adalah senjata mustika sedang pedang ditangan Wiro hanya
pedang biasa maka patahlah pedang itu! Tapi sebaliknya Singo Ireng merasakan
bagaimana tangannya tergetar hebat dan panas pada bentrokan itu!
Maklumlah dia bahwa pemuda itu mempunyai tingkat tenaga dalam yang hebat
sekali! Karenanya sang Resi tanpa memberi peluang segera lancarkan serangan-serangan dahsyat! Sengaja dikeluarkannya
jurus-jurus yang hebat yaitu jurus "memetik bunga membelah buah" lalu
disusul dengan jurus "delapan gunung meletus gegap gempita"! Diserang
dengan dua jurus ini berikut pecahan-pecahannya yang tak kalah dahsyat maka Pendekar
212 menjadi repot juga.
Namun bila dia sudah mempercepat
gerakannya, bila suara siulan sudah menggema melesat
dari sela bibirnya maka kelihatanlah
kini bagaimana Resi Singo Ireng menjadi terdesak. Meski
terdesak, Resi ini dengan segala
kelihayannya sanggup pertahankan diri sampai sepuluh jurus
dimuka!
"Manusia
bermuka jelek! Permainan silatmu baleh juga. Tapi apa kau sanggup menerima
pukulanku
ini?!" tanya Pendekar 212. Kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi ke atas,
kedua mata dipejam. Kemudian kedua tangan itu mulai berputar-putar
dengan sebat! Maka
menggemuruhlah suara angin. Debu dan pasir beterbangan, membuat gelap
pemandangan!
"Pukulan
angin puyuh!" seru Resi Singo Ireng sambil bersurut mundur. Mulutnya komat
kamit
membaca aji penangkis. Kedua kakinya melesak kedalam tanah sampai dua dim!
Tubuhnya
tergetar hebat. Pakaian putih serta rambutnya yang awut-awutan berkibar-kibar!
Tiba-tiba Pendekar 212 hantamkan kedua tangannya kemuka. Tubuh
Singo
Ireng mencelat kebelakang sampai lima
tombak. Ketika dia berdiri maka tubuhnya
terbungkuk
tertatih-tatih, hidungnya kembang kempis tanda nafasnya memburu tak teratur.
Nyatalah
bahwa Resi kosen ini telah menderita luka parah didalam akibat pukulan
tadi. Senjatanya mental entah
kemana! Wiro tertawa mengekeh.
Sebaliknya lawannya menggeram
laksana harimau terluka. Mulut terkatup rapat-rapat,
rahang bertonjolan, pelipis
bergerak-gerak sedang mata menyorot merah!
"Pemuda, hari ini aku Resi
Singo Ireng biarlah mengadu jiwa pada kau!". Sang Resi
angkat tangan kirinya tinggi-tinggi.
Detik demi detik tangannya itu menjadi hitam legam.
Tangan ini bergetar karena seluruh
tenaga dalamnya dipusatkan kesitu!
tertawa mengejek. "Rupanya kau sengaja
mau bunuh diri manusia kate
bertampang jelek! Dalam keadaan
terluka di dalam, melancarkan pukulan demikian rupa kau
akan
konyol sendiri!".
Singo
Ireng memang memaklumi hal itu. Tapi dia sudah kepalang tanggung, sudah
teramat
malu dan sudah meluap amarahnya! "Aku mati tapi kau
juga mampus ditanganku,
keparat!" bentaknya.. Maka
tangan kirinyapun turun kebawah dengan cepat. Selarik sinar hitam
yang menggidikkan menyambar kearah
Pendekar 212! Itulah ilmu pukulan "wesi item" yang
telah membinasakan Braja Paksi,
kepala balatentara Banten!
Pendekar 212 melompat ke atas sampai
enam tombak. Angin pukulan "wesi item" terasa
panas seperti mau melumerkan kedua
kakinya. Pendekar ini gigit bibir menahan perih lalu
1ancarkan serangan balasan yaitu
pukulan yang tak asing lagi. "kunyuk melempar buah"!
Di seberang sana tubuh Resi Singo
Ireng kelihatan jungkir balik kemudian jatuh duduk
di tanah dan muntah darah, lalu
rebah tiada sadarkan diri!
Sebenarnya pukulan "kunyuk melempar
buah" itu belum tentu akan mencelakai sang
Resi. Namun karena dalam keadaan
terluka di dalam dia telah rnelancarkan pukulan yang keras dengan mengandalkan seluruh tenaga dalam maka dia rasa sendiri akibatnya.
Masih untung nyawanya tidak terbang! tertawa mengekeh. Dia melangkah mendekati
tubuh Resi itu. Prajuritprajurit yang masih hidup, yang delikkan mata melihat
bagaimana jago mereka dibikin babak belur demikian rupa segera bersurut
menjauh.
"Resi muka arang!,” kata
Pendekar 212. "Kau tanya siapa aku. Inilah kutuliskan aku
punya nama!". Dan habis berkata
demikian pendekar ini segera guratkan angka 212 dikulit
kening yang hitam dari Singo Ireng.
Kemudian nendekar ini berdiri kembali. "Kerak-kerak
pemberontak!,” katanya pada
perajurit-perajurit yang masih hidup. "Kalian boleh menggotong
manusia bermuka pantat kuali ini ke
Kotaraja! Jika hari ini aku tiada cabut nyawanya dan nyawa
kalian, maka di lain hari bila
bertemu kembali jangan harap aku akan lepaskan nyawa kalian!
Sampaikan ini padanya bila dia sudah
siuman!". Dan sesudah bicara demikian
segera tinggalkan tempat itu dengan
membawa mayat Mangkubumi Mintra.
EMPAT
DENGAN hati penuh duka sedih
mengenang kematian Mangkubumi Mintra yang sengaja
korbankan nyawa untuk selamatkan
dirinya, Sultan Hasanuddin berlari sepanjang tepi rimba
belantara dikaki bukit. Perjuangan
memang membutuhkan pengorbanan. Dan ini bukan saja
menambah besarnya dendam kesumat di
hati Sultan terhadap Parit Wulung dan benggolanbenggolan pemberontak lainnya
tapi juga mempertebal tekatnya bahwa di suatu ketika dia pasti akan kembali ke Banten dan
membangun Kerajaan Banten yang syah!
Menjelang
senja dia mencapai sebuah kota
kecil yang terletak di timur Banten. Kota
ini
bernama
Asoka. Dulunya hanya merupakan pangkalan-pangkalan pemberhentian para pedagang dari pelbagai penjuru sekitar situ. Kemudian pedagang-pedagang itu banyak yang
mendirikan gudang-gudang untuk barang-barang dagangannya, kemudiannya lagi
mereka juga mendirikan rumah-rumah sehangga lambat laun dari pangkalan dagang
maka berobahlah Asoka menjadi sebuah kota. Sebagai kota dagang tentu saja sepanjang hari Asoka
selalu sibuk. Kesibukan dan keramaian ini terus berlangsung sampai jauh malam.
Sehabis
mendapatkan sebuah penginapan, Sultan mengelilingi kota melihat-lihat keramaian
dan mengisi perut disatu kedai.
Ketika bulan sabit di atas langit tertutup oleh awan tebal berwarna gelap maka
Sultanpun kembali kepenginapannya. Matanya yang tajam
segera melihat adanya ketidakberesan dalam kamar dimana dia menginap. Seperai
agak kusut bantal-bantal tidak terletak ditempatnya semula sedang bungkusan
kecil yang berisi beberapa potong pakaian serta sejumlah uang yang
diletakkannya di kolong tempat tidur nyata sekali bekas dibuka dan digeledah
orang.
Namun
tidak sepotong barang-barangnyapun yang hilang!
Sultan merasa masygul. Dia memandang
berkeliling. Di
dinding sebelah sana
terdapat
sebuah
jendela. Jendela itu masih tetap sebagaimana tadi ditinggalkannya.
Tak ada tanda-tanda bekas pengrusakan. Siapa gerangan yang telah masuk ke dalam
kamar dan melakukan
penggeledahan? Mungkin seseorang,
mungkin beberapa orang? Kalau dia atau mereka itu dari
golongan si tangan panjang atau
pencuri, mengapa tidak sepotong barang dan tak sepeser
uangnyapun yang hilang? Kekhawatiran
Sultan Hasanuddin semakin besar karena dia berkesimpulan bahwa siapapun
manusianya yang telah memasuki kamarnya pastilah untuk mencari dan mencuri keris
pusaka Tumbal Wilayuda!
Sultan
Hasanuddin merasa bersyukur karena sewaktu pergi tadi dia telah membawa keris
tumbal
kerajaan itu. Kalau tidak pastilah senjata itu sudah lenyap dilarikan orang!
Malam
itu Sultan sengaja tidur dengan mematikan lampu minyak di dalam kamarnya.
Matanya
hampir terpicing ketika lapat-lapat sepasang telinganya mendengar suara
gemerisik di atas loteng bangunan. Suara itu pasti sekali bukan suara kucing. Sultan pasang telinganya lebih tajam.
Suara gemerisik tadi lenyap dan kini
dia hanya mendengar suara rintik-rintik hujan gerimis di luar sana.
Perlahan-lahan Sultan pejamkan matanya kembali. Tapi ketika hampir pulas
matanya itu terpicing, suara gemerisik tadi didengarnya kembali. Kali ini Sultan bangun dari pembaringan dan melangkah kesudut kamar. Dia
menunggu dengan tangan kanan menempel erat-erat dihulu pedang.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka!
Sultan terkejut. Dia ingat betul bahwa pintu kamar itu
telah dikuncinya tadi, bagaimana
kini bisa terbuka semudah itu tanpa suara dan siapakah yang
nlembukanya?! Sultan tak menunggu
lebih lama. Sesosok tubuh manusia yang sangat pendek
masuk mengendap-endap ke dalam.
Manusia ini memakai jubah panjang. Karena tubuhnya yang kate maka jubahnya
menjela-jela sampai kelantai. Tiba-tiba orang itu putar tubuh ke kiri dan melompat.
Sebuah benda besar ditangannya yaitu sebilah golok empat persegi panjang
menderu ke arah dimana Sultan berdiri. Sultan sendiri yang saat itu memang
sudah siap siaga cabut pedangnya dengan cepat dan menangkis!
"Trang"!
Bunga api memercik. Karena kamar itu
gelap maka sinar percikan bunga api menjadi
terang sekali dan menerangi kedua
muka manusia yang berada disitu. Keduanya saling meneliti paras lawan
masing-masing!
Terkesiaplah Sultan Hasanuddin
ketika melihat bagaimana wajah manusia yang
dihadapinya itu seramnya bukan main.
Rambutnya kaku berdiri laksana ijuk. Manusia ini
memelihara berewok yang meranggas
lebat. Alisnya tebal, sepasang matanya besar merah.
Bibirnya sumbing dan dua buah
giginya yang besar tersembul keluar. Manusia ini boleh dikatakan tiada
mernpunyai hidung karena daging hidungnya sama rata dengan pipinya yang
cekung! Dan bau badannya yang busuk
sangat menusuk hidung!
"Manusia buruk! Jika kau tidak
tinggalkan kamar ini dengan cepat, jangan menyesal bila
kukirim ke akhirat!" ancam
Sultan.
Manusia bermuka seram itu tertawa
dingin.
Dia hembuskan nafasnya yang busuk
kemuka. Sultan
tutup jalan nafas di hidung dan
untuk
kedua kalinya pergunakan pedang guna menangkis serangan lawan. Tapi kali ini
keadaan tidak seperti tadi Iagi. Meski Sultan sanggup menangkis senjata lawan
namun pedangnya sendiri terlepas mental,
tangannya tergetar hebat. Tiba-tiba satu tangan mendorongnya hingga dia terbanting dengan
keras ke dinding!
Ketika
dia imbangi diri kembali, kaget Sultan tiada kepalang. Matanya membeliak
menyaksikan
bagaimana keris Tumbal Wilajuda kini sudah berada di tangan manusia bermuka
seram itu!
"Maling hina dina! Kembalikan
kerisku!" teriak Sultan.
Simuka
buruk hamburkan tertawa mengekeh. "Masih untung aku hanya minta kerismu
ini,
dan bukan nyawamu!". Habis berkata begini manusia muka seram itu sekali
gerakkan badan tubuhnya menerjang ke muka mendobrak jendela untuk kemudian
lenyap lewat jendela yang ambruk itu dikegelapan malam!
"Pencuri
terkutuk!". Sultan melesat pula ke luar jendela. Dia masih sempat melihat
bayangan
pencuri itu di balik sebuah gudang tua dan segera mengejar ke situ. Kejar
mengejar itu berjalan hanya sebentar saja karena sejurus kemudian si pencuri
lenyap seperti gaib ditelan
bumi!
Sultan berdiri gemas memandang
berkeliling. Ke mana dia harus mengejar dan mencari
si pencuri di malam buta begini?
Apakah manusia tangan panjang itu bukan salah seorang pula
dari kaki tangan Parit Wulung?!
Tengah kebingungan begitu rupa
tiba-tiba Sultan menangkap suara bentakan-bentakan
orang yang tengah berkelahi. Cepat
Sultan lari ke balik sebuah bengkel kuda dan dalam
kegelapan dilihatnyalah dua manusia
tengah bertempur dengan hebat. Salah seorang tiada lain
dari pada si pencuri yang tengah
dicari-carinya sedang orang yang kedua sesudah diperhatikan
dengan teliti ternyata dia adalah
pemuda rambut gondrong yang pagi tadi telah menolongnya di
perbatasan.
"Sobat! Serahkan pencuri
terkutuk ini padaku!" seru Sultan.
"Ah... selamat jumpa
Sultan," menjawab si rambut gondrong alias Pendekar 212.
"Tak perlu kotorkan tangan pada
manusia bau bangkai ini...!"
"Dia mencuri kerisku,
sobat!" memberi tahu Sultan.
"Aku tahu. Biar aku yang
ringkus dia!"
Begitu mendengar si pemuda yang
menyerangnya memanggil "Sultan" 'terhadap lakilaki
yang
datang itu terkejutlah si mulut sumbing. Dibalik terkejut hatinya juga senang.
"Ha...
ha...
jadi saat ini aku berhadapan dengan Sultan dan tukang pukulnya? Bagus! Kerisnya
aku
sudah
dapat, kini Sultannya sendiri datang antarkan diri untuk ditangkap hidup-hidup.
Pasti aku
mendapat
hadiah berlipat ganda dari Parit Wulung..."
"Hem...
jadi betul dugaanku bahwa kau kaki tangannya bangsat pemberontak itu huh?!
Terima pukulanku ini, pencuri hina
dina!"
Sultan lepaskan tiga pukulan
sekaligus! Tapi yang diserang ganda tertawa dan kebutkan
lengan pakaiannya yang
bertambal-tambal. Serangkum
angin dahsyat rnenyerang ke arah
Sultan.
Namun angin pukulan itu buyar di tengah jalan, kena dihantam angin pukulan lain
yang
datang
dari samping!
Si
muka seram menggerong. "Agaknya malam ini Pengemis Bibir Sumbing musti
rampas
dua jiwa sekaligus!".
Sultan
tersurut sewaktu mendengar manusia kate itu kenalkan diri. Pendekar 212 sendiri
juga
terkejut. Nama Pengemis Bibir Sumbing memang sudah sejak lama terkenal
sepanjang
pesisir
Jawa Barat. Bersama dua orang lainnya maka Pengemis Bibir Sumbing dikenal
sebagai
pemegang
pucuk pimpinan Perkumpulan Pengemis Darah Hitam! Tiba-tiba Pengemis Bibir
Sumbing
lemparkan golok besarnya ke arah Pendekar 212. Senjata ini dengan mudah bisa
dielakkan. Begitu habis
lemparkan golok, Pengemis Bibir Sumbing acungkan kedua tangan
datar-datar ke muka dengan telapak
tangan menghadap ke atas.
"Telapak tangan minta sedekah
nyawa!,” seru Pendekar 212 begitu dia kenali pukulan
yang
bakal dilancarkan lawan.
"Sultan
mundurlah!,” serunya kemudian memperingatkan.
Tapi
disaat itu Pengemis Bibir Sumbing sudah mencelat ke muka dan membagi-bagi
serangan telapak tangannya pada
Pendekar 212 dan Sultan!
Tahu bahwa pukulan lawan sangat
berbahaya maka Pendekar 212 segera hantamkan
tangan kanannya ke muka. Gelombang angin deras
memukul ke arah Pengemis Bibir Sumbing.
Meski
tubuhnya sendiri kemudian terpelanting sampai tiga tombak oleh serangan lawan
namun
Pengemis
Bibir Sumbing sebelumnya masih sanggup hantamkan telapak tangannya ke dada
Sultan!
Sultan
Hasanuddin mengetuh tinggi. Tubuhnya bergoncang, dadanya seperti melesak.
Terbungkuk-bungkuk
dia berbatuk. Darah segar menyembur!
Pendekar 212 bersuit keras! Tubuhnya
lenyap pada detik Pengemis Bibir Sumbing coba
lepaskan pukulan "telapak
tangan minta sedekah nyawa" untuk kedua kalinya.
"Sultan, cepat telan pil
ini!" teriak .
Sultan Hasanuddin sambuti pil yang
dilemparkan Pendekar 212 lalu menelannya dengan
cepat Kemudian segera duduk bersila
mengatur jalan darah serta pernafasan, juga alirkan tenaga dalam kebagian yang
terluka.
Disaat berkelabat maka lenyaplah tubuhnya dari
penglihatan Pengemis
Bibir Sumbing. Karena hanya
terdengar suaranya saja, maka Pengemis Bibir Sumbing kembali
lancarkan pukulan ganas dua kali
berturut-turut ke arah suara lawan. Tapi Pendekar 212 tidak
bodoh
dan Pengemis Bibir Sumbing salah perhitungan. .
"Plaak"!
Pengemis
Bibir Sumbing terpental empat tombak ke belakang. Kepalanya serasa pecah
sedang
kulit keningnya laksana terbakar! Dan pada kulit keningnya itu kini kelihatan
tiga buah
angka
212! Pengemis Bibir Sumbing meluap amarahnya. Tanpa hiraukan rasa sakitnya pada
keningnya
dia menerpa kemuka kirimkan lima
pukulan empat tendangan! Pendekar 212
mendengus
dan bersiul nyaring. Tangan kanan menghantam ke muka. Angin pukulan menderu,
menyusup
di antara serangan lawan!
Untuk
kedua kalinya Pengemis Bibir Sumbing terpental. Kali ini sampai delapan tombak
dan
kali ini terus terguling ke tanah dengan mulut memuntah darah! Tamatlah
riwayatnya!
Sultan
yang menyaksikan pertempuran hebat itu dalam sakitnya leletkan lidah penuh
kagum!
Pendekar
212 mendekati mayat Pengemis Bibir Sumbing, memgambil keris Tumbal
Wilayuda lalu menyerahkan kemhali
pada Sultan.
"Keris
pusaka bagus! Karena senjata ini banyak yang ingini sebaiknya disimpan lebih
hati-hati, Sultan".
Sultan menghela nafas panjang.
"Terima kasih,” katanya. "Dua kali kau telah
menolongku sahabat. Siapakah
engkau?"
"Namaku ,” jawab Pendekar 212.
"Kalau aku boleh kasih nasihat, baiknya
kau tak usah kembali kepenginapan,
tapi segera teruskan perjalanan".
"Mengapa begitu?" tanya
Sultan.
"Terlalu banyak manusia-manusia
macam Pengemis Bibir Sumbing ini yang mencarimu
dan
inginkan ".
Sultan merenung sejurus.
"Terima kasih atas nasihatmu, sahabat! Karena kau telah
berbuat baik kepadaku, perbuatan
baik yang tak bakal kulupakan sebagai budi besarmu,
bagaimana kalau aku tawarkan agar ikut
bersamaku meneruskan perjalanan?"
"Ah... itu satu kehormatan
besar bisa seiring denganmu, Sultan" jawab Pendekar 212
ramah. "Tapi harap maafkan..
Aku masih banyak urusan. Namun demikian, aku berjanji tidak
akan berada jauh dari padamu…”
"Kalau begitu baiklah, aku
tidak memaksa',” ujar Sultan. Dari balik pakaian samarannya
yang bertambal-tambal dikeluarkannya
sebuah benda yang bercahaya. Diserahkannya benda itu kepada Pendekar 212 tapi
sang pendekar tak berani menyambutinya.
"Sobat, terimalah!" kata
Sultan pula.
"Benda apakah ini Sultan?"
"Terimalah dulu".
Wiro menerimanya.
Benda itu ternyata sebuah bintang
bersudut delapan yang terbuat dari emas dan di
tengah-tengahnya dihiasi dengan
sebutir berlian yang berkilauan. "Benda itu adalah bintang
utama Kerajaan Banten, yang
diserahkan kepada siapa saja yang telah membuat jasa terhadap
Raja
dan rakyat Banten, Wiro..."
"Ah... mana aku pantas terima
hadiah ini Sultan?" kata pula
dengan kerendahan.
Tapi sultan memaksakan juga agar
Pendekar 212 menerima anugerah itu. Wiro
menyimpan benda tersebut baik-baik
dibalik pakaiannya. "Terima kasih,” katanya.
"Lalu karena penyamaraanmu
sebagai pengemis sudah diketahui oleh golongan rampok
dan penjahat, sebaiknya ditukar
saja, Sultan"
"Aku memang sudah merencana
begitu" kata Sultan pula.
Sekali lagi mereka saling ucapkan
terima kasih. Pendekar 212 menjura minta diri dan
keduanyapun berpisahlah.
LIMA
KELUARGA Wirja Pranata adalah
keluarga bangsawan besar di Ujung Kulon. Selagi
muda antara Wirja Pranata dan Fatahillah
terdapat jalinan persahabatan yang erat sehingga di
suatu ketika kedua sahabat itu
berjanji bahwa bila mereka nanti salah satu memiliki anak laki--
laki dan anak perempuan, dikemudian
hari kelak keduanya akan dijodohkan.
Puteri bangsawan Wirja Pranata yaitu
Anjarsari memang sudah lama tahu bahwa dirinya
dijodohkan dengan Raja Banten. Namun
sampai sebegitu jauh belum pernah sekalipun dia
bertemu muka dengan calon suaminya
itu. Dan ketika Sultan Hasanuddin muncul di sore hari itu maka terkejutlah bangsawan
Wirja Pranata.
"Sultan, apakah yang telah
terjadi ? Mengapa datang tanpa pengiring dan dalam pakaian
begini rupa?”
Sultan Hasanuddin menggigit bibir
menahan gelora hatinya. Sesudah apa yang
menggejolaki hatinya berkurang maka
mulailah dia beri penuturan.
Hal itu mengejutkan seluruh keluarga
bangsawan Wirja Pranata, termasuk Anjarsari
yang curi mendengar penuturan itu
dari balik dinding kamar tidurnya.
Beberapa lamanya kesunyian
menyeling. Bangsawan Wirja Pranata dan isterinya duduk
termanggu tanpa bisa berkata
apa-apa. Sultan sendiri juga terdiam beberapa Iamanya. Ketika
Sultan dipersilahkan kebelakang
untuk membersihkan diri maka diamdiam Anjarsari mencuri
intip dari sela pintu. Hatinya
berdebar dan darahnya berdebur-debur. Ah, nyatanya Sultan yang
bakal suaminya itu seorang pemuda
yang berparas gagah berkulit kuning halus, hampir sehalus kulit perempuan!
Hatinya berbunga-bunga. Kapan ayah atau ibunya akan menyuruhnya keluar dan
berkenalan dengan Sultan? Dan mengingat ini dada si gadis semakin menggemuruh.
Ketika dia menghadap ke kaca maka jelaslah kelihatan bagaimana parasnya ke
merah-merahan!
Ketika
senja berlalu dan hari beralih menjadi malam maka barulah Anjarsari disuruh
keluar oleh ibunya. Pertemuan dengan
Sultan benar-benar membuat lututnya gemetar, tapi juga membuat hatinya mekar.
Gadis ini tundukkan kepala, parasnya bersemu merah. Sultan sendiri juga
tundukkan kepala. Apa yang dikatakan ayahnya bahwa calon isterinya adalah
seorang gadis cantik sekarang menjadi kenyataan. Diam-diam pemuda ini melirik
dengan sudut matanya.
Bangsawan Wirja Pranata
berbatuk-batuk. Lalu bertanyalah dia pada calon mantunya itu. "Apakah
rencana Sultan selanjutnya?"
"Saya merencanakan untuk pergi
ke. Demak dan minta bantuan pasukan serta
persenjataap selengkapnya....."
"Itu tepat sekali,” kata Wirja
Pranata. “Tapi mengingat Demak masih jauh dari sini dan
Sultan membawa keris pusaka pula
maka sebaiknya Sultan jangan pergi seorang diri"
Ucapan calon mertuanya itu memang
dirasa betul sekali oleh Sultan. Dan diam-diam dia
teringat pada , si pemuda sakti yang
telah dua kali menolongnya. Kalau pemuda
itu berada bersamanya saat itu tentu
dia tak usah khawatir bahaya apapun.
