SATU
“Ini!”
kata laki-laki berkumis melintang itu dengan suara kasar. ”Berikan sama dia!
Aku
harus terima jawaban hari ini juga, Kalingundil!! Kau dengar!?” Orang yang bernama Kalingundil mengangguk. Diambil surat yang
disodorkan.
”Kalau dia banyak bacot.....,” kata
laki-laki berkumis melintang itu pula, ”bikin beres saja. Berangkat sekarang,
jika perlu bawa Saksoko!” Kalingundil berdiri dan meninggalkan ruangan itu. Dan
bila Kalingundil baru saja lenyap di balik pintu maka menggerendenglah
Suranyali, laki-laki yang berkumis tebal itu.
”Betul-betul
perempuan laknat! Perempuan haram jadah!” Dibulatkannya tinju kanannya dan
dipukulkannya meja kayu jati di hadapannya.
”Brakk!!”
Papan meja pecah. Keempat kaki meja amblas sampai tiga senti ke dalam lanci ubin dan ubin sendiri retak-retak! Kemudian dia berdiri. Tubuhnya menggeletar oleh amarah yang hampir tak bisa dikendalikannya lagi. Dan mulutnya terbuka kembali. Dia memaki-maki seorang diri.
”Perempuan keblinger! Ditinggal satu
tahun tahu-tahu kawin! Bunting malah dan
punya anak malah! Keparat!”
Suranyali berdiri dengan nafas menghempas-hempas di muka jendela lalu dia
melangkah ke meja lain yang juga terdapat di ruangan itu. Dari dalam sebuah
kendi diteguknya air putih dingin. Tapi baru dua teguk air melewati
tenggorokannya, isi kendi itu sudah habis.
”Keparat!” maki Suranyali lagi.
Dibantingkannya kendi itu ke tanah hingga pecah berantakan. Seorang perempuan
paruh baya memunculkan kepalanya di pintu sebelah sana namun melihat Suranyali
yang lagi beringasan ia cepat-cepat diam menghilang kembali.
Akhirnya, Suranyali letih sendiri
memaki-maki dan marah-marah seperti itu. Dibantingkannya badannya ke sebuah
kursi. Dan kini terasa olehnya betapa letih badannya.
”Ludjeng!” teriak Suranyali.
Perempuan separuh baya yang tadi
memunculkan diri di pintu masuk bergegas.
”Ya, Denmas Sura....”.
”Kau juga keparat!” damprat
Suranyali pada perempuan itu. Ludahnya menyemprot dan Wilujeng tak berani
menyeka ludah yang membasahi mukanya.
”Sudah berapa kali aku bilang,
jangan panggil aku dengan nama itu! Apa kau sudah gila hingga lupa
terus-terusan?!? Kau gila ya, hah?!!.” Wilujeng terdiam dengan tubuh menggigil
ketakutan. Lagi-lagi dia lupa. Lagi-lagi dia memanggil dengan Sura
padahal sudah sering Suranyali memerintahkan agar dia memanggil dengan nama
Mahesa Birawa.
”Perempuan monyong! Aku tanya kau
sudah gila? Jawab!”
”Tidak, Denmas Su....., eh Mahesa
Birawa.....”
”Kalau tidak gila kau musti sinting!
Ambilkan
aku air, lekas!”
Wilujeng
putar tubuh. Sebentar kemudian dia sudah kembali membawa segelas air
putih. Air yang dingin itu menyejukkan hati Suranyali sedikit. Kemudian dia
duduk tenangtenang di kursi itu dan bila matanya dipicingkannya, maka kembali
terbayang saat setahun yang lewat.
Waktu itu dia sudah lama berkenalan
dengan Suci. Dia tahu bahwa gadis itu tidak sukaterhadapnya, tapi dengan
menemui Suci terus-terusan di tepi kali tempat mencuci, dia berharap lama-lama
akan dapat juga melunakkan hati gadis itu. Memang akhirnya Suci mau juga
bicara-bicara melayani Suranyali, tapi ini bukanlah karena dia suka terhadap
Sura melainkan karena kasihan belaka. Tapi celakanya Suranyali salah tafsir.
Dia menduga bahwa kini Suci sudah terpikat kepadanya.
Satu ketika Sura dipanggil oleh
seorang sakti di gunung Lawu. Sebelum pergi, Sura menemui Suci dan berkata,
”Suci, aku akan pergi ke Gunung Lawu. Mungkin satu
tahun lagi aku baru kembali. Kuharap kau mau menunggu
dengan sabar. Jika aku kembali aku akan mengawini kau.....”
”Tapi Kangmas Sura.....”
Suci menghentikan kata-katanya
karena saat itu dilihanya Suranyali melangkah ke hadapannya dan mengulurkan
tangan untuk memeluknya. Suci mundur.
”Jangan, Kangmas. Nanti kelihatan
orang.....”
Kemudian Suranyali pergi tanpa ada
lagi kesempatan bagi Suci untuk menerangkan
bahwa dia tidak suka laki-laki itu,
bahwa dia menolak lamaran tadi! Dan dalam kepergian Suranyali itu maka Suci
kemudian kawin dengan Ranaweleng seorang pemuda yang dicintainya dan juga mencintainya.
Bagi Suci perkawinannya dengan Ranaweleng itu sama sekali bukan pengkhianatan
atas diri Suranyali karena memang dia tidak mencintai Suranyali dan juga tak
pernah menyatakan cintanya.
Demikianlah, bila hari itu Suranyali
kembali dari perjalanannya maka kabar yang pertama yang didengarnya, yang
begitu menyentakkan darah amarahnya ialah bahwa Suci telah kawin dengan
Ranaweleng. Kedua suami istri itu bahkan sudah mempunyai seorang anak
laki-laki. Kehidupan mereka meski sederhana tapi bahagia dan kini Ranaweleng
sudah menjadi Kepala Kampung Djatiwalu.
Jika Suranyali seorang manusia punya
muka dan punya harga diri, sebenarnya mengetahui perkawinan Suci itu dia musti
bersikap mundur karena adalah memalukan sekali bila dia terus-terusan
menginginkan Suci sedang Suci tidak mencintainya apalagi kini sudah bersuami
dan beranak pula. Tapi dasar Suranyali bukan manusia berpikiran jernih, lekas
kalap dan naik darah membabi buta, maka hari itu juga dikirimkannya anak
buahnya ke Djatiwalu untuk membawa sepucuk surat ancaman kepada Ranaweleng.
Suranyali yang kini memakai nama
Mahesa Birawa bangkit dari kursinya ketikadidengar suara gemuruh kaki-kaki kuda
di halaman. Dia melangkah ke jendela dan memperhatikan kepergian kedua orang
anak buahnya. Jari-jari tangannya mencengkeram sanding jendela.
”Suci musti dapat..... musti dapat!”
katanya dalam hati yang dikecamuk amarah itu.
”Kalau tidak.....,” Mahesa Birawa
tak meneruskan kata-katanya. Sebagai gantinya tangan kirinya bergerak memukul
dinding jendela. Dan
kayu sanding itu pecah berantakan!!
DUA
Keduanya
menghentikan kuda di hadapan seorang laki-laki tua yang tengah mencabuti rumput
halaman. Tanpa turun dari kudanya, Kalingundil bertanya dengan membentak kasar,
”Ini rumahnya Ranaweleng?!”
Orang
tua berdiri perlahan-lahan dari jongkoknya. Ketika berdiri nyatalah bahwa
tubuhnya pendek dan bongkok. Ditengadahkannya kepalanya dan dikeataskannya topi
bambuyang menutupi keningnya untuk dapat melihat orang yang telah bicara
kepadanya. Orang tuaini tak segera berikan jawaban melainkan melirik kepada
Saksoko yang duduk di ataspungung kuda di sisi kanan Kalingundil.
”Orang
tua bego!” maki Kalingundil. Laki-laki bertubuh langsing ini memang bersifat
tidak sabaran. ”Aku tanya ini rumahnya Ranaweleng?!”
”Ya!” jawab Kalingundil.
”Ada keperluan apa Saudara?”
Si gemuk pendek Saksoko kini yang
buka suara. Suaranya parau dan tidak enak didengar. ”Tak perlu tanya keperluan
kami. Kamu orang tua pikun minggirlah!”
Saksoko menyentakkan tali kekang
kudanya. Sekali kuda itu menghambur ke depanmaka terpelantinglah si orang tua
kena terajakan kaki binatang yang ditunggangi Saksoko itu!
Orang tua itu bangun dengan
perlahan-lahan. Matanya yang mengabur dimakan umur kelihatannya menyorot.
Dengan kaki kirinya ditendangnya secara acuh tak acuh topibambunya yang
tergeletak di tanah.
Topi itu melesat ke muka laksana
anak panah cepatnya dan menghantam kemaluan kuda yang ditunggangi oleh Saksoko.
Kuda jantan itu meringkik dahsyat. Kedua kaki depannya melonjak ke atas
tinggi-tinggi dan Saksoko terpelanting ke tanah!
Si orang tua diam-diam merasa puas.
Dengan sikap seperti tidak terjadi apa-apa diamemutar tubuh jongkok kembali dan
mulai lagi mencabuti rerumputan di halaman!
Bola mata laki-laki gemuk pendek itu
berpijar-pijar. Untuk beberapa lamanya segala sesuatunya menjadi guram dalam
pemandangannya.
”Saksoko, ada apa dengan kau?!”
tanya Kalingundil terkejut dan heran.
”Aku sendiri tidak tahu,” sahut
Saksoko seraya bangun dengan menepuk-nepuk pantat celananya. Dia memandang
berkeliling. Tidak ada siapa-siapa kecuali orang tua yang tadi tengah mencabuti
rumput. Kemudian mata laki-laki itu membetnur topi bambu yangtergeletak tak
berapa jauh dari tanah. Hatinya curiga. Tapi bila dilihatnya lagi orang tua
kurusdan bongkok itu kecurigaannya menjadi sirna. Tak mungkin, pikirnya. Tak
mungkin kalau kakek-kakek pikun itulah yang telah melemparkan topi bambu itu ke
kuda tunggangannya.
Kalingundil
juga memandang berkeliling dengan hati bertanya-tanya. Dilihatnya orang tua
itu. Dilihatnya topi itu. Kemudian dia berkata, ”Kurasa orang tua kerempeng
itu.....”
Kalingundil
memang lebih tajam penglihatannya dan perasaannya. Dalam ilmu silatpun dia
lebih tinggi dua tingkat di atas Saksoko.
”Mana
mungkin,” kata Saksoko pula tidak percaya.
”Coba
kita lihat.”
Kalingundil turun dari kudanya.
Diambilnya topi yang tergeletak di tanah.
Diperhatikannya topi bambu ini
seketika. Matanya melirik pada orang tua yang masih jongkok dan mencabuti
rumput dekat pagar halaman. Kalingundil menggerakkan tangan kanannya. Topi
terlepas dari tangan itu dan melesat deras ke arah kepala si orang tua.Begitu
acuh tak acuh sekali, orang tua yang jongkok membelakangi itu gerakkan tangan
kanannya untuk menggaruk bagian belakang kepalanya. Dan adalah mengejutkankedua
orang anak buah Mahesa Birawa atau Suranyali ketika melihat bagaimana topi
bambu itu melesat ke samping dan menggelinding di tanah!
Kalingundil
dan Saksoko saling pandang.
”Apa
kataku, kau lihat?” desis Kalingundil.
Melihat
kenyataan ini maka geramlah si gemuk pendek Saksoko.
”Orang
tua edan!” makinya. ”Punya sedikit ilmu saja sudah mau kasih pamer!” Dia
membungkuk
dan meraup pasir. Raupan pasir itu dilemparkannya ke arah si orang tua. Meski
hanya pasir namun karena diisi dengan tenaga dalam maka pasir itu melesat hebat
dan dapatmelukakan kulit membutakan mata!
Si
orang tua tiba-tiba berdiri dengan terbungkuk-bungkuk. Ditepuk-tepuknya pakaian
hitamnya seperti seseorang yang sedang membersihkan debu dari pakaiannya. Tapi
gerakannya ini sekaligus membuat berhamburannya pasir-pasir halus yang
menyerang kearahnya!
”Kurang
ajar betul!” damprat Saksoko karena merasa semakin ditantang dan dipermainkan.
Dia menerjang ke muka. Dalam jarak beberapa tombak dilepaskannya pukulan tangan
kosong. Orang tua itu memutar badannya yang bungkuk ke samping.
”Apa-apaan
ini?!” tanyanya dengan suaranya yang halus melengking, ”ada apa kau serang
aku?!”
Namun
gerakannya tadi sekaligus telah melewatkan angin pukulan Saksoko hanyabeerapa
jengkal saja di depan hidungnya. Saksoko kertak rahang.
”Orang
tua gelo! Siapa kau sebetulnya?!”
Orang
tua itu menyeringai menunjukkan gusinya yang tidak bergigi barangsepotongpun.
”Aku
sudah tua, tak usah bicara memaki!,” katanya dan didorongkannya telapak tangan
kanannya ke depan. Setiup angin dahsyat melanda tubuh Saksoko. Kalau tidak
cepatcepat menghindar pastilah si gemuk pendek ini akan mendapat celaka.
Begitu
melompat ke samping segera dia kirimkan satu jotosan kepada orang tua itu. Pada saat inilah dari pintu rumah terdengar seruan keras:
”Ada apa di sini?! Tahan!!”
Saksoko tarik pulang tangannya dan
berpaling. Seorang laki-laki muda berparas gagah
dilihatnya keluar dari rumah dan
berdiri di tangga langkan. Kemudian dilihatnya Kalingundil
memberi isyarat agar datang
mendekatinya. Meski hatinya masih diselimuti amarah terhadap
si orang tua tapi melihat isyarat
kawannya itu segera dia datang juga. Keduanya melangkah ke
hadapan langkan rumah.
”Kau Ranaweleng?” tanya Kalingundil
membentak.
Selama menjadi Kepala Kampung di
Jatiwalu, baru ini harilah Ranaweleng dibentak
orang
demikian rupa dan oleh orang asing pula! Dari
tampang-tampang serta sikap kedua
tamunya itu Ranaweleng segera maklum
bahwa mereka tentu datang bukan membawa
maksud
baik. Namun demikian, dengan suara ramah dia menjawab:
”Betul,
Saudara, aku memang Ranaweleng,” lalu tanyanya kemudian, ”Saudarasaudara
datang
dari mana dan ada keperluan apakah?”
Kalingundil
cabut gulungan surat
dari balik pakaiannya.
”Ini!
Silahkan dibaca!” katanya.
Gulungan
surat itu
dilemparkannya ke hadapan Ranaweleng. Karena lemparan itu
disertai
dengan aliran tenaga dalam maka surat
tersebut melesat berdesing dan ujung kayu di
mana
surat itu
disepit menancap pada tiang langkan!
Ranaweleng
kaget. Ditekannya rasa kaget itu dan dicabutnya surat yang menancap
dari tiang langkan lalu dibacanya.
Kalingundil dan Saksoko memperhatikannya dengan
bertolak pinggang.
Ranaweleng keparat!
Aku kasih tempo satu hari untukmu
agar angkat kaki
dari Jatiwalu ini! Bawa anakmu tapi
tinggalkan
istrimu! Ini adalah perintah! Kalau
kau tidak patuhi,
jangan harap kau bisa melihat
matahari tenggelam
esok hari! Ini adalah perintah!
Mahesa Birawa
Bergetar
tubuh Ranaweleng. Dadanya panas dikobari luapan hawa amarah. Dia tak
pernah
kenal dengan manusia yang bernama Mahesa Birawa itu, bahkan juga tak pernah
dengar nama atau riwayat manusia itu
sebelumnya.
Matanya memandang melotot pada kedua
tamunya. ”Mahesa Birawa ini siapa?” tanya
Ranaweleng.
Kalingundil meludah dahulu ke tanah
sebelum menjawab. ”Laki-laki yang kau rampas
kekasihnya dan yang kini menjadi
istrimu!”
Kaget
Ranaweleng bukan alang kepalang. Belum dia sempat bicara
Saksoko sudah
mendahului. ”Mahesa Birawa inginkan
jawabanmu hari ini juga Ranaweleng!”
Kalingundil menyambungi, ”Dan
sebaiknya..... apa yang tertulis di surat itu kau ikuti
saja.”
”Kalau tidak?,” tanya Ranaweleng
menindih rasa geramnya.
Kalingundil
tertawa mengekeh. Gigi-giginya kelihatan besar-besar dan coklat
kehitaman.
Ranaweleng
tak dapat lagi menahan luapan amarahnya. Diremasnya dan dipatahpatahkannya
kayu
penyepit surat
lalu dilemparkannya ke kepala Kalingundil, tepat mengenai
mulut
yang sedang tertawa mengekeh itu!
”Bangsat
rendah!” hardik Kalingundil. Dia meloncat ke muka. ”Kau berani berlaku
kurang
ajar terhadapku, huh?!”
”Tak
usah jual lagak di sini, setan!” balas menghardik Ranaweleng. ”Kalian
budakbudak
sinting
kembalilah kepada majikan kalian! Bilang sama itu manusia Mahesa Birawa
agar
lekas-lekas pergi mencari dukun untuk mengobati otaknya yang tidak waras!”
”Betul-betul
anjing budak yang tidak tahu diri!” semprot Saksoko. Dari tadi dia
memang
sudah beringasan gara-gara si orang tua yang telah mempermainkan dan setengah
menantangnya
tadi. Sekali dia ayunkan langkah maka satu tendangan yang didahului oleh
angin
hebat melanda ke bawah perut Ranaweleng.
Melihat
musuh yang inginkan jiwanya ini Ranaweleng menggeram dan kertakkan
rahang.
Dia berkelit ke samping dan hantamkan ujung sikunya ke tulang iga lawan.
Saksoko
bukan
manusia yang baru belajar ilmu silat kemarin. Sambil melompat ke atas lututnya
ditekuk
dan disorongkan ke kepala lawan. Ranaweleng merunduk dan lompat ke samping.
Sebelum
dia berbalik untuk mengirimkan pukulan ke punggung lawan yang saat itu masih
belum
menginjak lantai langkan maka terdengarlah suara seseorang.
”Ah,
Raden Ranaweleng, mengapa musti mengotori tangan terhadap kunyuk kesasar
ini?!
Biar aku si tua bangka Jarot Karsa yang kasih sedikit pelajaran sopan santun
terhadapnya!”
Ternyata
yang berkata itu adalah orang tua renta kurus kerempeng yang tadi
mencabuti
rumput di halaman, yang merupakan pembantu Kepala Kampung Jatiwalu.
Mendengar
dirinya dimaki sebagai kunyuk kesasar maka marahlah Saksoko. Dia
membalik
dan menyerang orang tua itu kini dengan satu pukulan jarak jauh yang
menimbulkan
angin deras. Angin pukulan ini menyerang ke pusat jantung di dada Jarot
Karsa.
Dengan begitu Saksoko berkehendak untuk mencabut nyawa si orang tua detik itu
juga!
Tapi Jarot Karsa ganda tertawa.
Sekali dia gerakkan tangan kanannya
yang kurus maka setiup angin dahsyat memapaki
serangan si gemuk pendek Saksoko.
Angin pukulan Saksoko menyungsang balik menyerang
Saksoko sendiri. Ditambah dengan
dorongan angin pukulan si orang tua maka
kedahsyatannya bukan olah-olah!
Tubuh Saksoko mencelat keluar
langkan rumah sampai tiga tombak dan
menggelinding di tanah. Dicobanya
bangun kembali. Tapi tubuhnya itu segera rebah lagi
setelah terlebih dahulu dari mulut
Saksoko menyembur darah kental dan segar!
Kaget Kalingundil bukan kepalang.
Mukanya hitam membesi. Laki-laki ini menerjang
ke depan. Terjangan ini disertai
dengan bentakan yang keras menggeledek membuat langkan
rumah dan tanah menjadi bergetar!
Jarot Karsa merunduk cepat.
Gerakannya ini disusul dengan cepat oleh Kalingundil.
Serangkum angin keras dan dingin
menyerang ke seluruh jalan darah di tubuh orang tua. Pasir
menderu beterbangan, debu menggebu.
Jarot Karsa cepat-cepat dorongkan
tangan kanannya ke muka. Maka dua angin
pukulan bertemu di udara menimbulkan
suara berdentum seperti letusan meriam! Tubuh Jarot
Karsa kelihatan bergoyang gontai
sedang Kalingundil terdampar ke tanah tapi cepat bangun
lagi.
Keringat dingin memercik di kening
anak buah Mahesa Birawa ini. Nyalinya menciut
kecil. Tak nyana si orang tua
memiliki kehebatan demikian rupa! Tak diduganya sama sekali
kalau tenaga dalamnya ada di bawah
angin berhadapan dengan tenaga dalam Jarot Karsa!
Tapi laki-laki ini, yang menjadi
buta matanya dan tumpul pikirannya karena amarah
dan kebencian yang meluap, tidak
memikirkan lagi bahwa sesungguhnya si orang tua bukan
tandingannya.
Kedua tangannya dipentang ke muak.
Tangan itu kelihatan bergetar. Jarot Karsa dan
juga Ranaweleng memperhatikan gerak
gerik manusia itu dengan tajam. Kelihatan kini
bagaimana sepasang lengan
Kalingundil sampai ke jari-jari tangannya berwarna kehitaman.
”Ha.....ha....,” terdengar kekehan
si tua Jarot Karsa, ”Kau hendak pamerkan ilmu
lengan
tangan baja?!”
Kalingundil
terkejut. Terkejut karena belum apa-apa musuh sudah mengetahui ilmu
simpanan yang paling diandalkannya.
Tapi ini tidak diperlihatkannya, bahkan dia pentang
mulut.
”Bagus, penglihatanmu masih tajam
juga, huh! Tapi tahukah kau kehebatan ilmu
pukulan lengan tangan baja ini?!”
”Kau tak perlu banyak bacot,
Kalingundil, majulah!” tantang Jarot Karsa.
Kalingundil menggeram. Kebetulan
saat itu dia berdiri di dekat langkan rumah. Sekali
ayunkan tangan kanannya maka: brak!!
Tiang langkan yang besarnya hampir menyamai paha
manusia patah. Atap rumah menurun
miring!
Sebenarnya Jarot Karsa kagum juga
dengan kehebatan ilmu lawannya itu. Tapi
sebagai orang tua yang sudah banyak
pengalaman dalam dunia persilatan masakan dia jerih
menghadapi ilmu pukulan macam begitu
saja!
”Ayo monyet kesasar, majulah!”
katanya dengan terbungkuk-bungkuk.
Kedua telapakan kaki Kalingundil
menjejak tanah. Tubuhnya melesat ke muka, sedikit
miring. Kaki kiri dan kanan
mengirimkan serangan berantai terlebih dahulu kemudian
menyusul sepasang lengannya yang
menghitam oleh aji ’lengan tangan baja.’ Angin yang
ditimbulkan oleh serangan dua lengan
ini dahsyatnya bukan alang kepalang, tajam dan
memerihkan mata. Lengan kiri
membabat ke pinggang Jarot Karsa, kalau kena pastilah
pinggang orang tua itu akan
terkutung dua. Lengan kanan menghantam dari atas ke bawah
mengincar batok kepala Jarot Karsa.
Dapat dibayangkan bagaimana dalam sekejapan mata
lagi kepala si orang tua akan hancur
berantakan!
Pekikan setinggi langit yang hampir
merupakan lolongan serigala haus darah
melengking menegakkan bulu roma!
Kalingundil melingkar di tanah. Nafasnya sesak,
lidahnya menjulur keluar seperti
orang yang tercekik dan matanya melotot. Tubuhnya
bergerak-gerak beberapa lamanya
kemudian ketika darah menyembur dari mulutnya, tubuh
itu pun tak bergerak-gerak lagi!
Kalingundil pingsan menyusul kawannya yang terdahulu.
Ranaweleng menghela nafas dalam.
Dipandanginya kedua manusia yang melingkar di
tanah itu. Kemudian dia berpaling
pada si orang tua. ”Bapak Jarot Karasa, kau kenal dengan
manusia yang bernama Mahesa Birawa
itu?”
Jarot Karsa menggeleng.
”Siapa dia tak penting Raden. Yang penting ialah
mulai saat ini kita musti waspada
karena
cepat atau lambat manusia itu pasti datang ke sini untuk membuat perhitungan
dengan
kita!”
Ranaweleng
mengangguk.
”Aku
tak ingin melihat kdua orang ini lebih lama di depan rumahku. Bereskan mereka,
pak
Jarot.”
Si
orang tua tertawa mengekeh.
”Tak
usah khawatir...... tak usah khawatir. Aku akan sapu mereka dari depan
hidungmu,
Raden.”
Dua
kali kaki kanan Jarot Karsa yang kurus kering itu menendang. Tubuh Kalingundil
dan Saksoko mencelat seperti bola, dan angsrok di luar
pagar halaman.
TIGA
Kedua
mata Mahesa Birawa alias Suranyali yang menutup dalam tidur-tidur ayam
membuka
lebar-lebar bila telinganya menangkap suara derap kaki kuda yang memasuki
pekarangan.
Dia bangun dan melangkah cepat ke pintu muka. Dan matanya yang tadi
membuka
lebar itu kini tampak membeliak. Setengah meloncat dia turun ke tanah.
”Ada apa dengan kalian?!”
tanya Mahesa Birawa. Pertanyaan ini hampir merupakan
teriakan.
Kedua
kuda itu berhenti. Penunggangnya, Kalingundil dan Saksoko turun perlahanlahan.
Pakaian
mereka kotor oleh darah dan debu. Muka keduanya pucat pasi. Melihat ini
Mahesa
Birawa segera maklum bahwa kedua anak buahnya itu mendapat luka dalam yang
parah.
Kalingundil berdiri
terbungkuk-bungkuk sambil mengurut dada. Pemandangannya
masih
berkunang-kunang. Saksoko begitu menginjakkan kedua kakinya di tanah segera
tergelimpang,
muntah darah lagi lalu pingsan!
Mahesa
Birawa melompat dan cepat menubruk Saksoko. Dari dalam sabuknya
dikeluarkannya
sebutir pil dan dimasukkannya ke dalam mulut Saksoko. Sebutir lagi
kemudian
diberikannya pada Kalingundil.
”Telan
cepat!,” katanya. ”Kalau sudah, lekas atur jalan nafas dan darahmu!”
Kalingundil
menelan pil yang diberikan lalu cepat-cepat duduk bersila di tanah untuk
mengatur jalan nafas dan darahnya. Tak lupa dia mengalirkan tenaga dalamnya ke bagian
tubuh yang tadi kena terpukul.
Satu jam kemudian keadaan
Kalingundil boleh dikatakan siuman meski masih
berbaring menelentang di atas sebuah
tempat tidur.
”Sekarang!” kata Mahesa Birawa
sangat tidak sabar dan sambil menggeprak meja,
”terangkan apa yang terjadi
Kalingundil!”
Kalingundil tarik nafas panjang.
Diurutnya dadanya beberapa kali lalu mulailah dia
memberi keterangan. Dan bila Mahesa
Birawa selesai mendengar keterangan itu maka
mendidih darah di kepalanya. Mukanya
hitam membesi. Kumisnya
yang tebal melintang
bergetar.
Matanya yang memang sudah besar itu dalam keadaan melotot seperti mau tanggal
dari
rongganya!
”Kalingundil!
Siapkan kudaku! Panggil Majineng dan Krocoweti. Kalian bertiga ikut
aku
ke tempatnya itu manusia haram jadah! Lekas.....!”
Kalingundil
tanpa banyak bicara tinggalkan tempat itu. Tak lama kemudian
kelihatanlah
empat orang penunggang kuda menderu laksana terbang. Debu mengepul, pasir
berhamparan.
Mahesa Birawa memacu kudanya di muka sekali.
Orang tua bernama Jarot Karsa itu
mengusap dagunya. Tanpa berpaling pada
Ranaweleng yang berdiri di
sampingnya dengan mata yang memandang tajam ke muka dia
berkata, ”Dugaan kita tidak salah,
Raden. Mereka
datang. Agaknya yang di depan sendiri itu
adalah
manusia yang bernama Mahesa Birawa.....”
Ranaweleng
memandang pula ke muka. Hatinya mengeluh. Inilah pertama selama
menjadi
Kepala Kampung dia menghadapi kesukaran dan kekerasan macam begini! Bahkan
dia
tadi belum sempat menyelesaikan pembicarannya dengan Suci ketika Jarot Karsa
memanggilnya,
memberi tahu kedatangan empat penunggang kuda itu. Ketika Mahesa
Birawa
sampai di halaman, Suci pun saat itu sudah berdiri di belakang suaminya.
Mahesa
Birawa hentikan kudanya. Sorotan matanya seganas kelaparan tertuju pada
Ranaweleng.
Di belakangnya Kalingundil memberikan kisikan.
”Laki-laki
tua yang berdiri di dekat tiang itulah bangsatnya yang telah mencelakai aku
dan
Saksoko. Hati-hati terhadap dia, Mahesa. Ilmunya tinggi sekali.....”
”Kau
manusia kintel tutup mulut! Tak usah kasih nasihat padaku!” membentak
Mahesa Birawa.
Kalingundil terdiam. Digigitnya
bibirnya. Dan saat itu dendam serta bencinya
terhadap kedua orang yang berdiri di
langkan rumah itu, terutama Jarot Karsa, tak dapat
dilukiskan.
Mahesa Birawa memandang sekilas pada
Suci yang berdiri di belakang suaminya.
Nafsu untuk dapat memiliki perempuan
ini yang tak kesampaian atau belum kesampaian
membuat
amarahnya semakin meluap-luap. Dadanya seperti mau pecah. Saat itu meski sudah
bersuami
dan punya anak satu tapi Suci dilihatnya semakin tambah cantik dan muda jelita.
Bola
mata Mahesa Birawa bergerak ke jurusan Jarot Karsa setelah terlebih dahulu
menyapu
tampang Ranaweleng dengan garangnya.
”Anjing
tua yang di atas langkan turunlah untuk menerima mampus!”
suara
Mahesa Birawa begitu lantang dan menggeletarkan karena disertai tenaga dalam
yang
tinggi sudah mencapai puncak kesempurnaannya.
Jarot
Karsa sunggingkan senyum tawar. Sekali dia menggerakkan kedua kakinya maka
setengah
detik kemudian dia sudah berdiri di tanah, beberapa tombak di hadapan kuda
Mahesa
Birawa. Gerakannya waktu melompat tadi enteng sekali. Senyum datar yang
mengejek
tersungging lagi di mulut orang tua ini.
”Ini
manusianya yang bernama Mahesa Birawa?! Yang inginkan istri orang?! Kalau
kau tidak sedeng tentu sinting! Apa
kunyukmu yang satu ini sudah kasih tahu padamu agar
mencari dukun untuk mengobati otak
miringmu?!”
Bergetar badan Mahesa Birawa mulai
dari ubun-ubun sampai ke ujung jari-jari kaki!
”Anjing tua yang tak tahu diri, hari
ini terpaksa kau harus pasrahkan nyawa
kepadaku!”
Mahesa Birawa enjot diri, melompat
turun dari kuda. Dalam keadaan tubuh melayang
demikian rupa kedua tangannya
dipukulkan ke muka. Dua rangkum angin sedahsyat badai
menyerbu orang tua yang membungkuk
itu. Debu dan pasir mengebubu!
Jarot Karsa melengking dan melompat
setinggi tiga tombak ke atas. Angin pukulan
yang dahsyat lewat di bawah kedua kakinya.
Pada detik dia hendak mengirimkan
serangan balasan maka berserulah Ranaweleng.
”Bapak Jarot minggirlah, biar aku
yang hadapi manusia pengacau ini!”
”Ah Raden....,” kata Jarot Karsa
dalam keadaan tubuh masih mengapung di udara.
”Biarlah aku yang sudah tua ini
kasih pelajaran padanya! Tak
usah Raden bersusah payah.
Dalam
satu dua jurus ini akan kusapu badannya keluar halaman!”
Mahesa
Birawa kertakkan rahang. Dua tinjunya bergerak susul menyusul. Deru angin
yang
dahsyat melanda ke arah Jarot Karsa. Si orang tua, yang rupanya ingin menjajaki
sampai
di
mana ketinggian tenaga dalam lawan, balas mengirimkan pukulan tangan kosong.
Letusan sedahsyat meriam berdentum
ketika dua tenaga dalam itu saling bentrokan di
udara. Gendang-gendang telinga
seperti menjadi pecah dan pekak. Tubuh Mahesa Birawa
kelihatan berdiri gontai beberapa
detik lamanya sedangkan Jarot Karsa jatuh duduk di tanah,
mandi keringat dingin!
Bukan saja Jarot Karsa sendiri, tapi
Ranaweleng-pun kagetnya bukan main. Suci yang
berdiri di belakang suaminya dan
menyaksikan itu menjerit tertahan karena menyangka si
orang tua mendapat celaka besar.
Ternyata tenaga dalam Mahesa Birawa demikian tingginya,
lebih tinggi dari tenaga dalam Jarot
Karsa.
Tahu kalau tenaga dalam lawan lebih
unggul dari dia, Jarot Karsa segera melompat
dan menyerang. Kedua tangannya
bergerak demikian cepat hampir tak kelihatan, menyapunyapu
dan sekali-kali menjotos ke muka
dengan dahsyatnya.
Hampir dua jurus Mahesa Birawa
terkurung oleh pukulan-pukulan yang anginnya
memerihkan matanya. Mahesa Birawa
atau Suranyali mau tak mau mempercepat pula
gerakannya. Tubuhnya kini laksana
bayang-bayang. Bila satu jurus lagi berlalu, maka Jarot
Karsa mulai merasakan
tekanan-tekanan serangan yang membuatnya harus berhati-hati.
Tiga jurus lagi berlalu. Tubuh kedua
manusia itu sudah hampir tak kelihatan karena
cepatnya gerakan mereka ditambah
lagi dengan debu serta pasir yang menggebubu ke udara
menutupi keduanya.
Tiba-tiba diiringi dengan lengkingan
yang menggetarkan dengan satu gerakan yang
sukar ditangkap oleh mata Jarot
Karsa, dengan mengandalkan ilmu mengentengi tubuhnya
yang lebih tinggi sedikit dari lawan
dia menyorongkan siku kirinya ke muka. Tubuh lawan di
lihatnya mengelak ke samping dan
sekaligus tangannya yang lain memapaki gerakan
mengelak dari Mahesa Birawa.
”Buk!!”
Mahesa Birawa terjajar sampai dua
tombak ke belakang. Mulutnya
memencong
menahan
sakit pukulan tangan kanan Jarot Karsa yang bersarang di dada kirinya.
Cepat-cepat
dialirkannya
tenaga dalamnya ke bagian yang terkena itu, Jarot Karsa tertawa mengekeh.
”Jika
kau masih juga belum mau angkat kaki dari sini bersama kunyuk-kunyukmu itu,
jangan
menyesal kalau mukamu nanti akan benjat benjut macam mangga busuk!”
Tampang
Mahesa Birawa kelam membesi. Kedua kakinya merenggang. Tangan kiri
dipentang
lurus-lurus ke muka. Tangan kanan ditarik tinggi-tinggi ke belakang di atas
kepala.
Pelipisnya
bergerak-gerak. Tangan kanan Mahesa Birawa kemudian kelihatan menjadi hijau
dan
bergeletar.
”Bangsat
tua bangka!” kertak Mahesa Birawa, ”lihat tangan kananku. Kenalkah kau
akan
pukulan yang akan kulepaskan ini....!”
Jarot
Karsa kerutkan kening. Matanya memandang lekat-lekat ke tangan kanan
Mahesa
Birawa yang semakin lama semakin bertambah hijau itu. Meski dia sudah hidup
hampir
tujuh puluh tahun, meski pengalamannya di dunia persilatan setinggi langit
sedalam
lautan
namun kali ini mau tak mau tergetar juga hatinya meliahat tangan kanan lawan
itu,
ditambah
lagi dia sama sekali tidak tahu ilmu pukulan apakah yang akan dilancarkan oleh
lawannya!
Akan
Ranaweleng, begitu melihat tangan Mahesa Birawa yang menjadi hijau itu,
kagetnya
bukan main. Dengan cepat dia memberikan kisikan pada Jarot Karsa dengan
mempergunakan
ilmu ”menyusupkan suara.”
”Bapak
Jarot, hati-hati. Pukulan yang hjendak dilepaskan itu adalah pukulan –
Kelabang
Hijau — Hebatnya bukan main dan sangat beracun....!”
Jarot
Karsa menindih rasa terkejutnya. ”Pukulan Kelabang Hijau....,” keluhnya dalam
hati.
Hampir-hampir tak dapat dipercayanya kalau tidak menyaksikan sendiri. Dia tahu
betul
bahwa
di dunia persilatan hanya ada satu manusia yang memiliki ilmu pukulan yang
dahsyat
ini
yaitu seorang Resi bernama Tapak Gajah yang diam di lereng Gunung Lawu. Tapi
kini
muncul
seorang lain yang memiliki ilmu pukulan itu. Apakah Mahesa Birawa ini muridnya
Tapak
Gajah?
Kerut-kerut
pada kening Jarot Karsa mengendur sedikit. Dicobanya menunjukkan
mimik
mengejek.
”Hanya
pukulan Kelabang Hijau, apakah perlu ditakutkan....!” kata seorang tua
bungkuk
itu.
Diam-diam
Mahesa Birawa menjadi kaget melihat bahwa lawan mengetahui ilmu
pukulan
yang hendak dilepaskannya. Cepat dia membentak.
”Kalau
sudah tahu mengapa tidak segera berlutut, anjing tua?!”
”Hanya
monyet edan yang akan berlutut di hadapanmu Mahesa Birawa. Terimalah
ini....!”
dan tangan Jarot Karsa mendahului melepaskan pukulan tangan kosong yang
dahsyat.
Setengah
tombak lagi angin pukulan yang menghembuskan maut itu melanda tubuh
dan
kepala Mahesa Birawa maka kelihatanlah laki-laki ini meninjukan tangan kanannya
ke
muka!
Setiup
angin laksana topan prahara dan mengeluarkan sinar hijau melesat ke muka.
Angin
pukulan Jarot Karsa terdorong dan balik menyerang orang tua itu sendiri!
Jarot
Karsa melompat ke samping. Tapi tak keburu. Sinar hijau pukulan Kelabang
Hijau
telah melanda pinggangnya. Suci menjerit dan menutup mukanya dangan kedua
tangan.
Orang tua itu berteriak setinggi
langit. Tubuhnya terguling di tanah. Kulitnya kelihatan hijau.
Dia mengerang dan
menggelepar-gelepar seketika, kemudian nafasnya lepas, maka tubuhnya
melingkar tanpa nyawa!
”Manusia biadab!” bentak Ranaweleng.
”Orangku tiada permusuhan dengan kau.
Mengapa kau bunuh dia?!”
Mahesa Birawa atau Suranyali tertawa
mengekeh.
”Sebentar lagi kau juga akan mampus
Ranaweleng! Tapi aku masih berbaik hati untuk
membiarkan kau angkat kaki dari
sini. Kalau kau masih keras kepala ketahuilah bahwa ajal
sudah di depan mata!” dan Mahesa
Birawa tertawa lagi macam tadi.
”Hari ini aku mengadu nyawa dengan
kau manusia iblis!” teriak Ranaweleng. Maka
menerjanglah Kepala Kampung Jatiwalu itu.
EMPAT
”Manusia keparat yang tidak tahu
diri, hari ini terimalah mampus di tanganku!” bentak
Mahesa Birawa seraya angkat lengan
kirinya untuk menangkis pukulan lawan.
Dua lengan beradu dengan keras,
Ranaweleng terpelanting ke belakang sedang
Mahesa Birawa hanya terjajar
beberapa langkah saja. Lengan Ranaweleng yang beradu
dengan lengan Mahesa Birawa
kelihatan kemerahan dan perih. Laki-laki ini menggigit
bibirnya
menahan sakit. Dia maklum bahwa tenaga dalamnnya lebih rendah dari lawan.
Karena
itu dengan memepergunakan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah sampai ke
puncaknya,
Ranaweleng tidak lebih digdaya dari Jarot Karsa.
Sementara
itu di langkan rumah terdengar jeritan-jeritan Suci pada kedua orang yang
berkelahi
itu. ”Suranyali! Kakang Rana! Hentikanlah perkelahian ini! Hentikanlah!”
Suci
tidak pernah tahu kalau Suranyali telah berganti nama menjadi Mahesa Birawa.
Dan
dia berteriak lagi, ”Kalian berdua tidak mempunyai permusuhan mengapa musti
berkelahi?!”
”Suci
masuklah ke dalam!” sahut Ranaweleng kepada isterinya. Saat itu dia harus
jungkir
balik di udara mengelakkan pukulan lawannya.
Di
pihak Mahesa Birawa sudah barang tentu tiada niat sama sekali untuk
menghentikan
perkelahian. Bahkan teriakan-teriakan Suci tadi mendorongnya untuk lebih
cepat
menamatkan riwayat Ranaweleng!
Dalam
sekejapan saja kedua orang itu telah bertempur delapan jurus dan kelihatanlah
dengan
nyata betapa Ranaweleng terdesak dengan hebat. Pukulan-pukulan tangan kosong
lawan
mengurungnya dari berbagai jurusan. Dengan membentak keras serta mempercepat
gerakannya
dan mengandalkan ilmu mengentengi tubuh, Ranaweleng berusaha keluar dari
kurungan
pukulan lawan. Namun percuma saja. Tubuh Mahesa Birawa laksana bayangbayang.
Bergerak
cepat sekali. Dan pada jurus ke sepuluh satu hantaman sikut kiri yang keras
sekali
menyambar rusuk kanan Ranaweleng.
Ranaweleng
merintih tertahan. Mukanya kelihatan pucat kebiruan. Dia tahu,
sekurangkurangnya
dua
dari tulang iganya telah patah dan tubuhnya di bagian dalam terluka hebat!
Untuk beberapa lama dia berdiri
limbung dengan pemandangan mata berkunang-kunang.
”Ha.... ha....,” tertawa Mahesa
Birawa. ”Sebentar lagi Ranaweleng, sebentar lagi
ajalmu akan sampai. Lebih bagus
cepat-cepat kau minta tobat pada Tuhanmu sebelum
mampus!”
Mulut Ranaweleng komat kamit.
Rahang-rahangnya menggembung. Kedua tangannya
terpentang ke muka. Dia siap-siap
untuk melancarkan pukulan tangan kosong yang dahsyat.
Di lain pihak Mahesa Birawa berdiri
laksana tugu. Kedua kakinya tenggelam satu senti ke
dalam tanah. Tenaga dalamnya
dialirkan ke segenap bagian tubuh untuk menghadapi
serangan lawan.
Tiba-tiba jeritan sedahsyat angin
punting beliung keluar dari mulut Ranaweleng.
Kedua tangannya bergerak susul
menyusul dan gelombang Angin Panas menderu ke arah
Mahesa
Birawa. Yang di serang membentak dahsyat dan lompat tiga tombak ke udara.
Begitu
angin
panas menggebubu di bawah kakinya, membakar hangus pohon-pohon di belakangnya,
maka
Mahesa Birawa segera menukik ke bawah laksana seekor elang.
Pukulan
Angin Panas yang dilakukan oleh Ranaweleng membutuhkan pemusatan
tenaga
dan pikiran yang besar. Beberapa detik sesudah dia melancarkan pukulan
tersebut,
keadaan
dirinya masih terbungkus oleh pemusatan pikiran itu sehingga pada saat lawannya
menukik dari atas dia terlambat
meneyingkir. Untuk
kedua kalinya Ranaweleng harus
menerima
hantaman lawan. Kali ini badannya hampir terjungkal ke tanah. Masih untung dia
sempat
menggulingkan diri kalau tidak pastilah tendangan kaki kanan Mahesa Birawa yang
mengarah
bawah perutnya menamatkan riwayatnya!
Begitu
bangun, karena tahu bahwa dia tak akan sanggup menghadapi lawan dengan
tangan
kosong maka Ranaweleng segera cabut keris eluk tujuh dari balik pinggangnya!
Tapi
betapa terkejutnya Ranaweleng ketika melihat ke muka. Mahesa Birawa berdiri
dengan
kedua kaki terpentang. Tangan kiri lurus-lurus ke muka, tangan kanan diangkat
tingitinggi
di
belakang kepala dan tangan itu sudah menjadi hijau oleh racun ilmu pukulan
Kelabang
Hijau!
Suci
yang telah melihat kedahsyatan pukulan Kelabang Hijau itu menjerti keras.
”Sura!! Jangan....! Hentikan
perkelahian ini!”
Suranyali alias Mahesa Birawa
sunggingkan senyum berbau maut. ”Jika kau punya
sepuluh senjata, keluarkanlah
sekaligus Ranaweleng!” katanya mengejek.
Hati Ranaweleng tergetar hebat.
Keringat dingin mebasahi badannya. Seperti halnya
dengan Jarot Karsa dia tak akan
sanggup menghadapi kedahsyatan pukulan Kelabang Hijau
tersebut. Tapi untuk lari
menyelamatkan diri, sebagai seorang laki-laki, sebagai seorang yang
berjiwa ksatria, tiada ada dalam
kamus hidup Ranaweleng. Lebih baik mati berkalang tanah
dari pada hidup sebagai pengecut! Lagi pula dia sudah tahu benar bahwa lawan betul-betul
menginginkan nyawanya. Karena itu
Ranaweleng ambil keputusan untuk mendahului
menyerang.
Dengan keris sakti di tangan,
Ranaweleng menerjang ke muka. Namun tetap sia-sia
saja. Pada detik tubuhnya baru dalam
setengah lompatan, tangan kanan Mahesa Birawa telah
memukul
ke depan!
Suci
menjerit. Tubuh Ranaweleng mencelat mental dan jatuh di tanah tanpa nyawa.
Sekujur
kulit tubuhnya bahkan sampai-sampai kepada keris sakti yang saat itu masih
tergenggam
di tangannya menjadi hijau oleh racun ilmu pukulan Kelabang Hijau!
Suci pun menjerit lagi lalu lari
menubruk suaminya. Tapi
Mahesa Birawa cepat
meloncat
ke muka dan mencekal perempuan itu. Kalau sampai Suci menyentuh tubuh
suaminya
yang mati hijau itu maka dalam sekejapan racun yang menyerap di tubuh
Ranaweleng
akan mengalir ke tubuh Suci dan pastilah perempuan ini akan meregang nyawa
pula!
”Lepaskan
aku! Lepaskan aku manusia terkutuk! Biadab!!” pekik Suci.
”Sedikit
saja kau menyentuh tubuh laki-laki itu kau akan keracunan Suci....!”
”Aku
tidak takut! Aku juga ingin mati!”
”Kau masih terlalu muda untuk
mati....!”
Dan dengan sekali gerakkan
tangannya, maka Mahesa Birawa segera membopong
Suci di bahunya. Karena perempuan
itu masih meronta-ronta dan menjerit-jerit serta
memukuli punggungnya, maka Mahesa
Birawa segera menotok urat darah besar di pangkal
leher Suci sehingga perempuan itu
menjadi kejang kaku kini.
Sambil melangkah ke kudanya Mahesa
Birawa memerintah kepada ketiga orang anak
buahnya.
”Bakar rumah keparat itu!”
Kalingundil
dan Krocoweti serta Majineng segera laksanakan perintah itu. Dalam
sekejapan
mata maka tengelamlah rumah besar Kepala Kampung Jatiwalu itu dalam kobaran
api.
Senyum
puas membayang di muka Mahesa Birawa. Bila sebagian dari rumah itu
sudah
musnah di makan api, maka bersama anak buahnya segera ditinggalkannya tempat
itu.
Jeritan
bayi yang baru berumur beberapa bulan terdengar melengking-lengking di
antara
kobaran lidah-lidah api yang membakar rumah.
”Bayi
itu! Bayi itu....!” teriak salah seorang di antara orang banyak yang
berkerubung
di
halaman rumah Kepala Kampung.
”Oroknya
Raden Rana....! Aduh, kasihan!”
”Kalau
tidak lekas ditolong pasti mati!”
Tapi
semua orang di situ hanya bisa berteriak dan berteriak. Mana mereka berani
menghambur menyelamakan bayi itu.
Dan suara tangisan bayi semakin lama semakin kecil
serta parau sementara nyala api
mulai membakar tempat tidur di mana bayi itu terbaring!
Pada saat suara tangisan bayi yang
menyayat hati itu hampir tidak lagi kedengaran,
pada saat orang banyak sudah tak
tahu lagi apa yang mesti mereka perbuat untuk
menyelamatkan itu orok, maka pada
saat itu pula, entah dari mana datangnya kelihatan
sesosok bayangan berkelebat dan
lenyap masuk ke dalam kobaran api. Sesaat kemudian sosok
tubuh itu keluar lagi dan melesat ke
halaman lalu lenyap di jurusan timur.
Demikian cepat dan sebatnya sosok
tubuh itu bergerak sehingga tidak satu orangpun
yang dapat melihat siapa adanya
manusia tersebut ataukah betul bisa memastikan bahwa
sosok tubuh itu adalah sesungguhnya
manusia, bukan setan atau dedemit! Jangankan untuk
melihat wajahnya, untuk memastikan
sosok tubuh itu laki-laki atau perempuan juga tak satu
orangpun yang bisa! Begitu cepat dia
datang, begitu cepat dia lenyap! Hanya warna pakaian
yang hitam saja yang bisa dilihat
mata orang banyak saat itu. Dan hanya beberapa detik saja
sesudah sosok tubuh itu lenyap maka
rumah Ranaweleng yang terbakar itu runtuh ambruk dan
lidah api mengelombang tinggi ke
udara!
Siapapun adanya sosok tubuh itu, entah
dia manusia atau bukan, entah laki-laki atau
perempuan, tapi yang pasti dan semua
orang yang ada di situ tahu, bahwa sosok tubuh itu
telah menyelamatkan bayi Ranaweleng
dan melarikannya ke arah timur!
Ketika Mahesa Birawa membuka pintu
kamar dan membaringkan Suci di atas tempat
tidur dan secara tak sengaja
memandang ke dinding, maka meluncurlah seruan tertahan dari
mulut laki-laki ini!
Pada dinding papan kayu jati yang
keras itu tertulis rangkaian kalimat yang berbunyi:
APA YANG KAU LAKUKAN HARI INI
AKAN KAU TERIMA BALASANNYA PADA
TUJUH BELAS TAHUN MENDATANG!