Sebagai orang tua yang tahu di hati
anak muda dan juga pernah muda, tak lama
kemudian Wirja Pranata bersama
isterinya mengundurkan diri ke dalam kamar. Maka kini
tinggallah kedua orang itu. Suasana
lain sekali jadinya kini. Suasana itu sungguh tidak enak, tapi tidak enak yang
enak! Rasa begini rupa baik oleh Anjarsari maupun oleh Sultan sendiri tak
pernah dialaminya sebelumnya. Cuma
sudut-sudut mata mereka saja yang sekali-sekali mencuri pandang. Ketika
Anjarsari melirik untuk kesekian kalinya maka pada detik itu pula Sultan mengerling.
Beradulah dua kerlingan mata itu! Anjarsari cepat-cepat menundukkan kepalanya menyembunyikan
paras yang semu kemerahan!
Kesunyian masih juga berjalan terus
sampai beberapa lamanya. Tiada satupun yang
berani untuk membuka pembicaraan.
Sultan sendiri merasa tenggorokannya seperti tersekat,
lidahnya seperti kelu dan mulutnya
terkancing!
Namun pada akhirnya Sultan
Hasanuddin membuka mulutnya juga. "Kalau tiada terjadi
pengkhianatan Parit Wulung, mungkin
sampai hari ini belum ada kesempatan bagi kita untuk
bertemu, Sari...”
"Ya... hemm..., saya sangat
terkejut meindengar berita buruk itu, kakak,” berkata Anjarsari
agak gugup. Kemudian. "Apakah
kakak akan segera berangkat ke Demak...?"
Sultan mengangguk.
"Memang lebih cepat lebih baik.
Ramanda di Cirebon sudah mendapat tahu peristiwa di
Banten...?"
"Mudah-mudahan sudah karena ada
kukirimkan seorang utusan ke sana". Kemudian
untuk menghilangkan pembicaraan yang
berjalan kaku itu maka Sultan mengajak Anjarsari
keluar rumah. Di luar ternyata malam
itu berpemandangan indah. Bulan purnama empat belas hari bersinar terang,
bintang-bintang bertaburan di langit yang biru cerah. Banyak dan sering
sudah kedua remaja itu melihat bulan
purnama pada malam-malam terang bulan sebelumnya
namun bagi mereka tiada seindah
malam itu.
Di samping gedung besar bangsawan
Wirja Pranata terdapat sebuah taman kecil. Di
dalam taman terletak satu bangku
panjang. Kedua remaja ini melangkah seiring ke bangku itu.
Mendadak Sultan putar kepalanya
ketika sepasang telinganya yang tajam dalam kesunyian itu
mendengar suara bergeresek di atas
genting. Sesosok bayangan hitam kelihatan berkelebat lalu lenyap di bagian atap
gedung yang lain. Meski demikian cepat lenyapnya namun
Sultan masih sempat melihat bahwa di tangan kirinya sosok tubuh hitam itu
memegang sebuah benda yang berbentuk keris.
"Celaka!" kata Sultan
dalam hati. Dia berseru dengan keras. "Berhenti!" Tapi
bayangan
sosok tubuh tadi sudah sejak lama
lenyap. Ketika disusul kehalaman samping juga tak kelihatan lagi. Dalam
kebingungannya Sultan sampai lupakan Anjarsari. Dia lari masuk ke dalam gedung,
terus ke kamar dan melihat bagaimana kasur pembaringan berada dalam keadaan tak
karuan.
Ketika ditariknya kasur itu di
bagian kepala tempat tidur, maka yang sebelumnya
disimpannya di sana, kini sudah tiada lagi! Lenyap! Dan pastilah sosok tubuh
yang melarikan diri tadi yang telah mencurinya!
"Pencuri keparat!" maki
Sultan. Dia lari lagi keluar. Ketika sampai di halaman samping
terkejutlah dia. Anjarsari tak ada
lagi di dalam taman! Lenyap!
"Anjar!" memanggil Sultan.
"Anjarsari!" serunya lagi. Tapi tiada jawaban!
Maka di malam itu hebohlah seisi
gedung bangsawan Wirja Pranata. Sultan sendiri
sesudah memberikan penuturan,
singkat segera berkelebat meninggalkan gedung. Keris
Tumbal Wilayuda lenyap! Tapi
kekhawatirannya lebih lagi terhadap Anjarsari yang hilang
secara aneh itu. Maka dia memutuskan
menyelidiki lenyapnya Anjarsari lebih dahulu lalu baru
mencari jejak si pencuri !
Sesaat sesudah kepergian Sultan,
Wirja Pranata berkelabat pula ke arah yang berlawanan.
Malam
dingin dan angin agak kencang bertiupnya. Wirja Pranata adalah seorang
bangsawan
yang "mempunyai isi" juga. Dalam waktu yang singkat dengan ilmu
larinya yang
sempurna dia telah sampai di luar
kota. Karena daerah luar kota merupakan daerah pesawangan datar di tambah bulan
bersinar terang maka dengan mudah di ujung pesawangan Wirja Pranata dapat
melihat dua sosok tubuh manusia tengah berlari kencang. Yang di belakang sebat
sekali larinya dan dalam waktu yang singkat berhasil menyusul yang di muka.
Kemudian kelihatan terjadi pertempuran! Tanpa menunggu lebih lama bangsawan
Wirja Pranata segera lari ke sana.
Dia
sampai ketika pertempuran tengah berjalan hebat-hebatnya. Kedua orang yang
bertempur
adalah
seorang pemuda berambut gondrong berpakaian putih. Gerakannya gesit sekali dan
menimbulkan
angin bersiuran. Lawannya adalah seorang laki-laki jangkung kurus bermuka
sangat
seram berpakaian hitam. Salah satu matanya sangat besar sedang yang lain hanya
merupakan
sebuah rongga hitam cekung yang sangat menggidikkan. Gerakannya juga tak kalah hebat
dari lawannya. Pakaiannya bertambal-tambal.
"Berhenti!" seru Wirja
Pranata.
Tapi yang bertempur tidak ambil
perduli. Yang bermuka seram malahan lancarkan
empat serangan dahsyat yang
menimbulkan angin tajam dan panas!
Pemuda rambut gondrong berseru
nyaring, lompatkan diri ke udara lalu menukik lagi
seraya hantamkan tangan kanan ke
muka. Angin laksana badai menderu menyerang si muka
seram.
"Pukulan kunyuk melempar
buah!,” seru si muka seram kaget. Buru-buru dia kebatkan
lengan
pakaian hitamnya. Tapi tubuhnya terduduk di tanah karena angin pukulan lawan
nyatanya
lebih dahsyat. Pemuda rambut gondrong sendiri tersurut ke belakang beberapa
langkah,
dadanya terasa sakit.
"Manusia
muka setan ini ilmunya tinggi sekali dan berbahaya!,” membatin si pemuda.
Sebaliknya
si muka setan yang tahu bahwa lawannya adalah seorang yang sangat
tangguh segera berseru pada Wirja
Pranata. "Sobat! Kenapa diam saja?! Bukankah
kedatanganmu kemari untuk mencari
pencuri keris? Inilah bangsat malingnya! Ayo tunggu apa
lagi, mari kita labrak!"
Si pemuda tertawa dingin. Tangan
kanannya diangkat tinggi-tinggi. Ketika tangan itu
turun, segelombang angin menggebubu
menyerang tubuh si muka setan dari atas ke bawah!
Manusia ini segera kebutkan kedua
ujung lengan bajunya. Pemuda gondrong sampai melesak
kedua kakinya sedalam dua senti ke
tanah sedang si muka setan terguling di tanah tapi cepat
bangun lagi!
Diam-diam si pemuda rambut gondrong
terkejut.
Pukulan yang dilancarkan tadi bukan
sembarang dan mempergunakan hampir sepertiga
tenaga dalamnya tapi lawan ternyata
tidak apa-apa malahan bisa bangkit kembali!
"Wirja Pranata!" berseru
si muka setan. "Kalau kau inginkan keris kembali lekas bantu
aku
meringkus maling busuk ini! Apa kau tidak lihat pinggangnya menggembung? Keris
itu
disembunyikannya
di sana !"
"Orang tolol!,” maki si pemuda.
''Kenapa terpengaruh omongan manusia muka setan
ini?! -Dialah Yang mencuri !"
Wirja Pranata jadi bingung. Tapi
karena sudah terlanjur maka dia teruskan juga
serangannya. Pernuda rambut gondrong
tiada hentinya memaki.
"Bangsawan Wirja Pranata,
sebaiknya mundurlah! Jangan sampai tertipu maling yang
berteriak pencuri ini!”
Meski terkejut karena si gondrong
ketahui nmaanya namun Wirja Pranata terus juga
lancarkan
serangan-serangan. Si rambut gondrong menggereng. Tiba-tiba bersuit keras.
Kedua
tangannya
diangkat tinggi-tinggi ke atas dan diputar-putar. Dia menghadap tepat-tepat pada
manusia muka setan. Dan manusia ini
terkejut sekali "Pukulan angin puyuh!,” serunya, dengan
wajah tegang. Cepat-cepat dia keruk
kantong baju hitamnya, lompat empat tombak dan begitu
tangannya keluar dari saku maka
melesatlah lima benda bersinar hitam ke arah si pemuda.
"Paku Darah Hitam!,” seru Wirja
Pranata ombil surut kebelakang. Hatinya meragu akan
siapa sebenarnya manusia muka seram
itu.
“Hemm... jadi kau anggota Perkumpulan
Pengemis Darah Hitam?" gertak pemuda
rambut gondrong. Sekali dia
hantamkan tangan kanan ke muka maka luruhlah paku-paku biru
itu ke tanah! Ketika dia hendak
menyerang kembali si muka setan sudah lenyap!
ENAM
DENGAN sangat penasaran Pendekar 212
putar tubuh. "Kalau kau tidak bertindak
gegabah pasti pencuri keparat itu
sudah kena diringkus!".
Memang meski hatinya bimbang tapi
Wirja Pranata sendiri juga meragu terhadap diri
. "Kau siapa?!" tanyanya.
"Sudah, saat ini bukan
tempatnya untuk bertanya jawab!". Pendekar 212 segera
berkelebat ke arah larinya si muka
setan yang diduganya adalah seorang anggota Perkumpulan
Pengemis Darah Hitam. Namun
dibelakangnya terdengar suara berseru.
“Tunggu! Berhenti dulu!"
Karena tahu yang berseru adalah Wirja
Pranata maka Wiro tidak ambil perduli
melainkan lari terus. Namun sesaat
kemudian berdesing sejumlah senjata rahasia menyerang ke arahnya. Dengan
beringas Pendekar 212 putar tubuh dan kebutkan tangan. Senjata-senjata
rahasia
itu berpelantingan. Dan pada ketika itu pula Wirja Pranata sudah berdiri
dihadapannya.
"Jika
kau orang baik-baik mengapa tidak berani sebutkan nama terangkan diri?!
Pastilah
kau
bangsanya kaki tangan gotongan hitam!".
jadi betul-betul penasaran kini. "Manusia tidak
tahu diri! Tidak tahu
membedakan
mana yang putih dan mana yang hitam! Tidak tahu dirinya tengah ditolong, malah
mencap
orang seenaknya! Kalau bukan mengingat bahwa kau calon mertuanya Sultan, aku
sudah tampar kau punya mulut!
Sekarang pergilah!". Wiro gerakkan kedua tangannya. Dan
tahu-tahu terdoronglah tubuh Wirja
Pranata ke belakang sampai empat tombak! Wirja Pranata
rupanya menjadi kalap. Melihat
pemuda rambut gondrong itu hendak angkat kaki kembali
maka segera dia hunus keris dan
dengan cepat kirimkan lima tusukan sekaligus!
hati sambil hindarkan diri dengan
cepat.
Di lain saat maka tiba-tiba
muncullah satu bayangan manusia.
"Tahan!"
Kedua orang yang bertempur, yang
sama-sama mengenali suara pendatang baru itu
segera hentikan pertempuran.
Pendekar 212 putar kepala pada si
pendatang lalu berkata. "Sultan, semangat
calon
mertuamu memang hebat! Nyalinya
besar tapi sayang pikirannya keliwat pendek!".
Merahlah paras Wirja Pranata tapi
dia juga heran mengetahui bahwa si rambut gondrong
mengenali
Sultan Hasanuddin. Sultan kemudian memperkenalkan kedua orang itu. Barulah saat
itu Wiro menjura hormat.
Dengan
batuk-batuk Wirja Pranata bertanya pada Sultan. "Bagaimana dengan Anjarsari,
apakah berhasil ditemui...?"
Sultan menundukkan paras kecewa lalu
gelengkan kepala dengan pelahan.
“Terkutuk! Terkutuk!,” maki Wirja
Pranata dalam hati. Kedua tangannya terkepal
membentuk tinju. Tentu saja
laki-laki ini sangat mengkhawatirkan keselamatan diri anak
gadisnya itu.
Dalam pada itu Pendekar 212
mengetengahi. "Bapak Wirja, kau kembalilah ke Ujung
Kulon. Kami berdua segera akan
mengejar bangsat pencuri itu,”
''Aku turut bersama kalian!"
kata Wirja Pranata dengan hati keras.
"Bapak,” ujar Sultan,
"saya tahu bagaimana perasaan dan kecemasan hati Bapak
terhadap keselamatan Anjarsari.
Sayapun lebih kawatir lagi. Tapi percayalah, bersama sahabat
"Manusia geblek,” maki Pendekar
212 dalam
ini saya pasti akan dapat mencari
Anjarsari dan menemukan serta
membekuk bangsat-bangsat pencuri
itu!".
"Kalau kau berkata begitu,
baiklah". Wirja Pranata akhirnya mengalah. Maka sesudah itu
dan Sultan Hasanuddinpun berlalu dengan cepat.
Ketika
hari pagi kedua orang itu masih juga belum berhasil meneemui jejak pencuri yang
mereka cari. Dengan perasaan lesu
mereka sampai ke sebuah kota bernama Parangwilis. Seperti Asoka maka
Parangwilis adalah juga sebuah kota dagang yang besar. Bau makanan yang harum menghambur
keluar dari sebuah warung nasi. Kedua orang inipun masuklah ke dalam warung tersebut.
Karena rambutnya yang gondrong dan potongan tubuh yang kekar dari
serta
tampang yang gagah dari Sultan Hasanuddin maka kedua orang ini tentu saja
menarik
perhatian
isi warung. Tapi tanpa acuh Wiro dan Sultan terus saja menyantap makanan
mereka.
Mendadak
suasana dalam warung nasi itu menjadi sunyi hening laksana dipekuburan!
dan Sultan segera merasakan perubahan ini.
Sultan putar kepala memandang
berkeliling
sedang putar bola matanya memandang
cepat ke beberapa jurus.
Dari
pintu muka warung masuk seorang berpakaian kotor compang camping dan
bertambal-tambal. Dari pintu
belakang dua orang lagi, kemudian dari jendela di samping kiri
kanan
masing-masing dua orang lainnya! Muka-muka mereka
rata-rata menunjukkan
kebengisan, rambut kusut masai,
kumis serta janggut kasar meranggas!
Beberapa orang tamu yang sedang
makan dalam warung, melihat gelagat yang tidak baik
ini segera jauhkan diri ke pojok.
Sultan dan Pendekar 212 karena merasa tidak ada sangkut paut apa-apa dengan
kesepuluh manusia itu tanpa ambil perduli terus menyantap hidangan mereka.
Tiba-tiba
salah seorang yang datang dari pintu depan hantamkan tangan kananya ke
muka. Angin deras melanda meja makan
di hadapan Wiro serta Sutan. Meja kayu yang besar
dan berat itu tak ampun lagi mental
melabrak dinding warung. Piring serta gelas di atasnya
berpelantingan pecah! Namun di saat
itu pula baik Pendekar 212 maupun Sultan telah melompat ke samping dan
berdiri saling memunggungi !
Serentak
dengan itu maka sepuluh manusia yang berpakaian compang-camping sudah
mengurung
keduanya dengan rapat.
"Berhari-hari
dicari baru kini kutemui!,” kata laki-laki yang tadi melabrak meja dengan
pukulannya
yang hebat.
"Kalian
siapa?,” tanya Sultan sambil bersiap sedia menjaga segala kemungkinan. Di
belakang
di dengarnya mulai bersiul-siul
seenaknya.
Orang
tadi mengekeh. Gigi-giginya hitam dan di sudut bibirnya terselip segumpal susur
tembakau.
"Kami adalah anggota-anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam!,” jawab
orang
itu.
Terkejutlah
Sultan. "Kami berdua tidak merasa punya silang sengketa dengan kalian,
mengapa
datang mengganggu?"
Anggota
Perkumpulan Pengemis Darah Hitam itu mengekeh lagi. "Jangan jual bacot
mengatakan
tiada silang-sengketa. Salah seorang dari kalian telah membunuh pemimpin kami
Pengemis
Bibir Sumbing!"
"Oh,
jadi kalian anak-anak buahnya manusia jahat itu? Setiap manusia jahat akan
menemui
ajalnya
secara buruk! Kalian pergilah semua!"
Anggota
Pengemis Darah Hitam semburkan susurnya ke muka Sultan. Meski cuma susur
tapi bahayanya besar sekali karena
mengandung tenaga dalam! Dengan cepat Sultan hantamkan tangan kanannya ke
depan, maka mentallah susur itu.
Sebagian dari air susur menjiprat ke
muka beberapa orang anggota Perkumpulan Pengemis
Darah Hitam termasuk laki-laki yang
telah menyemburkan susur itu tadi! Maka marahlah dia! Dan segera membentak!
"Tangkap Sultan hidup-hidup! Yang
gondrong itu cincang sampai lumat!"
Sembilan pengemis yang diberi
komando segera menyerbu ke muka. Tubuh Sultan dan
lenyap. Hanya suara
tertawa Pendekar 212 ini saja yang terdengar. Dan sesaat
kemudian terdengarlah suara .
"bluk . . . . bluk .... bluk ... bluk . . .”
Empat anggota Perkumpulan Pengemis
Darah Hitam mencelat dan menggeletak di tanah
tanpa nyawa! Sekali lagi Pendekar
212 berkelebat dan dua lawan lagi mental ke luar kedai!
Melihat ini pengemis yang tadi
berikan komando segera keluarkan senjatanya berupa
sebuah
cambuk yang berwarna hitam. Melihat ini maka tiga anggota lainnya yang masih
hidup
segera
pula keluarkan cambuk masing-masing. Dan sesaat kemudian maka laksana hujan
menggeletarlah
cambuk-cambuk itu ke arah dan Sultan.
Suasana tiada ubah seperti
halilintar.
Kedai itu seakan-akan hendak hancur Iuluh tenggelam oleh suara cambuk! Dan di
saat itu tak ada satu tamu lainpun yang masih. berani berada di dalam warung
sedang pemilik warung sendiri sudah kabur entah ke mana!
Sultan
melompat ke samping kiri untuk hindarkan cambuk salah seorang lawan. Begitu
terhindar
segera dia kirimkan serangan balasan namun dua cambuk lainnya tahu-tahu sudah
melibat
kedua tangannya! Bagaimanapun dicoba oleh Sultan untuk lepaskan diri namun
sia-sia
saja.
Di
tain pihak Pendekar 212 coba keluarkan diri dari hantaman-hantaman cambuk dua
orang
lawannya yang datang laksana hujan! Tapi memang permainan cambuk empat anggota
Perkumpulan
Pengemis Darah Hitam ini hebat sekali. Sementara Sultan
di sebelah sana sudah
kena diringkus dan di seret ke pintu
muka. Pendekar 212 dibikin sibuk dan kepepet ke bagian
belakang warung.
Geram sekali lompat tiga tombak ke atas lalu menukik ke
bawah seraya
membagi serangan tangan kiri kanan
kepada dua orang lawannya.
Angin pukulan Pendekar 212 membuat
kedua orang itu hanya terdorong seketika karena
kebutan
cambuknya yang begitu dahsyat sanggup membendung hampir sebagian besar angin
pukulan Wiro !
Dengan penasaran Pendekar 212 begitu
sampai ke tanah kembali segera menyambar
sebuah bangku panjang. Dengan bangku
panjang sebagai senjatanya maka mengamuklah
Pendekar 212. Cambuk hitam anggota
Pengemis Dara.h Hitam betul-betul luar biasa. Senjata
keduanya mendera bangku hitam
beberapa kali. Dan hancurlah bangku hitam itu !
menggerung. Kedua tangannya bergetar dan
dinaikkan tinggi-tinggi ke
atas.
"Wut! Wutt.....!”
Warung nasi itu berderak derik!
Kedua lawan coba putar dan pecutkan cambuk mereka
lebih deras lagi namun angin yang
menyambar dari lengan Pendekar 212 tak sanggup lagi
mereka tahan. Laksana topan kedua
orang itu bermentalan kian ke mari. Cambuk mereka
terlepas dan tiba-tiba.
"krraakkk !" Warung nasi itupun robohlah!
Sesaat kemudian bangunan ini ambruk,
maka Pendekar 212 sudah melabrak dinding dan
lolos ke luar. Dua orang anggota
Perkumpulan Pengemis Darah Hitam yang tadi sudah konyol
tersambar
pukulan "angin puyuh" Pendekar 212 tertimbun mentahmentah!
Di
luar warung yang rubuh, Pendekar 212 bingung sendiri karena melihat Sultan
bersama dua orang anggota Pengemis
Darah Hitam sudah lenyap. Dia segera minta beberapa
keterangan pada orang-orang di luar
kemana lenyapnya ketiga orang itu.
"Kawanmu kena diringkus dan
dilarikan ke jurusan sana,” kata seseorang sambil
menunjuk ke ujung jalan. Maka tanpa
membuang waktu segera mengejar ke arah
yang ditunjukkan.
TUJUH
PADA masa itu di wilayah Jawa sebelah
barat telah sejak lama berdiri sebuah perkumpulan yang bernama Perkumpulan
Pengemis Darah Hitam. Anggotanya terdiri dari pengemis-pengemis yang tersebar
di seluruh pelosok dan di setiap kota. Setiap anggota perkumpulan mempunyai sebuah
pecut hitam dan rata-rara memiliki ilmu silat yang tinggi. Tentu saja karena
hampir setiap tempat dan daerah anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam ada
maka segala sesuatu peristiwa besar dan rahasia dengan, sendirinya diketahui
oleh mereka. Demikian juga dengan peristiwa jatuhnya Banten ke tangan
pemberontak dan lenyapnya Sultan serta keris Tumbal Wilayuda. Yang terakhir
sekali mereka juga mengetahui hubungan Sultan dengan Andjarsari.
Maka pucuk Pimpinan Perkumpulan segera
menyebar anak-anak buahnya untuk mendapatkan
mencari Sultan serta menculik Andjarsari!
Demikian besarnya hasrat mereka
untuk berhasil dalam rencana tersebut maka sampaisampai
salah seorang dari pucuk pimpinan
yang terdiri dari tiga pengemis berkepandaian tinggi,
memutuskan untuk turun tangan. Pucuk
pimpinan yang seorang ini ialah Pengemis Bibir
Sumbing! Sebagaimana yang telah
dituturkan sebelumnya, ketika Sultan bermalam di satu
penginapan
maka Pengemis Bibir Sumbing telah mendatanginya dan hampir berhasil membawa kabur jika saja saat itu Pendekar 212 tidak muncul
memberikan
bantuan.
Bukan saja Pengemis Bibir Sumbing tiada berhasil dengan niatnya untuk mencuri
keris pusaka tumbal kerajaan tapi dia juga terpaksa serahkan
jiwa! Dibanding dengan dua pucuk pimpinan lainnya yaitu Pengemis Mata Buta dan
Pengemis Kaki Pincang maka memang
kepandaian Pengemis Bibir Sumbing
jauh lebih rendah sehingga setelah bertempur beberapa
gebrakan secara hebat maka akhirnya
Pengemis Bibir Sumbing menemui ajalnya di tangan
Pendekar 212.
Namun bahaya yang mengancam Sultan
serta keris pusaka itu tidak sampai di sana saja.
Ketika Sultan bermalam di rumah
Wirya Pranata, seorang anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam telah berhasil
melarikan keris tersebut selagi Sultan berada di taman dengan calon istrinya Andjarsari!
Dan Andjarsari sendiri kemudian juga telah diculik pula oleh salah seorang
anggota lain Perkumpulan Pengemis Darah Hitam!
Adapun markas atau sarang
Perkumpulan Pengemis Darah Hitam itu, terletak di dalam
hutan belantara Riungslaksa. Maka ke
sanalah anggota-anggota perkumpulan yang telah berhasil membawa orang yang
mereka culik dan keris yang berhasil dicuri. Selama beberapa hari itu kedua pucuk pimpinan Perkumpulan Pengemis Darah
Hitam menanti-nanti juga akan hasil pekerjaan anggota-anggota mereka.
"Ah, lama betul sekali ini
anggota-anggota kita menjalankan tugasnya…,” berkata
Pengemis Mata Buta. Tubuhnya tinggi
kurus macam tonggak. Pipinya cekung, rambutnya panjang tergerai macam
perempuan, sedang kedua matanya hanya merupakan dua buah rongga dalam yang
hitam sehingga dapat dibayangkan betapa mengerikannya wajah manusia ini!
"Ya… lama sekali,” jawab
Pengemis Kaki Pincang seraya menghela nafas dalam. Di sela
bibirnya terselip sebuah pipa yang
bau tembakaunya busuk sekali! Manusia ini bermuka licin dan berkulit sangat pucat
laksana mayat! Kaki kanannya pincang. "Bahkan Pengemis Bibir
Sumbingpun
tidak kelihatan mata hidungnya sampai saat ini!"