Tiada tertera nama dari siapa yang
menulis tulisan pada dinding itu. Tulisan itu dibuat
dengan sangat cepat. Dan Mahesa
Birawa tahu, kalau bukan manusia yang mempunyai tenaga
dalam luar biasa dahsyatna pastilah
tak akan sanggup membuat tulisan semacam itu pada
dinding kayu jati yang keras, karena tulisan itu
dibuat dengan mempergunakan ujung jari!
LIMA
Adalah hampir tak dapat dipercaya
bila di puncak Gunung Gede yang semustinya sepi
tiada bermanusia, pada siang hari
yang panas terik itu terdengar suara lengkingan tawa
manusia! Sekali-sekali lengkingan
itu hilang, berganti dengan suara yang membentak yang
kadang-kadang dibarengi oleh suara
gelak membahak lain! Jelas bahwa ada dua manusia di
puncak
Gunung Gede saat itu! Dan keduanya kelihatan tengah bertempur dengan segala
kehebatan
yang ada. Bertempur sambil tertawa-tawa! Siapakah mereka ini?!
Yang
berbadan tinggi langsing dan mengenakan pakaian serta kain hitam adalah
seorang
nenek-nenek berkulit sangat hitam berkeringat-kerinyut. Kulit yang hitam
berkerinyut
ini
tak lebih hanya merupakan kulit tipis pembalut tulang saja! Mukanya cekung dan
kecekungan
ini merambas ke matanya sehingga matanya ini kelihatan demikian
menyeramkan.
Berlainan dengan kulit serta pakaiannya yang seba hitam itu maka rambut di
kepalanya serta alis matanya
berwarna sangat putih. Dan rambut yang putih itu tumbuh sangat
jarang di atas batok kepalanya yang
hampir membotak licin berkilat. Namun lucunya pada
kepala yang berambut jarang ini,
nenek-nenek itu memakai lima tusuk kundai. Dan anehnya
kelima tusuk itu tidaklah tersisip
disela-sela rambut yang putih karena memang tidak mungkin
untuk
menyisip di rambut yang jarang itu. Kelima tusuk kundai itu menancap langsung
ke
kulit
kepala nenek-nenek itu!
Siapakah
nenek-nenek ini? Dialah yang bernama Eyang Sinto Gendeng, seorang
perempuan
sakti yang telah mengundurkan diri sejak dua puluh tahun yang lalu dari dunia
persilatan.
Selama malang
melintang dalam dunia persilatan itu, sepuluh tahun terakhir Sinto
Gendeng
telah merajai dunia persilatan di daerah Barat Jawa bahkan sampai-sampai ke
Jawa
Tengah. Selama itu pula dia telah
menyapu dan membasmi habis segala manusia jahat.
Terhadap manusia-manusia jahat,
hanya ada satu kesimpulan bagi Sinto Gendeng untuk
dilakukan yaitu membunuhnya! Tidak
heran kalau namanya menjadi harum. Nama asli dari
perempuan ini adalah Sinto Weni.
Namun karena sikap dan tingkah lakunya yang lucu serta
aneh-aneh bahkan seringkali seperti
orang yang kurang ingatan maka lambat laun dunia
persilatan menganugerahkan nama baru
padanya yaitu Sinto Gendeng! Atau Sinto Gila!
Siapa pula orang kedua yang berada
di puncak Gunung Gede itu dan yang saat itu
bertempur menghadapi Sinto Gendeng?
Dia seorang pemuda belia remaja yang baru
memasuki usia tujuh belas tahun.
Tubuhnya tegap, tampangnya gagah dan kulitnya bersih
kuning, hampir seperti kulit
perempuan. Rambutnya gondrong sebahu dan agak acak-acakan
sehingga tampangnya yang keren itu
seperti paras kanak-kanak.
Sebenarnya kedua orang itu sama
sekali bukan tengah bertempur karena pemuda tujuh
belas
tahun tersebut adalah murid Eyang Sinto Gendeng sendiri! Bagaimana sikap
tingkah
laku
gurunya, demikian pula sikap sang murid. Tertawa-tawa dan menjerit-jerit serta
cengar
cengir!
Meski keduanya tengah melatih ilmu kepandaian, namun setiap jurus-jurus serta
serangan-serangan
yang mereka lancarkan adalah benar-benar serangan yang berbahaya
sehingga bila tidak hati-hati dapat
mencelakai diri! Debu
dan pasir beterbangan. Daun-daun
pohon
berguguran, semak belukar tersapu kian kemari oleh angin pukulan dan gerakan
tubuh
kedua
orang itu yang laksana bayang-bayang!
Di
tangan kanan Sinto Gendeng ada sebatnag ranting kering sedang muridnya
memegang
sebilah keris bereluk tujuh.
”Ayo
Wiro! Serang aku dengan jurus – orang gila mengebut lalat – ! Serang cepat,
kalau
tidak aku kentuti kau punya muka!”
Wiro
Saksana sang murid tertawa membahak dan menggaruk-garuk kepalanya
sehingga
rambutnya yang gondrong semakin awut-awutan. Tiba-tiba suara tawa membahak
itu
menjadi keras dan menggetarkan tanah, menggugurkan daun-daun pepohonan!
”Ciaaat....!!”
Bentakan setinggi jagat keluar dari mulut Wiro Saksana. Tubuhnya
lenyap.
Keris yang di tangan kanannya menyapu kian kemari dalam kecepatan yang sukar
ditangkap
oleh mata. Inilah yang disebut jurus: orang gila mengebut lalat. Dan memang
gerakan
menyapu-nyapu dengan keris itu meskipun luar biasa cepatnya namun kelihatan
seperti
tak teratur tak menentu. Tubuh Wiro Saksana hoyong sana hoyong sini. Namun
serangan
itu telah mengurung si nenek sakti Eyang Sinto Gendeng!
Tapi
si perempuan tua masih juga mengikik-ngikik. Masih juga petatang petiting
sambil
memainkan ranting kering yang di tangannya. Jika saja yang dihadapi oleh Wiro
Saksana
saat itu bukannya gurunya sendiri, bukan seorang sakti macam Sinto Gendeng,
tapi
seorang
lain pastilah tubuhnya akan terkutung-kutung atau sekurang-kurangnya terbabat,
tercincang
oleh mata keris yang menyapu-nyapu laksana badai itu!
Sinto
Gendeng mengikik.
”Geblek
kau Wiro! Masih kurang cepat, masih kurang cepat!” kata Sinto Gendeng.
Sang
murid memaki dalam hati.
”Eeeee....
kau memaki ya?!” hardik Sinto Gendeng. ”Lihat ranting!” teriak perempuan
tua itu.
Tubuh Sinto Gendeng berkelebat. Tangan kanannya yang
memegang ranting bergerak.
”Awas
ketek kananmu, Wiro!” (ketek=ketiak).
Meskipun
sudah diperingatkan, meskipun sudah mengelak dengan kecepatan yang
luar
biasa namun tetap saja ujung ranting itu lebih cepat datangnya ke ketiak kanan
Wiro
Saksana.
”Breeett!!”
Baju
putih Wiro Saksana robek besar di bagian ketiak sebelah kanan!
”Buset....!
Untung cuma ketekku!” seru pemuda itu. Dengan kertakkan geraham dia
menerjang
ke muka. ”Eyang,” katanya, ”terima jurus – kunyuk melempar buah – ini!”
(kunyuk
= monyet).
”Ah
hanya jurus geblek begitu siapa yang takut?!” menyahuti sang guru.
Wiro
Saksana meninjukan tangan kanannya ke muka. Pada saat tangannya perpentang
lurus
maka jari-jari tangannya membuka dan setiup gumpalan angin keras laksana batu
besar
melesat
ke arah tenggorokan Eyang Sinto Gendeng!
Nenek-nenek
itu tertawa cekikikan. Dia meludah. Meski Cuma ludah dan
disemburkan secara acuh tak acuh
tapi karena diisi dengan tenaga dalam, ludah itu berbahaya
sekali bagi pembuluh-pembuluh kulit
dan mata. Wiro
Saksana berkelit ke samping. Sambil
berkelit
dilambaikannya tangan kirinya untuk menambah perbawa dorongan pukulan tangan
kosongnya
tadi yaitu – kunyuk melempar buah – yang agak menyendat sedikit akibat
dipapaki
oleh semburan ludah Sinto Gendeng.
Melihat
serangan lawan masih terus mengganas ke batang tenggorokannya, kembali
Sinto
Gendeng tertawa. Memang manusia satu ini aneh sekali sifatnya. Bahkan setiap
jurusjurus
ilmu
yang diciptakannya diberinya dengan nama-nama aneh dan lucu. Tak salah kalau
banyak orang-orang dalam dunia
persilatan menukar namanya menjadi Sinto Gendeng!
Suara tertawa nenek-nenek itu
lenyap, berganti dengan satu lengkingan nyaring yang
menusuk gendang-gendang telinga.
Tubuhnya kelihatan jungkir balik dan melesat seperti
terbang ke sebuah cabang pohon jambu
klutuk! Sekaligus Sinto Gendeng telah mengelakkan
gumpalan angin keras ”kunyuk
melempar buah.” Angin keras ini menghajar batang pohon di
seberang sana dan batang pohon itu
patah lalu tumbang ke tanah!
Terdengar lagi suara tawa mengikik.
Gemas sekali Wiro Saksana memandang
ke atas. Dilihatnya gurunya duduk enakenakan
di cabang pohon jambu klutuk sambil
menggerogoti buah jambu itu!
”Gendeng betul....!” gerutu Wiro
kesal karena serangannya hanya mengenai pohon.
”Memang namaku Sinto Gendeng!” kata
sang guru pula. Kemudian tanyanya, ”Kau
mau jambu, Wiro?!”
Dan sebelum Wiro Saksana sempat
menyahuti maka gurunya telah menyemburkan
biji-biji jambu klutuk itu ke
arahnya. Dua puluh satu butir biji jambu klutuk menyerang
hampir ke seluruh jalan darah di
tubuh Wiro Saksana!
”Ah, cuma bijinya siapa yang sudi!,”
jawab Wiro Saksana. Dia menghembus ke udara
dan melambai-lambaikan kedua
tangannya. Dua puluh satu butir biji jambu klutuk itu
berguguran
ke tanah bahkan tujuh butir di antaranya berbalik menyerang Sinto Gendeng. Tapi
dengan
goyangkan sedikit saja kaki kanannya, maka nenek-nenek sakti itu membuat
ketujuh
biji
jambu klutuk itu bermentalan!
”Kalau
tak sudi biji jambu, terimalah ranting kering ini!” kata Sinto Gendeng. Dan
ranting
kering yang di tangan kirinya dilemparkannya ke bawah, mendesing laksana anak
panah
mengarah batok kepala muridnya! Memang Sinto Gendeng benar-benar seorang
perempuan
tua yang aneh. Dalam melatih muridnya setiap serangan yang dilancarkannya
benar-benar
merupakan serangan yang mematikan atau sekurang-kurangnya bisa
menimbulkan
celaka hebat bila sang murid tidak berhati-hati. Setiap jurus ilmu silat yang
diciptakannyapun
aneh-aneh namanya.
Melihat
serangan ranting kering ini Wiro ganda tertawa. Sekali dia gerakkan tangan
kanan
yang memegang keris maka ranting kering itu belah dua tepat di pertengahannya
dan
jatuh
ke tanah.
”Sebaiknya
turun saja dari pohon eyang” kata Wiro Saksana. ”Kalau tidak....”
”Kalau
tidak kenapa?” memotong Eyang Sinto Gendeng.
”Sambut
keris ini, Eyang....! Sambut dengan jidatmu biar konyol!”
Habis
berkata begitu Wiro Saksana tertawa mengakak dan melemparkan keris eluk
tujuh
yang di tangan kanannya. Senjata itu melesat hampir tidak kelihatan karena
cepatnya.
Namun
empat detik kemudian terdengarlah suara cekikikan Eyang Sinto Gendeng. Dan
ketika
Wiro
mendongak ke atas dilihatnya keris yang dilemparkannya tadi berada dalam
jepitan
telunjuk
dan jari tengah kanan gurunya.
Wiro
Saksana menggerendeng.
Tiba-tiba.
”Ini balasan kehormatan untuk keris bututmu, Wiro!” Sinto Gendeng cabut
dua
tusuk kundainya dari batok kepalanya yang berambut putih dan jarang itu.
Dibarengi
dengan
angin lemparan yang bukan olah-olah dahsyatnya maka menyambarlah dua tusuk
kundai
itu ke arah Wiro Saksana. Yang satu menyerang kepala, yang lain menyerang
perut!
Wiro
Saksana yang tahu kehebatan tusuk kundai itu tak mau memapaki senjata
tersebut
dengan mengandalkan lambaian tangan yang mengandung tenaga dalam. Didahului
dengan
bentakan nyaring maka pemuda ini menjejek bumi dan melintangkan badannya ke
udara.
Tusuk-tusuk kundai itu lewat di kiri kanannya, terus amblas ke dalam tanah!
Eyang
Sinto Gendeng tertawa gelak-gelak.
”Bagus...., bagus kau tidak
menangkis seranganku dengan hantaman tenaga dalam!
Tak
satu tenaga dalam yang bagaimana hebatnyapun yang sanggup memapaki tusuk kundai
itu
Wiro! Eeee.... aku haus! Hik.... ambilkan air buatku Wiro! Cepat!”
”Kalau
haus jilat saja air keringat!” kata murid yang lucu dan seperti kurang ingatan
pula macam gurunya.
Dan dasar Eyang Sinto Gendeng
manusia aneh, dia sama sekali tidak marah
mendengar gurau yang keliwatan dari
muridnya itu, melainkan tertawa mengakak.
Tiba-tiba
tawanya lenyap. ”Air, Wiro! Lekas!” bentak perempuan itu.
Sang
murid berlalu juga dari tempat itu. Melangkah ke sebuah pondok kecil. Di
bagian
belakang pondok ini ada sebuha gentong berisi air putih dingin. Wiro
mengambilnya
segayung.
Ketika
dia melangkah kembali ke tempat tadi untuk memberikan air itu kepada
gurunya
maka didengarnya suara Eyang Sinto Gendeng menyanyi. Suaranya sama sekali
tidak
merdu. Namun kata-kata yang terjalin dalam nyanyian itu membuat Wiro Saksana
menjadi
heran dan bertanya-tanya dalam hati
Pitulas
taun wus katilar,
Pucuking
Gunung Gede isih panggah kaya biyen mulo,
Langit
isih tetep biru,
Wulan
lan suryo isih tetep mandeng lan kangen,
Pitulas taun agawe kang tua tambah
tua.
Pitulas taun ndadekake bayi abang
dadi pemuda kang gagah,
Pitulas taun wektu perjanjian,
Pitulas taun wiwitane perpisahan,
Pitulas taun wekdaling pamales....
Artinya: (Tujuh belas tahun telah
berlalu.
Puncak Gunung Gede masih tetap
seperti dulu,
Langit masih tetap biru,
Bulan dan matahari masih
berpandangan jauh dan rindu.
Tujuh belas tahun membuat si tua
tambah tua,
Tujuh belas tahun membuat seorang
orok menjadi pemuda gagah,
Tujuh belas tahun masa perjanjian,
Tujuh
belas tahun ujung perpisahan,
Tujuh belas tahun saat pembalasan).
ENAM
Selama
diam di puncak Gunung Gede itu bersama gurunya, walau bagaimanapun
miring
otak sang guru, namun baru hari itulah Wiro Saksana melihat dan mendengar Eyang
Sinto
Gendeng menyanyi. Kata-kata dalam nyanyian itu entah mengapa membuat Wiro jadi
berdebar.
Apakah maksud kata-kata nyanyian itu? Perasaan yang bagaimanakah yang tengah
dicetuskan
oleh gurunya karena Wiro melihat nenek-nenek itu menyanyi dengan penuh
perasaan,
dengan mata memandang jauh ke muka. Tujuh belas tahun membuat aku si tua
bangka
tambah tua. Kata-kata ini jelas ditujukan ke diri gurunya sendiri. Tapi pada
siapakah
ditujukan
kalimat yang berbunyi: Tujuh belas tahun membuat seorang orok menjadi pemuda
gagah,
itu? Apakah ditujukan kepadanya? Berdebar hati Wiro Saksana. Kemudian
kalimatkalimat:
Tujuh
belas tahun ujung perpisahan.... serta.... Tujuh belas
tahun saat pembalasan....
Apakah arti semua itu?
Ketika Wiro Saksana memandang ke
atas pada saat itu pula Eyang Sinto Gendeng
melihat ke bawah. Dan mata yang
tajam dari Wiro Saksana, meskipun cuma sekilas, namun
masih dapat melihat pantulan air
muka serta cahaya mata gurunya yang lain dari biasanya!
Air muka itu. Sinar mata itu
menyembunyikan satu perasaan sedih! Perasaan apakah yang
menyemaki hati sang guru sebenarnya?
Tiba-tiba Eyang Sinto Gendeng
membentak keras sampai Wiro Saksana terkejut dan
serasa terbang nyawanya.
”Tunggu apa lagi, geblek?! Orang sudah haus
dianya tegak mematung! Kukencingi
kepalamu
baru tahu! Lemparkan gayung itu cepat!”
Dan
Wiro Saksana segera lemparkan gayung batok kelapa yang berisi air ke atas.
Gayung
itu melesat ke atas tanpa setetes airpun yang tumpah!
”Bagus
Wiro.... bagus sekali!” memuji Sinto Gendeng. Dan dengan tangan kirinya
disambutnya
gagang gayung. Sesaat kemudian tenggorokannya yang kurus dan kerinyutan itu
kelihatan
turun naik meneguk air dari dalam gayung. Air itu diteguknya sampai habis.
”Terima gayung ini kembali, Wiro!”
Gayunng melesat ke bawah. Wiro
Saksana ulurkan tangan untuk menyambut tapi pada
detik itu pula di atas pohon gurunya
kelihatan menggerakkan tangan kanannya. Angin deras
mendorong kepala gayung, membuat
gayung yang hendak disambuti Wiro Saksana itu
mencelat
ke samping dan menyerang dadanya!
”Gila betul!” bentak si pemuda.
Cepat-cepat dia palangkan lengannya di muka dada.
Gayung dan lengan beradu. Gayung
pecah berantakan ke tanah, gagangnya patah dua!
Pada saat itulah Sinto Gendeng
melayang turun ke bawah. Kedua kakinya menjejak
tanah tanpa suara dan tanpa
meninggalkan bekas sedikitpun padahal cabang pohon jambu
klutuk dari mana dia meloncat tadi
hampir empat tombak tingginya. Dapat dibayangkan
bagaimana luar biasanya ilmu
meringankan badan perempuan sakti ini!
Kedua orang itu, guru dan murid
berdiri berhadap-hadapan. Wiro Saksana dapat
merasakan betapa lainnya pandangan
kedua mata Sinto Gendeng kepadanya, pandangan yang
tidak dimengertinya. Nenek-nenek ini
bergerak mundur beberapa langkah ke belakang. Kedua
kakinya
kemudian merenggang sedang kedua tangan mengembang ke muka. Mulutnya
berkemik.
Detik demi detik sepasang kakinya amblas ke dalam tanah sampai tiga senti
sedang
seluruh
tubuhnya bergetar hebat. Mukanya yang hitam dan berkerinyut itu basah oleh
keringat.
Tiba-tiba
kejut Wiro Saksana bukan olah-olah ketika dilihatnya bagaimana kedua
tangan
gurunya berwarna putih sekali sedang sepuluh kuku jari tangan perempuan itu
memerak
serta memancarkan sinar yang menyilakuan!
”Eyang!”
seru Wiro Saksana. ”Apakah kau mau bikin aku mati konyol dengan
pukulan
sinar matahari itu?!”
Sinto
Gendeng tidak menjawab. Mulutnya semakin mengemik. Rahang-rahangnya
semakin
mengatup dan pandangan mata serta tampangnya sangat mengerikan!
Merinding
bulu kuduk Wiro Saksana. Baru kali ini dilihatnya gurunya sedahsyat itu.
Tanpa
menunggu lebih lama, tanpa menunggu sampai kedua tangan yang mengepal
dihantamkan
ke muka, maka pemuda ini cepat-cepat pentang kaki dan dekapkan lengan di
muka
dada. Matanya meram, mulutnya komat kamit. Sepasang kakinya amblas dua senti ke
tanah. Tubuhnya tak bergerak barang serambutpun, laksana gunung karang yang
keras
membatu!
”Ciaaaaaaatttt”
Bentakan
Sinto Gendeng melengking melanglang langit! Kedua tangannya dipukulkan
ke
muka. Dua rangkum sinar putih yang menyilaukan serta panasnya dapat
menghanguskan dan melelehkan benda apa saja menggempur ke arah sasaran di muka sana yaitu tubuh Wiro
Saksana!
Pada detik yang sama Wiro Saksana
membentak pula.
”Heeyyyaaaaa!”
Tangan yang tadi bersidekap dengan
serentak memukul ke depan. Dan kedua tangan
itu terus saja terpentang lurus ke
muka. Inilah apa yang dinamakan ilmu pukulan ”benteng
topan melanda samudra”! Ilmu pukulan
ini bukan saja dapat dipakai untuk menyerang tapi
sesuai dengan namanya juga dapat
menjadi perisai tangguh atau benteng kekar yang
melindungi Wiro dari serangan
gurunya!
Bila angin-angin topan pukulan itu
sama bertemu di udara maka terdengarlah suara
berdentum yang menyenging liang
telinga, debu dan pasir beterbangan, daun-daun pohon
berguguran
bahkan ranting-ranting kering patah-patah dan berjatuhan! Puncak Gunung Gede
bergetar.
Langit seperti mau terbelah oleh dentuman itu!
Ketika
debu dan pasir surut ke tanah, ketika keadaan di sekitar situ menjadi terang
kembali
maka Wiro Saksana melihat bagaimana kedua kaki gurunya amblas ke dalam tanah
sedalam
sepuluh senti. Muka perempuan itu penuh keringat dan matanya menyipit. Namun
bila
ditelitinya pula keadaan dirinya maka didapatinya kedua kakinya tenggelam ke
dalam
tanah
sampai sebatas betis. Sedangkan tubuhnya yang memercikkan keringat dingin itu
terasa
masih
bergetar gontai akibat adu tanding tenaga dalam yang luar biasa tadi!
”Bagus Wiro, bagus sekali!”
terdengar Eyang Sinto Gendeng. Meski memuji namun
dari mukanya bukan menunjukkan
kegembiraan, sebaliknya muka yang berkerut-kerut itu
masih
memancarkan kengerian. ”Sekarang sambuti pukulan angin es ini, Wiro!”
Dan
habis berkata begitu, Sinto Gendeng angkat tinggi-tinggi kedua tangannya dengan
telapak
membuka lebar menghadap ke arah muridnya. Matanya kembali terpejam. Wiro
menunggu dengan badan tiada
bergerak.
Udara mendadak menjadi sangat sejuk.
Kemudian ketika Sinto Gendeng memutarmutar
kedua tangannya maka kesejukan itu
mendadak sontak berubah menjadi udara yang
sangat dingin menyembilui
tulang-tulang sungsum. Geraham-geraham Wiro Saksana
bergemeletakan menahan rasa dingin
yang amat sangat itu. Permukaan kulitnya membeku
seperti ditutupi salju. Tanah yang
dipijaknya laksana pedataran es. Satu menit saja hal itu
berlangsung lebih lama pastilah
tubuh pemuda ini menjadi beku membatu. Inilah kehebatan
ilmu kesaktian yang bernama ”angin
es” itu!
Dengan badan bergetar menahan
dingin, Wiro Saksana membentak dahsyat.
Bersamaan dengan itu kedua tangannya
diputar-putar ke udara angin laksana badai
menggebubu ke pelbagai arah. Puncak
gunung itu menderu-deru. Daun-daun pohon yanag
tadi kaku tegang oleh dinginnya
udara kini kelihatan mulai bergerak, makin kencang – makin
kencang. Udara dingin yang tadi
menyayat sungsum kini tergetar buyar dilanda ilmu ”angin
puyuh” yang dilepaskan oleh Wiro
Saksana.
Semakin keras putaran tangan pemuda
itu, semakin membadai gebubu angin, semakin
buyar udara dingin. Daun-daun pohon
yang tadi hanya bergerak-gerak kini jatuh berhamburan
bersama rantingnya. Kemudian satu
demi satu pohon-pohon kecil bertumbangan. Pohonpohon
besar yang masih bisa bertahan
menjadi gundul daun dan rantingnya! Tubuh Eyang
Sinto
Gendeng kelihatan tergoyang hebat. Pakaian hitamnya berkibar-kibar.
”Gila
betul! Gila betul!” teriak perempuan sakti itu. Mulutnya
mengeluarkan
lengkingan dahsyat kemudian dia
melompat sejauh sembilan tombak dan dari situ mencabut
sebuah tusuk kundai lalu
menyambitkannya ke arah Wiro.
Sang murid cepat-cepat hentikan
putaran tangannya dan melompat ke samping. Tusuk
kundai membawa angin maut itu
melesat menghantam sebatang pohon. Pohon itu tumbang
dengan batang pecah
berkeping-keping!
Udara dingin lenyap. Angin yang
memuyuh juga lenyap dan suasana kembali sepeti
sedia kala. Ketika Wiro memandang ke
muka dilihatnya gurunya berdiri memegang sebentuk
kapak yang aneh sekali. Belum lagi
dia sempat meneliti lebih lama benda itu, Eyang Sinto
Gendeng ajukan pertanyaan, ”Kau
lihat senjata di tanganku ini, Wiro? Kau lihat....?!”
Sang murid mengangguk dan matanya
tetap lekat ke kapak aneh di tangan gurunya.
”Kali ini kau tak akan sanggup lagi
berkelit dari seranganku, Wiro!”
”Eyang Sinto.... apakah kau sudah gila
hendak membunuh murid sendiri....?!”
Perempuan itu tertawa mengikik. ”Aku
memang sudah gila Wiro! Kalau tidak
percuma namaku Sinto Gendeng! Goblok
kau yang tidak tahu artinya Gendeng!”
Wiro memandang dengan waspada.
Matanya kembali meneliti kapak aneh di tangan
gurunya. Kapak itu bermata dua dan
besarnya hampir sebesar batu bata. Gagangnya putih
bersih, mungkin terbuat dari gading
menurut taksiran Wiro. Pada batang kapak yang besar
hampir sebesar lengan itu kelihatan
enam buah lobang-lobang kecil. Ujung terbawah dari
gagang kapak ini merupakan kepala
seekor naga yang mulutnya membuka.
”Wiro!”, kata Eyang Sinto. ”Aku akan
pergunakan kapak ini tiga jurus berturut-turut
untuk menyerangmu! Bila kau sanggup
melayaninya, kau akan selamat. Kalau tidak maka
bersiaplah untuk mati konyol!”
Wiro Saksana kertakkan geraham. Dia
hendak menjauhi kata-kata gurunya itu. Namun
sebelum mulutnya terbuka, Eyang
Sinto Gendeng sudah berseru:
”Ini jurus pertama Wiro!”
TUJUH
Si tua Sinto Gendeng menerjang ke
muka. Kapak besar di tangan kanannya membabat
kian kemari dalam jurus ”orang gila
mengebut lalat.” Ketika tadi Wiro Saksana memainkan
jurus itu dengan mempergunakan
sebilah keris, kehebatannya sudah luar biasa apalagi kini
penciptanya sendiri yang
melakukannya maka dahsyatnya bukan olah-olah!
Kapak besar itu berkelebat kian
kemari hampir tidak kelihatan karena cepatnya. Angin
deras
bersiuran mengibar-ngibarkan pakaian Wiro. Angin deras ini bukan sembarang
angin
karena
bila menyambar kulit maka kulit itu perih bukan main, seperti lecet! Dan dari
mulut
kepala
naga pada ujung gagang kapak senantiasa keluar suara mendengung macam tawon!
Dalam sekejap saja Wiro Saksana
segera terbungkus sambaran-sambaran kapak
bermata dua itu. Mata dan kulit
tubuhnya perih terkena angin tajam yang menderu-deru.
Telinganya pengang oleh suara yang
mengaung yang keluar dari mulut kepala naga-nagaan
pada gagang kapak.
”Ciaaaaatt!”
Wiro membentak dahsyat. Tubuhnya
berkelebat dan lenyap detik itu juga. Tangan dan
kakinya sambar menyambar kian
kemari, membuat gerakan menghindar dan menyerang
bagian-bagian
yang lowong dari gurunya. Tapi mana dia sangup
mengahadapi senjata aneh
yang dahsyat itu. Apalagi senjata
tersebut berada dalam tangan Sinto Gendeng dan
mempergunakan jurus ”orang gila
mengebut lalat” yang sudah mencapai tingkat
kesempurnaannya. Dalam sekejap saja
pemuda itu terdesak hebat. Lengah atau ayal sedikit
saja pastilah pinggang atau perut
atau dada atau tenggorokannya akan kena disambar mata
kapak. Hanya dengan mengandalkan
ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi yang
dimilikinyalah maka Wiro Saksana
dapat menghindari sambaran-sambaran dan bacokan bacokan
kapak bermata dua itu. Berkali-kali
Wiro melepaskan pukulan-pukulan tenaga dalam
yang dahsyat. Namun angin pukulannya
terbendung bahkan dihantam buyar oleh angin tajam
yang menderu yang keluar dari
senjata di tangan gurunya.
”Senjata edan!” maki Wiro Saksana.
Tiba-tiba dijatuhkannya tubuhnya ke bawah.
Serentak dengan itu tangan kanannya
dengan jari-jari ditekuk kedalam meluncur ke arah
sambungan siku Eyang Sinto Gendeng.
Tapi pada detik itu pula kaki kanan
sang guru menyapu dari atas ke bawah, mencari
sasaran di kepala Wiro Saksana. Mau
tak mau ini pemuda terpaksa jatuhkan dan gulingkan
diri di tanah. Dengan demikian maka
berakhirlah jurus pertama yang penuh kehebatan itu.
Sinto Gendeng berdiri dengan dada
turun naik.
”Kini jurus kedua, Wiro!” katanya. Kedua kakinya
dipentang lebar-lebar. Tubuhnya
membungkuk
ke muka sedikit sedang kapak di tangan kanan dipegangnya lurus-lurus ke
muka
ke arah Wiro Saksana. Dari balik pakaian hitamnya Eyang Sinto Gendeng
mengeluarkan benda hitam yang
berkilauan ditimpa sinar matahari. Wiro tak dapat
memastikan benda apa yang ada dalam
tangan kiri gurunya itu. Mungkin sebentuk besi,
mungkin juga sebuah batu.
Tiba-tiba tangan kiri Sinto Gendeng
memukulkan benda di tangan kirinya ke kepala
kapak. Bunga api memijar. Dan
sedetik kemudian lidah api yang dahsyat menyambar ke arah
Wiro Saksana!
Terkejutnya pemuda itu bukan alang
kepalang. Dia membentak dan lompat ke udara.
Lidah api lewat di bawahnya, kedua
kakinya terasa perih panas dan bila dia melirik ke
belakang maka dilihatnya bagaimana
semak belukar serta pepohonan terbakar berkobar oleh
sambaran lidah api tadi!.
Masih belum turun ke tanah lagi,
maka Sinto Gendeng telah menyerang pemuda itu
untuk kedua kalinya. Lidah api
menyambar lagi. Wiro
bergulingan di tanah, menghindarkan
dengan
sebat. Tanah yang tersambar lidah api kapak sakti itu menjadi hitam hangus.
Wiro
leletkan
lidahnya. Masih belum sempat dia mengatur nafas, tangan kiri dan
tangan kanan
Sinto
Gendeng bergerak lagi berkali-kali. Lidah-lidah api yang hampir setengah lusin
banyaknya
menyambar tubuhnya dari enam jurusan!
Wiro
memekik dahsyat. Meraung dan membentak. Kedua tangannya
diangkat tinggitinggi
ke atas. Tubuhnya melompat kian
kemari, mulutnya komat-kamit. Aji angin es yang
ditebarkannya hanya bisa menahan
gelombang lidah api yang menyambar tapi sama sekali
tidak dapat melenyapkan hawa panas
lidah-lidah api itu!
Wiro Saksana kelagapan tapi masih
belum hilang akal! Bentakan
setinggi langit
melengking
ke udara. Tubuh Wiro Saksana lenyap keluar dari sambaran-sambaran
lidah-lidah
api untuk sesaat kemudian berguling
di tanah dengan sangat cepatnya, menuju ke tempat
Eyang
Sinto Gendeng berdiri.
Sambil
bergulingan ini, Wiro lepaskan dua pukulan tangan kosong yang hebat. Satu
”kunyuk
melempar buah” yang satu lagi ”sinar matahari”! Mau tak mau Sinto Gendeng
hindarkan
diri juga ke samping. Maka putuslah jurus kedua itu!
Wiro
Saksana itu berdiri dengan tubuh berkeringat dingin. Dibelakangnya kobaran api
masih
juga membakari semak belukar dan daun-daun pepohonan. Gurunya dilihatnya
berdiri
tegak
tak bergerak. Benda yang di tangan kirinya tadi ternyata adalah sebuah batu api
dan kini
sudah
disimpannya kembali di balik pakaian hitamnya.
”Jurus
terakhir Wiro....!” kata Eyang Sinto Gendeng.
Pemuda
itu tahu, kalau dua jurus pertama tadi hebatnya bukan olah-olah maka jurus
ketiga
atau yang terakhir ini tentu lebih dahsyat lagi. Karenanya dia benar-benar lebih
waspada dan teliti kini. Sepasang
matanya yang hitam pekat itu menyorot tajam-tajam ke
depan.
Sinto
Gendeng memegang kapak itu dengan tebalik. Mulut naga-nagaan yang terbuka
di
dekatkannya ke mulutnya sedang jari-jari tangannya menutup enam lobang di
batang
kapak.
Ketika Wiro Saksana tidak mengerti apa yang bakal diperbuat gurunya maka
terdengarlah
suara tiupan seruling! Ternyata kapak itulah yang mengeluarkan suara seruling
tersebut
dan ditiup oleh Sinto Gendeng!
Gema
seruling itu mula-mula perlahan, halus dan lembut, memukau Wiro Saksana.
Kemudian
tiupan seruling mengeras dan pembuluh-pembuluh darah di tubuh Wiro seperti
ditusuk-tusuk.
Darahnya mengalir tidak karuan, menyendat-nyendat. Matanya mengabur,
kepalanya
berat dan pusing!
Maklum
bahwa tiupan seruling itu bukan tiupan biasa, cepat-cepat Wiro menghempos
tenaga dalam. Mengatur jalan nafas
dan darahnya! Tapi
kasip! Suara seruling semakin
kencang.
Melengking dan menusuk-nusuk gendang-gendang telinga! Wiro kerahkan lagi
tenaga
dalamnya. Mulutnya komat-kamit, kedua tangannuya menghantam ke arah Sinto
Gendeng,
tapi sang guru kini tidak di tempat, melainkan berlari-lari sebat mengelilingi
pemuda
itu. Wiro membentak, tapi suaranya tidak keluar. Dari melompat tapi tubuhnya
terhuyung.
Seluruh kekuatan luar dan dalamnya punah oleh tiupan seruling!
Pinggangnya tertekuk kemuka.
Mendadak samar-samar ingatan jernih melintas di
otaknya. Cepat-cepat pemuda ini
mentutup indera pendengarannya. Sukar sekali mula-mula,
karena saat itu kedua liang
telinganya sudah mengeluarkan darah!
Tapi dengan kerahkan segala sisa
tenaga yang ada pemuda ini sanggup juga menutup
pendengarannya. Begitu suara
seruling lenyap dari telinganya maka perlahan-lahan tenaga
luar dan dalamnya yang tadi punah
kini datang kembali. Tapi rasa yang menusuk-nusuk
pembuluh-pembuluh darahnya masih
belum lenyap. Karenanya, diaturnya jalan nafas dan
darahnya. Pengaruh tiupan seruling
sakti itu berhasil dilawannya sedikit demi sedikit. Dan
ketika dirasakannya sudah punya
kekuatan untuk balas menyerang pemuda ini pura-pura
jatuhkan diri ke tanah, pura-pura
pingsan. Namun begitu tangan kanannya menyentuh tanah,
segera diraupnya pasir tanah itu dan
dilemparkannya ke arah Sinto Gendeng!
Ratusan pasir yang sudah diisi
dengan aji ”angin puyuh” itu menderu ke arah mulut
naga-nagaan
dan lobang-lobang di gagang kapak, ratusan butir lagi menyerang ke muka Sinto
Gendeng.
Perempuan tua renta itu melepaskan mulutnya dari mulut kepala naga dan
cepatcepat
menghembuskan
ke muka. Pasir-pasir yang menghambur menyerangnya rontok kembali
ke
tanah! Bersamaan dengan itu Sinto Gendeng memasukkan kapak saktinya ke balik
pakaiannya.
Berarti jurus ketiga yang mendebarkan itu berakhir sudah.
Wiro berdiri tersengal-sengal
bersandar. Matanya tetap menyorot lekat-lekat dan
memperhatikan gerak-gerik gurunya.
Meski tadi Eyang Sinto Gendeng mengatakan hanya
akan menyerangnya sebanyak tiga
jurus, tapi bukan mustahil nenek-nenek itu akan
menyerangnya kembali! Tapi
dilihatnya Eyang Sinto Gendeng cuma memandang saja
kepadnya. Wiro garuk-garuk kepala
yang tidak gatal. Sekian belas tahun lamanya dia
menuntut ilmu kesaktian dan ilmu
silat baru hari ini diketahuinya bahwa Eyang Sinto
Gendeng memiliki sebuah senjata
berbentuk kapak yang demikian anehnya, tapi juga
demikian hebatnya! Selama sekian
tahun baru hari itu pula gurunya menggempur dia dengan
serangan-serangan yang benar-benar
mematikan. Serangan-serangan yang dilancarkan tidak
dengan tertawa-tawa sebagaimana
biasanya! Dihubungkannya pula dengan nyanyian yang
dibawakan gurunya tadi! Benar-benar
banyak keanehan yang dilihat Wiro Saksana hari ini.
Tiba-tiba dilihatnya nenek-nenek
sakti itu berkelebat. Wiro segera siapkan diri.
Terdengar suara tertawa yang
meringkik-ringkik macam kuda.
”Gila
betul!” maki Wiro. Dia cepat-cepat lompat ke samping karena Eyang Sinto
Gendeng berkelebat ke arahnya!
DELAPAN
Tetapi
Eyang Sinto bukan menyerangnya. Nenek-nenek sakti ini ternyata hanya
melompat
ke atas pohon jambu klutuk dan duduk di cabang tempat dia duduk sebelumnya.
”Bagus
Wiro.... bagus sekali,” katanya. Mukanya dihadapkan lurus-lurus ke arah
timur.
”Sekian lama kau kudidik di puncak Gunung Gede ini, ternyata tidak
mengecewakan....!”
Sinto Gendeng tertawa melengking-lengking. Dan sehabis tertawa tadi
maka
diulanginya nyanyian tadi. Nyanyian yang membuat hati Wiro Saksana menjadi
tergetar.
Pitulas taun wus katilar,
Pucuking Gunung Gede isih panggah
kaya biyen mulo,
Langit
isih tetep biru,
Wulan
lan suryo isih tetep mandeng lan kangen,
Pitulas taun agawe kang tua tambah
tua.
Pitulas taun ndadekake bayi abang
dadi pemuda kang gagah,
Pitulas taun wektu perjanjian,
Pitulas taun wiwitane perpisahan,
Pitulas taun wekdaling pamales.
Wiro duduk menghamparkan diri di
bawah sebatang pohon di seberang pohon jambu
klutuk. Dilihatnya gurunya menghela
nafas dalam beberapa kali.
”Dadamu sesak Eyang? Aku bisa tolong
urut....”
”Diam!” bentak Sinto Gendeng.
Wiro menggaruk kepalanya dan diam.
”Aku mau bicara sama kau!” kata
Sinto Gendeng pula.
”Bicara apa Eyang....?” Pemuda ini
mulai bicara sungguh-sungguh karena dilihatnya
gurunya juga bicara sungguh-sungguh.
”Berapa lama kau tinggal di sini
bersamaku, Wiro?!”
”Murid tidak ingat....”
”Gelo betul! Buat apa aku ajar tulis
baca dan berhitung sama kau?!”
”Mungkin sepuluh tahun, Eyang....”
”Goblok! Tujuh belas tahun, tahu?!”
Wiro tertawa, ”Iyyaa.... tujuh belas
tahun Eyang,” katanya pula.
”Kuharap hari ini kau jangan bicara
sinting sama aku, Wiro!” bentak Sinto Gendeng
dan matanya masih terus menatap ke
timur.
”Kau lihat matahari itu?”
”Lihat Eyang....” jawab Wiro seraya
memandang ke timur.
”Matahari itu masih tetap matahari
yang dulu juga, masih sama dengan matahari tujuh
belas tahun yang silam. Puncak
Gunung Gede ini juga masih seperti dulu juga. Cuma yang
tua tambah tua, yang orok jadi
pemuda! Cuma dunia luar yang banyak berobahnya!”
Wiro Saksana mendengarkan dengan
sungguh-sungguh karena tak pernah dilihatnya
gurunya bicara seperti itu
sebelumnya.
Kemudian terdengar kembali suara
sang nenek. ”Tujuhbelas tahun. Sekian lama kau
tinggal bersamaku. Belajar tulis
baca, belajar ilmu silat, belajar segala kesaktian. Tapi kau
jangan lupa! Kudu inget! Ilmu dan
segala kesaktian apa yang telah aku berikan sama kau
semuanya adalah masih sangat terlalu
kecil, terlalu sedikit, sama sekali tidak ada artinya jika
dibandingkan dengan ilmu kekuasaan
Gusti Allah. Kau mengerti, Wiro?”
”Ya, Eyang....”
”Karena itu kau musti sadar, kudu
ingat. Kalau ini hari kau sudah menjadi sakti
mandraguna yang tak sembarang orang
bisa menandingi kau, tapi hal utama yang musti kau
lakukan ialah menjauhkan diri dari
segala sifat yang tidak baik! Kau jangan sekali-kali
bersifat sombong, congkak dan
tekebur! Pakai semua ilmu yang kuberikan untuk menolong
sesama manusia, untuk kebaikan.
Kalau kau nyeleweng, kau akan dapat balasan sendiri di
kemudian hari! Kau musti ingat bahwa
bukan kau saja yang sakti di dunia ini. Kau musti
sadar bahwa diluar langit ada langit
lagi. Kau sadar, Wiro?”
”Sadar,
Eyang....”
”Ingat?”
”Ingat,Eyang....”
”Ingat.... ya ingat! Manusia ingat
dengan pikirannya, sama otaknya! Tapi aku tak mau
kalau kau cuma sekedar mengingat
saja karena setiap ada ingat musti ada lupa. Dan manusia
manapun selagi bernama manusia,
suatu ketika tetap akan membawa sifat lupa itu. Lupa dan
kelupaan. Yang penting ialah kau
musti menanamkan sedalam-dalamnya ke dalam hatimu, ke
dalam sanubarimu, ke dalam aliran
kau punya darah, ke dalam detakan jantung, ke dalam
hembusan nafas! Sesuatu itu, jika
ditanamkan dalam-dalam laksana sebatang pohon jadinya,
tak satu tanganpun yang sanggup
mencabutnya dari bumi karena dari hari ke hari akar yang
membuat pohon itu tegak semakin
kokoh dan jauh masuk ke dalam tanah!”
Kesunyian menyeling beberapa
lamanya.
Kesunyian ini dipecahkan oleh suara
Eyang Sinto Gendeng kembali.
”Hari ini adalah hari yang
penghabisan kau berada di sini, Wiro!”
”Eyang....,” terkejut Wiro Saksana
mendengar kata-kata gurunya yang tiada
disangkanya itu.
”Kau terkejut....? Tak perlu
terkejut. Di dunia ini selalu ada waktu bertemu selalu ada
waktu perpisahan. Waktu datang dan waktu pergi! Aku telah selesai dengan kewajibanku
memberikan segala macam ilmu kepada
kau dan kau sudah selesai dengan kewajiban kau
yaitu menuntut dan mempelajari ilmu
itu dari-ku....”
Dalam duduknya itu Wiro Saksana jadi
tertegun. Jadi rupa-rupanya apa yang
dinyanyikan oleh Eyang Sinto Gendeng
tadi ada hubungannya dengan peri kehidupannya.
Cuma yang belum dimengerti Wiro
ialah barisan kalimat, Tujuh belas tahun masa
perjanjian.... tujuh belas tahun
saat pembalasan....
Eyang Sinto Gendeng tiba-tiba
melayang turun ke tanah kembali. Dia berdiri di
hadapan muridnya. Dan mulai lagi
bicara.
”Segala apa yang ada di dunia ini
selalu terdiri atas dua bagian, Wiro! Dua bagian
yang berlainan satu sama lain tapi
yang menjadi pasangan-pasangannya....”
Wiro Saksana kerenyitkan kening tak
mengerti. ”Misalnya Eyang?” tanyanya.
”Misalnya...., ada laki-laki ada
perempuan. Bukankah itu dua bagian yang berlainan?
Tapi merupakan pasangan?!”
”Betul Eyang....”
”Misal lain.... ada langit.... ada
bumi. Ada lautan ada daratan. Ada api ada air.... ada
panas ada dingin. Ada hidup ada
mati, ada miskin ada kaya. Ada buta ada melek. Ada lurus
ada bengkok, ada panjang ada pendek,
ada tinggi ada rendah, ada dalam ada cetek! Semuanya
selalu begitu Wiro, Kemudian.... ada
susah ada senang, ada tertawa ada menangis. Di atas
semua
itu ada satu yang tertinggi. Yang satu ini ialah penciptanya. Siapa yang
ciptakan kau,
Wiro....?”
”Tidak
tahu Eyang....”
”Bogrol!”
”Aku
tahu Eyang....”
”Siapa?”
”Ibu
sama bapakku.”
”Siapa
yang mencipatakan ibu sama bapak kau?”
”Nenek
sama kakek....”
”Yang
menciptakan nenek sama kakek....?”
”Nenek
dari nenek dan kakek dari kakek....”
”Dan
yang menciptakan nenek dari nenek serta kakek dari kakek....?”
”Ya
nenek dari nenek dari nenek dan kakek....”
”Geblek!”
bentak Sinto Gendeng. ”Manusia tidak pernah bisa menciptakan manusia!
Bapak
kau kawin sama ibu kau dan ibu kau cuma melahirkan kau, lain tidak!! Ibu kau
dilahirkan
sama nenek, kau begitu seterusnya goblok! Semua manusia ini, semua apa saja di
dunia ini diciptakan oleh Yang Satu. Oleh Gusti Allah! Hal-hal yang dua itupun juga
diciptakan dengan kodrat iradatnya
Gusti Allah. Gusti Allah ciptakan laki-laki juga Dia
ciptakan perempuan. Gusti Allah bikin langit, juga bikin bumi. Bikin orang-orang susah juga
bikin orang-orang senang. Bikin manusia-manusia kaya juga bikin manusia-manusia
miskin.
Sekarang aku mau tanya sama kau. Berapa kau punya mata?”
”Dua,
Eyang.”
”Hidung?”
”Satu
Eyang.”
”Lobang
hidung?”
”Dua
Eyang....”
”Mulut?”
”Satu....”
”Bibir?”
”Dua Eyang.”
”Kepala?”
”Satu....”
”Tangan?”
”Dua....”
”Kaki....?”
”Juga dua Eyang....”
”Kau punya biji kemaluan....?”
”Dua Eyang,” dan dalam hatinya Wiro
memaki tapi geli.
”Kau punya batang kemaluan?”
”Satu Eyang....” Wiro geli lagi dan
memaki lagi.
”Nah.... itu semua membuktikan di
dunia ini kehidupan manusia adalah tak ubahnya
seperti bilangan dua dan satu, satu
dan dua, dua satu dua dan seterusnya. Angka dua dan
satu
itu selalu ada melekat dalam diri
manusia. Dan semuanya itu hanya diciptakan oleh Yang
Maha Kuasa yakni Gusti Allah! Kehidupan dua dan satu ini, kehidupan dua satu dua ini, dan
adanya dua satu dua ini tak bisa
diingkari dan harus melekat dalam diri manusia! Manusia
pasti akan merasakan senang susah,
gembira sedih, kaya miskin, lapar kenyang, hidup mati,
dan manusia juga musti percaya pada
yang satu yakni Gusti Allah....”
”Tapi manusia yang picak, Eyang, matanya
cuma satu, manusia yang buntung kakinya
sebelah, berarti cuma punya satu
kaki. Jadi dia tidak memiliki angka dua yang sempurna
dalam dirinya....”
”Betul, meski begitu berarti dia
cuma punya satu mata, punya satu kaki! Nah,
bukankah ada juga melekat angka satu
pada dirinya?! Aku sudah bilang sama kau bahwa
dalam diri manusia musti ada angka
dua dan satu itu! Apa kau masih kurang ngerti,
goblok?!”
Wiro diam, kata-kata gurunya itu
memang betul.
”Sekarang berdirilah kau!,” perintah
Eyang Sinto Gendeng.
Wiro Saksana berdiri.
Eyang Sinto Gendeng menyeringai dan
tertawa cekikikan. Tiba-tiba dari balik pakaian
hitamnya dikeluarkannya kembali
kapak saktinya. Terkejut Wiro Saksana dan pemuda ini
mundur beberapa langkah ke belakang.
Sinto Gendeng menyeringai lagi, tertawa lagi hingga
kedua matanya berair.
SEMBILAN
“Kenapa kau terkejut....?” tanya Eyang Sinto
Gendeng. “Kau takut?!”
“Eyang mau bikin cilaka murid
lagi?!” tanya
Wiro Saksana bersiap-siap.
Dan
nenek itu tertawa lagi melengking-lengking. Dia mundur sampai tujuh tombak ke
belakang. ”Pejamkan matamu, Wiro!”
perintah Eyang Sinto Gendeng pula.
”Tapi.... Eyang mau bikin apa?!”
”Eeee.... kunyuk betul kau! Aku
suruh pejamkan mata malah banyak tanya!! pejamkan
matamu!”
Wiro memejamkan matanya dengan
ragu-ragu. Karena itu kedua mata itu
dipejamkannya tidak rapat betul.
”Biar rapat!” hardik Sinto Gendeng.
Dan Wiro terpaksa menutup matanya
rapat-rapat.