"Pengemis
Bibir Sumbing macam orang yang tidak percaya saja dengan anggota-anggota
kita
sampai-sampai mau turun tangan sendiri…"
"Ah..,
dia memang dari dulu begitu sifatnya," kata Pengemis Kaki Pincang pula.
"Saudara Pengemis Mata Buta,
apakah menurutmu…”
Belum habis bicara Pengemis Kaki
Pincang maka di luar terdengar seruan. "Para Ketua,
lihat apa yang aku bawa!"
Dan sesaat kemudian muncullah
seorang anggota Perkumpulan yang berbadan tegap
kekar. Dibahunya terpanggul sesosok
tubuh perempuan muda. Sosok tubuh perempuan ini bukan lain Andjarsari,
dibaring.kannya di atas lantai di hadapan kaki kedua pucuk pjmpinan
Perkumpulan. Saat itu Andjarsari tak
dapat bergerak dan juga tidak sadarkan diri karena telah ditotok.
Tentu saja sangat gembira hati kedua
Ketua Perkumpulan itu.
"Jasamu kepada Perkumpulan
cukup besar Lah Simpong," kata Pengemis Kaki Pincang
seraja gosok-gosok kedua telapak
tangannya.
Cuping hidung anggota Perkumpulan
yang bernama Lah Simpong kelihatan membesar
dan bergerak-gerak tanda suka cita
hatinya.
"Percayalah, para Ketua,"
kata Lah Simpong pula. "Dengan berhasilnya gadis ini kita
tawan, Sultan pasti akan datang ke
sini dan kita dengan mudah bisa meringkusnya."
"Betul sekali!" kata
Pengemis Mata Buta dan Pengemis Kaki Pincang hampir berbarengan.
Lah Simpong yang dulunya adalah
seorang peminta-minta di kota Menes basahkan bibir
dengan ujung lidah, "Para
ketua," katanya "Apa aku boleh terima uang jasa sekai-ang...?!"
"Tentu…!" jawab pengemis
Kaki Pincang. Dari balik pinggang dikeluarkannya sebuah
kantong kulit dan ditemparkannya ke
hadapan Lah Simpong. Benda itu jatuh dengan mengeluarkan
suara berdering di muka kaki Lah Simpong. Dengan. menyeringai gembira maka
Lah
Simpong segera membungkuk dan mengambil kantong uang itu. Dan pada saat itu pulalah
di luar terdengar seruan seseorang. "Apa artinya
hasil yang dibawa Lah Simpong dibandingkan
dengan
apa yang kami bawa ini wahai Para Ketua Perkumpulan?!"
Dua
sosok tubuh mencelat masuk lewat jendela. Ketika mendarat dilantai sedikitpun
kaki
mereka tiada mengeluarkan suara! Baik Pengemis Kaki
Pincang maupun Pengemis Mata
Buta yang meskipun buta tapi
mempunyai perasaan dan pendengaran yang tajam luar biasa
sama-sama bergembira.
"Siapa yang kalian bawa
itu?" tanya Pengemis Mata Buta.
"Sultan! Sultan!" kata
Pengemis Kaki Pincang sambil melompat dari kursinya.
Pengemis Mata Buta tertawa girang.
Dari balik sabuknya dia keluarkan dua buah
kantong kulit yang besar. "Ini
terima!" katanya. Dua orang anggota Pengemis Darah Hitam tadi
segera menyambutinya. Mereka menjura
girang lalu mau putar diri dari situ namun seseorang
yang melompat masuk lewat pintu muka
mengejutkan mereka!
"Aha... bawaanku memang bukan
manusia bernyawa! Bawaanku juga tidak besar cuma
kecil sekal ! Tapi justru apa yang
kubawa ini merupakan satu tanda bahwa siapa pemiliknya
adalah mempunyai hak untuk menjadi
raja di Banten!"
Pengemis Mata Buta dan Pengemis Kaki
Pincang meloncat dari kursi masing-masing !
"Mata Picak! Apakah kau
berhasil mencuri ?!" seru Pengemis
Mata Buta dengan nada gembira.
Anggota Perkumpulan yang bermata
buta sebelah dan bertampang angker itu tertawa
mengekeh. Nama sebenarnya tak satu
anggota atau pemimpin perkumpulan yang tahu. Karena
itu dia dipanggil dengan gelaran
Mata Picak. Di bandingkan dengan Pengemis Bibir Sumbing
maka kepandaian Mata Picak tiga
tingkat lebih tinggi, ditambah lagi bahwa dia mempunyai
keistimewaan tersendiri yaitu
mempunyai senjata rahasia paku beracun! Kepandaiannya ini juga diturunkannya
kepada anggota perkumpulan termasuk para pucuk pimpinan sehingga lambat laun
senjata rahasia itupun disebut "paku darah hitam,” sesuai dengan nama
perkumpulan mereka. Dengan ketinggian ilmu silat ditambah dengan kelihayannya
memainkan senjata rahasia
"paku darah hitam" maka
sebenarnya Mata Picak adalah lebih tepat untuk menjadi pimpinan
perkumpulan daripada Pengemis Bibir
Sumbing. Namun
Pengemis Bibir Sumbing sudah belasan tahun memasuki Perkumpulan bahkan dialah
yang mula-mula mempunyai prakarsa untuk mendirikan
Perkumpulan Pengemis Darah Hitam itu!
"Kita pesta tuak malam
ini!" seru Pengentis Mata Buta.
"Pesta tuak dan anggur!,”
menimpali Pengemis Kaki Pincang.
Kedua pimpinan Perkumpulan itu
sama-sama mengeluarkan sebuah kantung uang dan
melemparkannya ke hadapan Mata
Picak. Memang inilah yang ditunggu-tunggu oleh si Mata
Picak. Dengan segera kedua kantung
uang itu disambutinya. Dia menjura. Belum lagi sempat
dia berdiri tegak dari menjuranya
itu maka dari pintu muka masuklah seorang anggota Perkumpulan.
Mukanya tak kalah bengis angker,
namun di saat itu tampang itu kelihatan sedikit
pucat, lesu dan kuyu!
Pengemis Kaki Pincang kerutkan
kening melihat anggotanya ini. Tak biasanya
Kuntawana berparas semurung itu.
Maka bertanyalah dia. "Kabar apakah yang agaknya kau
bawa dari luar rimba,
Kutawana?!"
"Hemm… Kutawana juga sudah
kembali?" ujar Pengemis Mata Buta.
Anggota yang baru datang itu menjura.
Dihelanya nafas panjang lalu berkatalah dia .
"Aku membawa kabar buruk, para
Ketua...”
"Kabar buruk bagaimana?"
tanya Pengemis Kaki Pincang sementara yang lain-lainnya
juga tujukan perhatian terhadap
Kuntawarna.
"Kemarin aku memasuki kota
Asoka. Kota itu tengah berada dalam kegemparan karena
menemukan sesosok mayat di belakang
bengkel kuda Ketika aku menyeruak diantara orang
banyak ternyata mayat itu adalah
mayat Ketua Pengemis Bibir Surnbing!"
Terkejutlah semua orang.
"Ada keanehan dalam cara
matinya…".
"Keanehan bagaimana
maksudmu?!" tanya Pengemis Mata Buta.
Kulit keningnya hitam, dadanya biru.
Sedang pada kulit kening yang hitam itu tertera
tiga buah angka. Angka 212!"
Terjadilah perubahan pada air muka
pucuk pimpinan Perkumpulan Pengemis Darah
Hitam. Pengemis Kaki Pincang
memandang pada pengemis Mata Buta. Pengemis Mata Buta
sendiri di saat itu merenung.
"Bagaimana pendapatmu, Ketua Pengemis Mata Buta?" bertanya
Pengemis Kaki Pincang.
Sejurus lamanya barulah menjawab
Pengemis Mata Buta itu. Nada suaranya kentara
berubah sekali kali ini.
"Sesudah hampir empat puluh tahun menghilang tak tentu rimbanya,
ternyata dia muncul kem-bali. Dia
adalah momok yang menakutkan bagi tokoh-tokoh silat
golongan hitam macam kita ini, Ketua
Kaki Pincang. Pastilah dia muncul untuk kembali
menghancurkan golongan kita seperti
empat puluh tahun yang lalu itu…"
"Maksudmu Pendekar 212 Kapak
Maut Naga Geni si Sinto Gendeng itu...?!" tanya
Pengemis Kaki Pincang.
"Siapa lagi!"
“Ah... kalau dia memang muncul untuk
maksud yang seperti masa lampau, dia salah
perhitungah! Dunia persilatan dulu
tidak sama dengan dunia persitatan masa sekarang!
Golongan hitam banyak maju pesat,
banyak mempunyai tokoh-tokoh kosen serta lihay dan
sakti! Sinto Gendeng boleh datang
kemari. Dan itu berarti dia antarkan nyawa sendiri!"
Pengemis Mata Buta menarik nafas
dalam, "Kita tak bisa menganggap enteng momok
perempuan itu, Ketua Kaki Pincang,”
kata Pengemis Mata Buta pula. "Ketahuilah, kedua
mataku yang buta ini, dialah yang
telah mengoreknya dulu…".
Kagetlah Pengemis Kaki Pincang.
Matanya mendelik dan dipandanginya paras rekannya
itu. Akhirnya dia memandang ke
jurusan lain karena merinding juga kuduknya memandang
lama-lama pada rongga rongga mata
yang menggidikkan itu!
Suasana hening seketika. Dan keheningan
itu dipecahkan oleh bentakan Pengemis Mata
Buta. "Kuntawana, apa yang kau
telah lakukan terhadap mayat Ketua Pengemis Bibir
Sumbing...?!"
Terkejutlah Kuntawana.
"Jawab! Apa sesudah kau temui
lantas kau tinggal begitu saja....?!"
"Ketua… di saat itu mayat Ketua
Pengemis Bibir Sumbing dikerumuni oleh banyak
orang. Di antaranya beberapa
prajurit kerajaan. Tak mungkin bagiku…”
"Tutup mulut! Kesalahanmu
besar! Kau dipecat sebagai anggota Perkumpulan!"
Muka Kuntawana menjadi pucat.
"Ketua…”
"Diam! Lekas angkat kaki dari
sini!"
"Para Ketua…''.
"Diam! Berlalulah sebelum
amarahku lebih memuncak!" bentak Pengemis Mata Buta.
Kuntawana menyuruh mundur. "Aku
bersedia kembali ke Asoka untuk mengambil
mayat Ketua Bibir Sumbing…”
"Tak perlu," jawab
Pengemis Mata Buta tetap keras. "Aku bisa suruh anggota yang
lain!".
Maka
membesilah paras Kuntawana. "Baik, aku akan pergi tapi serahkan dulu uang
jasaku".
"Kurang ajar! Kau berani bicara seenaknya demikian rupa?! Ini
bagianmu!".
Pengemis
Mata Buta kebutkan lengan jubah hitamnya. Satu gelombang angin dahsyat
melanda
ke arah Kuntawana. Terkejutlah Kuntawana. Dia tahu betul pukulan yang
dilancarkan oleh si Mata Buta itu. Pukulan "seribu topan!"!
Dengan cepat Kuntawana melompat ke atas
namun dia tak bisa melompat tinggi
karena bangunan di mana mereka berada mempunyai loteng yang rendah!
"Celaka, mampuslah aku!"
kata Kuntawana di dalam hati.
Namun pada detik yang berbahaya itu
dari jendela samping satu larikan sinar merah
menyambar memapaki angin pukulan
seribu topan dan kejapan itu juga buyarlah pukulan
Pengemis Mata Buta dan selamatlah
Kuntawana!
Pengemis Mata Buta seorang yang
mempunyai perasaan luar biasa. Sepasang telinganya
bukan saja tajam tapi juga merupakan
sebagai sepasang mata baginya.
Dia menoleh ke jendela.
"Keparat yang suka ikut campur urusan orang, coba perlihatkan
diri!" bentaknya.
Di diluar terdengar suara tertawa
bergelak. Sesaat kemudian sesosok tubuh berjubah
merah dan berkerundung kain merah
dengan gerakan yang sangat sebat dan enteng sudah
menjejakkan kaki di lantai ruangan!
"Iblis Pencabut Sukma!"
teriak Pengemis Kaki Pincang berbarengan dengan anggotaanggota
Perkumpulan lainnya! Wajah mereka
mengkerut tegang!
DELAPAN
ORANG berkerundung merah keluarkan
suara tertawa mengekeh kembali. Pengemis
Mata Buta rangkapkan kedua tangannya
di muka dada. "Kiranya lblis Pencabut Sukma!
Pantas
keras dan hebat angin pukulannya! Tapi gerangan apakah yang membuat kau datang
ke
sini serta mencampuri urusan Perkumpulan kami?!"
Laki-laki
berkerundung yang merupakan Wakil Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut
Sukma lagi-lagi tertawa mengekeh.
"Ketua-ketua Perkumpulan Pengemis Darah Hitam,
kuharap tanpa banyak bicara
segeralah serahkan , Sultan Hasanuddin
dan gadis itu kepadaku....!".
"Eh... ini suatu hal yang tidak
kami sangka! Rupanya kau juga inginkan semua itu
heh...?”
"Hidung kerbau!," maki
Iblis Pencabut Sukma. "Aku bilang jangan banyak
bicara!
Serahkan cepat! Atau seluruh
Perkumpulanmu akan kulabrak?!"
"Ah.... Kalau tak salah kita
ini masih sama-sama satu golongan. Kenapa harus bikin
persoalan begini rupa? Semua manusia
berhak memang memiliki keris dan kedua manusia
yang kau katakan itu! Dan pihakku
telah perhasil menguasainya, kau terlambat. Itu adalah
salahmu sen....."
"Katakan saja kau tak mau
menyerahkan apa yang aku minta!,” memotong lblis
Pencabut Sukma.
"Untuk mendapatkan semua itu
pihakku sampai korbankan salah seorang ketuanya!
Sekarang kau seenaknya meminta!
Aturan macam mana yang kau pakai?!" kata Pengemis
Kaki Pincang.
"Kaki Pincang kau menentukan
kematianmu sendiri dengan bicara macam begitu..!"
Pengemis
Kaki Pincang tertawa tawar. "Orang lain mungkin
takut pada kau! Tapi aku
Pengemis Kaki Pincang boleh dicoba
nyalinya!". lblis Pencabut Sukma tertawa gelak-gelak.
Kedua kakinya merenggang.
"Dalam satu jurus kau akan konyol ke akherat Pengemis Kaki
Pincang!"
"Coba saja, aku mau
lihat!" kata Pengemis Kaki Pincang dengan tertawa menghina.
Sementara itu telinganya mendengar
suara rekannya si Mata Buta yang disampaikan dengan
ilmu menyusupkan suara. "Ketua
Kaki Pincang, hati-hatilah. Manusia ini berbahaya....".
Ketika Iblis Pencabut Sukma angkat
tangan kanan ke atas, dan ketika Pengemis Kaki
Pincang pusatkan tenaga dalamnya ke
tangan kiri tiba-tiba Kuntawana melompat antara
tengah-tengah kedua Orang itu.
"Manusia sontoloyo! Kau juga
minta dikirim keakhirat?!" bentak Iblis Pencabut
Sukma. Kuntawana menghadap pada
Pengemis Mata Buta dan Kaki Pincang. "Para Ketua,
harap perkenankan aku melayani dajal
berkerudung ini sebagai penebus kesalahanku!".
"Hem…". Pengemis Mata Buta
merenung. "Baiklah. Kaki Pincang, kau mundurlah!"
Maka Pengemis Kaki Pincangpun
mundurlah sedang Kuntawana segera cabut
cambuk
hitamnya. Iblis Pencabut Sukma menyeringai. "Manusia tampangmu cukup tiga
langkah
saja kulayani!". katanya.
Kuntawana
putar cambuknya dengan sebat.
Iblis Pencabut Sukma maju satu
langkah.
Kuntawana tiba-tiba lepaskan pukulan
tangan kiri, sesudah itu laksana hujan
cambuknya
bergelegaran ke arah lawan.
Iblis
Pencabut Sukma majukan langkah kedua. Jari-jari tangan kanannya terbentang ke
muka
seperti hendak mencaakar sedang tangan kiri mengebut menahan serangan lawan.
Pada
detik
dia buat langkah ketiga maka tangan kanannya ditarik ke belakang dengan keras!
Inilah
yang
disebut ilmu pukulan pencabut sukma!
Kuntawana
merasakan badannya seperti tersedot! Isi perutnya seperti dibetot!
"Huah!"
Sesaat
kemudian anggota Pengemis Darah Hitam inipun muntah darahlah! Tubuhnya
terkapar
di lantai tanpa nyawa!
Berdeburlah
darah para anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam. Pengemis Kaki
Pincang
dan Pengemis Mata Buta tergetar hati masing-masing! Kuntawana adalah anggota
Perkumpulan
yang ilmu kepandaiannya tidak rendah. Tapi Iblis Pencabut Sukma
membunuhnya hanya dalam tiga
langkah! Iblis Pencabut Sukma tengadahkan muka dan tertawa bekakakan menegakkan
bulu roma!.
"Siapa yang tidak senang
melihat mampusnya kroco itu boleh maju segera!,” katanya.
Kemudian dia berpaling pada dua
orang pimpinan Perkumpulan Pengemis Darah Hitam.
Sepasang matanya kelihatan menyorot
berkilat. "Kalian berdua masih belum mau serahkan apaapa yang aku
minta?!".
Sebelum kedua Ketua Pengemis Darah
Hitam berikan jawaban sesosok tubuh dengan
gerakan enteng melompat, ke hadapan
dua Ketua Pengemis Darah Hitam.
"Para Ketua, perkenankanlah aku
Lah Simpong untuk membasmi iblis yang kesasar
ini!"
Pengemis Mata Buta tidak memberikan
sahutan. Dia tahu kepandaian Lah Simpong
memang lebih tinggi dari Kuntawana,
tapi untuk menghadap lblis Pencabut Sukma, tingkat
kepandaian Lah Simpong masih belum
dapat diharapkan. Sebaliknya Pengemis Kaki Pincang
setelah merenung sejurus, lalu
anggukkan kepala dan berkata, "Baiklah, tapi hati-hati. Manusia
ini benar-benar ganas seperti
iblis!"
Setelah diperkenankan begitu rupa
maka Lah Simpong segera putar badan. Cambuk di
tangan kiri, sebuah toya besi di
tangan kanan maka diapun maju ke arah Iblis Pencabut Sukma.
Iblis Pencabut Sukma menyeringai di
balik kerundung kain merahnya. "Rupanya Para
Ketua Perkumpulan Pengemis Darah
Hitam lebih suka korbankan anggotanya dari pada maju
sendiri!"
"Jangan banyak mulut manusia
iblis! Lihat cambuk!"
Cambuk hitam di tangan kiri Lah
Simpong berkelebat. Suaranya menggelegar macam
petir. Ujung cambuk dengan sangat
cepat, sukar dilihat oleh mata biasa, mendera ke muka si
kerudung merah! Sebelum serangan ini
sampai, Lah Simpong susul dengan serangan toya besi
hitam. Kedua ujung toya menderu
berubah seperti ratusan banyaknya dan menyerang keselusin
bagian tubuh Iblis Pencabut Sukma!
Yang diserang terkekeh-kekeh.
"Keluarkan seuruh kepandaianmu, Lah Simpong! Kalau
tidak setengah jurus di muka kau
akan jadi mayat!".
"Tubuhmu yang akan terkapar
lebih dulu, iblisl". Ujung cambuk menyambar dengan
dahsyat ke muka Iblis Pencabut Sukma
sementara toya besi sedetik lagi pasti akan menghancur luluhkan tulang-tulang
anggota Iblis Pencabut Sukma!
Tapi pada kejapan mata itu Iblis
Pencabut Sukma kebutkan lengan jubah merahnya. Selarik
angin pukulan yang hebat menyusup di
antara deraan cambuk dan terus melabrak Lah Simpong.
Tubuh anggota Pengemis Darah Hitam
ini jatuh duduk di lantai. Mukanya pucat laksana mayat. Dia berusaha bangun. Tubuhnya tertatih-tatih tanda dia terluka parah di dalam!
"Sekarang
pasrahkan ajalmu, Lah Simpong!". Iblis Pencabut Sukma angkat tangan
kanannya
lalu ditarik ke belakang dengan cepat! Tubuh Lah Simpong seperti ditarik besi
berani,
tersedot
sampai dua tombak ke muka, lalu jatuh menelungkup. Darah membuih dimulutnya.
Ajalnya
sampai!
Putihlah
wajah dua Ketua Perkumpulan Pengemis Darah Hitam. Para anggota yang lain
berdiri
laksana kaku. Mereka merasa seperti nyawa mereka sendiri yang lepas waktu
menyaksikan kernatian Lah Simpong itu!
"Keganasanmu
sudah keliwatan sekali, Iblis Pencabut Sukma!,” kata Pengemis Kaki
Pincang. "Jangan harap kau
bakal bisa tinggalkan tempat ini dengan selamat!". Pengemis Kaki
Pincang maju dua langkah.
"Mulailah, Iblis,” tantangnya.
Iblis Pencabut Sukma tertawa dingin.
Pengemis Kaki Pincang mendengus.
"Kau tidak punya nyali untuk memulai?! Kalau begitu
sambut pukulanku ini!".
Pengemis Kaki Pincang angkat tangan
kanan. Namun dua anggota Perkumpulan melompat
ke tengah kalangan. Mereka adalah
dua kakak beradik Sepasang Cakar Garuda yang dulunya
merupakan fakir-fakir miskin di kaki
gunung Salak, tapi yang kemudiannya berhasil diseret oleh
Pengemis
Kaki Pincang untuk masuk ke dalam Perkumpulan Pengernis Darah Hitam.
"Para
Ketua, kalau untuk membereskan manusia ini, serahkan pada kami!,” kata Sepasang
Cakar
Garuda yang tertua. •
Meskipun
darahnya sudah mendidih namun Pengemis Kaki Pincang yang percaya akan
kemampuan
kedua anggotanya itu segera bersurut mundur!
"Bereskanlah
cepat!,” katanya.
"Ah
lagi-lagi bangsa-bangsa kroco yang disuruh maju!" menghina Iblis Pencabut
Sukma.
"Kroco
atau apa, tapi ketahuilah nyawamu hanya beberapa kejapan mata saja Iblis!"
1blis
Pencabut Sukma mendengus. "Sombongnya!,” katanya.
Dan
disaat itu cambuk-cambuk lawan sudah menderu laksana topan, menyerang ke arah
leher
dan kaki, lalu bergantian secara teratur dan cepat membabat ke dada dan ke
perut! Dalam seketika saja maka Iblis Pencabut Sukma sudah terbungkus serangan
cambuk yang bergelegaran itu. Jubah Merah dan kerudungnya berkibar-kibar karena
kerasnya sambaran cambuk hitam kedua lawan!
"Hemm...
permainan cambuk kalian boleh juga! Tapi aku mau lihat apa
bisa menerima
pukulan menendang langit menjungkir
awan ini?!".
Habis berkata demikian Iblis
Pencabut Sukma tendangkan kaki kiri ke muka dan
hantamkan telapak tangan karian dari
bawah ke atas!
Disaat itu pula maka
menggelindinglah kedua anggota Perkumpulan Pengemis Darah
Hitam itu. Tapi begitu terhampar
begitu keduanya bangun lagi meskipun dengan keluarkan
keringat dingin dan sama menyadari
bahwa diri mereka di bagian dalam terluka parah!
Keduanya sama-sama menggerung.
Cambuk hitam mendera ganas. Sedang tangan kiri
yang membentuk cakar burung garuda
dengan kecepatan yang luar biasa menyambar ke muka
dan ke dada Iblis Pencabut Sukma!
"Oh jadi kalian adalah Sepasang
Cakar Garuda huh?!" ujar Iblis Pencabut Sukma yang
kenali permainan silat kedua
lawannya.
Sebaliknya dua anggota Perkumpulan
Pengemis Darah Hitam itu rupanya tidak mau
kasih hati lagi. Serangan-serangan
mereka yang dahsyat itu mereka susuli dengan empat buah
tendangan sekaligus! Iblis Pencabut
Sukma bersuit keras! Serasa mau pecah gendang-gendang telinga mendengarnya!
Begitu suitannya lenyap maka dari tangan kirinya menyambarlah sinar merah yang
menyeruak laksana kipas menyerang Sepasang Cakar Garuda sekaligus! Kedua anggota
Perkumpulan Pengemis Darah Hitam itu mencelat ke loteng, satu amblas dan menyangsrang
di papan loteng sedang yang satu lagi jatuh bergedebukan ke lantai. Tubuh keduanya
merah matang laksana daging panggang!
Pengemis Kaki Pincang tahan nafas.
"Pukulan kipas merah,” membatin ketua Pengemis Darah Hitam ini sedang
Pengemis Mata Buta meskipun tidak dapat melihat namun perasaannya yang tajam serta pendengarannya yang luar biasa, diam-diam juga mengetahui
ilmu pukulan
apa yang telah dilepaskan lawan!
Ruangan itu sehening di kuburan.
Sekali lagi Iblis Pencabut Sukma
menengadah dan keluarkan suara tertawa bekakakan.
Dari arah pintu melangkah enteng
seorang anggota Perkumpulan Pengemis Darah
Hitam. Tubuhnya tinggi kekar.