“Buka bajumu!”
Wiro membuka bajunya dan
meletakkannya di tanah. Kedua matanya tetap memejam.
“Buka tangan kananmu, naikkan ke
atas dan hadapkan telapaknya kepadaku!”,
perintah Sinto Gendeng lagi. Wiro
mengikuti perintah itu.
Eyang Sinto Gendeng memegang mata
kapak dengan tangan kanannya erat-erat. Salah
satu jarinya kemudian menempelkan
disatu bagian rahasia pada gading dekat kepala kapak
yang terbuat dari besi putih itu.
”Apapun yang terjadi sekali-kali
jangan buka kedua matamu dan sekali-kali jangan
bergeser. Kecuali kalau kau mau
mampus!”
”Eyang....”
”Diam! Gila betul!,” bentak Sinto
Gendeng. Wiro terpaksa membungkam.
Perempuan tua itu menekan alat
rahasia dekat kepala kapak. Maka dari mulut naganagaan
di hulu kapak melesat dengan suara
menderu tiga puluh enam batang jarum putih.
Ketiga puluh enam jarum itu mendarat
dan menancap di dada kanan Wiro Saksana.
Jarum-jarum ini menancap dengan
teratur membentuk susunan angka 212. Pemuda itu
menjerit keras. Tubuhnya rebah ke
tanah! Sekali lagi Sinto Gendeng menekan alat rahasia
dekat kepala kapak. Kini dua puluh
empat batang jarum hitam meluncur dan menancap di
telapak tangan sebelah kanan Wiro
Saksana! Pemuda ini menjerit lagi karena tancapan jarum
yang 36 tadi telah membuat dia tak
sadarkan diri!
Sebelum Wiro Saksana siuman, Eyang
Sinto Gendeng sudah mencabuti jarum-jarum
putih di dada pemuda itu, juga
jarum-jarum hitam di telapak tangan kanan Wiro. Dan ketika
Wiro sadarkan diri maka dilihatnya
di kulit dadanya terukir deretan angka-angka 212
berwarna hitam kebiruan. Angka-angka
yang sama juga juga terdapat di telapak tangannya.
Bedanya angka-angaka yang di telapak
tangan ini agak kecil dan berwarna putih sehingga
agak samar-samar kelihatannya.
”Berdiri Wiro!” perintah sang guru.
Wiro Saksana berdiri. Dia tak tahu
apa sebenarnya yang telah dilakukan oleh gurunya.
Yang dia tahu tadi ialah suara yang
menderu-deru, lalu dia menjerit, lalu roboh dan.... tak
ingat apa-apa lagi.
“Kau telah lihat angka 212 pada
kulit dada dan telapak tangan kananmu?”
Wiro mengangguk.
“Berarti dalam dirimu sudah
kulekatkan unsur-unsur keduniaan dan unsur ingat
Tuhan. Agar kau tidak lupa bahwa kau
hidup di dunia adalah untuk menolong sesama
manusia. Juga agar kau tidak lupa
bahwa kau mempunyai Tuhan yang harus dituruti segala
perintah dan dijauhkan segala
laranganNya. Kau mengerti?”
“Mengerti Eyang. Tapi... mengapa
badanku kini tiga kali lebih enteng dari
sebelumnya? Bahkan tenaga juga
terasa bertambah hebat!”
Eyang
Sinto Gendeng tertawa mengikik.
“Itu
adalah berkat jarum kapak Naga Geni 212” kata Sinto Gendeng pula. Lalu
neneknenek
ini
menerangkan apa yang telah dilakukannya terhadap muridnya.
Wiro
merasa mendapat anugerah ilmu tambahan segera berlutut dihadapan gurunya.
”Tak
usah pakai peradatan segala macam. Berdirilah! Masih banyak yang aku mau
bicarakan sama kau,” kata Sinto
Gendeng pula.
Wiro berdiri.
Sinto Gendeng mengeluarkan kapak dan
batu hitam kembali. Diulurkannya bendabenda
itu. ”Wiro.... kapak ini kuberi nama
Kapak Naga Geni 212. Sepuluh tahun lamanya
kubutuhkan waktu untuk membuatnya
dan telah dua puluh tahun lebih senjata ini berada di
tanganku. Rupanya kau ada jodoh
dengan senjata ini. Terimalah....”
Tertegun dan hampir tak percaya Wiro
Saksana mendengar ucapan gurunya. Tak
disangkanya bahwa dia bakal mendapat
anugerah senjata yang sangat sakti itu. Dia terdiam
mematung seketika.
”Ayo Wiro! Kenapa kau jadi bimbang?
Terimalah Kapak Naga Geni 212 ini untuk
kau!”
Wiro Saksana mengulurkan kedua
tangannya. Ketika senjata sakti itu menyentuh
tangannya mendadak sontak
mengalirlah arus aneh yang dingin ke dalam tubuh Wiro. Dan
disaat itu pula dirasakannya
tubuhnya naik sampai dua tingkat, padahal dia merasa tingkat
tenaga dalam yang sudah dimilikinya
sebelumnya sudah mencapai tingkat yang paling
sempurna!
”Sisipkan di pinggangmu Wiro dan
pakai kau punya baju kembali!”
Wiro melakukan apa yang dikatakan
Eyang Sinto Gendeng. Kapak dan batu yang ada
angka 212-nya itu disisipkan ke
pinggangnya.
”Kapak Naga Geni 212 bukan senjata
sembarangan, Wiro. Karenanya juga tak boleh
kau pakai sembarangan. Pergunakanlah
hanya pada saat-saat kau terdesak hebat atau dalam
keadaan nyawamu terancam. Kau telah
lihat juga macam kehebatan kapak itu tadi, tapi masih
ada satu lagi kehebatannya yaitu
bila kau tekan salah satu bagian di bawah mata kapak itu
maka akan berhamburanlah jarum-jarum
putih dari mulut naga-nagaan.... Untuk membuat
angka 212 pada dada dan telapak
tanganmu aku telah pergunakan jarum-jarum semacam itu
tadi. Cuma jarum-jarum tadi telah
kuisi dengan sejenis racun yang hebat sehingga tubuhmu
akan kebal terhadap segala racun
apapun juga! Tangan kananmu juga mempunyai racun yang
tersembunyi, Wiro. Jangan sembarangan
mempergunakannya karena bisa mematikan lawan!”
Wiro Saksana hendak berlutut lagi,
tapi segera dibentak oleh gurunya.
”Terima kasih Eyang.... terima
kasih,” kata pemuda itu.
Eyang Sinto Gendeng hanya keluarkan
suara tertawa. Digaruk-garuknya kepalanya
yang berambut jarang dan yang kini
hanya ditancapi dua buah tusuk kundai. Kemudian
mulailah dia untuk ketiga kalinya
menyanyikan lagu tadi: Pitulas taun wus katilar....
Ketika Sinto Gendeng selesai
menyanyikan lagu itu maka bertanyalah Wiro.
”Eyang, apakah maksud Eyang dengan
nyanyian itu....?”
Sinto Gendeng tertawa. Aneh sekali
tawanya kali ini. Dan parasnya kelihatan begitu
sedih serta rawan. Kemudian ketika
dia berkata, jelas suaranya itu bergetar tanda dia tak dapat
menahan sesuatu yang menyesak di
lubuk hatinya.
”Aku sudah bilang bahwa hari ini
adalah hari yang penghabisan kau berada di Gunung
Gede ini bersamaku....”
”Mengapa demikian, Eyang....?” Wiro
garuk-garuk kepalanya.
”Karena segala ilmuku telah
kupasrahkan kepadamu. Karena hari inilah saatnya
bagimu untuk turun gunung, memasuki
alam dunia luar, membawa garis-garis kehidupanmu
sendiri
yang telah ditentukan Gusti Allah....”
Sinto
Gendeng diam seketika. Kemudian diteruskannya, ”Sebelum kau meninggalkan
puncak
Gunung Gede ini ada satu tugas yang musti kau lakukan....”
”Tugas
apakah itu, Eyang?” tanya Wiro Saksana. Lagi-lagi digaruknya kepalanya
yang
berambut gondrong itu.
”Dengar
baik-baik Wiro.... Lebih dari empat puluh tahun yang silam aku telah
mengambil seorang murid bernama
Suranyali. Waktu itu dia baru saja berumur dua tahun.
Dari umur dua tahun itulah aku mulai
mendidiknya pelbagai ilmu dasar silat dan kesaktian.
Tapi kemudian aku ketahui bahwa aku
telah ketelanjuran mengambil itu manusia menjadi
muridku. Suranyali kulepas turun
gunung, kubekali pelbagai nasihat tapi dasar Suranyali
bukan manusia baik-baik, begitu
turun gunung segala ilmu yang kuberikan padanya
dipakainya
untuk perbuatan jahat, maksiat. Dia membuat keonaran dimana-mana! Menjadi
kepala
perampok! Tukang peras bahkan menculik perempuan-perempuan cantik dan merusak
kehormatannya!
Menurutku kini umurnya sudah hampir setengah abad, sudah dekat ke liang
kubur!
Tapi ini sama sekali tidak memberikan keinsyafan pada dirinya. Kejahatannya
akhirakhir
ini
semakin menjadi-jadi, sudah lewat dari takaran! Kini dia tengah menyusun rencana
busuk terhadap Pajajaran. Pajajaran
hendak dibikinnya banjir darah! Karena itu kau harus
lekas-lekas dapat mencari itu
manusia laknat dan perintahkan kepadanya untuk datang ke sini
menghadapku guna mempertanggungjawabkan
segala apa yang telah dibuatnya selama
malang melintang di dunia sana! Dan
perlu kau ketahui, Suranyali kini telah memakai nama
baru yakni Mahesa Birawa!”
Wiro Saksana merasa betapa sedihnya
akan berpisah dengan gurunya yang selama 17
tahun telah mendidiknya itu. Tapi
mengingat perpisahan itu adalah demi untuk menjalankan
tugas dari sang guru, terhibur juga
sedikit hatinya. Dan berkatalah pemuda itu:
”Tugas Eyang akan aku laksanakan.
Cuma bagaimana jika itu manusia Mahesa
Birawa tidak mau mematuhi perintah
untuk datang ke sini....?”
”Jawabnya hanya satu Wiro. Pateni
manusia itu! Bunuh manusia durhaka itu!”
Wiro Saksana terdiam. Dalam diamnya
ini dia berpikir-pikir sampai dimanakah
ketinggian ilmu Suranyali atau
Mahesa Birawa itu? Sanggupkah dia menghadapi manusia
yang sesungguhnya adalah kakak
seperguruannya sendiri?!
”Aku tahu apa yang kau pikirkan
Wiro,” kata Eyang Sinto Gendeng pula tiba-tiba. Ini
mengejutkan Wiro Saksana. ”Suranyali
memang sakti bahkan kudengar dia telah berguru pula
pada
seorang sakti di Gunung Lawu! Tapi kau tak usah takut! Kau memiliki kapak Naga
Geni
212.
Dan kau berada dalam kebenaran pula! Sesungguhnya kau punya hak untuk membunuh
itu
manusia, Wiro. Pertama karena tugas yang aku pikulkan dibatok kepalamu! Kedua
karena
Suranyali
atau Mahesa Birawa itulah yang telah membunuh kau punya ibu-bapak!”
Mendadak
sontak bergetarlah sekujur tubuh Wiro Saksana. Parasnya berubah kelam
membesi!
Sejak kecil, sejak diam di puncak Gunung Gede itu belum pernah dia mengetahui
apa
yang dinamakan kebencian dan dendam kesumat! Tapi saat itu dadanya serasa mau pecah
oleh kobaran kebencian dan amarah
serta dendam yang tiada terkirakan!.
”Bapakmu bernama Ranaweleng! Dibunuh
oleh Suranyali. Ibumu dilarikannya.
Sesudah itu bunuh diri sesudah
dirusak kehormatannya. Kau sendiri hampir menemui ajal
dimakan api sewaktu rumah bapakmu
dibakar oleh Suranyali dan anak buahnya. Kebetulan
sekali aku lewat disitu....”
Wiro menjatuhkan diri di hadapan
gurunya. ”Terima kasih Eyang.... kalau Eyang tidak
ada....”
”Berdiri!” bentak Sinto Gendeng.
Perempuan aneh itu memang paling tidak suka
dilututi seperti itu. ”Bukan aku
yang menolong kau, tapi Gusti Allah!” katanya. ”Ayo
berdiri!”
Wiro berdiri kembali. Dan Sinto
Gendeng menuturkan peristiwa tujuh belas tahun
yang lalu sejelas-jelasnya. Kini
maklumlah Wiro apa arti kata-kata dalam nyanyian gurunya
tadi. Dikuatkan hatinya untuk
mengendalikan perasaannya yang campur aduk. Dikuatkannya
dirinya untuk membendung air mata
yang hendak tumpah dari kelompok matanya!
”Eyang....,” desis Wiro Saksana,
”Sewaktu Eyang turun ke kampung Jatiwalu itu,
mengapa
Eyang tidak langsung turun tangan....?”
Sinto
Gendeng tertawa rawan.
”Semustinya....
semustinya memang aku harus turun tangan saat itu. Tapi ketika
kutahu
bahwa Ranaweleng – bapakmu – mempunyai seorang orok maka aku mempunyai
pikiran
lain! Kalau kupelihara anak itu dan kudidik ilmu silat seta kesaktian maka jika
sudah
besar
dia lebih mempunyai hak dariku untuk menamatkan riwayat Suranyali alias Mahesa
Birawa.
Kalau tidak percuma saja aku ajarkan kepadamu bahwa kehidupan di dunia ini
tersimpul dalam tiga barisan angka
212. Bukankah setiap budi ada balas? Setiap kejahatan ada
pembalasannya? Tuhan telah
menolongmu, berarti itu angka 1. Suranyali membunuh orang
tuamu berarti itu angka2, Wiro!
Jangan sekali-kali kau lupakan!”
”Menurut Eyang, apakah manusia
keparat itu masih ada di kampung Jatiwalu bersama
anak-anak buahnya....?”
”Tak dapat kupastikan, Wiro. Itu
tugasmu untuk menyelidik. Yang aku tahu ialah
bahwa manusia itu hendak membuat
Pajajran banjir darah. Karenanya, seret dia ke sini
sebelum hal itu terjadi. Dan kalau
dia tidak mau, pateni saja!!” (pateni=bunuh).
Sunyi selang beberapa lamanya. Kedua
orang itu tenggelam dalam alam pikiran
masing-masing.
”Kau akan segera berangkat, Wiro?”
Pemuda itu tak segera menjawab.
Kemudian dia mengangguk perlahan.
”Ucapanku yang terakhir Wiro, mulai
saat kau turun gunung ini, pakailah nama WIRO
SABLENG. Itu lebih baik bagi kau. Gurunya GENDENG,
muridnya SABLENG.” Dan habis
berkata
demikian si nenek tua ini tertawa mengikik lama dan panjang. Namun tertawa itu
hanyalah
untuk menyembunyikan hati yang rawan, sedih itu untuk membendung air mata
yang
hendak tumpah keluar!
”Eyang....
kapan kita bisa bertemu lagi?” tanya Wiro.
Sang guru hentikan tertawanya. ”Selama
langit masih biru, selama hutan masih hijau,
selama air sungai masih mengalir ke laut, kita
pasti bertemu lagi Wiro Sableng....!”
SEPULUH
Kedai nasi itu cukup besar. Tapi
saat itu pengunjungnya cuma beberapa orang. Wiro
Sableng meneguk air liurnya. Dia tak
punya banyak uang tapi perutnya perih dan lapar,
tenggorokannya kering dahaga.
Akhirnya dia masuk juga ke dalam kedai itu. Wiro duduk di
satu sudut. Kursi-kursi dan meja
lengket oleh debu. Tapi pemuda rambut gondrong ini terus
saja duduk seenaknya tanpa
mengacuhkan debu itu.
Seorang laki-laki tua ubanan datang
mendekatinya. Dia adalah pemilik kedai.
”Makan nak....?” tegurnya.
Wiro mengangguk. ”Tapi jangan
mahal-mahal, aku tak punya banyak uang!” kata
Wiro
Sableng terus terang.
Pemilik
warung itu kerutkan kening. Selama dia membuka kedai
di Jatiwalu itu baru
hari ini ada seorang tamu yang
datang di kedainya dan berkata seperti itu. Matanya meneliti
Wiro Sableng dari rambutnya yang
gondrong sampai ke kakinya yang berdebu.
”Kau tentu seorang pendatang....”,
katanya.
”Betul,” Wiro menggaruk-garuk
rambutnya. ”Tolong lekas nasinya, pak, perutku
sudah lapar betul....!”
Orang kedai itu segera mengambilkan
sepiring nasi dan segelas air lalu diletakkannya
di atas meja di hadapan Wiro. Titik
air liur pemuda ini. Selama tujuh belas tahun di puncak
Gunung
Gede dia hanya kenal nasi merah dan sayur. Kini menghadapi nasi putih dan ikan
serta
gulai yang lezat maka lahaplah makan Wiro. Keringat memercik di kulit mukanya.
Kemudian
diteguknya air. Pada saat dia mengusapi perutnya yang buncit keras itu maka
masuklah
empat orang laki-laki. Semuanya berpakaian serba hitam, memakai golok di
pinggang.
Tampang-tampang mereka sungguh tak sedap dipandang. Mereka masuk dan
duduk
dengan seenaknya. Keempatnya memelihara berewok.
Pemilik
kedai melihat kehadiran keempat orang ini dengan cepat datang melayani.
Agaknya
keempat manusia ini pastilah orang-orang penting juga. Tak lama kemudian maka
dihidangkanlah
makanan yang lezat-lezat di atas meja. Tuak murni pun diletakkan dalam
sebuah
bumbung bambu berikut empat buah gelas yang juga dari bambu.
Keempat
orang itu makan dengan angkat kaki. Suara celepak-celapak mulut mereka
terdengar
sampai ke tempat Wiro Sableng duduk. Tapi tentu saja
pemuda ini tak mau ambil
peduli. Meski mereka menyiplak sampai
sekeras geledek pun dia tak akan ambil pusing!
Wiro Sableng melambaikan tangan
memanggil pemilik kedai.
”Berapa aku musti bayar?” tanya
Wiro.
Orang kedai itu menyebutkan jumlah
uang yang musti dibayar Wiro.
”Waduh... mahal sekali!” keluh Wiro.
”Tadi aku sudah bilang jangan mahal-mahal...”
”Itu juga sudah sangat murah, Nak,”
kata orang kedai.
Wiro Sableng garuk-garuk kepalanya.
”Habis uangku buat bayar makanan itu.”
Dikeluarkannya uangnya dan
diberikannya pada orang di kedai.
Pada saat itu pula terdengar gelak
tawa keempat orang yang duduk di meja seberang
sana. Salah seorang dari mereka,
yang berbadan gemuk pendek dan berkepala botak berkata,
”Kalau
tidak gablek uang, jangan masuk kedai, Bung!”
Yang
seorang lagi menyambungi, ”Dari pada takut-takut keluar uang, sebaiknya cari
saja
makanan di tong sampah!”
Keempat
orang itu tertawa gelak-gelak.
Wiro
memandang kepada mereka. Diejek demikian rupa pemuda ini tenang-tenang
saja
malahan sunggingkan senyum dan garuk-garuk kepala.
Laki-laki
yang berkumis panjang menjulai ke bawah bertanya, ”Kau mau uang buat
beli
makanan?”
”Mau
saja kalau diberi,” jawab Wiro sejujurnya. Digaruknya lagi kepalanya.
”Merangkaklah
dihadapanku, menyalak tiga kali dan tuanmu ini pasti akan kasih uang
kepadamu”
Atap
kedai itu seperti mau runtuh oleh suara tertawa keempat orang itu.
Wiro
memandang berkeliling. Ketika dilihatnya beberapa sisir pisang ambon yang
berjejer digantung di atas meja tempat meletakkan ikan dan gulai maka
tertawalah pemuda
itu.
Mula-mula perlahan tapi makin lama makin keras dan dia melangkah mendekati
deretan
pisang
itu. Dikeluarkannya sisa seluruh uangnya yang masih ada yang tak seberapa tapi
cukup
untuk membeli sesisir pisang.
”Aku beli pisangmu, pak,” kata Wiro.
Diturunkannya sesisisr sambil
melangkah ke pintu dipotesnya sekaligus empat buah
pisang. Dia melangkah juga ke pintu
sementara di belakangnya masih terdengar suara gelak
tawa keempat orang tadi.
Tiba-tiba hampir tak kelihatan
saking cepatnya, dan tanpa berpaling sama sekali Wiro
Sableng gerakkan tangan kanannya.
Empat buah pisang meluncur lewat bahunya.
Di belakangnya suara tertawa keempat
orang tadi mendadak sontak berhenti, berganti
dengan suara-suara tercekik! Keempat
buah pisang itu telah jeblos ke dalam mulut empat
manusia berpakaian hitam-hitam itu. Jangankan
untuk tertawa, bernafaspun mereka sudah
megap-megap! Dan diluar sana Wiro
Sableng sambil senyum-senyum melangkah terus
sepanjang jalan. Dipotesnya sebuah
pisang dan mulai memakannya.
Dia melangkah terus dan acuh tak
acuh ketika beberapa saat kemudian didengarnya
derap kaki empat orang dalam kedai
tadi mengejarnya.
”Bikin mampus saja sama
kawan-kawan!” teriak salah seorang pengejar.
”Berani kurang ajar sama kita orang!
Cincang sampai lumat!,” kata yang berbadan
paling tinggi.
Wiro Sableng terus juga melangkah
enak-enak. Cuma sekali-kali tangan kanannya
dilambaikannya ke belakang untuk
melemparkan kulit-kulit pisang yang dimakannya. Namun
lambaian tangan itu bukan lambaian
tangan biasa yang hanya sekedar melemparkan kulit
pisang belaka! Dari tangan kanan
pemuda itu membadai angin dahsyat laksana tembok baja
yang
membendung lari keempat orang pengejar itu! Betapapun mereka mempercepat lari
mereka
namun tetap saja mereka tak sanggup mengejar Wiro Sableng padahal kelihatannya
pemuda itu hanya tinggal sepejangkauan
tangan lagi!
Keempat orang itu berteriak-teriak,
memaki dan menggeram, menggapai-gapaikan
tangan ke muka karena merasa
hampir-hampir dapat menagkap punggung baju Wiro Sableng!
Namun gerakan-gerakan mereka itu tak
ubahnya seperti empat ekor monyet yang menjadi gila mencak-mencak kian kemari!
Dan orang yang dikejar terus juga berjalan ongkang-ongkang bahkan sambil makan
pisang ambon!
Mengapa sampai terjadi hal yang
demikian, lain tidak karena Wiro Sableng telah mengeluarkan ilmu kesaktiannya
yang bernama: dinding angin berhembus tindih menindih!
”Gila betul!” teriak laki-laki
tinggi jangkung yang lari paling depan. Namanya Bergola
Wungu. Dialah yang menjadi pemimpin
dari tiga orang lainnya dan dialah yang memiliki
ilmu paling tinggi!
Dengan sangat geram, sambil lari
dicabutnya sebilah belati dari pinggangnya dan
dilemparkannya ke arah punggung Wiro
Sableng. Tapi anehnya pisau itu melesat kembali,
berbalik menyerang Bergola Wungu!
Kalau saja dia tidak cepat-cepat buang diri ke samping
pastilah lehernya akan dimakan ujung
pisau!
Akhirnya dengan keluarkan keringat
dingin, Bergola Wungu dan anak-anak buahnya
hentikan pengejaran. Baru hari ini
Bergola Wungu serta anak-anak buahnya menghadapi
kejadian seperti itu. Kejadian yang
mendekam hati tapi juga aneh tak bisa mereka mengerti.
Sebagai pemimpin dari tiga orang
itu, sebagai orang yang paling tinggi ilmu silat dan
kesaktiannya sudah barang tentu
Bergola Wungu malunya bukan main! Untuk mencuci
mukanya dia berkata menggerendeng:
”Kalau bangsat itu bukannya manusia siluman
pastilah dia iblis bermuka manusia!”
SEBELAS
Siapakah keempat manusia berpakaian
serba hitam dan sama-sama memelihara
berewok itu? Mereka menamakan diri
Empat Berewok dari Goa Sanggreng dengan Bergola
Wungu sebagai pimpinannya. Mereka
tak lain adalah komplotan rampok yang malang
melintang sepanjang sungai Cimandilu
yang terkenal keganasannya di daerah sekitar situ.
Dulunya, Bergola Wungu adalah
turunan orang baik-baik yang ayahnya mati ditangan
Kalingundil, kepala rampok yang
malang melintang dan bersarang di kampung Jatiwalu.
Sesudah ayahnya dibunuh, keluarganya
ditumpas sedang keganasan Kalingundil dan
tiga orang anak buahnya semakin
menjadi-jadi melanda Jatiwalu maka Bergola Wungu yang
saat itu berumur dua puluh enam
tahun meninggalkan kampung kelahirannya dengan satu
tekat yaitu mencari guru silat yang
dapat mengajarkan ilmu dan kesaktian kepadanya. Dia
berhasil menemukan seorang guru dan
kemudiannya berhasil pula mendapat tiga orang anak
buah, maka malang melintanglah
Bergola Wungu di sepanjang sungai Cimandilu, menjadi
kepala perampok yang ditakuti.
Dan ketika dirasakannya saat untuk
melakukan pembalasan sudah tiba maka bersama
ketiga orang anak buahnya
berangkatlah dia menuju Jatiwalu. Tapi sewaktu sampai di
Jatiwalu, Kalingundil dan anak-anak
buahnya tak ada di sana, pergi keluar kampung dan tak
satu orangpun yang tahu. Rumahnya
kosong dan sepi. Bergola Wungu memutuskan untuk
menunggu sampai musuh besarnya itu
kembali. Dan sampai hari itu Kalingundil masih juga
belum muncul.
Mereka duduk di dalam kedai di
tempat semula. Untuk berapa lamanya tak satupun
yang bisa bicara. Bergola Wungu
teguk tuaknya sampai habis.
”Kurasa manusia itu mungkin salah
seorang anak buah Kalingundil….”, kata Ketut
Ireng, laki-laki yang duduk di
hadapan Bergola Wungu.
Bergola Wungu letakkan gelas
bambunya ke meja. Dia berpikir, kalau yang tadi itu
benar-benar anak buah Kalingundil,
pastilah maksudnya untuk menuntut balas akan menemui
kegagalan. Kalau anak buah
Kalingundil sudah demikian hebatnya, apalagi Kalingundil
sendiri! Memang waktu lima belas
tahun belakangan ini adalah waktu yang cukup lama untuk
menambah ilmu kesaktian. Tapi bila
kehebatan anak buah Kalingundil seperti kenyataan tadi,
ini adalah tiada diduga Bergola
Wungu sama sekali!
”Tidak mungkin….,” desis Bergola
Wungu. ”Tak mungkin manusia tadi adalah anak
buah Kalingundil! Lagi kita belum
yakin betul apa dia benar-benar manusia! Dan aku ingat
bahwa Kalingundil cuma punya tiga
orang kaki tangan! Aku kenal tampang-tampang mereka
semua!”
”Tapi bukan mustahil selama belasan
tahun ini jumlah anak buahnya bertambah,”
menyela laki-laki yang bernama Seta
Inging.
”Aku tetap tidak mau percaya….!”,
kata Bergola Wungu. Dilambaikannya tangannya
pada pemilik kedai. ”Sini!”,
bentaknya.
Orang tua pemilik kedai datang dengan
ketakutan dan terbungkuk-bungkuk.
”Berapa orang anak buah Kalingundil
semuanya?”
”Cuma tiga, Den. Cuma tiga….”
”Masih yang dulu-dulu juga….?”
Orang tua itu mengangguk.
”Dan tak satu manusiapun disini yang
tahu kemana mereka pergi?!”
”Tidak
satupun, Den….”
”Selain
mereka berempat, siapa lagi yang diam di rumah besar itu….?”
”Tidak
ada, Den….”
”Dulu kudengar dia punya bini….”
”Sudah meninggal, Den….”
”Juga seorang anak perempuan…. Apa
juga sudah meninggal?!”
”Tidak.”
”Kalau begitu dimana perempuan itu
sekarang?”
”Bapak tidak tahu, Den….”
”Dusta!”
”Sungguh tidak tahu, Den….”
”Bakar saja kedai ini!”, ancam Ketut
Ireng.
Dan orang tua itupun berlutut minta
dikasihani. ”Jangan den…. sungguh bapak tidak
tahu. Jangan dibakar kedai ini den….
Kasihani bapak…. Tapi mungkin dia ikut bersama
Kalingundil. Mungkin juga…. Mungkin juga menginap di tempat bibinya….”
”Dimana tempat bibinya?”
”Tidak tahu, Den….”
”Tidak tahu melulu!”, bentak Bergola
Wungu.
”Kalian manusia-manusia yang sudah
diinjak-injak kemanusiaannya oleh Kalingundil,
yang diperas dan dipreteli harta
kekayaannya, yang dibunuh dan disiksa, masih saja
melindungi manusia-manusia keparat
itu!”
”Kami semua benci dan mendendam
terhadap Kalingundil serta anak buahnya, Den.
Tapi kami ini rakyat lemah. Tak ada daya untuk
melawan...........”
”Kalian
bukan lemah tapi bodoh dan pengecut!” bentak Ketut Ireng. Lalu
sambungnya,
”jika beberapa hari dimuka ini kami masih belum juga menemui Kalingundil
dan
cecunguk-cecunguknya itu, akan kubakar rumahnya, juga seluruh kampung ini….!”
”Oh
jangan, Den…. Jangan, Den. Sekurang-kurangnya Raden musti ingat bahwa
kampung
ini dulunya adalah kampung raden juga….”
”Dulu!”
kata Bergola Wungu, ”tapi sesudah bapakku dibunuh dan keluargaku
ditumpas,
kampung ini bukan kampungku lagi! Orang-orang di kampung ini berdiam diri, tak
ambil
perduli ketika ibuku dirusak kehormatannya, ketika saudara-saudaraku ditebas
lehernya!
Patutkah kuakui ini sebagai kampungku? Persetan sama kampung keparat ini!”
Bergola
Wungu membantingkan gelas bambunya ke meja. Papan meja pecah, gelas
bambu mental terbelah dua!
”Mereka
bukannya takut, den, bukan tak mau menolong, tapi tak punya daya.
Kalingundil
dan anak buahnya berilmu tinggi….”
”Diam!”, bentak Bergola Wungu.
Orang tua pemilik kedai itu diam
membungkam.
Ketut Ireng ambil bagian kini, ”Kau
tahu siapa itu manusia rambut gondrong yang tadi
makan di sini?!”
”Tidak tahu, Den. Sungguh tidak
tahu.......”
”Sudah pergi sana!” bentak Bergola
Wungu.
Orang tua itu berlalu dengan cepat.
Tak lama kemudian Bergola Wungu dan ketiga
anak buahnya meninggalkan kedai tanpa membayar
satu peser tengikpun atas apa yang telah mereka makan dan mereka minum!
DUABELAS
Dia masih juga mencabuti rerumputan
yang bertumbuhan di makam itu. Dia sama
sekali tak mengacuhkan derap kaki
kuda yang menggeru di belakangnya karena menyangka
bahwa itu adalah kuda-kuda yang
biasa lalu lalang di tempat tersebut. Tapi tangannya yang
halus itu berhenti mencabuti
rerumputan ketika di belakangnya terdengar suara tertawa
seseorang.
”Ha…. ha…. inikah manusia yang menjadi
anak tunggal keparat Kalingundil?!”
Gadis enam belas tahun yang berlutut
di muka makam itu putar kepala. Empat orang
penunggang kuda dilihatnya berjejer
di belakangnya. Penunggang kuda yang paling depanlah
yang tadi tertawa dan buka suara.
Tubuhnya jangkung, berewoknya lebih lebat dari berewok
tiga manusia lainnya, tampangnyapun
lebih angker.
”He….
he…. cantik juga parasnya huh?!”, kata laki-laki ini yang tak lain dari Bergola
Wungu
adanya.
”Tapi
sayang, kepalanya musti kita pisahkan dari badannya. Bukankah demikian,
Bergola
Wungu?!”
”Betul,
tapi tak perlu cepat-cepat. Agaknya dia bisa memuaskan seleraku dan kalian
semua!”
Keempat
orang itu tertawa bekakakan.
”Kunyuk-kunyuk
hitam berewok! Kalian siapa?!”, bentak gadis berbaju biru. Dengan
enteng
dia berdiri. Tangan kanan memegang hulu pedang yang tersisip di pinggang.
”Eh,
galak juga betina ini!”, kata Ketut Ireng.
”Tapi
kalau kau mau kenal kami, aku tak keberatan untuk memperkenalkan diri.
Namaku
Ketut Ireng…. Ini Bergola Wungu. Yang ini, yang gemuk pendek Seta Inging dan
ini
yang matanya jereng Pitala Kuning. Nah... nah... sekarang kau tak keberatan
kasih tahu
namamu….?”
Keempat orang itu tertawa lagi.
”Manusia edan! Berlalulah dari
hadapanku! Kecuali kalau mau rasa tebasan
pedangku!”
”Ah, besar mulutnya sama saja sama
bapaknya!”, kata Bergola Wungu sambil usapusap
berewoknya. ”Ketahuilah kami datang
untuk mengirim bapakmu ke liang kubur. Itupun
kalau ada liang kubur yang masih mau
menerimanya!”
”Mulutmu terlalu besar monyet
berewok!”, hardik gadis itu. ”Aku mau lihat apakah
juga cukup besar untuk menerima
ujung pedangku ini?!”
Diiringi dengan pekik yang membising
maka berkiblatlah sebatang pedang ke arah
kepala Bergola Wungu! Kejut keempat
orang itu, terutama Bergola Wungu sendiri tidak
terkirakan. Kalau tidak cepat dia
buang diri dari punggung kuda pastilah kepalanya akan
terbelah dua.
Tapi selagi tubuhnya melayang di
udara, maka saat itu pula pedang di tangan si gadis
sekali lagi membabat sebat. Bergola
Wungu membentak keras dan jungkir balik ke samping
kiri. Pedang si gadis yang
seharusnya membabat kutung pinggangnya kini menemui
sasarannya di leher kuda tunggangan
Bergola Wungu. Kuda itu meringkik dahsyat sebelum
meregang nyawa. Menggelepar-gelepar
dengan leher hampir putus. Kuda-kuda yang lainnya
latah
meringkik dan menjadi binal melihat muncratan darah. Untung saja tiga
penunggangnya
sudah
melompat lebih dahulu. Kalau tidak pastilah mereka akan dilempar mental! Tiga
ekor
kuda
itu seperti gila kemudian lari menghambur menerjangi batu-batu nisan pekuburan!
”Iblis
betina!”, kertak Bergola Wungu. ”Meski kau punya tampang cantik dan tubuh
mulus,
apa kau sangka aku ragu-ragu untuk menebas kau punya batang leher?!”
”Jangan
jual bacot kunyuk berewok! Lihat pedang!” pedang di tangan si gadis itu
berkelebat
lagi lebih cepat dan sebat.
”Sreet!”
Bergola Wungu cabut golok panjangnya.
Dan….
”Trang!”
Dua
senjata beradu keras di udara memercikkan bunga api yang menyilaukan mata.
Tangan Bergola Wungu tergetar
kesemutan sedang si gadis baju biru terpental beberapa
langkah ke belakang. Pedang di
tangannya hampir saja terlepas!
Meski tahu kalau tenaga dalam dan
ilmu silat manusia berewok itu lebih tinggi dari
padanya, namun gadis yang keras hati
ini tidak menjadi kecut. Dengan lengkingan dahsyat
yang keluar dari tenggorokannya maka
berubahlah tubuhnya menjadi bayang-bayang. Sinar
pedang menggebubu membungkus tubuh
Bergola Wungu!
Tapi Bergola Wungu bukan manusia
hijau dalam dunia persilatan. Bukan anak
kemarin. Percuma dia malang
melintang belasan tahun menjadi pemimpin dari Empat
Berewok dari Goa Sanggreng. Sekali
dia enjot kedua kaki maka tubuhnyapun lenyap dari
pemandangan.
”Breet....
breet.... breet.... breet....!!!”
Gadis baju biru terpekik dan keluar
dari kalangan pertempuran. Mukanya merah gelap
ketika menyadari bagaimana ujung
golok Bergola Wungu telah membuat lebih dari sepuluh
robekan pada pakaiannya sehingga
gadis itu kini hampir berada dalam keadaan setengah
telanjang!
”Manusia binatang!” rutuk gadis baju
biru. ”Hari ini aku mengadu nyawa
terhadapmu!” Dengan segala kekalapan
dia menyerbu ke muka. Pedangnya menderu laksana
topan. Bergola Wungu berkelit ke
samping. Pedang si gadis hantam batu nisan sehingga
terkutung dua! Dia kembali membabat
ke arah pinggang. Tapi pada saat itu lengan kiri
Bergola Wungu telah menghantam
pergelangan tangan kanannya, membuat pedangnya
terlepas dan mental jauh.
”Ha.... ha.... hari ini tamatlah
riwayatmu sebagai anak Kalingundil!”
Golok panjang di tangan Bergola
Wungu kembali mebabat kian kemari. Kembali
terdengar suara: breet.... breet....
breet....! Dan kini celana biru si gadis yang menjadi sasaran
ujung golok. Dalam waktu setengah
jurus saja boleh dikatakan gadis itu sudah hampir
telanjang. Pakaiannya yang
robek-robek besar tiada sanggup menutupi keputihan buah dada,
perut, punggung serta pahanya!
Dengan andalkan kecepatan gerak
bahkan dengan gulingkan diri di tanah anak
perempuan Kalingundil ini berusaha
untuk selamatkan diri. Namun
ujung golok Bergola
Wungu benar-benar telah mengurungnya
dari pelbagai jurusan. Tak mungkin baginya untuk
lari, tak mungkin baginya untuk
selamatkan nyawa!
”Sreet….!”
Ujung
rambut gadis itu terbabat putus.
”Sreet….!”
Tali
celana biru si gadis terkutung putus sehingga celana itu jatuh dari pinggangnya
dan auratnya benar-benar tiada
tertutup kini!
”Bedebah! Bunuh saja aku! Bunuh!”
teriak gadis itu.
Bergola Wungu tertawa mengakak.
”Bunuh soal mudah!”, katanya sambil
tekankan ujung golok ke tenggorokan gadis itu.
”tapi apa kau tahu bahwa dulu
sebelum membunuh ibuku, kau punya bapak lebih dulu
memperkosanya?! Ha…. ha…. Hukum
karma kini berlaku! Hukum karma!”
Tiba-tiba dengan kecepatan yang luar
biasa si gadis sorongkan batang lehernya ke
muka.
Tapi gerakan Bergola Wungu lebih cepat lagi. Ujung golok digesernya ke samping.
Begitu
si gadis terdorong ke muka maka tangan kirinya dengan sigap menyambar rambutsi
gadis.
Gadis yang hampir tak berdaya itu masih berusaha menendangkan kakinya ke muka.
Serangan yang tak berarti itu tidak
mengenai sasarannya. Bergola Wungu melemparkan gadis
itu ke tanah kemudian menyergapnya
dengan ganas. Keduanya bergulung-gulung. Yang satu
berusaha untuk mempertahankan
kehormatannya, yang satu sengaja untuk menghancurkan
kehormatan itu!
”Kawan-kawan!”, teriak Bergola
Wungu. ”Jangan diam saja! Gadis ini adalah bagian
kita semua! Ayo tunggu apa lagi?!”
Serentak dengan itu tiga orang anak
buah Bergola Wungu segera menyerbu pula.
Seorang gadis, empat laki-laki
bergulung-gulung di tanah pekuburan! Menjerit, berteriak,
menendang
dan menerjang. Seakan-akan mereka semua sudah sinting kemasukan setan-setan
kuburan!
TIGABELAS
Pembalasan
dendam kesumat memang dahsyat.
Apalagi
kini disertai dengan dorongan nafsu hewan yang meluap-luap. Keadaan
Nilamsuri
benar-benar sudah kepepet. Tenaganya sudah hampir habis. Empat pasang tangan
manusia
menggerayang di seluruh tubuh yang tertelentang di atas sebuah makam tua.
”Ha….ha...ha!
Tulang belulang kau punya ibu akan menyaksikan pelaksanaan hukum
karma
ini!” kata Bergola Wungu.
Nilamsuri
hantamkan lututnya ke perut laki-laki itu ketika Bergola Wungu hendak
mendatanginya dari atas. Tapi
hantaman lutut yang tiada bertenaga sama sekali itu tiada terasa
oleh
manusia berewok itu!
”Keparat!
Bunuh saja aku! Bunuh!”, teriak Nilamsuri.
”Kehormatanmu
dulu, baru nyawamu!.” Bergola Wungu mengekeh. Disaksikan oleh
tiga
anak buahnya yang juga menggerayangi tubuh gadis enam belas tahun itu, Bergola
Wungu
mulai melaksanakan niat terkutuknya. Runtuhlah harapan Nilamsuri untuk bisa
selamatkan
diri. Air mata meleleh di pipinya.
Namun
nasib Nilamsuri tidak seburuk yang dibayangkannya saat itu. Satu bayangan
putih
berkelebat dari sebelah timur pekuburan yang tanahnya agak membukit. Dan
tahu-tahu
keempat
orang yang mengerumuni Nilamsuri menjadi kaku tegang laksana patung batu!
Nilamsuri
yang hanya merasakan sambaran angin serta gerayangan-gerayangan tangan
pada
tubuhnya berhenti dengan mendadak, membuka kedua matanya yang berkaca-kaca itu.
Terkejut
sekali dan hampir tak percaya dia melihat bagaimana keempat manusia berewok itu
masih
berjongkok di sekelilingnya tapi mata mereka semua melotot dan tubuh mereka
tegang
kaku!
Gadis ini bangkit dengan cepat.
Apakah yang telah terjadi dengan keempat manusia
itu? Dia ingat pada desiran angin
tadi. Mungkin ada manusia yang telah menolongnya?
Manusia yang mempunyai kesaktian
luar biasa? Diperhatikannya keempat laki-laki itu.
Ternyata
mereka tertotok urat besar di pangkal leher masing-masing. Atau mungkin
keempatnya
telah dicekik oleh setan kuburan?!
Peristiwa
yang sangat aneh itu membuat Nilamsuri lupa akan keadaan dirinya sendiri
saat
itu. Dia memandang berkeliling. Matanya membentur segulung benda putih yang
tergeletak
di atas batu nisan sebuah kuburan. Benda ini adalah sehelai baju dan celana
putih.
Dan
memandang pakaian itu sekaligus mengingatkan Nilamsuri pada keadaan dirinya.
Tanpa
perduli
lagi siapa pemilik pakaian itu, tanpa ambil pusing lagi bagaimana pakaian itu
bisa
berada
di atas kuburan tersebut si gadis langsung saja melompat, menyambar pakaian itu
dan
lari
ke balik serumpun semak-semak. Dikenakannya pakaian itu cepat-cepat. Meski agak
kebesaran
sedikit, tapi pakaian itu memberi banyak pertolongan bagi Nilamsuri dan si
gadis
merasa
sangat bersyukur.
Dia keluar dari balik semak-semak
itu. Dan ketika terpandang olehnya keempat
manusia yang masih berjongkok kaku
di seberang sana maka meluaplah amarahnya.
Mendidih darahnya. Disambarnya
pedangnya yang tergeletak di tanah. Sinar pedang berkiblat
sekaligus menyambar ke arah kepala
Bergola Wungu dan anak-anak buahnya.
”Tring!”
Sebutir kerikil sebesar ujung jari
telunjuk membentur pertengahan pedang yang
hendak
merenggut nyawa keempat manusia berewok itu. Dan benturan batu kerikil ini
membuat
pedang di tangan Nilamsuri terdorong setengah tombak ke atas, lewat satu
jengkal
di atas kepala Bergola Wungu dan
tiga orang lainnya itu!
Terkejut anak gadis Kalingundil ini
bukan kepalang. Serentak dengan itu dia
membentak dan memandang berkeliling.
”Manusia atau setan yang jadi biang kerok jangan
sembunyi! Unjukkan diri!”
Tak ada yang menyahut. Tapi
rerumpunan semak belukar di dekat pohon kamboja
kelihatan bergerak. Dan Nilamsuri
hantamkan pukulan tangan kosong ke arah semak belukar
itu. Semak belukar tercabut dari
akarnya dan berhamburan jauh, tapi tak ada siapapun
kelihatan di belakang sana.
Dengan gemas Nilamsuri balikkan
tubuh. Pedangnya kembali membabat ke arah
empat kepala manusia di hadapannya. Namun sekali lagi
sebutir kerikil membentur senjata
itu!
”Kurang
ajar betul!”, maki Nilamsuri. ”Jika berani cari urusan, berani unjukkan diri!!”
Terdengar
suara tawa bergelak.
Suara
tertawa itu datangnya dari balik pohon-pohon bambu di tepi pekuburan. Untuk
kedua
kalinya Nilamsuri lepaskan pukulan tangan kosong. Angin deras melanda
pohon-pohon
bambu.
Batang-batang bambu pecah, yang tercerabut dari akarnya segera tumbang sedang
daun-daunnya
luruh ke tanah. Tapi seperti tadi kali ini juga tidak kelihatan seorang manusia
pun
dibalik pohon-pohon bambu itu!
Gemas
Nilamsuri bukan main.
Terdengar
lagi suara tertawa bergelak. Kali ini diiringi dengan ucapan, ”Hanya
manusia
pengecut yang membunuh musuh dalam keadaan tak berdaya!”
Nilamsuri
memandang ke atas pohon kamboja merah. Detik itu juga sesosok tubuh
kelihatan
lenyap berkelebat ke utara laksana gaib!
Nilamsuri
kertakkan rahang. Tanpa menunggu lebih lama gadis ini hentakkan kedua
kaki dan segera mengejar ke jurusan
utara!
Sampai beberapa ratus tombak jauhnya
ke utara Nilamsuri masih juga belum berhasil
mengejar orang tadi. Jangankan
mengejar, melihat bayangannyapun tidak bahkan jejak
kakinya sama sekali tidak kelihatan
di tanah. Gadis itu menghentikan pengejarannya di tepi
sebuah lembah.
Di samping rasa geram hatinya juga
heran dan bertanya-tanya. Siapakah manusia itu
tadi dan kemanakah lenyapnya? Apakah
manusia itu yang telah menolongnya dari perbuatan
terkutuk Bergola Wungu dan
kawan-kawannya? Sekiranya betul mengapa lantas
kemudiannya orang itu menghalangi
ketika dia hendak menebas batang leher keempat
manusia berewok itu?
Nilamsuri memandang lagi ke dalam
lembah. Segala sesuatunya diselimuti kesunyian.
Kemudian gadis ini memandang kepada
pakaian yang dikenakannya. Pakaian ini ditemuinya
di atas sebuah makam. Apakah pakaian
ini sengaja pula ditinggalkan untuk dipakainya oleh
manusia aneh yang melarikan diri
itu?
Nilamsuri memutar tubuhnya hendak
kembali ke pekuburan. Tapi dengan serta merta
tertahan ketika di belakangnya dari
balik sebatang pohon waru terdengar suara orang berkata.
”Hendak kembali membuat
kepengecutan? Membunuh musuh yang tak berdaya?
Percuma tahu ilmu silat tapi tidak
tahu tata peradatan silat!”
Bukan
main geramnya Nilamsuri mendengar ejekan itu. Dia melompat ke arah pohon
waru.
Tapi lebih cepat lagi gerakannya itu orang yang tadi berkata telah berkelebat
laksana
bayang-bayang
dan lari ke dalam lembah.
”Manusia
atau setan! Jangan lari!” teriak Nilamsuri. Dan segera pula dia
mengejar ke
dalam lembah. Tapi seperti tadi,
begitu dia sampai di dasar lembah maka orang yang
dikejarnya lenyap lagi! Dengan hati
penasaran gadis ini loncat ke atas sebatang pohon tinggi
dan dari sini memandang ke seantero
lembah untuk menyelidik kemana larinya orang tadi.
Namun ini juga tidak memberikan
hasil.
Nilamsuri turun kembali.
Dijelajahinya sebagian dari lembah. Hatinya belum puas
kalau belum berhasil menemui orang
yang dikejarnya itu. Di tepi sebuah anak sungai
akhirnya gadis ini hentikan langkah.
Sejurus kemudian dia termangu di tepi sungai ini.
Kemudian hidungnya dilanda oleh bau
harum dari sesuatu yang dipanggang. Bau ini datang
dari arah hulu sungai, membuat
tenggorokannya menerbitkan air liur. Gadis ini langkahkan
kaki ke hulu sungai.
Belum sampai lima puluh langkah dia
berjalan, maka di satu tikungan sungai yang
arus airnya lebih cepat mengalir,
dilihatnya duduk ditengah sungai, di atas sebuah batu besar
yang licin kehitaman, seorang
laki-laki. Laki-laki ini duduk membelakanginya dan rambutnya
gondrong, berpakain putih-ptuih. Tak
tahu Nilamsuri apa yang dibuat orang ini ditengah
sungai ini di atas batu itu. Berat
kecurigannya bahwa manusia ini adalah orang yang tadi
dikejarnya. Tapi anehnya santarnya
bau benda yang terpanggang itu datang dari arah laki-laki
di tengah sungai ini!
Nilamsuri terus melangkah beberapa
jauhnya ke hulu sungai, melewati laki-laki itu,
untuk dapat melihat apa yang tengah
dilakukannya. Nilamsuri masih belum dapat melihat
paras laki-laki berambut gondrong
itu. Tapi dari tempatnya berdiri saat itu dapat
disaksikannya bahwa bau harum yang
membuat titik seleranya itu disebabkan oleh seekor
ikan besar yang dipanggang oleh
laki-laki itu dan kini tengah digerogotinya dengan lahap!
Ikan panggang itu masih mengepulkan
hawa hangat. Yang tidak dimengerti sama sekali oleh
Nilamsuri ialah bahwa di atas batu
itu di mana laki-laki itu duduk atau ditepi sungai sama
sekali tidak dilihatnya bekas-bekas
perapian untuk membakar ikan yang kini tengah dimakan
dengan lahap oleh si rambut
gondrong!
Nilamsuri berpikir sejurus. Kemudian berserulah
dia ke tengah sungai.
”Saudara!
Apa kau melihat seseorang lewat sekitar sini?!”