Tampangnya seram. Kumis dan janggutnya tajam meranggas
sedang salah satu matanya picak.
"Para Ketua, izinkan aku si
Mata Picak membuat perhitungan dengan manusia itu!".
Baik Pengemis Kaki Pincang maupun
Pengemis Mata Buta sama-sama manggutkan
kepala. Mata Picak adalah anggota
yang paling tinggi ilmunya dan mempunyai kelihayan
dalam memainkan senjata rahasia
"paku darah hitam". Karena itu Ketua-ketua Perkumpulan
pengemis Darah Hitam sama mempercayakan
bahwa anggota mereka yang berilmu tinggi ini
sanggup mengalahkan lawan yang
tangguh itu.
Mata Picak putar tubuh menghadapi
Iblis Pencabut Sukma.
"Iblis Pencabut Sukma,"
dia berkata, "aku Pengemis Mata Picak mohon diberi beberapa
jurus Relajaran dari kau!"
"Aha... Mata Picak, kau punya
peradatan sedikit. Bagus aku ampunkan jiwamu! Tapi
lekas korek kau punya biji mata lalu
tinggalkan, tempat ini!"
Gigi-gigi dan geraham Pengemis Mata
Picak bergemeletakan. "Kepongahanmu setinggi
langit Iblis Pencabut Sukma. Tapi
apa kau kira kau punya nyawa rangkap!".
lblis Pencabut Sukma tertawa
bergelak.
“Dikasih keampunan malah
menantang!"
"Sudahlah! Tiada guna bicara
panjang lebar padamu! Mulailah!".
SEMBILAN
“KARENA kau yang minta dikirim
keakhirat, maka kau mulailah lebih dulu, Mata
Picak!" kata Iblis Pencabut
Sukma dengan jumawa.
Mendengar ini Pengemis Mata Picak
tidak sungkan-sungkan lagi. Laksana terbang,
tubuhnya melesat ke muka. Empat
tendangan menderu, enam pukulan membadai!
Diam-diam Iblis Pencabut Sukma
terkejut juga melihat kehebatan lawan yang satu ini.
Dia
membentak garang dan berkelebat cepat. Tubuhnyapun lenyap! Kelebatan tubuhnya
mengeluarkan
angin deras yang membendung keseluruhan serangan lawan. Penuh penasaran
Pengemis Mata Picak keruk saku
bajunya yang bertambal-tambal.
"Lihat paku!" serunya.
Dua belas buah paku hitam yang
beracun melesat menyerang dua belas bagian tubuh
Iblis Pencabut Nyawa. Manusia
berkerudung ini menggerung dan kebutkan kedua tangannya.
Maka terdengarlah jeritan Pengemis
Mata Picak. Enam dari paku darah hitamnya yang beracun
berbalik dan menembus tubuhnya
sedang enam lainnya mental ke loteng!
Terbeliaklah mata Pengemis Kaki
Pincang dan anggota-anggota Perkumpulan lainnya
yang masih hidup sedang Pengemis
Mata Buta yang tidak punya mata kelihatan wajahnya
mengkerut tegang.
"Iblis Pencabut Sukma,"
buka suara Pengemis Mata Buta. "Kita sama-sama satu
golongan hitam. Antara pihakku dan
pihakmu tiada permusuhan. Mengapa turun tangan sampai
seganas ini....?!"
"Ah, aku bosan mendengar
bicaramu yang itu ke itu juga! Walau bagaimanapun aku
tidak
sudi disama ratakan satu golongan dengan kau! Aku beri waktu lima kejapan mata
bagimu
dan rekanmu si pincang untuk merenung dan memenuhi permintaanku..."
Lima
kejapan matapun lewat dalam suasana hening tegang.
"Kalian
manusia-manusia keras kepala dan dogol geblek!" bentak Iblis Pencabut
Sukma,
"Lihat ini!"
Sepasang
tangannya terpentang ke muka dan dua larik sinar merah yang menyeruak
seperti
kipas menggebubu ke arah tiga belas orang anggota Perkumpulan Pengemis Darah
Hitam.
Pengemis Kaki Pincang dan Pengemis Mata Buta terkejut. Buru-buru keduanya
hantamkan
tangan untuk memapasi namun luput! Di seberang sana tiga
belas anggota
Perkumpulan Pengemis Darah Hitam
mencelat ke dinding dan jatuh bertumpukan tanpa nyawa.
Tubuh mereka matang merah laksana
dipanggang!
Maka murkalah kedua pucuk pimpinan
perkumpulan Pengemis Darah Hitam. Keduanya
maju berbarengan.
"He... he, dua tokoh silat yang
katanya lihay dan terkenal nyatanya hanya nama-nama
kosong belaka, menyerang main
keroyok!,” kata Iblis Pencabut Sukma dengan suara lantang.
Pengemis Mata Buta, meskipun tokoh
silat jahat golongan hitam, tapi mendengar ini
segera bersurut mundur dan berkata .
"Saudara Pengemis Kaki Pincang, bereskan biang
malapetaka ini!".
"Tak usah khawatir, Saudara
Mata Buta,” menyahut Pengemis Kaki Pincang. "Tapi aku
tidak begitu senang maenghadapi
manusia yang sembunyikan muka dibalik kerudung!".
Habis berkata begini, dengan
keluarkan jurus "garuda sakti,” maka berkelebatlah
Pengemis Kaki Pincang. Demikian
cepat gerakannya sehingga tak terduga sama sekali oleh
Iblis Pencabut Sukma.
"Sreet" !
Maka robek dan tanggallah kerudung
merah Iblis Pencabut Sukma! Dan terkejutlah
Pengemis
Kaki Pincang. Muka Iblis Pencabut Sukma nyatanya benar-benar menyeramkan
seperti
iblis. Keseluruhan mukanya hancur oleh bopeng-bopeng yang besar-besar (bopeng =
burik).
Kedua matanya sangat besar dan menjorok ke muka serta jereng (juling).
Hidungnya
hampir
sebesar telapak tangan dan pesek lebar menutupi pipinya yang cekung. Bibirnya
sangat
tebal
dan tak bisa dikatupkan sehingga kelihatanlah gigi-giginya yang besar-besar dan
busuk!
Kejut
Pengemis Kaki Pincang hanya seketika. Menyusul
terdengar suara tertawanya
membahak. "Aha... kiranya Iblis
Pencabut Sukma bermuka terlalu buruk, lebih buruk dari iblis
sungguhan! Pantas sembunyikan muka
dibalik kerudung!".
Iblis Pencabut Sukma mendongak ke
atas. Hidungnya keluarkan suara mendengus.
"Jangan harap kau bisa selamat
dalam tiga jurus, setan alas!,” bentaknya.
Dan disaat itu Pengemis Kaki Pincang
sudah melayang sebat ke mukanya. Dua tangan
terpentang kemudian membuat enam
serangan beruntun yang disusul oleh empat tendangan
dahsyat!
Iblis Pencabut Sukma mengaum macam
harimau lapar. Sekali dia berkelebat maka
lenyaplah tubuhnya dan pada
sekejapan mata kemudian sinar merah berbentuk kipas
menggelombang menyerang Pengemis
Kaki Pincang.
"Saudara Kaki Pincang!
Hati-hatilah....!". memperingatkan Pengemis Mata Buta.
"Ah, cuma pukulan picisan
begini siapa yang takut!" sahut Pengemis Kaki Piricang
seraya lompat tiga tombak ke atas.
Serangan lawan berhasil dielakkan oleh Pengemis Kaki
Pincang. Dengan geram Iblis Pencabut
Sukma lompatkan diri pula ke udara seraya lancarkan
jurus "menendang langit
menjungkir awan". Karena jurus ini mempergunakan lebih
dari
setengah bagian tenaga dalamnya,
maka tak ampun Pengemis Kaki Pincang mencelat ke atas
panglari (loteng). Loteng bobol!
Beringas sekali, sesudah berhasil lepaskan diri dari jepitan
papan-papan loteng, Pengemis Kaki
Pincang cabut pipa besarnya dari balik pakaian yang
bertambal-tambal! Sekali menyedot,
sekali menghembus maka melesatlah asap pipa yang pekat kelabu dan mengandung
racun ganas!
"Ilmu rongsokan macam ini tak
perlu dipertontonkan padaku, Kaki Pincang!,” ejek Iblis
Pencabut Sukma. Tangan kanannya
diangkat ke atas lalu ditarik ke belakang! Pukulan pencabut sukma! Pengemis
Kaki Pincang dengan cepat kerahkan tenaga dalamnya. Tapi apa daya.
Dia
tak bisa selamatkan diri. Isi perutnya serasa dibetot, nafasnya serasa disedot
dan "puah...!".
Pengemis
Kaki Pincang muntah darah. Laksana daun kering tubuhnya yang tak
bernyawa
itu melayang ke bawah dan terhampar di lantai! Perkataan Iblis Pencabut Sukma
yang
menyatakan bahwa dia akan membunuh lawan dalam tiga jurus, kini terbukti!
Dengan
tengadahkan mukanya yang seram itu Iblis Pencabut Sukma tertawa panjang
laksana serigala lapar di malam
buta!
Mengkerutlah wajah Pengemis Mata
Buta.
Urat-urat lehernya menggelembung.
Pelipisnya bergerak-gerak sedang rahang-rahangnya
bertonjolan. "Pengemis Mata
Buta, hanya kau yang tinggal kini! Apa masih berkeras kepala untuk tidak mau
serahkan apa yang kuminta...?!".
Pengemis Mata Buta rangkapkan tangan
di muka dada. Kehebatan Iblis Pencabut Sukma
memang luar biasa. Setelah merenung
sejenak maka buka suaralah dia.
"Iblis Pencabut Sukma,
sekalipun kau punya tiga kepala enam tangan, jangan harap aku
tidak bernyali untuk melawanmu. Juga
jangan harap aku akan kabulkan permintaan gilamu!"
"Akh... kalau begitu kasihan
sekali! Perkumpulan Pengemis Darah Hitam rupanya sudah
ditakdirkan para iblis musti musnah
hari ini!".
"Perkumpulan Pengemis Darah
Hitam tidak musnah! Sebaiknya bersiaplah untuk
menghadap setan neraka, manusia
iblis! Manusia iblis macammu memang tempatnya pantas di
neraka!".
Habis berkata demikian maka Pengemis
Mata Buta masukkan tangan kanan ke balik jubah
bertambal-tambalnya. Begitu tangan
keluar maka bergemerlaplah sinar hitam sebilah pedang.
Tergetar juga Iblis Pencabut Sukma
melihat sinar senjata ini.
"Jika kau punya senjata
bagusnya lekas dikeluarkan, Iblis!" berkata Pengemis Mata Buta.
"Untuk menghadapi manusia buta
macam kau, perlu apa pakai senjata segala?! Majulah, tanganku sudah gatal-gatal
untuk mencabut nyawamu!".
"Jangan mimpi Iblis!"
bentak Pengemis Mata Buta. Sekali dia melompat ke muka maka
berkiblatlah taburan sinar hitam
dari sambaran pedangnya!
Dan... "Plak"
Tubuh Iblis Pencabut Sukma terdorong
beberapa langkah kebelakang!
Terkejutlah Pengemis Mata Buta
ketika mengetahui bahwa lawannya tidak mendapat satu
celaka apapun akibat ilmu pukulan
"telapak tangan minta sedekah" yang sangat diandalkannya itu, padahal
dalam ilmu pukulan ini dia sudah melatih diri sampai sepuluh tahun!
Rasa terkejut dan kecewa melihat
pukulannya hampa belaka membuat dalam kejapan itu
Pengemis Mata Buta menjadi sedikit
lengah. Dan kesempatan ini tiada disia-siakan oleh lawan.
Iblis Pencabut Sukma kirimkan satu
tendangan ke perut lawan. Tak ampun lagi Pengemis
Mata Buta jatuh duduk terkapar di
lantai. Belum lagi dia sempat bangun maka lawan sudah
gerakkan tangan lancarkan pukulan
"pencabut sukma"!
Pengemis Mata Buta merasakan adanya
kekuatan dahsyat yang menyedot tubuhnya, segera
dia buang diri ke samping. Tapi
kasip. Perutnya terbetot menggelegak. Darah segar menyembur dari mulut.
Tubuhnya kelojotan seketika. Sebelum meregang nyawa, manusia ini masih bisa
keruk saku jubahnya dan lemparkan selusin paku darah hitam ke arah lawan. Ini
tiada artinya bagi Iblis Pencabut Sukma. Dengan satu kebutan lengan baju maka
mentallah paku-paku beracun itu!
Selama beberapa ketika terdengarlah
suara tertavva Iblis Pencabut Sukma. Tertawa yang
membuat kedua matanya yang juling
menjadi basah oleh air mata.
Manusia bermuka seram bopeng ini
kemudian membungkuk di hadapan Pengemis Mata
Buta. Tangannya menggeledah di balik
jubah bertambal-tambal mencari keris Tumbal
Wilayuda. Bila bertemu segera
diselipkan dibalik pinggangnya. Kemudian dia melangkah ke
hadapan sosok tubuh Anjarsari yang
saat itu tiada sadarkan diri karena telah ditotok jalan
darahnya
sewaktu dilarikan oleh Lah Simpong.
Iblis
Pencabut Sukma memandang dengan mata berkilat-kilat ke tubuh Anjarsari yang
pakaiannya
berada dalam keadaan tak menentu. Dia menyeringai penuh arti. Dibelainya pipi
gadis
itu. Betapa lembut dan halusnya. Dirabanya dadanya.
Menggeletar tubuh Iblis Pencabut
Sukma. Kalau tidak ingat bahwa dia
musti lekas-lekas meninggalkan tempat itu maulah dia
mengikuti segala lampiasan nafsunya.
Dipanggulnya tubuh gadis itu di bahu kiri kemudian dia
melangkah ke hadapan Sultan yang
terbujur di lantai dan juga dalam keadaan tak berdaya
karena ditotok.
Sewaktu Iblis Pencabut Jiwa
membungkuk pula untuk mengempit tubuh Sultan, tibatiba
berkelebatlah sesosok bayangan biru
dan tahu-tahu tubuh Sultan disambar lalu dibawa lari!
Kejut Iblis Pencabut Sukma tentu
saja tiada terlukiskan.
"Kurang ajar! Hai,
berhenti!" teriaknya memerintah.
Tapi bayangan biru itu terus kabur
tancap gas. Dengan geram Iblis Pencabut Sukma
lemparkan tiga puluh jarum merah ke
arah simanusia berjubah biru. Yang diserang, tanpa
menoleh lambaikan tangan kirinya.
Ketiga puluh jarum merah itupun mental laksana disapu
topan!
Iblis Pencabut Sukma angkat kaki
coba mengejar. Tapi
bayangan biru sudah lenyap.
"Setan alas,” memaki dia.
"pasti perempuan laknat itu lagi!".
SEPULUH
LARINYA manusia berjubah biru itu
sangat cepat sekali laksana angin. Sampai di satu
puncak bukit, dia berhenti dan
lepaskan totokan di tubuh Sultan. Begitu siuman Sultan tentu
saja sangat terkejut mendapatkan
dirinya dikempit oleh seseorang. Ketika dia coba meneliti
paras orang itu ternyata dia
mengenakan kerudung biru. Bau tubuhnya harum semerbak,
seharum bunga melati yang tengah
mekar diambang senja! Sultan merenung sejurus. Otaknya
berputar mengingat apa yang telah
terjadi atas dirinya sebelumnya. Kemudian dicobanya
melepaskan diri dari kempitan
manusia jubah biru itu untuk turun ke tanah. Tapi bagaimanapun
kerasnya dia gerakkan badan, tetap
saja dia tiada sanggup lepaskan diri.
"Saudara, kau siapakah?,”
bertanya Sultan.
Orang itu tiada menyahut melainkan
menjelajahi seantero kaki bukit dengan sepasang
matanya yang bening.
"Saudara, kau tentu orang yang
telah menolong aku. Tapi siapakah engkau adanya?
Mohon agar diriku diturunkan,”
berkata Sultan Hasanuddin. Orang itu tetap tak menyahut.
Kemudian dia berkelebat lagi dan
tubuhnya lari lagi laksana angin ke arah sebelah timur.
"Saudara, jika kau tak
terangkan siapa kau, tidak menjadi apa. Tapi aku mohon agar
diturunkan,” berkata Sultan setelah
dirinya diajak lari kira-kira setengah jam lamanya.
Si jubah biru lari terus.
Dengan rasa penasaran Sultan
berkata. "Jika kau tidak mau turunkan aku, terpaksa aku
berlaku kasar terhadapmu!."
Namun si jubah biru berkerudung biru
tetap tak perdulikan ucapan yang mengancam itu.
Maka Sultanpun gerakkan tangan
kanannya untuk menyikut pinggang manusia jubah biru itu.
Tapi anehnya berkali-kali dia
lakukan hal itu maka tak satu hantaman sikunyapun yang berhasil
mengenai sasarannya.
"Pasti ini manusia sakti luar
bisa!" membathin Sultan Hasanuddin. "Saudara, aku ini mau
dibawa ke mana?" bertanya pula
Sultan.
Agaknya manusia berkerudung kain
habis kesabarannya karena ditanya terus menerus.
"Kau terlalu cerewet, lihat
sajalah!".
“Heh...?!”
Sultan menjadi kaget. Betapa tidak
karena orang yang membawa larinya itu ternyata
adalah seorang perempuan! Meski
suaranya agak membentak namun kemerduannya tiada sirna.
"Pantas badannya berbau
harum..," kata Sultan dalam hati. Dan bila dia menyadari bahwa dirinya di
kempit dan dibawa lari demikian rupa tentu saja Sultan menjadi malu dan tidak
enak. Dia meronta-ronta lagi. Tapi tetap tak berhasil.
Mereka kemudian memasuki sebuah
rimba belantara. Di tengah rimba belantara ini
terdapat sebuah goa dan ke dalam goa
itulah si kerudung biru membawa Sultan. Ternyata di
dalam goa tiada beda terangnya
dengan udara di luar. Gua ini panjang dan mempunyai beberapa lorong yang
bercabang-cabang, dan makin ke dalam makin menurun.
Akhirnya
mereka berhenti di satu ruang yang berbentuk kamar empat persegi. Disinilah
baru si jubah biru melepaskan dan
menurunkan Sultan. Sultan berdiri dan memandang
berkeliling.
Di salah satu dinding Sultan membaca
sebuah tulisan yang berbunyi GOA DEWI
KERUDUNG BIRU, Sultan jadi kaget dan
memandang lekat-lekat ke paras si kerudung biru
yang hanya sepasang matanya yang
bening dan berkilat saja yang kelihatan.
"Jadi saat ini aku berhadapan
dengan Dewi Kerudung Biru…?,” kata Sultan pelahan. Tapi
hatinya agak meragu.
Di dalam ruangan itu terdapat dua
buah batu hitam. Dewi Kerudung Biru pergi duduk ke
salah satu batu lalu berpaling pada
Sultan.
"Silahkan duduk Sultan,"
katanya mempersilahkan.
"Terima kasih," Sultan
duduk. "Saudari, kau belum menjawab apakah kau yang selama
ini dikenal di dunia persilatan
dengan nama julukan Dewi Kerudung Biru...?".
Yang ditanya tertawa merdu berderai
laksana taburan mutiara yang berjatuhan ke ubin.
"Itu tak perlu yang kau
tanyakan lagi, kau sudah baca apa yang tertulis di dinding itu,
bukan?". Dalam berkata begitu
sepasang matanya tiada berkesip memandangi paras Sultan,
"Ah kalau begitu sungguh tak
terduga pertemuan ini. Terima kasih atas pertolonganmu
Dewi Kerudung Biru...,"
kemudian sambungnya. "karena kau telah membawa aku ke sini,
tentulah kau mempunyai maksud
tertentu....".
"Betul"
membenarkan Dewi Kerudung Biru. "Aku tahu banyak apa yang telah terjadi
dengan
dirimu...,”
"Terima
kasih kalau Dewi telah mau ambil perhatian terhadap diriku. Mohon petunjuk
selanjutnya.....”
"Kau
harus cepat pergi ke Demak dan menemui Sultan Trenggono untuk meminta
bantuan.
Kembalilah ke Banten dengan membawa sejumlah pasukan .......".
"Memang
itu sudah menjadi rencanaku Dewi,” kata Sultan pula.
"Ya,
tapi pasukan saja tidak cukup. Parit Wulung mempunyai benggolan-benggolan silat
golongan
hitam yang sakti....''.
"Mohon
petunjuk dari Dewi...".
"Sebelum
pergi kau harus tinggal selama satu hari di sini untuk kuturunkan beberapa ilmu
silat....".
Sultan gembira sekali. "Tapi," katanya. "waktu yang sesingkat
itu apakah bisa berhasil
baik?!".
"Yang
penting dasar-dasarnya, kemudian baru latihannya dan terakhir
pelaksanaannya...”
Sultan
mengangguk. "Aku haturkan rasa hormat terhadapmu, Dewi. Mulai hari ini kau
adalah
guruku,” kata Sultan pula.
Dewi
Kerudung Biru geleng-gelengkan kepala. "Diriku tak perlu dihormati. Dan
kuharap
kau
jangan salah sangka. Kalau aku wariskan beberapa ilmu kepandaian padamu bukan
berarti aku telah menjadi guru dan kau telah menjadi murid....".
"Jadi.....?" tanya Sultan
heran.
"Semuanya adalah semata-mata
untuk menolongmu, Sultan".
"Terima kasih. Aku tak akan
melupakan kebaikanmu ini. Demikian juga dengan rakyat
Banten kelak. Cuma, untuk mengenang
wajah penolongku, untuk mengukirnya dalam ingatanku, bolehkah aku melihat paras
aslimu, Dewi Kerudung Biru…?".
Dewi Kerudung Biru tertawa lagi
seperti mutiara jatuh berderai ke lantai. Merdu sekali
suara itu membuat Sultan semakin
tambah ingin untuk melihat wajah yang ada dibalik kerudung
itu.
Namun suara tertawa yang merdu itu
segera lenyap ketika di mulut gua terdengar suara
ribut-*ribut.
"Pasti perempuan itu telah
membawa Sultan ke sini! Ayo kita selidiki ke dalam!".
Dan sesaat kemudian empat sosok
tubuh berjubah merah dan berkerudung merah muncul di
ruangan itu. Sultan terkejut sedang
Dewi Kerudung Biru mendengus di balik kerudungnya.
Salah seorang dari anggota Iblis
Pencabut Sukma berseru dan menunjuk ke muka. "Lihat!
Tidak salah keterangan Wakil Ketua
kita Sultan bersama dia!"
Anggota Iblis Pencabut Sukma yang
lain, yaitu yang berbadan tinggi langsing melangkah
ke muka. "Perempuan laknat!
Lekas serahkan rnanusia itu pada kami!". .
"He... he.... berani memaki
berani mampus kunyuk kerudung merah!" kata Dewi Kerudung
Biru pula.
"Betina edan, kau andalkan
apakah berani berkata demikian?!" membentak si tinggi
langsing. "Sebaiknya sebutkan
nama masing-masing kalian! Aku tidak biasa membunuh krocokroco
tanpa tahu namanya!".
Si tinggi langsing tertawa hambar.
Sambil mendongak dan tepuk-tepuk dada dia berkata .
"Namaku Siralaya. Gelarku
Tangan Perenggut Jiwa....!”
"Hem..bagus… bagus. Gelaranmu
boleh juga. Tapi aku anya apakah kau akan maju
seorang diri atau berempat
sekaligus?!"
Merahlah muka Tangan Perenggut Jiwa.
"Perempuan sedeng, sambut
seranganku ini!"
Tangan Perenggut Jiwa pukulkan
tangan kanannya. Berbarengan dengan itu Dewi
Kerudung Biru dorongkan pula tangan
kirinya ke depan. Si jangkung langsing Tangan Perenggut Jiwa terkejut ketika
bagaimana angin pukulannya kena didorong oleh angin pukulan lawan sehingga
membalik menyerangnya! Cepat-cepat dia menghindar kesamping.
"Siralaya, kau minggirlah. Biar
aku yang selesaikan dajal betina ini!". Anggota Iblis
Pencabut Sukma yang kedua melangkah
ke muka.
"Sebutkan namamu!" bentak
Dewi Kerudung Biru.
"Namaku tidak perlu. Tapi
gelarku adalah Si Penggoncang Langit!".
"Ho... ooo.... gelarmu
keliwatan sekali sehingga tidak cocok dengan tubuhmu yang
kontet itu! Bagusnya kau pakai gelar
Kodok Buduk!" mengejek Dewi Kerudung Biru.
Mulut Si Penggoncang Langit
berkemik. Sekali kedua tangannya bergerak maka dua
gelombang angin yang menggetarkan
ruangan itu melesat ke arah Dewi Kerudung Biru.
Hebatnya, sang Dewi yang saat itu
masih tetap duduk di atas batu keluarkan tertawa
menghina dan kebutkan tangan
kanannya. Maka runtuhlah angin pukulan Si Penggoncang
Langit!
Penasaran sekali anggota Perkompulan
Iblis Pencabut Sukma ini melompat ke muka. Dua
tangan terpentang lebar dan bergerak
bersamaan dalam satu gerakan yang sukar dilihat oleh mata!
"Manusia busuk macam kau tidak
pantas dekat-dekat padaku!" bentak Dewi Kerudung
Biru. Tangan kanannya memukul. Si
Penggoncang Langit mencelat empat tombak terguling di
tanah, mengeluarkan suara seperti
orang muntah, tapi yang keluar dari mulutnya adalah semburan darah segar!
Dalam keadaan begini Si Penggoncang
Langit segera keruk saku jubah merahnya,
keluarkan sebuah pil, menelannya
dengan cepat lalu bersemedi pula dengan cepat dalam cara
yang aneh yaitu kepala ke bawah kaki
ke atas!
Melihat dua kawannya dibikin kalah
mentah-mentah maka majulah anggota Perkumpulan
Iblis Pencabut Sukma yang ketiga.
Manusia ini berbadan gemuk.
"Dewi Kerudung Biru, aku tak
akan kasih tahu nama juga tak perlu sebutkan gelaranku
padamu. Tapi jika kau berpemandangan
dan berpengalaman luas lihat seranganku ini!". Sigemuk ini menutup
kata-katanya dengan gerakkan dua tangannya. Maka enam pisau terbang merah melayang
ke arah enam bagian tubuh. Dewi Kerudung Biru! Diam-diam Sultan terkejut melihat
kehebatan serangan pisau ini. Dia khawatir kalau Dewi Kerudung Biru tak sanggup
mengelakkan
keenam pisau itu sekaligus!
Tapi anehnya yang diserang ganda
tertawa semerdu perindu. Pisau terbang yang
pertama
ditangkapnya dengan tangan kanan.
Kemudian senjata ini dipergunakannya untuk menangkis
lima pisau terbang lainnya sehingga
pisau yang di tangan maupun yang ditangkisnya patah dua
dan bermentalan!
Terbeliaklah mata keempat anggota
Iblis Pencabut Sukma itu. Lebih-lebih Si Pisau
Terbang. Selama hidup baru kali ini
dia melihat serangan pisau-pisau terbangnya dihancurkan
demikian rupa! Dan dalam terkejutnya
itu dia melihat Dewi Kerudung Biru lemparkan kuntungan
pisau kearahnya. Cepat-cepat Si
Pisau Terbang berkelit tapi luput! Kuntungan pisau masih
sempat menyambar telinga kirinya.
Dan putuslah daun telinga laki-laki itu! Senjata makan tuan!
Darah berlelehan. Dewi Kerudung Biru
tertawa cekikikan!
Kalap sekali maka berserulah Si
Pisau Terbang. "Kawan-kawan mari kita kermus dajal
betina ini!".
Maka menyerbulah keempat anggota
Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma itu. Melihat
sang Dewi dikeroyok begitu rupa
Sultan Hasanuddin tak tinggal diam. Dia menerjang ke muka
dan lancarkan satu serangan cepat ke
arah Tangan Perenggut Jiwa. Namun disaat itu Dewi Kerudung Biru menyibakkan
badannya kesamping dengan berkata. "Sultan, kau tenang-tenang
sajalah. Tak perlu susah-susah
mengotorkan diri terhadap kroco-kroco bau tengik ini!".
Sultan merasa tidak senang. Walau
bagaimanapun saktinya Si Kerudung Biru namun
pengeroyokan
curang demikian rupa bertentangan dengan hati kesatrianya. Untuk kali kedua dia
hendak menyerbu kembali. Namun disaat itu, terdengar jeritan Si Penggoncang
Langit. Tubuhnya mencelat ke atas ruangan batu. Kepalanya hancur. Belum lagi
tubuh Si Penggoncang Langit sampai ke lantai maka terdengar pekik anggota
Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma yang kedua.
Tulang
dadanya melesak ke dalam, iga-iganya putus!
Si
Pisau Terbang dan Tangan Perenggut Jiwa mengamuk habis-habisan. Dua puluh jurus
berlalu
sangat cepat. Dalam dua puluh jurus itu keduanya terus menerus mendesak
Dewi
Kerudung Biru dengan hebat. Ruangan
bergoncang laksana dilanda lindu! Tiba-tiba Dewi
Kerudung Biru melengking keras.
"Iblis-iblis bau kentut! Minggatlah ke neraka!".
Sepasang tangan sang Dewi yang halus
tapi mengandung hawa kematian yang dahsyat
membagi serangan dalam jurus dahsyat
bernama "sepasang tangan menebar maut".
Si Pisau Terbang dan Tangan
Perenggut Jiwa tiada kesempatan lagi untuk mengelak.
Menangkis mereka tiada punya nyali.
Menghadapi maut di depan mata ini maka menjeritlah
keduanya!
Namun disaat itu pula dari luar
terdengar suara menggeledek. "Manusia yang berani
menghina anggota Perkumpulan adalah
korbanku yang kedua ratus!". Begitu suara habis maka
dua larik sinar merah yang panas
menyembur ke arah Dewi Kerudung Biru!
SEBELAS
SULTAN melompat ke samping untuk
hindarkan sambaran sinar merah sedang Dewi
Kerudung Biru sebaliknya malah
pentang kedua tangan dan mendorong ke muka. Pertemuan yang dahsyat dari dua
aliran pukulan menimbulkan goncangan yang hebat laksana dunia ini mau kiamat!
Dewi Kerudung Biru berdiri tergontai
seketika sedang lawan yang lepaskan pukulan tadi,
yang saat itu hendak masuk ke dalam
goa, terdorong kembali keluar mulut goa kena diterpa angin pukulan Dewi Kerudung
Biru!
Sesaat
kemudian ketika manusia yang di luar goa itu masuk ke dalam ternyata dia adalah
Wakil
Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma. Di belakangnya menyusul satu lusin
anggota
lainnya.
Dengan
marah, Wakil Ketua Iblis Pencabut Sukma itu membentak. "Pisau Terbang dan
Tangan
Perenggut Jiwa, kalian memalukan saja tidak sanggup menghadapi betina galak
ini. Biar aku yang jinakkan dia!".
Habis
berkata begitu maka Iblis Pencabut Sukma segera lancarkan jurus "menendang
langit
menjungkir
awan"! Tidak sampai di situ saja maka dia susul serangan itu dengan
taburan pukulan kipas merah! Betul-betul dua jurus yang sangat menggetarkan dan
luar biasa!
Dewi
Kerudung Biru berkelebat cepat. Mulutnya terbuka.
"Huaaah....!".
Dari
mulut sang Dewi menyembur sinar biru yang dahsyat.
Iblis
Pencabut Sukma terkejut. Bukan saja dua jurus serangannya tadi menjadi buyar,
tapi
serangan
lawan dengan hebatnya terus menyerang kearahnya.
"Asap
kencana biru!,” seru Iblis Pencabut Sukma dengan kaget. Cepat sekali dia melesat
enam tombak ke atas. Sewaktu turun
dia sudah cabut sebilah pedang merah kemudian sambil
menyerang dia berteriak.
"Anak-anak, ayo tunggu apa lagi?!". Mendengar ini maka semua anggota Perkumpulan
Iblis Pencabut Sukma segera menyerbu. Sultan lagi-lagi
hendak turut membantu sang Dewi, namun setiap saat dia gerakkan badan, setiap
kali pula Dewi Kerudung Biru mendorongnya ke belakang sehingga dia tak bisa berbuat apa-apa!
Dewi Kerudung Biru sungguh luar
biasa dalam bertahan dan menyerang. Namun lawanlawannya banyak sekali, apalagi
di bawah pimpinan Wakil Ketua mereka! Sesudah tiga puluh jurus berlalu maka
sang Dewi mulai terdesak. Dua anggota Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma berhasil
ditewaskannya namun serangan-serangan lawan bukannya mengendur melainkan
bertambah dahsyat. Diam-diam Sultan menjadi gelisah. Kali ini sang Dewi pasti
tak bisa bertahan lebih dari sepuluh jurus lagi, pikirnya. Maka pada saat Dewi
Kerudung Biru sibuk menghadapi lawannya, terbungkus oleh sinar pedang merah
dengan cepat Sultan menerjang ke muka. Bantuan Sultan dalam lima jurus di muka
sanggup mengimbangi lawan-lawan yang lihay itu. Namun lambat laun mulai
mengendor. Bersama sang Dewi kembali keduanya terdesak!
Dewi
Kerudung Biru semburkan lagi "asap kencana biru"nya. Namun angin
pedang merah
di
tangan Wakil Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma dengan hebatnya berhasil
membuyarkan
asap sakti itu!
"Betina
galak! Sekarang terimalah kematianmu!" bentak Iblis Pencabut Sukma. Dia
memberi
isyarat pada anak-anak buahnya. Berbarengan mereka sama angkat tangan kanan ke
atas siap untuk lancarkan pukulan "pencabut sukma". Satu pukulan
"pencabut sukma,” saja dahsyatnya bukan main, apalagi sekaligus duabelas
pukulan, dapat dibayangkan bagaimana luar biasa kehebatannya! Dewi Kerudung
Biru pentang kedua lengannya dan putar tubuh laksana baling-baling.
Mulutnya tiada henti
menghembus-hembus mengeluarkan asap biru. Satu detik lagi maka
duabelas tangan lawanpun ditarik ke
belakang!
Dalam suasana yang diliputi seribu
ketegangan itu, tiba-tiba mengaunglah suara seperti
suara seribu tawon mendengung. Di
antara dengungan itu melengking pula suara siulan yang
disusul oleh berkiblatnya seputaran
sinar putih menyilaukan mata!
Tiga anggota Perkumpulan Iblis
Pencabut Sukma, termasuk Tangan Perenggut Jiwa
terpekik dan rebah ke lantai mandi
darah. Selarik sinar putih yang disertai raungan dahsyat kembali berkiblat dan
Wakil Ketua Perkumpulan Pencabut Sukma dan anak-anak buahnya terpaksa
batalkan serangan dan melompat ke
satu pojok.
"Pendekar 212!" terdengar
seruan Sultan begitu dia kenali siapa adanya pendatang baru itu.
Dewi Kerudung Biru sendiri memandang
pada dengan sinar mata yang
berkilat-kilat.
Di balik pandangan mata itu seperti
ada sesuatu yang disembunyikannya. Wakil Ketua
Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma dan
anggota-anggota lainnya memandang menyorot penuh
amarah.
Pendekar 212 sunggingkan senyum di wajahnya yang keren
sedang tangan
kanannya mempermainkan Kapak Maut
Naga Geni 212. Melihat pada angka 212 yang tertera pada dua mata kapak di
tangan si pemuda maka berkatalah Wakil Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma,
sambil melintangkan pedang di muka dada. "Jadi kaukah yang selama ini
dijuiuki Pendekar 212
itu...?!".
Jawaban hanya tertawa mengekeh.
"Orang
gendeng, apa kau sudah bosan hidup mau campur urusan orang lain....?!,” tanya
Wakil
Ketua Iblis Pencabut Sukma.
"Atau
mungkin masih belum tahu tengah berhadapan dengan siapa saat ini?!" ujar
Si Pisau
Terbang.
"Siapapun
kalian adanya tak lebih dari babi-babi cacingan yang diberi berjubah dan
berkerudung
merah!,” ejek Pendekar 212 pula!
Marahlah Si Pisau Terbang. Tanpa
banyak cerita dia lepaskan sekaligus selusin pisau
terbang beracun ke arah Pendekar
212. gerakkan Kapak Maut Naga Geni 212
membuat
setengah lingkaran.
"Tring...
tring.... tring...".
Kedua belas pisau terbang itu musnah
patah-patah. Melototlah mata Si Pisau Terbang. Dia
menyurut undur dua langkah.
"Pisau Terbang, kau minggirlah.
Biar aku
yang antarkan manusia bosan hidup ini ke pintu
gerbang
akhirat!”
Wakil
Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma maju dua langkah. Sultan Hasanuddin
dengan
ilmu menyusupkan suara beri peringatan pada Pendekar 212. "Sobat,
hati-hatilah
terhadapnya.
Dia sakti sekali!"'
Begitu
peringatan Sultan berakhir maka Wakil Ketua Iblis Pencabut Sukma telah
lancarkan
serangan
pedang merah dalam jurus yang luar biasa. Jurus ini sekaligus merupakan empat
tebasan dan empat tusukan!
"Ah
cuma ilmu pedang picisan saja mau diandalkan," Ejek Wiro. Kapak Naga Geni
ditangannya menderu. Wakil Ketua
Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma tiada berani mengadu
senjata. Hatinya tergetar ketika
merasakan bagaimana sinar putih senjata lawan membuat
pedangnya tak bisa bergerak leluasa.
Manusia ini membatin. "Celaka, paling lama aku hanya bisa layani si
keparat ini dalam dua puluh lima jurus!". Dan dia segera putar otak untuk
cari kesempatan larikan diri!
Pendekar 212 yang tahu gelagat lawan
segera lancarkan serangan ganas. Wakil Ketua
Perkumpulan. Iblis Pencabut Sukma
angsurkan pedang merah kemuka untuk menangkis karena bertindak berkelit tiada
punya kesempatan lagi.
"Trang"!
Maka patahlah pedang merah Wakil
Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma itu!
Keringat
dingin memercik di kening manusia iblis ini! Nyalinya lumer! Sambil angkat
tangan
kanannya
tinggi-tinggi ke atas untuk lepaskan pukulan yang sangat diandalkannya yaitu
pukulan pencabut sukma, maka dia berseru pada sisa-sisa anak
buahnya.
"Kalian jangan mematung saja!
Mari sama kita bereskan anjing kurap ini!'".
Maka delapan anggota Perkumpulan
Iblis Pencabut Sukma dengan membentak dahsyat
segera menerjang ke muka dan
langsung lancarkan pukulan pencabut sukma!
"Wiro! Awas! Mereka hendak
lepaskan pukulan pencabut sukma!" seru Dewi Kerudung
Biru. Bahwasanya sang Dewi
mengetahui namanya inilah satu hal yang mengejutkan Pendekar 212 !
Keterkejutan ini membuat dia menjadi
lengah seperempatan detik. Dan itu sudah
cukup bagi Wakil Ketua Iblis
Pencabut Sukma serta anak-anak buahnya!
"Mampuslah!"
Dewi
Kerudung Biru menjerit! Sultan sendiri pucat
lesi parasnya Tiba-tiba Pendekar 212
meraung laksana halilintar. Dia
melompat ke muka Kapak naga Geni 212 menderu. Empat suara pekikan seperti mau
memecahkan anak telinga. Empat anggota Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma terkapar dengan tubuh
hampir kuntung! Pendekar 212 ayunkan Kapak Naga Geni 212 sekali lagi, namun
disaat itu Wakil Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukmat dan sisa-sisa anak
buahnya sudah lenyap larikan diri keluar goa.
Pendekar
212 bediri nanar. Sultan melompat ke muka dan merangkul tubuh Wiro. Di balik
kerudungnya
Dewi Kerudung Biru menggigit bibir. Sepasang matanya yang jeli dipejamkan.
Wiro
ambil sebutir pil dari saku pakaiannya lalu ditelan dengan cepat. Dewi Kerudung
Biru kemudian berdiri dan kedua tangannya ditekankan ke bahu Pendekar 212 untuk
alirkan tenaga dalam guna bantu menyembuhkan luka yang diderita Pendekar itu.
Namun sesaat kemudian Pendekar 212 mengerang halus lalu pingsan tiada sadarkan
diri!
DUA BELAS
SULTAN cemas sekali melihat keadaan
Pendekar 212 demikian rupa. Bersama Dewi
Kerudung Biru, Wiro dibaringkan di
lantai, kepalanya diganjal dengan sehelai kain yang
dilipat-lipat.
"Dewi, apakah… apakah
dia…?" Sultan tak bisa meneruskan pertanyaannya.
Dewi Kerudung Biru hela nafas.
"Sebenarnya aku yang salah karena aku telah berseru
memanggil namanya tadi,"
berkata perempuan itu. Dihelanya lagi satu kali nafas dalam. "Tapi
lukanya tak begitu parah. Besok pagi
dia sudah sembuh kembali. Untung saja berilmu tinggi,
kalau tidak keseluruhan isi perutnya
pasti akan berbusai ke luar dari mulut."
"Dewi, kau tahu nama pemuda
ini. Apakah kalian pernah kenal sebelumnya...?"
Dewi Kerudung Biru elakkan
pertanyaan itu dengan balik menanya. "Kau sendiri punya hubungan apa
dengan dia…?"
Maka
Sultan Hasanuddin menuturkan mulai pertama kali dia kenal dan ditolong oleh
Pendekar
212. Mendengar itu kembali sepasang mata Dewi Kerudung Biru berkilat-kilat. Dan
hal
ini diam-diam diperhatikan oleh Sultan sehingga dia merasa yakin pastilah ada
hubungan
apa-apa antara Dewi Kerudung Biru
dengan Pendekar 212 sebelumnya. Tapi untuk bertanya
lebih jauh Sultan merasa segan.
"Dia memang sakti sekali,
Sultan,” berkata sang Dewi. "Sikapnya kadang-kadang lucu
tapi juga menyakitkan hati. Bahkan
banyak orang yang menyangka dia kurang sehat pikiran.
Tapi hatinya sepolos permata,
seputih kertas, jujur. Beberapa tokoh persilatan telah
meramalkan bahwa kelak dikemudian
hari dia bakal merajai dunia persilatan…"
Sultan Hasanuddin manggut-manggut.
"Sultan, dalam hal ini kita tak
punya waktu lama. Aku akan ajarkan padamu beberapa
jurus ilmu silat dan ilmu asap
kencana biru… "
"Aku haturkan ribuan terima
kasih Dewi," kata Sultan dengan gembira.
"Silakan duduk bersila dan
pejamkan mata," Dewi Kerudung Biru berkata.
Sultan menurut. Dia duduk bersila
dan pejamkan mata. Dewi Kerudung Biru kemudian
salurkan tenaga dalamnya ke tubuh
Sultan melalui pundak. Selesai menerima saluran tenaga
dalam itu Sultan merasakan tubuhnya
sangat enteng dan segar bugar. "Sekarang aku akan
ajarkan padamu dua jurus ilmu silat.
Dua jurus ilmu silat ini hanya empat orang yang pernah
memilikinya. Yaitu Pendekar Seberang
Lor, Resi Warajana, Dewi Kencana Wungu. Ketiganya
sudah meninggal. Aku adalah
pewarisnya yang keempat dan bila kuajarkan dua jurus itu
kepadamu maka kau adalah perwaris
yang kelima! Jurus yang pertama ialah jurus naga kepala
seribu mengamuk. Yang kedua, jurus
Cakar garuda emas. Keduanya merupakan jurus-jurus
yang sukar dicari bandingannya dalam
dunia persilatan. Jika kau benar-benar meyakininya, percayalah tidak sembarang
musuh bisa melayanimu."
"Terima kasih Dewi… ribuan
terima kasih. Jadi kalau begitu Dewi adalah murid dari
Dewi Kencana Wungu…?"
Sang Dewi mengangguk. "Mari
kita mulai,” katanya.
Karena Sultan sebelumnya sudah
mempunyai dasar ilmu silat yang tinggi juga maka
kedua jurus yang diajarkan padanya
itu dengan mudah dan cepat bisa dipahaminya. Dewi
Kerudung Biru gembira sekali.
Kemudian kepada Sultan diajarkan pula ilmu Asap
kencana biru. Ilmu ini agak sukar
mula-mula dipahami oleh Sultan namun karena
tekunnya beberapa jam kemudian dia
berhasil juga menguasainya.
"Kecerdasanmu luar biasa sekali,
Sultan,” kata Dewi Kerudung Biru. "Malam ini,
sampai esok pagi teruslah
berlatih."
"Nasihat Dewi akan
kuperhatikan,” jawab Sultan. Dan malam itu, seorang diri
Sultan melatih diri. Dewi Kerudung
Biru sementara itu duduk bersemadi. Meskipun dia
pejamkan mata namun bila ada
jurus-jurus yang agak salah dilakukan oleh Sultan dia mengetahuinya dan segera
menegur !
Keesokan paginya…
Di luar gua burung-burung berkicau
bersahut-sahutan menyambut kedatangan pagi
yang ditandai munculnya sang surya
di ufuk timur. Di dalam gua Sultan tengah duduk
berhadap-hadapan
dengan Dewi Kerudung Biru.
"Yakini
dan pelajari terus ilmu-ilmu yang telah kau milik itu Sultan. Kelak
kemudian
hari kau akan buktikan sendiri kemanfaatannya. Sekarang, selagi hari masih
pagi, selagi udara masih segar, maka
segeralah berangkat ke Demak. Dalam semediku
malam tadi aku mendapat sedikit
renungan petunjuk dari Yang Kuasa bahwa kekuasaan
kaum pemberontak yang kini bercokol
di Banten tidak akan lama....”
Sultan mengangguk. Dia memandang
pada tubuh Pendekar 212 yang sampai saat
itu masih juga terbaring dalam
pingsannya. "Bagaimana dengan sshabatku ini, Dewi?
Kalau bisa aku ingin berangkat
bersama-sama dia...”
Dewi Kerudung Biru menggeleng.
"Dalam rencana untuk menumpas kaum
pemberontak, dalam usaha menegakkan
yang benar dan menghancurkan yang bathil,
kalian berdua sama satu tekat dan
satu hati. Namun dalam mencapainya masing-masing
kalian mempunyai cara tersendiri.
Harap kau bisa merenungi hal ini, Sultan…”
Sultan
Hasanuddin termenung sejenak. Memang ucapan Dewi Kerudung Biru itu
dapat
dipahaminya.
Dia
memandang lagi pada . "Apakah dia akan segera siuman dan sembuh kembali,
Dewi?" bertanya Sultan.
Sang
Dewi mengangguk.
"Mengenai
diri Andjarsari dan , bisakah kau memberi petunjuk…?"
"Andjarsari
diculik oleh komplotan Iblis Pencabut Sukma, juga mereka yang mencurinya…”
"Kalau
begitu,” kata Sultan dengan kepalkan tinju. "aku akan cari sarang
mereka...!"
Dewi
Kerudung Biru gelengkan kepala. "Selain besar
bahayanya juga kau mesti pergi ke Demak sekarang
juga Sultan."
"Aku tidak takut mati!,” kata
Sultan jantan. "Aku rela korbankan jiwa demi
tegakkan Kerajaan Banten yang syah
kembali."
"Aku puji hati kesatriaan dan
kecintaanmu pada Kerajaan Banten, Sultan. Tapi
ingat, agaknya caramu untuk mencapai
rencana itu hanya dengan mengikuti kehendak hati
sendiri. Salah-salah kau bisa celaka
dan Banten tetap dikuasai oleh kaum pemberontak
Parit Wulung."
"Kalau begitu katamu, aku
menurut,” ujar Sultan Hasanuddin akhirnya. "Tapi
sebelum pergi perkenankanlah aku
melihat parasmu."
Dewi Kerudung Biru menggeleng.
"Sayang, masih belum.saatnya aku
mengabulkan permintaanmu Sultan.
Harap dimaafkan."
Sultan Hasanuddin menghela nafas
dalam. Dia ucapkan lagi rasa terima kasih yang
sebesar-besarnya.
"Jasa dan pertolonganmu akan
kuingat, akan dikenang oleh rakyat Banten. Disatu ketika
aku akan datang lagi menyambangimu,
Dewi,” Sultan memanggut memberi hormat lalu
meninggalkan tempat itu.
Kira-kira tiga kali sepeminuman teh
lamanya Sultan meninggalkan Goa Dewi
Kerudung Biru maka dihadapan jalan
yang ditempuhnya tahu-tahu muncullah tiga orang
penunggang kuda. Ketiganya berjubah
dan berkerudung kain merah darah. Anggota-anggota
Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma!”
Sesaat kemudian merekapun
berhadap-hadapanlah.
Anggota Perkumpulan Iblis Pencabut
Suma yang paling muka buka suara membentak,
"Lekas mengaku, apa kau Sultan
Banten yang melarikan diri itu?!"
Kawannya yang lain menyela.
"Melihat kepada tampangnya pasti tidak salah lagi! Ayo
kawan-kawan mari kita berebut pahala
meringkus manusia ini!"
Maka ketiga anggota Perkumpullan
Iblis itu pun melompatlah dari kuda masingmasing.
Sambil melompat ketiganya sekaligus
keluarkan jurus warisan Ketua mereka yang
dinamai "tiga pasang lengan
meremas tangkai bunga teratai" Yang satu datang dari atas, yang
kedua dari depan dan yang terakhir
dari belakang! Tapi Sultan yang sekarang jauh berbeda dengan Sultan sehari
sebelumnya.
Sekali Sultan membentak maka
terpentanglah kedua tangannya yang mana disusul
dengan gerakan sebat laksana ribuan
ekor naga menyengat kian ke mari !
Melihat ini, terkejutlah ketiga
penyerang. Buru-buru mereka batalkan serangan jurus
pertama dan menyusul dengan jurus
"memukul kasur menggeprak bantal!" Ini adalah satu jurus
yang cukup lihay. Anggota
Perkumpulan Iblis yang di atas hantamkan dua telapak tangannya
sekaligus sedang yang di depan dan
di belakang kirimkan pukulan keras ke dada dan ke
punggung. Tak ayal lagi Sultan
segera praktekkah ilmu yang baru diyakininya dari Dewi
Kerudung
Biru yaitu keluarkan jurus "cakar garuda emas!"
"Brettt...
bret!"
"Kurang
ajar! Matipun kau masih cukup pantas untuk diserahkan kepada Ketua kami!"
bentak
anggota Perkumpulan Iblis yang sempat selamatkan diri. Dia memberi isyarat pada
dua
kawannya.