Laki-laki
di tengah sungai tidak menjawab. Malah menolehpun tidak dan dengan
lahapnya
terus saja dia makan ikan panggang itu.
”Saudara!”,
seru Nilamsuri sekali lagi.
Kali
ini orang itu palingkan kepala. Dan Nilamsuri terkesiap sejenak karena tak
menyangka
kalau si rambut gondrong ini nyatanya adalah seorang pemuda bertampang keren!
Meski
keren tapi paras itu membayangkan pula paras anak-anak dan lucu!
”Eh….
kau bicara sama aku?” tanya pemuda yang asyik menggerogoti ikan panggang
itu.
”Ya!
Aku tanya apa kau lihat seseorang lewat di sini?!” kata Nilamsuri pula.
”Laki-laki
atau perempuan?” tanya si rambut gondrong.
”Laki-laki….”
”Orangnya sudah tua apa masih
muda….?”
”Kurang jelas. Cuma dia berpakaian
putih-putih....”
Si rambut gondrong melemparkan
kerangka ikan yang habis dimakannya ke dalam
sungai. Kemudian dipandanginya
pakaiannya sendiri. ”Eh, aku juga berpakaian putih-putih….,” katanya. ”Kalau
begitu pastilah aku yang kau cari!”. Pemuda ini garuk rambutnya
dan tertawa.
Sikap dan ucapan pemuda ini agak
mengesalkan Nilamsuri. Hatinya bimbang untuk
memastikan bahwa orang yang
dikejarnya adalah pemuda itu. Karena tampangnya meski
keren tapi seperti kanak-kanak.
”Eh, kenapa diam?!” tanya pemuda
itu. ”Aku tahu…. aku tahu….,” katanya.
”Tahu apa?”
”Aku tahu kau sampai ke sini karena
mencium harumnya bau ikan panggangku! Lalu
kau berpura-pura tanya seseorang!
Kenapa musti pura-pura dan malu-malu? Kalau doyan ikan
panggang silahkan datang kemari. Aku
masih ada seekor lagi!”
”Saudara! Jangan bicara
seenaknya!”
”Seenaknya
bagaimana?!”
”Aku betul-betul mencari seseorang!
Dan aku tidak butuh sama ikan panggangmu!”
”Oh…. begitu….?”. Pemuda itu
manggut-manggut. Lalu katanya, ”Kalau aku tahu
tentang orang yang kau cari itu, kau
mau persen aku apa?”
”Apa saja yang kau maui….”, jawab
Nilamsuri tanpa pikir panjang karena dia betulbetul
ingin lekas-lekas dapat mengejar
orang yang dicarinya tadi.
Si pemuda tertawa mengekeh dan
tercekik serta batuk-batuk ketika ikan panggang
yang dimakannya menyekat
tenggorokannya.
”Kalau begitu….,” kata pemuda rambut
gondrong itu dengan masih tertawa serta
batuk-batuk, ”aku mau dirimu saja
saudari.”
”Pemuda ceriwis! Kutampar kau punya
mulut baru rasa!”
”Lho…,” pemuda itu melongo macam
orang bodoh. ”Kenapa kau jadi marah?!”
tanyanya.
Benar-benar kesal jadinya Nilamsuri.
Dikatupkannya mulutnya rapat-rapat menahan
rasa kesal itu.
”Eh, sekarang kau tutup mulut. Lucu!
Kau toh belum jawab pertanyaanku, saudari.
Aku minta dirimu. Boleh….?”
Rasa kesal di diri Nilamsuri kini
berubah menjadi amarah yang meluap. Parasnya
kelihatan merah. Sekali lompat dia
sudah berada di hadapan pemuda itu, di atas batu besar.
”Pemuda edan, kau mau mampus?!”
Si gondrong garuk-garuk kepala. “Aku
tidak mengerti saudari, aku benar-benar tidak
mengerti. Menapa kau jadi
marah-marah begini samaku?!”
”Bicaramu terlalu kurang ajar,
tahu?!”
Pemuda itu goleng kepala dan angkat
bahu. Lalu tertawa sambil memandangi paras
Nilamsuri. ”Kau tahu saudari…,” katanya,
”kalau kau marah-marah dan membentak macam
tadi hem…. parasmu tambah cantik!”
”Plak!”
Tamparan tangan kiri Nilamsuri
mendarat di pipi si pemuda. Pemuda itu meringis
kesakitan. Penyesalan timbul di hati
Nilamsuri melihat bagaimana pipi yang ditamparnya itu
kelihatan menjadi sangat merah.
“Kau jahat sekali!,” kata si pemuda
pula. ”Aku tanya sama kau, kau mau persen aku
apa kalau aku tahu orang yang kau
cari itu. Dan kau jawab apa saja mauku! Lantas aku bilang
mau dirimu! Apa aku salah….?!”
Nilamsuri menggigit bibirnya. Dia tahu ucapan pemuda itu betul. Dia tahu kalau tadi
dia telah ketelepasan bicara.
“Saudara…,” kata Nilamsuri.
Tapi si pemuda memotong. “Sudahlah.
Aku tak sudi bicara sama kau. Orang mau
menolong dikasih tamparan. Baru mau
menolong. Kalau sudah ditolong aku akan dapat
tendangan!”
Dan Nilamsuri menggigit bibir lagi. Tanpa berkata apa-apa dia melompat ke tepi
sungai kembali.
“Hai saudari! Tunggu dulu!”, seru si
pemuda.
Nilamsuri balikkan badan.
”Sebenarnya ada apa kau mencari
laki-laki itu?!”
”Itu urusanku sendiri!”, jawab
Nilamsuri.
”Laki-laki itu kekasihmu agaknya?”
”Kau mau tamparan sekali lagi?!”
Si pemuda tertawa. ”Dunia serba
aneh,” katanya seakan-akan pada diri sendiri.
“Mustinya laki-laki yang cari
perempuan. Ini perempuan yang cari laki-laki….!” Dan
digaruknya kepalanya.
Dalam pikiran Nilamsuri terbit
prasangka bahwa tentunya pemuda itu seorang yang
berotak miring. Karenanya tanpa
ambil perduli lagi dia segera tinggalkan tempat itu.
”Hai saudari! Kau tidak mau ikan
panggang ini?!”
Nilamsuri terus saja menyusuri
sungai menuju ke hulu. Dia hampir keluar dari
kelokan sungai ketika didengarnya
lagi suara pemuda itu berseru. Jarak antara mereka saat itu
sudah puluhan tombak. Kalau saja
Nilamsuri mau berpikir sejenak dia akan segera tahu kalau
pemuda itu bukan berteriak biasa
tapi dengan menggunakan tenaga dalam. Karena dalam
jarak sejauh itu bagaimanapun
kerasnya seseorang berteriak namun apa yang diucapkannya
tak akan terdengar dengan jelas.
”Saudari! Jangan pergi ke sana!
Saudari, kembalilah!”
Nilamsuri melangkah terus.
”Saudari! Hai! Disebelah sana banyak
buayanya! Kembalilah!”
Tapi Nilamsuri jalan terus. Si
pemuda goleng-goleng kepala lalu turun ke air.
Nyatanya sungai itu dalamnya hanya
sebatas lutut. Begitu sampai di seberang si pemuda cepat
lari menyusul Nilamsuri.
“Saudari kau mau kemana?!”, tanya
pemuda itu seraya pegang bahu Nilamsuri.
“Kau jangan kurang ajar, saudara!”
bentak Nilamsuri karena marah sekali bahunya
dipegang
seenaknya.
“Kau
mau kemana?”
“Perduli
apa kau?!”
”Jangan
kesana saudari. Banyak buaya lagi berjemur….”. dan belum habis pemuda ini
bicara
tahu-tahu dua ekor buaya besar menyeruak dari belakang semak belukar di tepi
sungai.
”Aku bilang apa! Celaka….! Saudari
larilah!” Pemuda itu melompat ke belakang.
Sementar itu kedua ekor buaya dengan
cepat meluncur menyerang Nilamsuri. Gadis itu cabut
pedangnya. Sekali menebas puntunglah
sebagian dari mulut buaya yang hendak
menerkamnya. Binatang ini
menggelepar-gelepar di pasir. Buaya kedua mengalami nasib
yang sama. Bau anyirnya darah yang
masuk ke dalam air sungai mengundang munculnya
beberapa ekor buaya lagi.
Binatang-binatang itu menyelusur ke tepi sungai dan berlomba
menyergap Nilamsuri. Tapi si gadis
dengan permainan pedangnya yang mengagumkan
berhasil menewaskan semua buaya itu!
Si pemuda geleng-geleng kepala dan
leletkan lidah. ”Hebat! Hebat sekali kau
saudari!”, katanya memuji. ”Kau
tentu seorang jago silat! Sejak lama aku ingin belajar silat!
Bersediakah kau mengambil aku jadi
murid?!”
”Jangan ngaco!”, bentak Nilamsuri.
”Aku tidak ngaco. Aku bicara
sungguhan….”.
”Buka lagi mulutmu!”, bentak
Nilamsuri. Pedangnya masih merah oleh darah buayabuaya
tadi siap ditetakkannya ke kepala
pemuda itu. Tentu saja pemuda ini cepat-cepat
melompat ke samping.
”Saudari, aku betul-betul ingin
belajar silat padamu….”
Nilamsuri pencongkan hidung. ”Tidak
malu merengek macam anak kecil!”, ejeknya.
Si pemuda agaknya jadi kesal, lalu
menyahuti. ”Kau sendiri tidak malu pakai pakaian
laki-laki!”
Memang saat itu Nilamsuri mengenakan
baju dan celana laki-laki berwarna putih
yakni pakaian yang tadi ditemuinya
di atas sebuah kuburan. Dan parasnya menjadi
kemerahan. Cepat-cepat dia berlalu
dari situ.
”Saudari…. Tunggu….!”
”Apalagi?!”
”Kalau kau tak mau ambil aku jadi
muridmu, tak apa. Tapi ada satu permintaanku
yang lain…. Boleh aku tahu namamu?”
”Manusia macammu tak perlu tahu
namaku!”
”Ah saudari, kau sombong betul. Beri
tahu namamu, nanti kuberi tahu namaku….”
”Siapa sudi tahu namamu segala?!”
”Namaku Wiro Sableng saudari…. Harap
kau mau kasih tahu kau punya nama….”
”Wiro Sableng?” ujar Nilamsuri.
Pemuda itu mengangguk.
”Pantas,” kata Nilamsuri pula.
”Pantas kenapa?” tanya Wiro.
”Pantas lagakmu seperti orang edan!”
dan habis berkata begitu Nilamsuri segera
berlalu.
EMPAT BELAS
Karena merasa sia-sia untuk
meneruskan pencariannya maka Nilamsuri akhirnya
memutuskan untuk cepat-cepat kembali
ke pekuburan. Sebenarnya, gadis ini telah bertemu
dengan orang yang telah menolongnya
sewaktu dikeroyok oleh Bergola Wungu dan anakanak
buahnya. Cuma Nilamsuri tidak tahu
sama sekali kalau orang yang ditemuinya itulah
tuan penolongnya. Dan siapa adanya
orang yang menolong Nilamsuri tiada lain dari pada
Wiro Sableng itu pemuda yang baru
turun gunung yang sikap serta lagaknya begitu lucu
sehingga setiap orang akan menduga
bahwa dia tentunya seorang yang kurang waras.
Ketika Nilamsuri kembali ke
pekuburan itu, yang ditemuinya bukanlah Bergola
Wungu dan ketiga orang anak buahnya
melainkan Wiro Sableng! Pemuda ini tengah berlutut
menepekur di hadapan sebuah makam
yang tanahnya hampir rata dan penuh ditumbuhi
rumptu-rumput
liar serta kotor oleh daun-daun kering.
”Kemana
perginya kunyuk-kunyuk berewok itu?” pikir Nilamsuri. Penasaran sekali
dia
jadinya. Sudah tak berhasil mengejar manusia yang diburunya kini empat musuh
besarnya
telah
lenyap sepeninggal pengejarannya. Dan apa pula urusan pemuda berotak miring
yang
mengaku
bernama Wiro Sableng itu di pekuburan ini? Makam siapa yang tengah
ditepekurinya
itu?
Kemudian
Nilamsuri melilhat Wiro berdiri dari berlututnya. Dan ketika dia
memalingkan
muka, Nilam melihat pada paras pemuda itu jelas terbayang rasa sedih yang
mendalam. Atas banyak kejadian aneh
yang tengah dialaminya sampai saat itu diam-diam
Nilamsuri ingin sekali tahu siapa
adanya pemuda berambut gondrong ini.
Dibukanya pembicaraan denga
bertanya, ”Saudara, waktu mula-mula kau datang ke
sini apa ada melihat empat orang
laki-laki berewok?”
Bayangan kesedihan pada paras Wiro
Sableng segera sirna. Dan pemuda ini
tersenyum. ”Kau lucu sekali
saudari,” kata Wiro. ”Pertama kali jumpa, ditepi sungai tadi kau
tanya satu orang laki-laki. Kalau
jumpa ketiga kali nanti, kira-kira berapa orang laki-laki yang
bakal kau tanyai padaku?!”
Mau tak mau paras Nilamsuri menjadi
merah oleh ucapan Wiro Sableng itu.
”Saudara,” katanya, ”Kau siapakah sebenarnya?”
”Siapa aku bukankah aku sudah kasih
tahu tadi di hulu sungai? Kenapa tanya lagi?
Kau sendiri tidak mau kasih tahu
nama.”
Nilamsuri terdiam. Kemudian
diputarnya pembicaraan dengan bertanya, ”Makam
siapa itu?”
”Kau bisa baca sendiri pada batu nisan….”
jawabnya.
Penuh rasa ingin tahu Nilamsuri
melangkah dan mendekati nisan makam tua itu.
Nisan itu terbuat dari batu. Barisan
kalimat yang terukir pada batu yang sudah retak-retak itu
tak jelas lagi. Tapi Nilam masih
bisa membacanya. Dan pada batu nisan itu tertulis:
”DISINI TELAH DIMAKAMKAN
SUCI BANTARI”
Melihat Wiro yang masih muda,
Nilamsuri tahu kalau orang yang bernama Suci
Bantari itu bukanlah isteri Wiro
Sableng.
”Ibumu….?”, tanyanya.
Pemuda itu mengangguk perlahan. Dia teringat pada keterangan Eyang Sinto Gendeng
ketika dia masih digembleng di
puncak Gunung Gede dulu. Menurut perempuan sakti itu dia
telah dipelihara sejak masih orok.
Kini sesudah belasan tahun, sesudah menjadi seorang
dewasa, sesudah sekian lama tiada
mengenal kasih sayang ayah bunda, maka yang ditemuinya
hanyalah dua onggok makam yang tiada
terawat sepantasnya. Makam ayah dan makam
ibunya.
”Kalau begitu kau adalah penduduk
sini….?”
Wiro Sableng mengangguk lagi. ”Aku
tak pernah mengenal mereka.”
”Maksudmu ayah dan ibumu?”
”Ya… Keduanya menemui ajal karena
kebiadaban seseorang….”
”Dibunuh….?”
Wiro Sableng mengangguk. Matanya
yang biasanya bersinar lucu itu kini kelihatan
kuyu dan kedua matanya itu memandang
pada bangkai kuda yang lehernya hampir puntung
terbabat pedang Nilamsuri sewaktu
terjadi pertempuran antara gadis itu dengan Bergola
Wungu dan anak-anak buahnya. Wiro
menggeram dalam hati. Nasib ayahnya tidak lebih baik
dari kuda itu!
Nilamsuri sementara itu tenggelam
dalam alam pikirannya sendiri. Tadipun Bergola
Wungu mengatakan bahwa orang tuanya
mati dibunuh, dibunuh ayahnya Kalingundil,
ayahnya sendiri. Apakah orang tua
pemuda ini ayahnya juga yang telah membunuhnya?
Kalau benar maka pastilah pemuda ini
datang untuk mencari urusan. Untuk menuntut balas
sebagaimana kemunculan Bergola Wungu
dan anak buahnya. Jadi manusia ini tak lebih dari
seorang musuh pula baginya!
Tapi untuk meyakinkan maka
bertanyalah Nilamsuri. ”Siapakah manusianya yang
membunuh kedua orang tuamu,
Saudara?”
“Ah panjang kisahnya. Kalaupun
kuberi tahu kau tak akan kenal mungkin. Dan lagi
semua itu bukan urusanmu….”
”Apakah pembunuh itu bernama
Kalingundil?” memancing Nilamsuri dengan hati
berdebar.
Dadanya lega ketika dilihatnya Wiro
Sableng menggeleng.
”Kau sendiri perlu apa datang ke
pekuburan ini?” bertanya Wiro.
“Sama dengan kau. Untuk menyambangi
makam ibuku….” Dan Nilamsuri
menceritakan apa yang telah terjadi
dengan dirinya ketika dia tengah mencabuti rumputrumput
di makam ibunya. Tapi tidak
diterangkannya mengapa sampai Bergola Wungu hendak
merusak
kehormatannya dan hendak membunuhnya!
“Sungguh
aneh cerita tentang manusia yang telah menolongmu itu saudari,” kata Wiro
Sableng
pula dengan menahan rasa gelinya. “Pastilah dia seorang manusia sakti luar
biasa.
Mungkin juga dia seorang
malaikat….!”
Nilamsuri hanya termangu. Tapi
diam-diam matanya melirik pada Wiro Sableng.
Kalau tadi memang dia kagum akan
paras pemuda yang keren ini tapi karena bicaranya yang
usil serta lucu tapi kurang ajar
itu, maka kini bicara secara baik-baik nyatanya pemuda itu
bukanlah seorang yang kurang
ingatan.
”Kalau sekiranya kau menemui
pembunuh orang tuamu itu,” bertanya Nilamsuri,
”apakah kau juga akan membunuhnya?”
Wiro Sableng tertawa, ”Itu tak perlu
musti dijelaskan lagi saudari,” sahutnya.
Nilamsuri ingat pada nasib buruknya
yang tadi hendak menimpanya. Lalu berkatalah
perempuan ini, ”Dunia ini penuh
dengan ketidakadilan!”
”Ketidak adilan macam mana maksudmu
saudari?” tanya Wiro Sableng pula.
Nilamsuri hendak membuka mulutnya.
Tapi cepat-cepat mulut itu dikatupkannya
kembali. Hampir saja terluncur
rahasia mengapa Bergola Wungu hendak membunuhnya.
Gadis ini kemudian hanya gelengkan
kepala. ”Nanti kau bakal mengalami sendiri mungkin,”
katanya. ”Sekurang-kurangnya melihat
dengan nyata ketidakadilan berlangsung di depan
matamu.”
Wiro Sableng tertawa.
”Kenapa kau tertawa?” tanya
Nilamsuri karena merasa diejek.
”Berapa umurmu, saudari….?”
Dalam hatinya gadis itu berpikir si
pemuda hendak mulai lagi dengan keusilannya.
Wiro masih juga tertawa lalu
berkata, ”Kau masih sangat muda tapi bicaramu sudah
seperti orang tua….”
Mau tak mau Nilamsuri tertawa juga.
Tapi tertawa cemberut. Diam-diam hatinya yang
tadi tertarik kini semakin senang
pada pemuda itu.
Tiba-tiba kedua orang itu saling
pandang. Dikejauhan terdengar derap suara kaki kuda.
”Ah…. hanya suara kaki-kaki kuda,
kenapa terkejut?” tanya Wiro Sableng meskipun
hatinya sendiri terasa tidak enak.
”Mungkin sekali, itu adalah
manusia-manusia laknat yang tadi mengeroyokku!” kata
Nilamsuri.
”Kalau begitu mari cepat-cepat
menyingkir!”
Si gadis enam belas tahun gelengkan
kepala.
”Lebih baik mati daripada lari….!”
Wiro Sableng menggerendeng.
”Keberanianmu tidak pakai pikiran saudari!”, katanya.
Wiro Sableng melompat ke muka dan
menotok bahu kanan Nilamsuri. Gadis itu rebah dalam
keadaan kaku tapi sebelum jatuh ke
tanah Wiro sudah membopongnya. Segera gadis itu
dilarikannya namun kasip. Empat
penunggang kuda sudah mengurungnya. Keempatnya tiada
lain daripada Bergola Wungu dan
anak-anak buahnya.
”Ha….ha…, ruapanya ada juga culik
kesiangan yang inginkan mangsa kita kawankawan!”
kata Bergola Wungu.
”Tikus busuk!”, kata Ketut Ireng.
”Turunkan gadis itu!”
”Masih ingusan sudah tahu
perempuan!” memaki Pitala Kuning, anak buah Bergola
Wungu yang bermata jereng. ”Ayo
turunkan gadis itu cepat!”
Perlahan-lahan Wiro Sableng
menurunkan tubuh Nilamsuri. Dipandanginya keempat
manusia berewok itu seketika.
”Saudara-saudara kita tidak saling kenal satu sama lain,
mengapa bicara memaki begitu?!”
”Bocah geblek! Terima ini!”, bentak
Ketut Ireng pergunakan kaki kanannya untuk
menendang dada pemuda itu.
”Buuk”!!
Kaki kanan Ketut Ireng mendarat di
dada Wiro Sableng. Tidak serambutpun tubuh
pendekar dari Gunung Gede ini
bergerak.
Sebaliknya dari mulut Ketut Ireng
terdengar lolong kesakitan setinggi langit!
Tendangan yang dilancarkan Ketut
Ireng hanya menggunakan tenaga kasar atau
tenaga luar karena dia sama sekali
tidak menduga siapa adanya pemuda berambut gondrong
itu. Dan akibatnya dari tendangan
itu menimpa dirinya sendiri. Kaki kanannya sampai ke betis
kelihatan menjadi gembung dan
kehitaman. Ketut Ireng menelungkup di atas punggung kuda
dan melolong kesakitan.
Kaget Bergola Wungu dan dua orang
lainnya bukan olah-olah.
”Sreet”!!
Pemimpin Empat Berewok dari Goa
Sanggreng ini segera cabut golok panjangnya.
Seta Inging cabut senjatanya yang
berupa kelewang sedang Pitala Kuning keluarkan ruyung
berdurinya!
”Bocah haram jadah! Siapa kau!?!”,
bentak Bergola Wungu seraya melintangkan
golok di depan dada.
”Aku peringatkan pada kalian,” sahut
Wiro Sableng dengan suara datar sedang
mulutnya menyunggingkan seringai,
”aku tidak ada permusuhan dengan kalian. Sebaiknya
tinggalkan tempat ini dengan aman!”
”Keparat betul, ” kertak Pitala
Kuning. ”Apa kau tidak tahu berhadapan dengan siapa
saat ini?!”
”Aku tidak perduli siapa kalian!
Tinggalkan tempat ini kalau tidak mau susah!”
”Sebaiknya kau berlutut dan minta
ampun dihadapan kami, bocah gila!”
”Aku bilang tinggalkan tempat ini,
apa kalian tuli semua masih pentang bacot?!”
Mendidihlah darah di kepala Bergola Wungu.
LIMABELAS
Sebagai pendekar yang baru turun
gunung dan cemplungkan diri dalam dunia
persilatan tentu saja Wiro Sableng
buta pengalaman dalam pertempuran. Tapi selama tujuh
belas tahun digembleng oleh Eyang
Sinto Gendeng maka serangan-serangan yang dahsyat itu
sama sekali tidak membuat pendekar
muda ini menjadi gugup.
Eyang Sinto Gendeng talah
menggemblengnya bukan hanya sekedar memberi
pelajaran ilmu silat luar dalam dan
melatihnya belaka, tapi latihan-latihan perempuan sakti itu
tak ada bedanya dengan pertempuran
dahsyat yang benar-benar bisa mencelakakan Wiro
sendiri.
Ketika tiga serangan itu datang ke
arahnya, Wiro Sableng segera sambar pinggang
Nilamsuri. Secepat kilat kemudian
dia jatuhkan diri dan sambil berteriak hebat pemuda ini
hantamkan tinju kanannya ke kaki
seekor kuda lawan yang hampir menendang batok kepala
Nilamsuri. Kuda itu meringkik keras
dan rubuh karena kakinya itu hancur. Penunggangnya
yaitu si mata jereng Pitala Kuning
terlempar ke tanah tapi dengan andalkan ilmu mengentengi
tubuh berhasil jatuh dengan kedua
kaki menginjak tanah.
Sementara golok panjang Bergola
Wungu dan kelewang Seta Inging beradu keras di
udara memercikkan bunga api maka
sambil bergulingan di tanah, Wiro Sableng tak lupa
hantamkan kaki kiri kanannya pada
kaki-kaki kuda kedua manusia berewok itu.
Seperti dengan kuda Pitala Kuning
tadi maka kedua binatang inipun melemparkan
Bergola Wungu dan Seta Inging. Wiro
Sableng menyandarkan Nilamsuri pada sebatang
pohon dan cepat bersiap-siap ketika
dilihatnya tiga manusia berewok itu mendatanginya.
Akan Ketut Ireng tak masuk hitungan
karena saat itu dia duduk menjelepok di tanah merintih
karena kaki kanannya yang hitam
gembung dan sakitnya bukan main!
”Aku peringatkan pada kalian untuk
penghabisan kali!” kata Wiro Sableng,
”Tinggalkan tempat ini!”
”Jangan
omong besar bangsat ingusan!” bentak Bergola Wungu dengan sangat geram.
”Sebut
kau punya nama agar golokku ini tidak penasaran menebas batang lehermu!”