Serentak ketiganya menyerbu dan angkat tangan kanan tinggi-tinggi. Namun
sebelum
pukulan "pencabut sukma" itu sempat mereka laksanakan. Sultan buka
mulutnya dan
asap
biru menggebubu ke arah ketiga penyerangnya.
"Asap
kencana biru!" seru salah seorang anggota Perkumpulan Iblis dengan
terkejut.
Buru-buru dia tutup jalan nafas.
Tapi dua orang kawannya terlambat. Begitu tercium oleh
keduanya kepulan asap biru yang
mengandung racun itu maka hancurlah pembuluh-pembuluh
darah dan pecahlah paru-paru mereka.
Keduanya mati di situ juga!
"Pemuda, ada hubungan apa kau
dengan Dewi Kerudung Biru? Apakah kau
muridnya?!" bentak anggota
Perkumpulan Iblis yang masih hidup.
Sultan kertakkan rahang. Tubuhnya
berkelebat. Dua tangan terpentang lebih dahsyat
dari yang pertama tadi dan
"brak"! Hancurlah mulut yang membentak itu! Tubuh anggota
Perkumpulan Iblis itu kelojotan
sebentar lalu kaku tegang untuk selamalamanya !
TIGA BELAS
KETIKA , siuman dari pingsannya
dirasakannya kepalanya dipangku oleh
satu paha yang panas sedang
hidungnya mencium bau harum menyegarkan. Dibukanya matanya dan pandangannya
membentur sebuah wajah yang ditutupi kerudung kain biru. Terkejutlah pemuda
ini. Cepat-cepat dia bangun dan berdiri. Di balik kerudungnya, Dewi Kerudung
Biru menjadi
kemerah-merahan pipinya, memandang berkeliling. Ruangan itu telah bersih dari
mayat-mayat anggota Pepkumpulan IbIis Pencabut Sukma. Sultan sendiri tiada kelihatan.
"Kemana dia...?!" tanya
Wiro.
"Dia siapa...?"
"Sultan!"
"Sudah pergi pagi tadi. Pergi
ke Demak!" Pendekar 212 memandang lama-lama ke muka
yang ditutup kerudung itu. Suara
perempuan di hadapannya ini rasanya pernah didengar dan
dikenalinya sebelumnya tapi lupa di
mana!
Ketika ingat bahwa perempuan itulah
yang telah menolongnya, maka Pendekar 212-pun
segera menjura.
"Dewi Kerudung Biru, aku
haturkan-terima kasih atas pertolonganmu. Di lain hari kelak
aku akan balas budi baikmu
itu."
"Aku tak mengharapkan balasan
apa-apa…". Dan Dewi Kerudung Biru memandang ke
jurusan lain ketika untuk kesekian
kalinya mata Pendekar 212 memperhatikan sepasang matanya lakat-Iekat. Dadanya
bergetar. Ditahannya gelora hatinya.
Melihat sikap sang Dewi, ingat bahwa
dia pernah mengenali suara perempuan itu
sebelumnya maka inginlah Wiro
melihat paras di balik kerudung itu. Namun diajukannya dulu
pertanyaan. "Dewi, mungkin kau
bisa memberi petunjuk di mana Andjarsari dan keris Tumbal
Wilayuda berada…?"
"Andjarsari diculik oleh
komplotan Iblis Pencabut Sukma. juga
ada pada mereka. Kau harus cepat
turun tangan Pendekar 212!"
"Tapi dunia begini luas, dimana
aku akan cari mereka?"
"Komplotan itu bersarang di
Lembah Batu Pualam...!”
"Terima kasih atas keteranganmu
Dewi,” Wiro merenung sejenak. Tiba-tiba dia ingat
sesuatu. "Dewi Kerudung Biru,
sewaktu aku bertempur melawan anggota komplotan itu kau telah berseru menyebut
namaku. Tahu dari manakah...?"
Tergetarlah hati sang Dewi mendengar
pertanyaan ini. Dengan memandang kejurusan
lain menjawablah dia . "Nama
seorang pendekar tentu saja dikenal sampai ke mana-mana…" ,
"Aku bukan pendekar apa-apa..,”
kata Wiro merendah. "Dan terus terang saja aku rasa-rasa
pernah bertemu dengan kau
sebelumnya. Aku masih bisa ingat dan mengenali suaramu…"
Dewi Kerudung Biru tundukkan wajah.
Matanya yang jeli dan bercahaya kini kelihatan
redup dan diambangi air mata.
Ditekannya perasaannya yang menggelora. Dikerahkannya tenaga dalamnya agar
tidak gemetar suaranya.
"Tidak . . . kita tak pernah
bertemu sebelumnya Pendekar 212. Dan di dunia ini mungkin saja ada beberapa
manusia yang punya suara hampir bersamaan ...." maju satu langkah.
"Dewi, kalau kau tak mau berterus
terang, kasihlah tahu saja siapa namamu sebenarnya."
"Kau sudah tahu."
"Ah… Dewi Kerudung Biru itu
hanya nama gelaran belaka…,” jawab Wiro pula.
"Di lain hari mungkin aku baru
bisa beri tahu nama. Sekarang harap kau suka
tinggalkan tempat ini.
Tapi pemuda itu tetap berkeras.
"Dengar Dewi, setiap orang yang pernah menolong aku,
musti kuketahui siapa dia adanya.
Kalau kau tak mau kasih tahu nama tak apa. Namun apakah
kau juga tak sudi buka kerudung itu
sebentar dan memperlihatkan paras…?"
Dewi Kerudung Biru menghela nafas.
"Itu juga tak perlu. Kau akan menyesal…"
"Menyesal kenapa?"
"Kau akan terkejut karena
mukaku sangat buruk dan mengerikan…".
"Muka yang buruk tapi hati yang
polos dan berbudi seribu kali lebih baik dari wajah
bagus
dan hati busuk jahat."
"Permintaanmu
tak dapat kukabulkan,” kata Dewi Kerudung Biru dengan ketegasan
yang
dipaksakan.
Pendekar
212 maju lebih dekat. "Kalau begitu..,” katanya, "harap maafkan
karena aku
terpaksa
melakukan ini". Wiro ajukan tangan hendak membuka kerudung penutup wajah.
"Apakah
seorang ksatria bersikap sekurang ajar dan tak tahu peradatan?!,” bentak Dewi
Kerudung
Biru.
Tangan
Wiro tertahan seketika. Tapi karena perempuan
itu dilihatnya tiada menjauhkan
kepalanya maka diteruskannya
niatnya.
“Sret!”
Terbukalah kerudung biru itu!
Dan terbeliaklah mata Pendekar 212.
“Anggini.!,” serunya.
Ternyata paras di balik kerudung itu
adalah paras seorang gadis jelita. Gadis jelita yang
dulu pernah dikenal oleh Pendekar
212 sebagai murid Dewa Tuak! (Baca. "Maut Berjanji di
Pajajaran").
Untuk beberapa lamanya kemudian hanya bisa berdiri terlongong-longong
sedang Anggini sendiri tundukkan
kepalanya coba menyembunyikan sepasang
matanya yang berkaca-kaca dan juga
sembunyikan parasnya yang membayangkan perasaan
serta gelora hatinya. Selama
beberapa bulan dia telah berkelana untuk mencari Pendekar 212
dan baru hari itu mereka jumpa dalam
satu suasana yang tak terduga!
"Apakah dia dapat memaklumi
bagaimana perasaan hatiku terhadapnya?" membathin
Anggini atau Dewi Kerudung Biru.
"Ini adalah satu hal yang tak
terduga. Anggi...ni…,” desis Wiro.
Anggini anggukkan kepala. "Ya,
suatu hal yang tak terduga..,” suaranya yang rawan
ditindihnya dengan tenaga dalam
sehingga getaran hatinya tiada kentara oleh si pemuda.
"Tapi ini adalah juga merupakan
hal yang menggembirakan,” ujar Pendekar 212 pula.
"Ilmumu maju pesat sekali.
Siapa yang menduga kalau Dewi Kerudung Biru itu nyatanya
adalah engkau sendiri…?!"
Karena Anggini diam saja dan masih
tundukkan kepala maka bertanyalah Wiro. "Aku
tak mengerti, mengapa tadi kau
sengaja mengatakan parasmu buruk…”
"Ah..... Anggini tarik nafas
dalam.
Pendekar 212 merenung sejenak.
Terkenang dia pada satu malam beberapa bulan yang
lewat ketika dia berada berdua-duaan
dengan Anggini yaitu sehabis pertempuran di Gua
Sanggreng.
"Selama waktu ini tentu kau
telah menuntut ilmu pada seorang guru sakti. Bukankah
demikian…?"
Anggini mengangguk.
"Rupanya kau kurang begitu
senang dengan pertemuan ini, Anggini?" tanya Wiro
Sableng.
"Jangan menduga yang
bukan-bukan, Wiro..,” jawab Anggini dan dalam hatinya dia
menambahkan. "Kalau kau tahu
perasaanku terhadapmu…"
Setelah termanggu sejurus maka
berkatalah Wiro. "Malam menjelang pagi tempo hari
itu menyesal aku terpaksa
meninggalkan kau... Apakah kau sudah kembali dan bertemu dengan gurumu Dewa
Tuak...?"
Dewi Kerudung Biru menggeleng.
"Kenapa . . .?"
"Mana mungkin aku kembali jika
tidak memenuhi perintahnya tempo hari...?" Habis
mengucapkan kata-kata itu memerahlah
kedua pipi Anggini karena jengah.
tertawa. "Ho-oh, jadi rupanya cerita itu
masih belum juga selesai sampai
sekarang... Wiro geleng-gelengkan
kepala.” (Sebagaimana diketahui-dalam episode "Maut Bernyanyi di
Pajajaran,” guru Anggini yaitu Dewa Tuak berniat keras untuk menjodohkan
Anggini dengan Pendekar 212. Tentu saja Pendekar 212 tidak mau. Setelah terjadi
beberapa jurus pertempuran yang sengaja ditimbulkan oleh Dewa Tuak kemudian
memerintahkan Anggini untuk mencari Pendekar 212 dan muridnya itu tidak
diperkenankan kembali kepertapaan, kecuali dengan membawa Pendekar 212 sebagai
calon suaminya)
"Semustinya kau kembali ke
tempat gurumu, Anggini. Siapa tahu dia telah merubah
niatnya yang kurang bisa diterima
itu...!"
"Aku tahu sifat guruku, Wiro.
Sekali dia kasih perintah tak bakal ditariknya kembali!
Dari jika aku tak bisa melaksanakan
perintahnya pulang ke pertapaan berarti hanya untuk
terima hukuman.
"Dan karena itu kau tak
kembali-kembali kesana . . . ?" .
"Ya,” lalu tanpa diminta gadis
itupun memberi penuturan. "Pagi sesudah kau pergi itu,
aku terus mencarimu sampai berbulan-bulan
hingga pada suatu hari aku bertemu dengan dua
orang penunggang kuda berkerudung
dan berjubah merah. Ternyata dia adalah Ketua
Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma dan
seorang anak buahnya. Kau sudah lihat bagaimana keganasan komplotan mereka.
Meskipun tak ada silang sengketa namun mereka dengan sengaja mencari gara-gara
hendak meringkusku. Anak buah Iblis itu berhasil kubunuh tapi untuk menghadapi
Ketua Iblis Pencabut Suma aku tiada mampu. Dalam keadaan ditotok kemudian diriku
dilarikan ke sarang mereka di Lembah Batu Pualam, Aku dimasukkan ke sebuah kamar…"
Sampai di sini Anggini tak
meneruskan kalimatnya. Ditelannya nafasnya beberapa kali.
Air mata yang sejak tadi mengambang
ke pipinya yang kemerahan. Wiro sendiri merasa
dadanya dan nafasnya seperti
menyesak. Mungkin selama ini baru kali di saat itulah dia berada
dalam suatu keadaan yang serius
demikian rupa. Sifat dan sikapnya yang selama ini selalu lucu
jenaka lenyap ditelan gelombang
perasaan setelah mendengar penuturan Anggini, penuturan
yang
masih belum habis.
Dengan
menguatkan hatinya maka Anggini kemudian meneruskan penuturan. "Ketua
Iblis
Pencabut Sukma laknat itu hendak meperkosaku. Kemudian diriku akan
diteruskannya
pada
bawahan-bawahannya. Tapi Tuhan masih melindungiku. Sebelum Ketua Perkumpulan
laknat
itu berhasil melampiaskan maksud terkutuknya, seorang nenek-nenek sakti
menerobos
masuk
ke dalam kamar dan melarikanku…"
Anggini
menarik nafas dalam seketika lalu meneruskan. "Ternyata nenek-nenek sakti
itu
adalah Dewi Kencana Wungu. Aku dibawanya kepertapaannya dan diambilnya menjadi
murid.
Sekarang beliau sudah tiada. Sudah meninggal…"
Lama
kesunyian menjelang.
"Apakah
rencanamu untuk masa mendatang…?" bertanya Pendekar
212.
"Aku sendiri masih belum tahu. Tapi yang pasti ialah
aku harus membuat perhitungan
dengan
Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma itu…"
"Agaknya
kita mempunyai tujuan yang sama yaitu sama-sama menghancurkan
komplotan
terkutuk itu."
Lagi-lagi
kesunyian menyeling.
"Anggini..,”
kata Wiro memecah kesunyian itu. "Sekali ini pertemuan kita tak bisa
berjalan
lama...”
''Kau
memang selatu tidak menginginkan pertemuan lama-lama denganku..,” kata
Anggini
atau Dewi Kerudung Biru.
Pendekar
212 letakkan tangan kirinya di bahu Kanan Anggini. Perawan itu merasakan
ada
hawa aneh yang nikmat dan menenangkan hati mengalir ditubuhnya.
"Aku
sudah bilang tadi bahwa pertemuan ini sangat menggembirakan. Namun kita
harus
sama memaklumi bahwa aku harus menyelamatkan Andjarsari dan merebut kembali
.
Di lain hari kelak aku pasti akan menyambangimu di sini…"
Anggini
terdiam. Dipermainkannya kain biru yang tadi merupakan kerudung wajahnya.
"Aku
pergi sekarang, Anggini…"
"Wiro…,”
suara Anggini tersekat ditenggorokan.
Langkah Pendekar 212 tertahan.
Dipandanginya paras jelita di hadapannya. Kemudian
dilihatnya bagaimana gadis itu
menggerakkan tangannya, meremas jari-jari tangannya yang
diletakkan di bahu. Sekelumit
getaran menjalari darah muda Pendekar 212. Dia membungkuk
dan mencium kening Anggini. Ketika
kepalanya hendak ditariknya kembali tiba-tiba gadis itu
merangkul lehernya erat sekali.
"Wiro... Wiro... jangan pergi
dulu…" bisik Anggini. Nafas mereka saling menghembusi
wajah
masing-masing. Wiro membelai pipi yang halus lembut itu. Ketika Anggini
memejamkan
matanya, Pendekar 212 menempelkan bibirnya ke bibir Anggini. Betapa
hangatnya pertemuan sepasang bibir
itu. Mula-mula bibir itu diam membeku seperti mati.
Kemudian rangsangan mulai membuat
getaran-getaran pada permukaan kulit bibir masingmasing.
Dan bila sudah demikian, maka
sepasang bibir itupun mulai menari-nari, saling lumas
melumas. Keduanya berpagutan
erat-erat seperti tak hendak dilepaskan untuk selama-lamanya.
"Wiro… aku cinta padamu, Wiro.
Aku cinta padamu..,” bisik Anggini berulang kali.
"Hemm..,” Pendekar 212
menggumam. Digigitnya bibir perawan itu.
"Kaupun cinta padaku
bukan...?"
"Hemmm…,” Wiro menggumam lagi.
"Jawab Wiro. Katakanlah…,” Dan
tanpa disadari saat itu tubuh keduanya sudah
terbaring berpagutan di lantai.
"Wiro . . . ."
"Tiba-tiba di ruangan itu
meledaklah suara tertawa yang dahsyat.
"Ha... ha... sungguh satu
pemandangan yang asyik untuk dilihat! Teruskan…
teruskanlah! Pendekar 212, kenapa
tidak kau telanjangi saja tubuh gadis itu?! Itu seribu kali
lebih nikmat… Ha… ha... ha!"
Seorang lain kemudian menyambungi
suara yang pertama itu.
"Pendekar
212 nyatanya hanya seorang Pendekar Cabul. Tapi tak apa! Sebelum dikirim
ke
liang kubur tak apa kalau diberi kesempatan dulu bercumbu rayu! Di liang kubur
kau hanya
akan
bercumbu dan tidur dengan cacing!"
Baik
Pendekar 212 maupun Anggini sama-sama
terkejut. Keduanya
melompat
cepat. Anggini merapikan jubah birunya yang terbuka di bagian dada !
EMPAT BELAS
DI PINTU ruangan berdiri berkacak
pinggang dua manusia bermuka buruk angker.
Yang berselempang kain putih mukanya
hitam macam pantat kuali, rambut awut-awutan, tampangnya seperti singa dan dia
bukan lain Resi Singo Ireng! Di keningnya tertera tiga angka 212.
Di sampingnya berselempang kain biru
berdiri kakaknya yaitu Resi Macan Seta yang
tampangnya
persis seperti macan. Kulit mukanya coreng moreng belang tiga, kuning, merah
dan
hitam! Kedua pentolan pemberontak kaki tangan Parit Wulung ini telah
diperintahkan oleh
Parit
Wulung untuk mencari kembali . Dan hari itu mereka
sampai di
Goa Dewi Kerudung Biru di mana
mereka telah dapat mencium jejak Pendekar 212. Bukan saja
kedua Resi ini berprasangka bahwa
Keris Tumbal Wiiayuda sudah berada di tangan Pendekar
212, tapi Resi Singo Ireng sendiri
memang mempunyai dendam kesumat terhadap Pendekar
212 yaitu sewaktu dibikin muntah
darah dalam pertempuran di perbatasan Kerajaan Banten
tempo hari. Dan dendam kesumat itu
masih dibawanya ke mana-mana sampai saat itu dikulit
keningnya di mana tertera angka
pukulan 212!
"Siapa mereka, Wiro ?,” tanya
Anggini dengan ilmu menyusupkan suara.
"Dua manusia keparat yang
membantu Parit Wulung si pemberontak terhadap Banten!,”
menyahuti Pendekar 212."
"Eeee… eee... eee. Kenapa acara
kalian tidak diteruskan?,” bertanya Resi Singo Ireng
dengan nada mengejek.
Pendekar 212 menyengir.
"Bicaramu keren sekali manusia muka pantat Kuali.
Tentunya kau andalkan manusia muka
harimau yang disampingrnu itu, huh?!"
Mata Resi Macan Seta membeliak
garang. "Pentang kau punya mata, bukalah lebarlebar
agar tahu dengan siapa
berhadapan!" bentaknya.
"Ah, manusia jelek macammu perlu
apa aku kenali. Lagi pula, melihat kepada
tampangmu, aku kawatir apa kau
betul-betul manusia atau harimau jadi-jadian!,” Habis
berkata begitu maka Pendekar 212
tertawa mengakak.
"Pemuda besar mulut, aku mau
lihat apakah kau sanggup menerima pukulanku ini?"
bentak Resi Matjan Seta. Kata-kata
ini ditutup dengan menghantam tangan kanannya ke
muka. Maka bertaburlah sinar merah
kekuningan ke arah Wiro dan Anggini. Pukulan "siaar
surya tenggelam." .
Pendekar 212 dan Anggini melompat ke
samping Anggini sementara itu dengan cepat
mengenakan kembali kerudung birunya.
Kejut Resi Macan Seta bukan kepalang
ketika melihat Pendekar 212 dan si gadis
sanggup mengelakkan serangannya yang
ampuh tadi. Nyatalah bahwa nama Pendekar 212
bukan kosong belaka. Tidak
disesalkan kalau tempo hari adiknya dapat dipecundangi!
Ketika melihat si gadis mengenakan
kerudung kejut Resi Matjan.Seta dan Singo Ireng
lebih-lebih lagi.
"Kiranya kita berhadapan pula
dengan Dewi Kerudung Biru, saudaraku Singo Ireng!".
kata Matjan Seta.
"Betul, tapi sang dewi ini biar
aku bekuk hidup-hidup. Tampang dan, tubuhnya yang
montok lumayan sekali untuk dikekapi
sehari semalam!"
Marahlah Wiro mendengar ucapan Singo
Ireng itu. "Manusia pantat kuali, angka 212
di keningmupun belum sanggup kau
hapus, sekarang sudah berani-beranian unjuk gigi!"
Si Singo Ireng tidak ambil peduli
ucapan tapi segera menyerang Dewi
Kerudung Biru. Sengaja
dikeluarkannya jurus "memetik bunga memotes tangkainya". Jurus
ini ialah satu jurus meringkus lawan
yang didahului oleh satu totokan jarak jauh yang
dahsyat!
Namun dugaan Singo Ireng bahwa dia
akan sanggup membekuk hidup-hidup, Dewi
Kerudung
Biru dalam satu jurus hebat itu meleset besar! Dewi Kerudung Biru sambuti
serangannya
dengan jurus "naga kepala seribu mengamuk!"
Kaget
sekali jadinya Resi Singo Ireng ketika menyaksikan bagaimana kedua tangan
lawan
berkelebat sangat cepat naik turun membabat ke samping dan berputar bergelung,
menyerang
ke arahnya.
Selama
malang melintang membuat kejahatan di dunia persilatan baru kali ini dia
menghadapi
jurus aneh ini! Sebaliknya Resi Matjan Seta yang punya lebih banyak
pengalaman
segera berseru. "Singo lreng, awas itu pukulan naga kepala seribu
mengamuk!"
Mendengar ini tersurutlah Resi Singo
Ireng. Cepat-cepat dia kemudian melompat ke udara
ketika menukik ke bawah dia
lancarkan empat tendangan empat pukulan. Dalam sekejapan
saja kedua orang itu sudah terlibat
dalam jurus-jurus yang dahsyat.
"Manusia muka coreng moreng!
Apa hanya kalian berdua saja yang datang antarkan
nyawa ke mari…?" tanya Pendekar
212 pada Matjan Seta.
"Bocah gila!" bentak
Matjan Seta marah sekali sehingga mukanya yang coreng
moreng itu semakin menyeramkan.
“Jika kau tidak kepingin mampus,
sebaiknya lekas serahkan
dan beri tahu di mana Sultan berada.
Niscaya kau punya nyawa akan aku ampunkan!"
Pendekar 212 bersiul keras.
"Kau bukan Tuhan yang bisa
mengampunkan manusia! Sebaiknya kupertemukan saja
kau lekas-lekas dengan malaekat
maut!"
Resi Macam Seta mengaum macam
harimau terluka. Tubuhnya berkelebatan dan
lenyap. Angin dahsyat laksana angin
prahara menderu ke arah Pendekar 212. Secepat kilat
Pendekar 212 jatuhkan diri dari
berguling di lantai. Tangan kanannya memukul ke atas!
Pukulan Matjan Seta yang tidak
mengenai sasarannya terus melanda dinding batu. Dinding itu
pecah! Tetapi sebaliknya Resi ini
merasakan bagaimana tubuhnya terasa seperti diangkat ke
atas dan satu angin tajam menyakiti
kulit kakinya. Ketika dia memandang ke muka Pendekar
212 sudah tak ada dihadapannya.
"Aku di sini, Matjan
Seta!"
Matjan Seta putar tubuh ke belakang.
Begitu tubuhnya berputar begitu dan melihat satu
gumpalan angin yang kerasnya laksana
baja menderu ke arahnya. Resi ini tak ayal lagi melompat empat tombak ke udara.
Mendadak didengarnya suara siulan dekat sekali di
telinganya. Dia hantamkan tangannya
ke samping. Tapi....
"Bluk!"
Resi Matjan Seta terpelanting ke
lantai. Tulang punggungnya serasa remuk. Dia
kerahkan tenaga dalamnya dengan
cepat ke bagian yang kena dipukul lawan lalu atur jalan
nafas. Ketika dia berdiri
lurus-lurus kembali, muka macannya kelihatan bertambah angker.
Kedua kakinya terpentang lebar.
Tubuhnya sedikit membungkuk ke muka. Kedua tangannya
yang diangkat ke atas kelihatan
bergetar. Wiro maklum bahwa lawannya memusatkan seluruh
tenaqa dalamnya pada dua tangan itu,
dengan segera pendekar ini bersiap-siap pula!
Tangan kanan Resi Matjan Seta
kelihatan berwarna merah kekuningan. Lebih merah
dan lebih kuning dari yang tadi.
Pendekar 212 tahu bahwa lawannya bakal lepaskan lagi
pukulan "sinar surya
tenggelam" tapi yang lebih hebat dari yang pertama tadi. Dan ketika
melirik pada tangan kiri sang Resi,
tangan itupun kini berwarna sangat merah dan mengepulkan
asap merah!
Dua pukulan sekaligus tak bisa
dianggap enteng! Pendekar 212 tidak mau ambil risiko.
Segera tangan kanannya ditinggikan
ke atas. Dan cepat sekali lengan sampai ke jari-jari tangan
kanan itu menjadi sangat putih dan
menyilaukan laksana perak ditimpa sinar matahari !
Mata
Resi Matjan Seta membeliak melihat hal itu. "Pukulan sinar matahari!,”
keluhnya
dengan
hati tergetar. "Benar-benar pemuda rambut gondrong ini memiliki ilmu
kesaktian yang
tinggi
luar biasa! Apakah dia benar-benar telah mewarisi seluruh ilmu kepandaian Eyang
Sinto
Gendeng…?,”
demikian Matjan Seta membathin.
Namun
percaya, bahwa dua, pukulannya yaitu pukulan "inti api" dan pukulan
"sinar
surya
tenggelam" akan dapat mengimbangi pukulan lawan maka dengan serta merta
dia
hantamkan
kedua tangannya ke muka. Dua gelombang sinar merah pun menderu ke arah
Pendekar 212.
Pendekar 212 tunggu sampai dua
gelombang sinar itu berada di pertengahan jarak
antara dia dan lawan. Dan sedetik
kemudian tangan kanannyapun turunlah ke bawah. Selarik
sinar putih yang sangat panas dan
menyilaukan menggebubu melabrak dua gelombang sinar
merah,
"Bumm !"
Ruangan batu itu tergoncang hebat. Dinding batu angsrok,
Lantai longsor sedang bagian
atas
ambruk! Terdengar keluhan maut Resi Matjan Seta. Di saat yang rasanya seperti
mau
kiamat
itu Pendekar 212 berkelebat cepat menyambar tubuh Dewi Kerudung Biru dan
dilarikan ke luar goa. Sesaat mereka sampai di luar goa maka runtuhlah Goa Dewi
Kerudung Biru. Resi
Singo
Ireng yang tak sempat selamatkan diri, mati tertimbun bersama saudaranya Resi
Matjan
Seta.
Di luar goa Pendekar 212 dan Dewi Keradung Biru saling berangkulan.
"Anggini…
sangat disesalkan tempatmu yang bagus menjadi hancur runtuh. Tapi
sebagiannya
masih bisa kau pergunakan...”
Anggini
mengangguk. Disembunyikannya wajahnya di dada yang bidang itu.
"Anggini,”
kata Wiro lagi. Dilepaskannya pelukannya. "Waktuku tak banyak lagi. Aku
harus
segera ke Lembah Batu Pualam tempat bersarangnya Perkumpulan Iblis Pencabut
Sukma..... Sampai jumpa lagi,
Anggini".
"Aku ikut Wiro....!" seru
gadis itu, Tapi Pendekar 212 sudah lenyap dari hadapannya.
Gadis itu termanggu sejurus. Tapi
kemudian segera pula dia berkelebat meninggalkan
tempat itu.
LIMA BELAS
LEMBAH Batupualam…..
Lembah ini dikelilingi oleh
pegunungan batu pualam yang berkilauan ditimpa sinar
sang surya. Di mana-mana bahkan
sampai ke dasar lembah terdapat gundukan-gundukan batu
pualam putih. Di tengah dasar lembah
kelihatan sebuah gedung besar bertingkat dua yang
keseluruhannya mulai dari lantai
sampai ke atap terbuat dari batu pualam. Gedung ini indah
sekali bentuknya. Di beberapa bagian
di luar dan di dalam gedung batu pualam ini terdapat
ukiran-ukiran yang bagus sehingga
sesungguhnya tak pantaslah bila gedung itu menjadi markas atau sarangnya
komplotan terkutuk Iblis Pencabut Sukma!
Pendekar 212 berdiri di ujung timur
tepi lembah, berlindung di balik sebuah onggokan
batu pualam. Dari tempatnya berada
dilihatnya gedung itu sepi-sepi saja. Tak ada seorangpun
anggota Perkumpulan Iblis Pencabut
Sukma yang kelihatan.
Dengan
berlindung di balik gugusan-gugusan dan puing-puing batu pualam, Pendekar
212 mulai menuruni lembah. Dia
sampai di dasar lembah kini. Jarak antaranya dengan gedung
batu pualam kurang lebih tiga
puluhan tombak. Wiro melompat ke balik gugusan batu pualam yang lain, melompat
lagi ke kiri, lalu ke kiri lagi sehingga jaraknya kini dengan gedung itu
hanya sekira sepuluh tombak.
Pintu depan gedung terbuka
lebar-lebar, demikian juga jendela-jendela di tingkat bawah
serta atas. Anehnya sampai saat itu
suasana masih sunyi senyap seperti tadi. "Mungkin ada
perundingan di dalam sana…,” pikir
Pendekar 212. Dia memutuskan untuk menunggu sampai
kira-kira sepeminum teh. Sementara
itu di tingkat kedua gedung batu pualam.....
Di sebuah ruangan rahasia kelihatan
empat manusia berjubah dan berkerudung merah.
Salah satu di antaranya jubah dan
kerudungnya lebih merah dari yang lain-lain. Dialah Ketua
Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma.
Dia duduk di sebuah kursi, membelakangi sebuah mimbar.
Dihadapannya duduk tiga orang, satu
di antaranya ialah Wakil Ketua Perkumpulan. Yang dua
anggota anggota Perkumpulan yang
berilmu tinggi. Di pangkuan Wakil Ketua Perkumpulan
saat itu terbaring tubuh Anjarsari.
Ketua Iblis Pencabut Sukma
manggutkan kepala dan Wakilnya segera berdiri. Tubuh
Andjarsari diletakkannya di kursi
lalu dia melangkah kehadapan Ketua dan menjura.
"Ketua, harap dimaafkan bila
aku menjalankan tugas dan kembali ke sini agak
terlambat. Ada beberapa rintangan di
tengah jalan…”
"Kau berhasil mendapatkan Keris
Tumbal Wilajuda?!" bertanya sang Ketua. Suaranya
berat serak laksana palu godam.
Wakil Ketua angguKkan kepala lalu
keluarkan sebilah keris yang keseluruhannya mulai
dari sarung sampai ke kerisnya
terbuat dari emas. Karena senjata ini senjata mustika maka
dengan
sendirinya memancarkan sinar kuning yang terang! Mata Ketua Iblis Pencabut
Sukma
berkilat-kilat
melihat senjata itu. Begitu diterumanya diperhatiKannya sejurus lalu
dimasukkannya
ke
batik pinggang.
"Apalagi
yang kau bawa?!" tanya sang Ketua. Wakilnya putar tubuh sedikit dan
menuding
pada tubuh Andjarsari yang didudukkan di kursi. "Gadis itu adalah calon
isteri Sultan
Hasanuddin.
Aku berhasil menculiknya.......”
"Sultan sendiri bagaimana . . .
. . . , ?".
“Aku juga sebenarnya hampir berhasil
menculik dia waktu berada disarang
Perkumpulan Pengemis Darah Hitam
tapi tahu-tahu sesosok bayangan biru melarikannya.
Ketika kuikuti jejaknya ternyata
bayangan biru itu adalah Dewi Kerudung Biru. Perempuan
dajal itu hampir berhasil kutamatkan
riwayatnya bersama beberapa orang anggota jika seorang
pemuda gila bergelar Pendekar 212
tidak muncul di situ!"
"Hem... memang akhir-akhir ini
kudengar kabar selentingan tentang munculnya seorang
pendatang baru yang aneh dalam dunia
persilatan...."
Ketua Iblis Pencabut-Sukma usap-usap
dagunya yang tersembunyi di batik kerudung
itu. Lalu tanyanya. "Jadi kau
dan anak-anak buah tak sanggup membereskan pendekar itu?".
"Manusia itu sakti sekali. Dia
memiliki sebuah kapak bermata dua..... Kapak Maut Naga
Geni 212!"
"Hanya sebuah kapak buat
penebang pohon saja kau takuti.... Bagaimana dengan Perkumpulan
Pengemis Darah Hitam....?"
"Mulanya, karena merasa bahwa
kita masih satu golongan dan aliran dengan mereka,
aku minta agar keris, Andjarsari dan
Sultan diserahkan secara baik-baik. Tapi mereka
membangkang. Terpaksa tak satupun
yang aku kasih hidup...."
"Itu bagus!," kata Ketua
Iblis Pencabut Sukma "Dalam waktu dua atau tiga hari dimuka,
kita akan segera berangkat ke
Banten! Sampai saat ini secara tidak langsung, dengan adanya
Keris Tumbal Wilajuda di tangan kita
maka Banten sudah milik kita. Dan sebagai balas jasamu,
kau boleh ambil itu gadis!".
Gembiralah hati sang Wakil mendengar
itu. Sesaat sesudah sang Ketua meninggalkan
ruangan disusul oleh dua orang
anggota kelas satu tadi maka Wakil iblis Pencabut Sukma segera memboyong tubuh
Andjarsari ke dalam kamarnya yang terletak dipaling ujung gedung tingkat kedua.
Sepeminum teh telah lewat.
Wiro mengintai lagi dari balik
gugusan batu pualam. Gedung masih tetap sunyi senyap.
Dengan rasa tak sabar segera pemuda
ini kerahkan ilmu mengentengi tubuh dan laksana seekor alap-alap melesat ke
atas atap gedung batu pualam tingkat kedua. Bagian atas gedung ini rata licin.
Dan di sebelah sana beberapa tombak jauhnya, dua orang berjubah dan berkerudung
merah
tengah asyik bermain dam. Begitu
sudut mata mereka melihat adanya bayangan sesosok tubuh di atas atap itu segera
keduanya putar kepala.
"Hai!" seru salah seorang
dari mereka. "Siapa kau ?!,” membentak yang kedua. Pendekar
212 melintangkan jari tetunjuk
tangan
kirinya di atas bibir.
"Sssst............. desisnya. Kemudian dengan tiba-tiba tangan kanannya
dihantamkan ke muka. Tak ampun lagi
kedua manusia berjubah merah itu rebah di atas atap
dengan menyembur darah sedang papan
serta buah dam mental di udara jauh sekali.
Pendekar 212 geli sendiri. Dia
memandang berkeliling. Kemudian lapat-lapat dari ujung
atas sebelah sana didengarnya suara
jeritan perempuan. Dengan cepat pemuda ini lari ke
ujung atap. Di bawah atap, persis di atas sebuah jendela terdapat beberapa buah
lobang angin. Dari
salah satu lobang angin ini Wiro mengintai ke dalam gedung! Dan mendidihlah
darah Pendekar 212 sewaktu menyaksikan apa yang terpampang di dalam kamar di
bawah atap itu.
Andjarsari
berada dalam keadaan hampir tak berpakaian. Rambutnya yang panjang kusut
masai
menjela-jela. Gadis ini megap-megap dan menjerit-jerit serta meronta. Tapi tak
kuasa sama sekali untuk menyingkirkan tubuh Wakil Ketua Perkumpulan Iblis
Pencabut Sukma yang
menghimpitnya
dari atas!
Tidak
membuang waktu lagi Pendekar 212 melompat turun dan melabrak jendela kamar
dengah satu tendangan kaki kiri.
Kejut Wakil Ketua Perkumpulan Iblis
itu bukan alang kepalang! Jendela kamar dilihatnya
hancur berantakan dan sedetik
kemudian sesosok tubuh melayang memasuki kamar!
"Bangsat
rendah!" memaki manusia bermuka angker itu. Secepat kilat dia melompat dari
tempat tidur dan menyambar jubah
merahnya. Dia tak sempat mengenakan kerudungnya karena pada saat itu Pendekar
212 sudah menyerang dengan ganas!
Wakil Ketua Iblis Pencabut Sukma
sambuti serangan lawan dengan jurus "menendang
langit menjungkir awan". Begitu
hebatnya jurus ini sehingga Pendekar 212 terpaksa tahan
kegeramannya untuk melanjutkan
serangan. Dan kesempatan ini dipergunakan oleh Wakil Ketua Iblis Pencabut Sukma
untuk lari ke luar kamar!
"Jalan lari satu-satunya bagimu
hanyalah ke neraka manusia durjana!,” bentak Pendekar
212 lalu memburu dengan sebat.
Wakil Ketua itu melarikan diri ke
sebuah ruangan besar yang di setiap dindingnya
terdapat lima buah pintu. Begitu
injakkan kaki di ruangan ini dia segera berteriak. "Anggota-anggota Perkumpulan!
Gedung ini kebobolan bahaya! Lekas ke luar!"
Serentak dengan itu maka dua puluh
pintu di empat dinding ruangan terbuka lebar dan
melompatlah dua puluh anggota
Perkumpulan. Kesemuanya berjubah dan berkerudung merah
dan mencekal sebilah pedang merah!
Wakil Ketua Perkumpulan sendiri cabut sebuah rujung
emas dari balik jubahnya. .
"Cincang pemuda sedeng ini!,”
Wakil Ketua beri komando. Kata-katanya ini ditutup
dengan sambarkan rujung emasnya ke
arah Pendekar 212! Masih dalam jarak beberapa tombak maka angin pukulan rujung
telah menyambar dengan dahsyat ke arah Pendekar 212. Hampir bersamaan pula
dengan itu maka dua puluh anggota Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma menyerbu
pula! Duapuluh
batang pedang merah berkiblat! Hanya sekejapan mata saja maka terbungkuslah
Pendekar 212 dalam hujan pedang dan sambaran rujung!
Murid
Eyang Sinto Gendeng ini menggerung dahsyat. Dengan cepat dia jatuhkan diri ke
lantai.
Begitu jatuh di lantai dua tangannya dihantamkan nembentuk dua lingkaran. Dua
lingkaran
sinar putih panas yang menyilaukan mata menggelombang. Dimana-mana terdengar
pekikan
kematian. Lebih dari separoh anak buah komplotan Iblis Pencabut Sukma terkapar
di
lantai
ruangan dengan tubuh hangus tersambar ilmu pukulan "sinar matahari"
Pendekar 212!
Melihat
ini mereka yang masih hidup menjadi lumer nyalinya dan mulai pikir-pikir
untuk
undurkan diri. Namun tentu saja mereka juga takut pada pimpinan, terlebih lagi
ketika.
Wakil
Ketua mereka membentak. "Ayo! Kalian tak perlu takut! Mari gempur lagi
dengan jurus
menabas
gunung menusuk bukit mendobrak bendungan!
Selama
beberapa tahun belakangan ini boleh dikatakan jarang sekali Perkumpulan Iblis Pencabut
Sukma mengeluarkan jurus "menabas gunung menusuk bukit mendobrak bendungan
itu.
Kecuali dalam menghadapi lawan yang benar-benar luar biasa tinggi ilmu silat
dan
kesaktiannya.
Dan hari itu bila mereka mengeluarkan jurus yang dahsyat itu nyatalah bahwa
lawan
yang mereka hadapi benar-benar hebat! Dan memang begitu kenyataannya!
Pendekar 212 sendiri begitu dengar
nama jurus ini tak ayal lagi segera cabut Kapak
Maut Naga Geni 212. Selama ini dia
cuma pernah dengar dan mengetahui nama jurus yang
terdiri dari empat untaian
kata-kata. Kini lawan menyerangnya dengan jurus enam untaian katakata.
Pastilah ini suatu jurus yang luar
biasa!
Maka begitu lawan menyerbu, Pendekar
212 sudah putar Kapak Maut Naga Geni 212-
nya. Lolong kematianpun bergemalah
untuk kedua kalinya di ruangan itu! Enam anggota
Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma
menggeletak mandi darah. Dua orang yang masih hidup,
ditambah dengan Wakil Ketua
Perkumpulan yang saat itu masih memegangi rujung emasnya
tapi yang sudah kuntung karena
diterabas Kapak Pendekar 212, saling berikan isyarat. Dua
anggota yang masih hidup ini
melompati Wiro dan kirimkan empat serangan berantai sekaligus.
Wakil Ketua mereka sendiri melompat
kesebuah pintu dan menekan satu tombol rahasia!
Pada detik Pendekar 212 menerabas
tubuh kedua lawannya dengan Kapak Maut, maka
pada detik itu pula tiba-tiba lantai
yang dipijaknya terbuka ke samping. Tak ampun lagi
tubuhnyapun melayang jatuh ke dalam
sebuah ruangan sedalam dua puluh tombak sedang
lantai ruangan yang tadi membuka
kini secara aneh tertutup oleh jalur-jalur besi sebesar lengan
!
"Ha... ha... ha...!" Wakil
Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma tertawa bekakakan.
"Sekalipun kau punya sepuluh
kepala dua puluh tangan dan kaki jangan harap kau bisa ke luar
dari perangkap ini Pendekar
212!"
"Manusia sialan!" maka
Pendekar 212 sangat geram dan penasaran. Dihantamkannya
tangan kanannya ke atas. Sinar putih
berkiblat. Lantai ruangan di atasnya hancur runtuh tapi
jalur-jalur
besi yang menutup lobang perangkap sedikitpun tidak berobah. Wakil Ketua
Perkumpulan
sendiri saat itu dengan cepat sudah menghindar ke samping kemudian dari balik
jubahnya
dia keluarkan sebuah lonceng kecil. Begitu lonceng dibunyikan maka muncullah
Ketua
Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma diiringi oleh dua orang anggota klas satu yang
berkepandaian
sangat tinggi.
Menyaksikan
kematian banyak sekali anak buahnva maka menggerenglah Ketua
Perkumpulan
ini. Mukanya yang tersembunyi dibalik kerudung mengkerut tegang, matanya
berkilat-kilat.
Dia melangkah kehadapan sang Wakil.
"Sesudah
seluruh anggota mampus begini rupa baru kau bunyikan lonceng memanggil
aku?
Bagus betul perbuatanmu!"
Gemetarlah
lutut Wakil Ketua mendengar bentakan atasannya itu. "Tapi Ketua, manusia
itu sakti luar biasa. Namun demikian
aku telah berhasil meringkusnya! Lihatlah ke bawah
sana!"
"Keberhasilanmu tetap tidak
dapat menghindari hukuman yang bakal kau terima kelak!"
desis Ketua Perkumpulan. Dia
melangkah ke tepi perangkap. Namun secepat kilat bersurut
mundur karena dari dasar perangkap
menggebu segumpal angin dahsyat. Atap gedung batu
pualam yang tadi telah hancur
dilanda pukulan sinar matahari kini kembali berpelantingan!
"Kurang ajar!,” bentak Ketua
Perkumpulan. Tangan kanannya dipukulkan ke dasar
perangkap. Dan menderulati lima
lusin jarum merah! Tapi lagi-lagi Ketua Perkumpulan ini
dikejutkan ketika angin sedahsyat
badai membuat jarum-jarum beracunnya itu menderu
kembali ke atas! Jika tidak lekas
pula dia menghindar dari tepi perangkap pastilah senjata
makan
tuan!
"Budak
hina dina! Kau boleh keluarkan seribu ilmu tapi jangan harap kau bakal ke luar
hidup-hidup dari dalam perangkap
ini!"
Habis berkata begitu dengan ibu jari
kaki kanannya Ketua Perkumpulan IbIis Pencabut
Sukma menginjak sebuah tombol di
salah satu sudut perangkap sebelah atas! Di dasar
perangkap, secara aneh dinding
terangkat kira-kira sejengkal dan laksana air bah dari keempat
celah dinding itu berserabutanlah
ratusan binatang berbisa seperti ular, kelabang, lipan dan
kalajengking! Semuanya menyerbu
menyerang Pendekar 212!
Murid Eyang Sinto Gendeng melompat
dua tombak. Begitu tubuhnya mengapung di
udara tangan kirinya segera
mengambil batu api 212 dari balik pinggang. Sekali batu api dan
Kapak Naga Geni 212 diadu maka lidah
apipun menderulah ke lantai perangkap. Seluruh
binatang berbisa itu tak satupun
yang hidup. Semuanya terbakar musnah dengan mengeluarkan bau yang tak nyaman
dan memegapkan jalan nafas.
Pendekar 212 tidak menunggu lebih
lama. Jika di luar dengan ilmu mengentengi tubuh
dia bisa melompat sampai tiga
puluhan tombak lebih, mengapa di dalam perangkap yang cuma
sedalam dua puluh tombak itu dia tak
bisa? Cuma yang dikhawatirkannya ialah jika dia tak dapat menerobos atau
menghancurkan jalur-jalur besi di atas perangkap itu dengan Kapak Maut Naga Geni
212-nya !
Di atas sana tiba-tiba dilihatnya
Ketua dan Wakil Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut
Sukma kembali mendekati tepi
perangkap. Pendekar 212 segera hantamkan tangan ke atas
mengirim pukulan matahari dan serentak
dengan itu dia melompat ke udara. Kapak Naga Geni
212 diputar dengan sebat!
"Trang... trang...
trang...!"
Ternyata Kapak Naga Geni 212 mampu
menghancurkan jalur-jalur besi penutup
perangkap. Pendekar 212 tertawa
gembira dan berdiri dengan berkacak tangan kiri dipinggang
sementara empat lawannya di ruangan
itu diam-diam menjadi ngeri melihat kehebatan pemuda
ini!
Dari kerudung dan jubahnya yang
lebih merah laksana darah. Pendekar 212 segera
mengenali yang mana adanya Ketua
Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma. Maka berkatalah
pemuda
ini dengan membentak. "Lekas serahkan Keris Tumbal Wilajuda. Dan jika
kalian
berjanji
untuk kembali ke jalan yang benar niscaya aku masih mau memberi ampun!"
Ketua
Perkumpulan tertawa mendengus. "Usia masih seumur jagung, tubuh masih bau
amisnya
orok, mungkin tidurpun masih ngompol tapi sudah berani bicara membentak dan
memerintah
dihadapanku!"
"Ucapanmu
tidak lucu Ketua Perkumpulan Iblis! Ringkas kata kau mau serahkan Keris
Tumbal
Wilajuda atau tidak?!"
Perlahan-lahan
Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma angkat tangannya ke udara.
Gerakannya
ini diikuti oleh Wakil dan dua anggotanya.
"Baik!,”
katanya, "aku akan serahkan Keris Tumbal Wilajuda padamu, tapi serahkan
dulu
kau
punya jiwa!"
Habis
berkata demikian maka empat tanganpun sama-sama ditarik melancarkan pukulan
yang
sangat diandalkan oleh Perkumpulan mereka yaitu pukulan pencabut sukma!
Dalam
keadaan lengah seperti di Goa Dewi Kerudung Biru tempo hari mungkin empat
pukulan
sakti itu akan menamatkan riwayat Pendekar 212. Tapi kali ini keadaan
berlainan,
apalagi
saat itu Wiro memegang pula Kapak Maut Naga Geni 212 ditangan!
Begitu
empat angin maut membetot ke arah badannya maka Pendekar 212 berseru
nyaring!
Tubuhnya lenyap! Menyusul suara siulan melengking dan Kapak Maut Naga Geni 212
membuat
putaran putih yang sebat sekali, angin yang ke luar dari Kapak sakti itu
melanda hebat tarikan angin maut keempat musuh. Dan setengah jurus kemudian dua
anggota klas satu
Perkumpulan
Iblis Pencabut Sukma sama menjerit keras! Tubuh mereka rebah ke lantai. Yang
satu
berbusaian isi perutnya, yang satu lagi hampir putus batang lehernya !
Ketua
dan Wakil Perkumpulan terkutuk sama-sama tersurut! "Apa kau masih belum
mau
serahkan
apa yang kuminta?!" bentak Pendekar 212.
"Aku
bilang serahkan nyawamu lebih dulu, budak hina!" balas membentak Ketua
Iblis.
"Manusia tolol, dikasih ampun
malah minta mampus!" Gusar sekali Pendekar 212
jadinya. Tubuhnya berkelebat untuk
kesekian kalinya. Kali ini dalam jurus "membuka jendela
memanah rembulan". Kapak Naga
Geni mula-mula menderu sebat ke samping. Dan
terdengarlah jerit kematian Wakit
Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma. Ketua
Perkumpulan tersirap dan melompat
mundur ketika melihat Wakilnya terhuyung-huyung
dengan dada mandi darah lalu jatuh
duduk di lantai! Namun Pendekar 212 betul-betul tidak
mau memberikan kesempatan lagi. Kapaknya terus
menyelesaikan jurus yang dibuat dan kini
membabat
deras ke udara!
Ketua
Perkumpulan terkutuk itu melolong setinggi langit! Dagunya terbabat putus
berikut
sebagian kerudungnya sekaligus! Tubuhnya terbanting ke dinding! Ketika Kapak
Maut
Naga
Geni hendak membalik lagi guna menamatkan riwayat Ketua Perkumpulan durjana itu
maka
tahu-tahu melesatlah sesosok tubuh manusia dan terdengar satu seruan.
"Bangsat
yang satu ini adalah bagianku, Wiro!".
ENAM BELAS
PENDEKAR 212 berpaling yang datang
ternyata Dewi Kerudung Biru alias Anggini !
"Ah, kau rupanya Anggini.
Betul, memang tepat sekali kalau kau yang cabut nyawa anjing manusia terkutuk
ini! Kau selesaikanlah perhitungan lamamu!”
Ketika Pendekar 212 bicara ini,
Ketua Perkumpulan Iblis pergunakan kesempatan untuk menghambur ke pintu. Tapi
secepat kilat Wiro angsurkan kaki kirinya menyerimpung pergelangan salah satu
kaki Ketua Perkumpulan Iblis itu. Tak ampun lagi tubuhnya tersungkur ke lantai!
"Cepat bangun, manusia iblis
agar cepat pula kuantarkan kau punya nyawa menghadap penjaga neraka!,” bentak
Dewi Kerudung Biru!
Perlahan-lahan Ketua Perkumpulan
Iblis Pencabut Sukma berdiri. Tiba-tiba dia hantamkan satu pukulan ke arah Dewi
Kerudung Biru. Tapi tenaga pukulannya ini sudah banyak berkurang akibat luka
didagunya yang mengandung bisa dan bisa mana mulai menjalar kesegenap pembuluh
darahnya!
Melihat lawan memukul, Dewi Kerudung
Biru berkelit cepat dan kirimkan serangan balasan yaitu jurus naga kepala
seribu mengamuk! Terkejutlah Ketua Perkumpulan Iblis melihat jurus yang dahsyat
ini. Dia melompat mundur tiga tombak dan berseru. "Dewi Kerudung Biru,
antara kau dan aku tiada permusuhan, mengapa kita musti bertempur begini
rupa?!"
Dewi
Kerudung Biru tertawa dingin sedingin salju. "Kau lupa pada seorang gadis
yang hendak kau perkosa beberapa bulan yang lalu?!" Dewi Kerudung Biru
membuka kerudung penutup wajahnya! "Apa kau masih lupa dan tidak kenali
aku?!"
Terkejutlah
Ketua Iblis Pencabut Sukma melihat paras gadis dihadapannya. Namun rasa
terkejutnya ini tiada lama. Anggini kembali menyerbu.
Kali
ini dalam jurus "cakar garuda emas". Kedua tangannya terpentang.
"Breet!"
Kuku-kuku yang panjang dari gadis itu menyambar dada sang Ketua. Dan tidak
sampai di sana
saja, Anggini buka mulutnya lebar-lebar.
"Huaah!"
Menyemburlah
asap kencana biru ke arah Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma.
Manusia
ini menjerit. Tubuhnya terhuyung-huyung. Ketika dia rebah ke lantai maka
sekujur badannya menjadi sangat biru! Tamatlah riwayat manusia yang paling
terkutuk dan ganas itu.
Belum puas sampai di situ, Anggini
maju mendekati mayat laki-laki itu lantas menendang kepalanya. Tubuh Ketua
Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma mencelat enam tombak kepalanya
hancur!
"Kau
hebat sekali, Anggini,” memuji Pendekar 212 seraya melangkah mendekati mayat
Ketua
Iblis Pencabut Sukma. Ketika digeledah di balik pinggangnya diketemukan Keris
Tumbal
Wilajuda!
"Apa
yang harus kita lakukan selanjutnya Wiro?,” bertanya Dewi Kerudung Biru atau
Anggini.
Pendekar 212 merenung beberapa
lamanya lalu menjawab. "Setelah Keris Tumbal kerajaan ini berhasil
diketemukan, kurasa ada baiknya aku segera menemui Sultan Banten".
"Mengapa begitu?,” tanya
Anggini. "Bukankahkau sendiri sudah tahu bahwa Sultan Hasanuddin pergi ke
Demak untuk meminta bantuan balatentara dari Sultan Trenggono guna mengusir
kaum pemberontak yang kini bercokol di Banten?"
"Betul, namun saat ini aku ada
rencana baru. Rencanaku ini akan sangat banyak mengurangi korban-korban yang
tiada berdosa.....”
"Aku tak mengerti maksudmu,”
kata Anggini pula. I
Pendekar 212 tersenyum. "Kau
akan mengerti setelah menyaksikannya sendiri nanti.
Sementara aku menyusul Sultan ke
Demak, kuharap kau sudi pergi keperbatasan dan menunggu kedatangan kami di
sana…”
Bagi Anggini adalah lebih disukainya
bila dia bisa ikut bersama-sama dengan pemuda itu.
Namun setelah berpikir sejurus
akhirnya dia menganggukkan kepala.
"Sampai jumpa Anggini,” kata
Pendekar 212 seraya memegang bahu gadis itu.
Anggini meremas seketika jari-jari
si pemuda dan sebelum tubuhnya lebih dijalari gelora darah muda maka Pendekar
212 segera meninggalkan tempat itu.
Meskipun satu hari terlambat namun
dengan ilmu larinya yang sangat lihai, Wiro berhasil mendahului Sultan. Hasanuddin
yang berangkat ke Demak dengan menunggangi seekor kuda.
Wiro menunggu kedatangan Sultan di
jalan luar kota sebelah timur. Tentu saja Sultan
Hasanuddin sangat terkejut dan heran
bertemu dengan pemuda sahabatnya itu.
"Sahabat, bagaimana kau tahu-tahu
sudah muncul di sini?" tanya Sultan seraya turun dari kuda. Dengan
ringkas segera berikan keterangan.
Selesai memberikan keterangan maka dikeluarkannyalah dan diserahkannya pada Sultan.
Berseri-serilah
paras Sultan Hasanuddin. "Sahabat jasamu sungguh tak dapat diukur dengan
luasnya laut, dengan tingginya gunung. Aku berterima
kasih betulkepadamu…”
Wiro
memotong ucapan Sultan dengan berkata. "Sultan sebelum memasuki kota dan menemui Sultan
Trenggono perkenankanlah aku memberikan sedikit rencana....”
"Boleh
saja. Silahkan" kata Sultan seraya sisipkan Keris Tumbal Wilajuda dibalik
pinggang pakaian. "Dengan membawa balatentra Demak ke Banten berarti akan
pecah lagi peperangan dan pertumpahan darah di Banten. Sultan tentu lebih tahu
dariku bahwa akibat peperangan yang paling buruk ialah jatuhnya beban
penderitaan, serta kesengsaraan dipundaknya rakyat jelata....”
"Betul,
dalam hal ini aku memang sedapat-dapatnya berusaha agar penduduk jangan sampai
banyak yang jatuh korban,” kata Sultan pula.
Wiro
mengangguk. "Di samping itu, sebagian besar dari prajurit-prajurit
pemberontak tiada lain hanya merupakan alat mati yang bisa dikutak kutik oleh
atasan!
Di
hati kecil mereka sendiri mungkin tak ingin melakukan pertumpahan darah itu.
Tapi demi tugas dari atasan, mereka terpaksa melakukan peperangan yang kejam
itu. Jadiletak tanggung jawab, atau biang racun dari segala kemusnihan dan
penderitaan itu tiada lain terletak di tangan pentolan-pentolan tinggi
pemberontak! Nah, manusia-manusiainilah yang harus kita lenyapkan lebih dulu….
yang dibawah soal mudah..Apalagi dua bergundalnya pembantu Parit Wulung yaitu
Resi Singo Ireng serta Macan Seta telah menemui ajal!"
"Apa yang kau katakan itu semua
adalah benar sobat,” kata Sultan. "Tapi aku
masih belum melihat bagaimana caramu
yang tepat dan baik dalam merebut kembalitakhta kerajaan dengan menghindarkan
pertumpahan darah...."
"Kalau Sultan bisa memberikan
sedikit kepercayaan kepadaku, pastilah aku akan bersedia melaksanakannya...
Maka Pendekar 212-pun menuturkan rencananya selengkapnya.
TUJUH BELAS
MALAM itu di satu ruangan rahasia
Parit Wulung, Karma Dipa, Djuanasuta dan seorang
tokoh terkemuka dari Partai Api
Setan yaitu suatu partai silat yang dipimpin oleh Resi Matjan Serta tengah
melakukan perundingan penting. Tokoh silat ini adalah murid terpandai dari
Matjan Seta yang telah mewarisi seluruh kepandaian Resi itu. Namanya Rana
Tikusila. Dia dan selusin anggota partai lainnya sengaja diminta datang ke
Banten oleh Parit Wulung untuk memperkuat kedudukannya dan menjaga segala
sesuatu yang tak diingini. Seperti Matjan Seta, muka merekapun coreng moreng. Parit
Wulung yang duduk dikepala meja segera buka bicara. "Saudara-saudara
pertemuan ini adalah penting sekali sehubungan dengan Keris Tumbal Wilajuda.
Sampai sekarang kita masih belum berhasil menemukannya sedang Sultan sendiri
tak diketahui jejaknya. Resi Singo Ireng dan Resi Matjan Seta tidak pula
kunjung ada kabar beritanya. Aku berharap…”
Parit
Wulung tiba-tiba hentikan ucapannya. Dia memandang ke
sebuah alat rahasia disudut ruangan. Alat itu kelihatan bergerak-gerak.
"Saudara-saudara bersiaplah,”
kata Parit Wulung. Ada tamu yang tak diundang rupanya mendengarkan perundingan
kita ini di atas loteng!"
Dan baru saja Parit Wulung selesai
mengucapkan kalimat itu, dua lembar papan loteng terbuka dan sesosok tubuh
laksana seekor alap-alap melayang turun. Suara kedua kakinya sama sekali tiada
terdengar sewaktu menjajaki lantai!
Rana Tikusila, Karma Dipa dan
Djuanasuta segera cabut senjata. Parit Wulung sendiri
berdiri dari kursi dan membentak.
"Manusia atau setan! Apakah kau
punya nyawa rangkap berani datang ke sini?!"
Tamu tak diundang itu keluarkan,
suara bersiul yang tak asing lagi yang menandakan bahwa dia bukan lain daripada
Pendekar 212 adanya.
"Kau terlalu menghina padaku,
Parit Wulung,” menyahuti Pendekar 212. Dia melirik sedikit ketika melihat Rana
Tikusila melangkah kehadapannya dengan pedang melintang.
"Lekas katakan apa maksud
kedatanganmu ke sini!,” kata Tikusila seraya angkat tinggitinggi tangan
kanannya yang memegang pedang.
"Aku
adalah utusan pribadi Sultan Hasanuddin!".
Maka
terkejutlah semua yang , hadir di tempat itu. Dari balik pakaiannya Pendekar
212 keluarkan segulung kertas dan melemparkan benda itu yang tepat jatuh
memalang di atas gelas tuak, dihadapan Parit Wulung.
"Silahkan
baca,” kata Pendekar 212 pula. Parit Wulung keretakkan rahang melihat sikap
yang merendahkan ini tapi gulungan surat
di atas gelas diambil dan dibacanya juga.
Parit
Wulung,
Aku
berikan kesempatan padamu untuk menyerahkan diri bersama bergundal-bergundal
pemberontak lainnya malam ini. Maksud busukmu untuk menduduki takhta kerajaan
Banten secara tidak syah di atas lumuran darah sekian banyak rakyat dan
prajurit Banten serta sekian banyakpembesar-pembesar istana yang tak berdosa
akan sia-sia saja ! ,
Keris Tumbal Witajuda walau
bagaimanapun tak bakal kau dapat. Dua cecunguk pembantumu yaitu Resi Singo
Ireng dan Matjan Seta telah menemui ajalnya.
Jika kalian menyerah, hukuman yang
bakal dijatuhkan tidak begitu berat. Tapi bila kalian membangkang, kepala
kalian jadi imbalannya karena walau bagaimanapun yang bathil tak akan bisa
mengalahkan yang hak, kejahatan tak akan bisa mengalahkan, kebenaran!
Ingat, waktumu cuma sampai malam ini
!
Tertanda
SULTAN HASANUDDIN
Mengelam wajah Parit Wulung membaca
surat itu. Namun kemudian keluarlah suara tertawanya bergelak. Diserahkannya
surat itu pada Karma Dipa, Karma Dipa meneruskan pada
Djuanasuta dan Djuanasuta meneruskan
lagi pada Rana Tikusila. Dan ruangan itu kemudian pecahlah oleh suara tertawa
bergelak keempat manusia itu.
Wiro sendiri mengerendeng dalam
hatinya. "Kau utusan Sultan yang tampangmu macam orang hutan!" kata
Rana Tikusila, "aku mau tanya, Sultanmu itu andalkan apakah sampai berani
membuat surat ancaman macam begini rupa ?!"
Wiro tertawa gelak-gelak. "Kau
keliwat menghina sobat!" katanya. "Coba lihat ke kaca besar di
dinding sana, tampangmu yang coreng moreng macam orang gila itu jauh lebih
buruk dari padaku! Kurasa kalau orang tuamu bukannya macan jadi-jadian pastilah
macan kesurupan!"
Maka marahlah Rana Tikusila
rnendengar hinaan ini.
"Sret,” dicabutnya sebilah
pedang lalu dengan, cepat kirimkan satu tusukan mematikan ke arah dada Pendekar
212. Tusukan ini adalah sebagian dari jurus paling tangguh dalam ilmu pedang
Partai Api Setan dan dinamakan jurus "anak panah menembus rembulan!"
Selama menghadapi lawan-lawan tangguh jarang dari mereka yang sanggup
mengelakkannya Kalaupun berhasil makabiasanya tak akan mampu untuk mengelakkan
jurus susulan yang dinamakan "gendewa menyambar puncak gunung".
Tapi hari itu Rana Tikusila ketemu
batunya. Tusukannya tiada tersangka hanya mengenai tempat kosong karena
berhasil dikelit oleh Pendekar 212. Dengan penasaran dan juga malu pada
kolega-koleganya di ruangan itu maka,Tikusila segera susul dengan jurus
"gendewa menyambar puncak gunung". Pedangnya membalik membabat ke arah pinggang lawan!
Namun nasib anak buah Partai Api
Setan ini lebih buruk lagi. Dengan kecepatan yang sukar dilihat mata, Pendekar
212 berhasil memukul sambungan siku Tikusila. Pedang mental ke udara,Tikusila
sendiri meraung kesakitan! Dan sesaat kemudian pedangnya sudah berada di tangan
Pendekar 212!
Mata
Parit Wulung dan dua orang lainnya membeliak besar. Rana Tikusila sendiri pucat
pasi wajahnya, memercik keringat dingin di keningnya!
"Aku
datang ke sini bukan untuk membuat keributan tapi hanya sekedar menyampaikan surat Sultan Banten! Aku
minta jawaban sekarang juga apakah. kalian sudi menyerah atau tidak?!"
Parit
Wulung merampas surat
yang dipegang oleh Rana Tikusila lalu merobek-robeknya.
"Ini
jawaban kami!" kata Parit Wulung pula serta melemparkan robekan surat ke muka Wiro
Sableng.
Pendekar muda ini, tiup robekan surat-surat itu hingge bertebaran di lantai.
"Besok
pagi jangan harap kalian masih bercokol di dalam istana ini.....”
"Saudara-saudara, sangkap
manusia yang satu ini!". Parit Wulung beri perintah.
Pendekar
212 tertawa mengekeh. Pedang di tangan kanan dilemparkannya ke lampu besar yang
menerangi ruangan itu. Dengan serta merta gelaplah suasana dan secepat kilat
Wiro melompat ke atas loteng, lenyap dikegelapan malam.
Ketika
pagi tiba maka gemparlah seluruh penduduk Kotaraja. Bagaimanakah tidak.
Dihalaman depan istana berjejer, bergantungan di tiang langkan muka lima belas manusia yang
sudah menjadi mayat. Mata semuanya mendelik, lidah terjulur dan pada kening
masing-masingtertera tiga angka yang tak asing lagi yaitu angka 212 !
Kelima
belas manusia yang telah menemui ajal dengan cara yang aneh ini ialah Rana
Tikusila bersama dua belas anggota Partai Api Setan, Djuanasuta dan Karma Dipa,
dua pentolan pemberontak dari Pajajaran!
Pada masing-masing leher kelima
belas mayat itu tergantung secarik kertas yang bertuliskan:
Kepada kalian telah diberikan syarat
keampunan untuk menyerah. Tapi kalian sengaja memilih kematian macam begini.
Kalian lupa bahwa kebathilan akan selalu hancur oleh yang hak. Kepada para
perajurit dan rakyat Banten yang masih setia pada Sultan, hari ini adalah hari
kebebasan Banten dari cengkeraman kaum pemberontak !
Tertanda
SULTAN HASANUDDIN
Di balik kegemparan yang menyungkupi
setiap diri manusia yang ada di Banten maka berbagai pertanyaan timbul pula
dikalangan mereka. Siapakah yang telah membunuh danmenggantung kelima belas
manusia itu? Apakah
arti angka 212 dikening mayat-mayat. Apakahada hubungannya dengan peristiwa
terbunuhnya beberapa prajurit pemberontak diperbatasantempo hari? Apakah Sultan masih hidup dan, surat itu benar-benar ditandatangani
olehnya?
Kalau betul masih hidup di mana dia
berada sekarang? Kemudian di mana pula Resi Singo Ireng serta Matjan Seta yang
menjadi pentolan pembantu utama Parit Wulung? Kalau betul Sultan sudah muncul
kembali dan turun tangan, mengapa Parit Wulung sendiri tidak digantung?!
Di dalam suasana yang serba
membingungkan dan penuh tanda tanya tak terjawab itu sekelumit harapan timbul
di kalangan rakyat bahwa mereka betul-betul akan bebas dari kaum pernberontak.
Sekelumit harapan ini ditunjang pula oleh sebagian besar balatentara Banten
yang sesungguhnya masih setia pada Sultan. Dan dari hanya sekelumit harapan untuk
bebas maka menjadilah satu tekat bulat untuk angkat senjata menumbangkan
kekuasaan yang tidaksyah itu. Lagi pula satu-satunya pentolan pemberontak yang
masih bercokol di istana saat itu cuma tinggal Parit Wulung seorang. Yang
lain-lainnya sudah menemui kematian. Singo Ireng dan Matjan Seta sudah sejak
seminggu lenyap, mungkin juga kini cuma tinggal nama saja!
Sementara itu di dalam istana begitu
menyaksikan lima belas mayat yang digantung itu, sekujur tubuh Parit Wulung
laksana diserang demam panas dingin. Mukanya sepucat salju.
Tengkuknya sedingin es. Siapakah
yang punya kerja menggantungi pembantu-pembantu utamanya demikian rupa?
Dugaannya keras pada pemuda yang datang malam tadi! Dalamkebingungan dan
kengeriannya Parit Wulung sampai lupa untuk memerintahkan agar lima belas mayat
yang digantung itu diturunkan!
Bila dia berhasil menguasai dirinya
kembali maka diperintahkannyalah beberapa kelompok pasukan untuk melakukan
pembersihan di seluruh Kotaraja dan menyelidik ke perbatasan. Namun sebelum
pasukan-pasukan itu bergerak, maka sebagian dari balatentara yang masih setia
pada Sultan bersama-sama dengan rakyat yang membawa berbagai macam senjata
sudah menyerbu laksana air bah. Harapan untuk bebas dari kaum pemberontak,
tekat bulat untukmenegakkan kembali Kerajaan Banten yang syah serta pembalasan
dendam kesumat atas sanak saudara dan karib kerabat yang mati ditumpas kaum
pemberontak tempo hari, itulah semua yang membuat mereka tanpa diberi komando
lagi, menyerbu dengan dahsyatnya !
Dan pada saat pertempuran berkecamuk
hebat maka melesatlah tiga sosok tubuh manusia dari wuwungan istana. Yang
pertama seorang perempuan berkerudung biru, yang kedua seorang pemuda berambut
gondrong bertampang gagah dan yang ketiga adalah Sultan sendiri! Maka semangat tempur
para penegak keadilan itupun berlipat gandalah!
Parit
Wulung dan beberapa orang sisa-sisa pembantunya yang berkepandaian tinggi
bertahan mati-matian di dalam kurungan kira-kira tiga puluh prajurit dan empat
puluh rakyat jelata. Ketika Sultan, Dewi Kerudung Biru dan Pendekar 212 maju
pula ke tengah gelanggang,maka hanya beberapa gebrakan saja tewaslah
pembantu-pembantu utama Parit Wulung!
Manusia
pengkhianat besar ini dengan putus asa coba bunuh diri dengan hantamkan pedang
ke kepalanya. Tapi Pendekar 212 lebih cepat merampas senjata itu. Sultan dan Dewi
Kerudung Biru kemudian meringkus Parit Wulung! Maka hari itu tamatlah riwayat
kekuasaan kaumpemberontak di bawah pimpinan pengkhianat Parit Wulung dan
kawan-kawannya!
Di
mana-mana hanya tebaran mayat yang kelihatan. Di mana-mana hanya suara-
gegapgempita rakyat dan prajurit-prajurit yang terdengar menyambut kemenangan
dan mengelukelukanSultan Hasanuddin.
Kemudian diantara rakyat dan
prajurit-prajurit Banten banyak yang berteriak. "Gantung Parit Wulung!”
"Cincang tubuhnya sampai
lumat!"
"Hukum picis pengkhianat itu
!"
"Bakar saja hidup-hidup!"
teriak kelompok yang lain!
Sementara itu di langkan istana, di
bawah lima belas mayat yang masih tergantung berputar-putar di tiup angin pagi,
pendekar 212 dan Dewi Kerudung Biru berdiri dihadapan Sultan.
"Sultan kami rasa segala
sesuatunya sudah selesai kini. Kami berdua mohon diri....”
Sultan terkejut. "Tidak bisa!,”
kata Sultan setengah berteriak.
"Kalian berdua musti tinggal
dulu di sini beberapa lamanya. Bahkan aku sudah punya rencana untuk mengangkat
kau sebagai Kepala Balatentara Banten merangkap Pengawal Pribadiku,
Wiro!".
Wiro dan Anggini tersenyum.
"Hatimu mulia sekali Sultan,” sahut Pendekar 212. "Tapi kami berdua
adalah orang-orarig persilatan yang suka bertualang. Di lain hari kita akan
berjumpadan berkumpul lagi..."
Sultan merasa kecewa.. Hatinya juga
sangat terharu. "Kalian berdua telah berjasa besar terhadap Kerajaan dan
rakyat Banten. Aku harus umumkan hai ini sekarang juga dihadapan rakyat....”
"Ah, jangan.... tak usah
Sultan" kata Anggini dan Wiro pula.
Sultan mengambil sebuah benda
berbentuk bintang bersudut delapan dengan sebuahberlian besar di tengahnya.
"Anggini,” kata Sultan pada Dewi Kerudung Biru, "benda ini adalah
bintang utama Kerajaan Banten yang hanya diserahkan pada siapa saja yang telah
berjasa pada Kerajaan dan Raja Banten. Ini juga sebagai tanda bahwa yang memegangnya
adalah sahabat Raja dan rakyat Banten. Terimalah....''
"Sultan...
mana bisa aku yang rendah dan sama sekali tidak membuat jasa apa-apa musti
menerima bintang penghargaan begitu rupa....?"
"Terimalah
Anggini. Pada Wiro juga sebelumnya telah pernah kuberikan...."
Dengan
malu-malu Anggini kemudian menerima jaga bintang bersudut delapan bermata
berlian yang terbuat dari emas itu, Tiba-tiba Sultan ingat sesuatu. "Andjarsari, bagaimana
Andjarsari ...... ?"
"Dirinya tak perlu
dikhawatirkan Sultan,” menjawab Dewi Kerudung Biru. "Saat ini dia masih
berada di Lembah Batu Pualam dalam keadaan tak kurang suatu apa. Seorang
pengemudi kereta dan dua prajurit utama telah kami suruh ke sana untuk
menjemputnya....”
"Ah, jasa kalian berdua
benar-benar setinggi langit sedalam lautan. Aku betul-betul berterima kasih...”
Pendekar 212 tersenyum. "Bukan
kepada kami sebenarnya kau harus berterima kasih Sultan. Tapi kepada Tuhan Yang
Maha Kuasa. Kita manusia hanya hamba-hamba Tuhan, hanya alat Tuhan yang cuma
sanggup berusaha sedang ketentuan tetap ditanganNya.......”
Sultan manggut-manggut. Dari balik
pakaiannya dikeluarkannya Keris Tumbal Wilajuda.
Dengan ujung senjata itu digoresnya
kedua telapak tangannya sehingga mengeluarkan darah.
"Kuharap kalian berdua juga
suka menggores telapak tangan masing-masing…"
Anggini dan Wiro saling pandang. "Untuk apa kah
Sultan?" tanya Wiro pula.
"Gores
sajalah,” desak Sultan.
Kedua
orang itu kemudian sama menggores telapak tangan masing-masing. Wiro menggores
telapak tangan kanan sedang Anggini tangan kiri. Sultan kemudian menempelkan
eratrat telapak tangan kanannya ke telapak tangan kanan Wiro sedang telapak
tangan kiri ke telapak kiri Anggini. Kemudian kedua tangannya diacungkan
tinggi-tinggi ke udara. Dan karena tak dapat membendung lagi perasaan hatinya
maka berserulah Raja Banten ini.
"Saudara-saudaraku para
prajurit dan rakyat Banten! Hari ini di bawah penyaksian kalian, aku mengangkat saudara terhadap dua orang
yang telah berjasa besar terhadap kita sekalian...."
"Sultan!" seru Pendekar
212. "Kami .ini hanya manusia-manusia rendah jelata, bagaimana kau sudi
mengangkat saudara…”
Sultan tersenyum. "Darahku dan
darah kalian telah bercampur. Tadi kau menyebut nama Tuhan, apakah ada
perbedaan aniara aku dan kalian sebagai manusia di mata Tuhan....?!"
Dan Sultan berseru lagi. "Yang
di sebelah kananku ini adalah Pendekar 212 Wiro Sableng dan yang berkerudung
adalah Dewi Kerudung Biru Anggini !'' `
Maka untuk kesekian kalinya
tardengarlah gegap gempitanya suara orang banyak yangmenyambut ucapan Sultan
itu. Dan ketika sekilas Sultan memandang ke arah timur, maka berserilah
parasnya. Nun jauh di sana, di lereng bukit, kelihatan meluncur sebuah kereta.
Kereta yang membawa Andjarsari,
calon permaisurinya. - - - T A M A T
Keris yang sangat sakti
BalasHapus