Wiro
Sableng mengeluarkan suara bersiul lalu garuk-garuk kepala dan tertawa
gelakgelak.
Kemudian
menyanyilah murid Eyang Sinto Gendng ini.
Anak
kecil bodoh namanya biang bodoh,
Tua
bangka bodoh namanya biang bodoh,
Monyet
ingin jadi manusia,
Kenapa
manusia piara berewok,
Apa
mau jadi monyet….
Tolol,
bodoh, bego, geblek!
Marahlah
Bergola Wungu mendengar tembang yang kata-katanya ditujukan
kepadanya
sebagai ejekan itu.
”Bocah
gila!” bentaknya, ” terima ujung golokku ini!”
Dengan
pergunakan jurus ”burung bangau mematuk kodok,” Bergola Wungu
tusukkan
golok panjangnya ke arah tenggorokan Wiro Sableng. Pendekar Gunung Gede ini
segera meringankan badan. Ujung
golok hanya lewat setengah jengkal disamping lehernya.
Wiro tertawa mengejek.
Panas pemimpin Empat Berewok dari
Gua Sanggreng ini tidak terkirakan. Baru hari
ini ilmu golok yang sangat
dibanggakannya itu dikelit dengan demikian mudah bahkan sambil
tertawa mengejek dan menantang!
Dengan kertakkan rahang Bergola
Wungu balikkan mata pedang dan babatkan senjata
itu. Kali ini maksudnya untuk
menebas batang leher si pemuda.
Kedua kaki Wiro Sableng bergerak
sedikit, tangan kirinya menepis lengan yang
memegang golok sedang telapak tangan
kanan dihantamkan ke dada Bergola Wungu!
Kepala rampok Empat Berewok dari Goa
Sanggreng itu mengeluarkan jerit tertahan.
Tubuhnya terhuyung ke belakang
hampir jatuh duduk di tanah. Ketika dia memandang ke
dadanya yang dihantam telapak tangan
lawan, parasnya dengan serta merta menjadi pucat!
Baju hitamnya robek hangus. Pada
kulit dada yang tadi kena dihantam terlukis
memutih telapak tangan dan jari-jari
tangan Wiro Sableng! Pada tengah-tengah lukisan itu
tertera angka hitam 212. Dan
sakitnya dada yang bertanda telapak tangan kanan berikut angka
212 itu bukan olah-olah. Meski
Bergola Wungu sudah alirkan seluruh tenaga dalamnya, rasa
sakit itu hanya sedikit saja
berhasil dikuranginya!
Pitala
Kuning dan Seta Inging tidak kurang pula pucat tampang-tampang mereka
melihat
apa yang terjadi dengan pemimpin mereka. Tidak dinyana
pemuda belia berparas
macam anak-anak itu lihay sekali.
Apa arti angka 212 yang membekas hitam di kulit Bergola
Wungu itu?
Pukulan ”telapak 212” yang
dilancarkan oleh Wiro Sableng tadi itu hanya
mempergunakan seperlima bagian saja
dari tenaga dalamnya! Kalau saja pendekar muda ini
pergunakan setengah saja bagian dari
seluruh tenaga dalamnya maka pastilah Bergola Wungu
akan meregang nyawa dengan dada
remuk!
Luapan amarah Bergola Wungu membuat
pemimpin rampok yang malang melintang
di sungai Cimandilu ini lupakan
kenyataan bahwa pemuda yang dicapnya sebagai ”pemuda
gila”, ”bocah ingusan” itu
sesungguhnya bukanlah tandingannya!
Bergola Wungu majukan kaki kanan dan
surutkan kaki kiri. Golok panjang dipegang
lurus ke muka.
”Bocah sedeng! Kau telah bikin cacad dadaku! Aku Bergola Wungu akan berbaik hati
untuk membalasnya! Kau tahu jurus
apa yang bakal aku lancarakan ini?!”
Pendekar kapak maut naga geni
menjawab dengan tertawa bergelak sambil garukgaruk
kepalanya yang berambut gondrong.
”Lucu!” kata Wiro Sableng pula.
”Bertempur ya bertempur. Kenapa musti pakai
pidato segala!”
Bergola Wungu merasa tubuhnya
seperti terbakar oleh kobaran amarahnya yang
menggelegak. ”Kau boleh tertawa dan
mengejek sepuas hatimu bocah gila! Bila golokku
berkiblat dalam jurus: merobek
langit, kau akan tahu rasa nanti!”
Adapun jurus ilmu golok yang disebut
”merobek langit” itu adalah jurus yang telah
dipergunakan oleh Bergola Wungu
untuk ”menelanjangi” tubuh Nilamsuri yaitu dengan
merobek-robek pakaian gadis itu
dengan ujung goloknya.
”Jurus merobek langit memang hebat
kedengarannya!” kata Wiro Sableng. ”Tapi coba
buktikan. Jangan-jangan cuma jurus
kosong belaka!”
Tanpa banyak bicara Bergola Wungu
segera putar goloknya dengan sebat. Angin
menderu dahsyat keluar dari sambaran
golok. Demikian hebatnya seakan-akan golok itu
berubah menjadi ratusan banyaknya!
Dalam sekejapan mata saja tubuh Wiro Sableng sudah
terbungkus gulungan golok!
Yang anehnya, diserang hebat
demikian rupa tidak serambutpun Wiro Sableng
bergerak. Dan lebih aneh lagi adalah
karena golok Bergola Wungu sama sekali tidak dapat
mendekati bagian tubuh manapun dari
Wiro Sableng! Manusia berewok ini mencak-mencak
sendirian macam monyet terbakar
ekor! Seta Inging dan Pitala Kuning yang saksikan kejadian
itu mau tak mau jadi leletkan lidah!
Demikianlah hebatnya ilmu ”benteng
topan melanda samudra” yang dikeluarkan Wiro
Sableng sehingga setiap sambaran
tusukan dan sabetan golok sama sekali tidak dapat
mengenai tubuh Wiro Sableng. Tubuh
golok dilanda terus-terusan oleh gulungan angin
dahsyat
yang membungkus tubuh murid Sinto Gendeng itu!
Bergola
Wungu membentak keras dan percepat permainan goloknya. Tapi sampai dua
puluh
jurus dimuka tetap saja goloknya tak dapat membentur sasarannya di tubuh Wiro!
Pakaian
dan tubuhnya sudah mandi keringat. Pegangan pada hulu golok
sudah licin. Keletihan
membuat gerakannya mulai menjadi
lamban!
”Seta Inging! Pitala Kuning! Jangan
jadi patung! Bantu aku!” teriak Bergola Wungu
dengan sangat beringas.
Mendengar perintah ini Pitala Kuning
dan Seta Inging segera menyerbu dengan
senjata di tangan. Sebatang golok
panjang, sebuah ruyung berduri dan sebuah kelewang
dengan
dahsyatnya menyambar-nyambar ke tubuh Wiro Sableng. Tapi ilmu ”benteng topan
melanda samudera” membuat ketiga
senjata itu tak ada arti sama sekali.
Wiro Sableng tertawa bergelak. Tawa
gelak yang disertai tenaga dalam ini menambah
hebat perbawa ilmu ”benteng topan
melanda samudera!”
Sepuluh jurus berlalu.
”Ciaatt!!” tiba tiba pendekar kapak
maut Naga Geni membentak keras. Tiga manusia
berewok keluarkan seruan tertahan
dan lompat dari kalangan pertempuran. Mata mereka
melotot besar memandang ke tangan
Wiro Sableng yang saat itu telah merampas dan
menggenggam senjata mereka!! Ketut
Ireng yang duduk menjelepok merintih kesakitan, juga
tak
ketinggalan terbeliak dan terlongong-longong!
Nama
Empat Berewok dari Goa Sanggreng bukan nama baru dalam dunia persilatan
pada
masa itu mereka terkenal sebagai komplotan rampok yang berilmu tinggi dan
ditakuti di
sepanjang
sungai Cimandilu. Terutama pemimpin mereka Bergola Wungu diakui kehebatan
permainan
goloknya oleh kalangan persilatan! Mereka tahu, kalau pemuda itu inginkan nyawa
mau
mencelakakan mereka maka sudah sejak tadi hal itu bisa dilakukannya!
”Kalau
hari ini kami diberi sedikit pelajaran,” kata Bergola Wungu dengan suara
bergetar,
”maka ketahuilah bahwa kami tak akan melupakan kejadian ini. Suatu hari kami
akan
datang untuk meneruskna apa yang terjadi hari ini!”
Wiro
Sableng tertawa bergelak, ”Bagus, bagus! Kau masih bisa
pidato huh!! Ini terima
kembali senjata kalian!”
Sekali tangan kanan Wiro Sableng
bergerak maka ketiga senjata lawan yang tadi
dirampasnya kini melesat ke arah
ketiga orang itu masing-masing pada pemiliknya, Bergola
Wungu menangkap hulu golok, Seta
Inging menangkap gagang kelewang sedang Pitala
Kuning
menyambuti tangkai ruyung berdurinya.
Tanpa
banyak bicara ketiga orang itu dengan membawa kawan mereka yang
menderita
sakit pada kakinya, segera hendak angkat kaki. Tapi sebelum mereka berlalu Wiro
Sableng
berkata:
”Satu
hal kalian harus ingat baik-baik manusia-manusia berewok. Jika kalian berani
lagi ganggu ini gadis, berarti kalian ingin
cepat-cepat masuk liang kubur!”
ENAMBELAS
Begitu
Empat Berewok dari Goa Sanggreng lenyap dikejauhan maka Wiro Sableng
segera
lepaskan totokan di leher Nilamsuri. Gadis ini memandang berkeliling dengan
terheran-heran.
Dia seperti orang yang baru bangun dari mimpi. Tapi jelas dilihatnya bekasbekas
pertempuran
di sekelilingnya.
”Apa yang terjadi?” bertanya gadis
itu.
Wiro
tertawa. ”Tak satupun,” jawabnya.
”Aku
tak percaya. Tadi kudengar suara derap kaki kuda menuju ke sini….”
”Ah, kau ini ada-ada saja. Aku tak
dengar suara apa-apa….”
Nilamsuri berpikir-pikir dan
mengingat-ingat. Parasnya mendadak berubah. Matanya
memandang lekat-lekat pada Wiro
Sableng. ”Tadi…. kau melompatiku dan…,” gadis ini raba
urat besar di pangkal lehernya.
”Ya…. kau menotok urat besar di leherku ini?”
Habis berkata demikian Nilamsuri
segera cabut pedang! ”Apa yang kau telah perbuat
terhadap diriku?” tanyanya
membentak.
Murid Sinto Gendeng memaki dalam
hati, ”Sialan! Sudah ditolong malah menuduh
yang bukan-bukan!”
Tapi di hadapan si gadis itu pemuda
itu masih sunggingkan senyum. ”Kuharap kau
jangan punya pikiran yang
tidak-tidak terhadapku saudari….”
”Lalu perlu apa kau menotok aku?!”
Wiro garuk-garuk kepalanya. Dia tak ingin Nilamsuri tahu siapa dia sebenarnya.
Karena itu dia menjawab dusta. ”Kau
ingat bagaimana kau begitu kalap untuk bertempur
melawan
Empat Berewok dari Goa Sanggreng itu?!”
”Ya,
lalu?!”
”Dengar
saudari, aku hanya paham sedikti ilmu totokan. Karena aku tahu kau tak
bakal
sanggup menghadapi mereka, aku lantas totok kau punya urat besar lalu sembunyi
dibalik
rumpun bambu. Ketika mereka pergi kubawa kau kembali ke sini dan kulepaskan
totokan
di lehermu.”
”Aku
tak percaya….!” kata Nilamsuri.
”Aku
memang tidak suruh kau percaya untuk mempercayainya,” menyahuti Wiro
Sableng.
”Kai
ini siapa sebenarnya?!”
”Heh…,”
Wiro Sableng hela nafas panjang. ”Bukankah aku sudah kasih tahu nama?
Malah
kau sendiri masih rahasiakan kau punya nama!”
Nilamsuri
dalam kesalnya tambah tak percaya. Terlintas dalam
pikirannya untuk
menjajal si pemuda.
”Baik,” katanya, ”jika kau tidak mau
kasih keterangan, biar pedangku ini yang
memintanya!”
Habis berkata demikian maka gadis
ini segera kirimkan satu tusukan hebat ke dada
Wiro Sableng!
Wiro terkejut dan gerabak gerubuk
lompat kesamping.
”Saudari! Apa-apaan ini? Kenapa kau
serang aku?!”
Sebagai jawaban Nilamsuri kirimkan
serangan berantai. Pedangnya menderu kian
kemari membuat Wiro tak bisa ayal
lagi dan terpaksa berlompatan dengan cepat.
”Sekarang kau tak bisa sembunyikan
diri lagi saudara!” kata Nilamsuri. ”Terima jurus
elang menyambar burung dara ini!”
Pedang di tangan Nilamsuri menderu
dari samping kiri ke bahu Wiro. Ketika pemuda
ini berkelit, ujung pedang dengan
sangat tiba-tiba menusuk ke rusuk laksana patukan burung
elang!
Wiro
lambaikan tangan kiri, angin keras membentur badan pedang, menyimpangkan
senjata
itu dari sasarannya!
”Saudari!”
seru Wiro Sableng, ”sayang aku ada urusan lain. Sampai jumpa lagi!”
Habis
berkata demikian pemuda ini melompat ke muka, mencuil dagu si gadis lalu
berkelebat.
”Pemuda kurang ajar!” maki
Nilamsuri. Disabetkannya pedangnya dengan sekuat
tenaga. Tapi Wiro Sableng sudah
lenyap dari hadapannya. Hanya suara tertawanya yang
masih sempat terdengar di kejauhan. Gadis itu berdiri termangu. Parasnya yang cantik
kelihatan kemerahan. Pemuda itu
benar-benar ceriwis sekali! Tapi kini dia sudah tahu bahwa
pemuda itu sama sekali bukan bodoh
dan berotak miring. Sama sekali tidak buta dalam ilmu
silat! Tadi dia telah menyerang
dengan jurus-jurus ilmu pedangnya yang lihay dan si pemuda
berhasil mengelakkan bahkan memukul
badan pedang dengan pukulan tangan kosong yang
menimbulkan angin keras!
Meski hatinya marah sekali dengan
keceriwisan pemuda itu tapi rasa senang dan
kagumnya tak dapat disembunyikannya.
Sekelumit senyum memberkas di bibirnya ketika dia
mengusap
dagunya yang tadi dicuil oleh Wiro Sableng.
*****
Kedai
itu sepi saja.
Angin malam bertiup dingin dari
lembah. Wiro
Sableng masuk ke dalam seenaknya
dan
sambil bersiul-siul.
Orang
tua pemilik kedai menyambuti dengan muka pucat cemas.
”Orang
muda,” katanya, ”sebaiknya kau lekas-lekas tinggalkan tempat ini!”
”Memang
kenapa?” tanyanya.
”Sebentar
lagi mungkin empat manusia berewok itu akan kembali ke sini….”
”Siapa
takutkan mereka!” ujar Wiro.
”Tapi
anak muda, kau mungkin belum tahu siapa mereka itu.”
”Perduli
amat siapa mereka,” kata Wiro pula sambil duduk di kursi.
Dan
pemilik kedai itu berkata lagi, ”Mereka adalah rampok-rampok yang ditakuti di
sungai
Cimandilu! Mereka adalah Empat Berewok dari Goa Sanggreng!”
”Biar
mereka adalah Empat Setan dari Neraka, aku tetap tak perduli!”
Pemilik
kedai jadi terdiam. Siang tadi dia memang telah menyaksikan bagaimana
pemuda
itu menyumpal mulut Empat Berewok dari Goa Sanggreng dengan pisang. Maka
bertanyalah dia, ”Orang muda, kau
ini siapa sebenarnya dan datang dari mana?”
Wiro usap-usap dagunya yang licin.
Ini mengingatkannya pada dagu Nilamsuri yang
dicuilnya dan pemuda ini
senyum-senyum sendiri. Si orang tua diam-diam mulai meragukan
apakah anak muda ini berotak sehat!
”Bapak sudah lama tinggal di sini?”
tanya Wiro.
”Sejak masih orok….”
”Hem…. kalau begitu tentu kenal
dengna nama Ranaweleng….”
”Oh tentu... tentu sekali. Beliau
adalah Kepala Kampung yang baik. Cuma sayang….”
”Sayang kenapa….?”
Orang tua itu tak segera menjawab.
Dia memandang keluar kedai seperti mau
menembusi kegelapan malam, seperti
tengah mengenangkan sesuatu.
”Beliau sudah meninggal…,” katanya
kemudian menambahkan.
Wiro Sableng menelan ludahnya.
”Bapak tahu siapa yang
membunuhnya….?”
Pertanyaan ini membuat si orang tua
memandang lekat-lekat pada paras Wiro Sableng.
”Semua orang tahu….,” katanya.
Kemudian dituturkannya peristiwa kematian Ranaweleng
dan Suci Bantari sekitar tujuh belas
tahun yang lewat. Kisah ini sudah didengar sejelasnya
oleh Wiro Sableng dari gurunya Eyang
Sinto Gendeng.
”Ada satu keanehan dalam peristiwa
tujuh belas tahun yang lalu itu,” kata si pemilik
kedai.
”Keanehan bagaimana?” tanya Wiro
ingin tahu.
”Waktu itu Mahesa Birawa dan
anak-anak buahnya membakar rumah mendiang
Ranaweleng. Dalam kobaran api yang
tiada terkirakan besarnya terdengar suara tangisan
orok!
Itu adalah oroknya Ranaweleng sendiri! Orang banayak sangat kebingungan.
Bagaimana
mungkin menyelamatkan bayi dalam kobaran api itu? Pada saat yang sangat
tegang
itu semua orang melihat berkelebatnya bayangan hitam. Sangat cepat sekali
bayangan
hitam
itu menyerbu ke dalam kobaran api lalu lenyap. Dan suara tangisan oroknya
Ranaweleng
juga hilang! Sewaktu api padam semua orang mencari. Tapi tak ditemui tulang
belulang orok itu….”
Wiro Sableng termanggu-manggu. Dia
tahu betul, orok yang diceritakan orang tua itu
adalah dirinya sendiri dan
berkelebatnya bayangan hitam adalah kelebat bayangan gurunya
Eyang Sinto Gendeng!
”Sampai sekarang tidak pernah
diketahui dimana anak Ranaweleng itu?” bertanya
Wiro.
Si orang tua angkat bahu. ”Kalau dia
masih hidup kira-kira sebesar kaulah, anak
muda,” katanya.
”Mahesa Birawa sendiri…. apakah
masih hdiup?”
”Masih…. sampai dua tahun belakangan
ini dia masih tinggal di sini. Tapi sekarang
entah dimana. Tapi ada atau tidaknya
dia di sini, sama saja. Empat orang anak buahnya sama
saja jahat dan kejamnya dan
keempatnya malang melintang di kampung ini. Kalau makan tak
pernah bayar!”
”Apakah mereka itu Empat Berewok
dari Goa Sanggreng itu?” tanya Wiro.
”Bukan…. bukan! Justru Empat Berewok
dari Goa Sanggreng ini sengaja datang dari
jauh bikin perhitungan dengan anak
buah Mahesa Birawa yang bercokol di sini! Dan Empat
Berewok dari Goa Sanggreng itu
bukanlah manusia baik. Mereka rampok-rampok yang tak
kalah kejam dan terkutuknya dengan
anak-anak buah Mahesa Birawa! Tapi ketika mereka
datang anak-anak buah Mahesa Birawa
tak ada di sini. Kebetulan keluar…. sudah empat hari
dengan hari ini….”
Wiro mengulurkan tangannya memotes
sebuah pisang yang tergantung
”Eee…. apakah kau punya uang untuk
membayar pisang itu, anak muda?” tanya si
pemilik kedai.
Wiro tertawa, ”Hutang dulu toh tak
apa-apa….” sahutnya.
Si orang tua mengeluh dalam hati.
Berarti tambah satu lagi ”langganan”nya yang
makan tanpa bayar!
Sambil mengunyah pisangnya Wiro
Sableng bertanya, ”Urusan apakah yang dibawa
oleh Empat Berewok dari Goa
Sanggreng itu ke sini?”
Si orang tua memandang lagi ke luar
kedai. Lalu katanya, ”Perlu kau ketahui….
pemimpin Empat Berewok dari Goa
Sanggreng itu, yang kini memakai nama Bergola Wungu,
dulunya adalah penduduk kampung
Jatiwalu ini! Anak-anak buah Mahesa Birawa yang
bercokol di sini kemudian membunuh
ayahnya, juga ibunya, merusak kehormatan perempuan
itu serta saudara-saudara
perempuannya. Bergola Wungu sempat melarikan diri. Ketika dia
kembali ke sini ternyata dia sudah
jadi seorang yang tak kalah jahatnya dengan anak-anak
buah Mahesa Birawa!”
Lama Wiro Sableng terdiam. Tiba-tiba
dia ingat satu nama yang diucapkan Nilamsuri.
”Kenal dengan seorang yang bernama
Kalingundil?”
Kulit kening pemilik kedai itu
mengkerut.
”Adalah lucu kalau pertanyaan itu
kau ajukan saat ini, anak muda?” katanya.
”Kenapa….?”
”Karena Kalingundil adalah anak buah
Mahesa Birawa yang bercokol di sini dan yang
bertindak sebagai pemimpin dari tiga
kawan-kawan lainnya!”
Tentu saja Wiro Sableng terkejut
mendengar keterangan ini. Tapi rasa terkejutnya
disembunyikannya. Dan dia
berpikir-pikir, mengapa gadis itu di pekuburan siang tadi
menanyakan apakah kedua orang tuanya
dibunuh oleh manusia bernama Kalingundil itu?
Wiro meletakkan kulit pisang di tepi
meja. ”Siang tadi, Empat Berewok dari Goa
Sanggreng itu telah mengeroyok
seorang gadis belia berparas cantik. Bahkan gadis itu hendak
mereka perkosa beramai-ramai.
Mungkin bapak tahu pangkal sebab sampai hal itu terjadi….?
mungkin juga kenal dengan gadis
itu?”
”Gadis itu berpakaian biru….?”
”Betul.”
Si orang tua hela nafas. ”Sebenarnya
sudah berkali-kali Bergola Wungu tanya padaku
apakah ada seorang lain yang tinggal
di rumah Kalingundil. Aku jawab tidak tahu. Aku tak
ingin susah anak muda. Kalau
kukatakan ada dan Kalingundil mengetahuinya, pastilah
leherku akan jadi umpan pedang
Kalingundil dan gadis itu adalah anak Kalingundil sendiri!”
Kini jelaslah bagi Wiro Sableng
mengapa demikian besar tekat Bergola Wungu untuk
membunuh si gadis baju biru itu.
”Kalingundil yang bikin kejahatan,
anaknya yang musti ikut tanggung akibat…,” desis
orang tua pemilik kedai.
Wiro manggutkan kepala. ”Dendam
kesumat laksana besi tua seribu karat kadang kala
tidak mengenal pembalasan yang
wajar….”, katanya. ”Kadang kadang itu adalah merupakan
hukum karma bagi seseorang yang
pernah melakukan perbuatan terkutuk!”
”Kata-katamu beul, anak muda….”,
kata orang tua itu pula. Lalu diangsurkannya
mukanya dekat-dekat ke muka Wiro
Sableng. ”Waktu Bergola Wungu tahu bahwa kau telah
mendustainya, habis mukaku ini ditempelaknya….!”
”Itu salahmu sendiri,” kata Wiro
seenaknya. ”Siapa suruh kau yang tua bangka masih
mau berdusta!”
Orang tua itu jadi menggerendeng dan
memaki panjang pendek dalam hatinya. Dan
dia memaki lagi untuk kedua kalinya
ketika didengarnya Wiro berkata, ”Minta tehnya, pak.”
Sementara si orang tua membuatkan
segelas teh manis untuknya, Wiro Sableng
tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Tidak diduganya kalau gadis berbaju biru yang menarik
perhatiannya itu adalah anak
Kalingundil. Anak buah Mahesa Birawa yang telah membunuh
kedua orang tuanya.
Ketika si orang tua datang
membawakan teh bertanyalah Wiro Sableng, ”Bapak tahu
nama anak perempuan Kalingundil
itu?”
”Nilamsuri. Nama bagus, orangnya
juga cantik, tapi sayang bapaknya manusia
terkutuk!”
”Sewaktu Mahesa Birawa melakukan
pembunuhan atas diri Ranaweleng, apakah
Kalingundil juga ikut-ikutan?” tanya
Wiro lagi.
”Bukan hanya Kalingundil, tapi semua
anak buahnya,” menyahuti si orang tua.
Wiro hendak bertanya lagi tapi
mulutnya terkatup kembali karena di luar terdengar
suara gemuruh derap kaki kuda. Empat
penunggang kuda lewat di muka kedai dengan cepat.
Mereka bukanlah Empat Berewok dari
Goa Sanggreng. Dan ketika Wiro Sableng berpaling
pada orang tua pemilik kedai, orang
tua ini tarik nafas panjang dan berkata, ”Kalingundil dan
anak-anak buahnya…. pasti akan
segera terjadi bentrokan dengan Bergola Wungu….”
”Menurutmu…. siapa yang bakal menang
di antara mereka?” tanya Wiro.
Oran tua itu angkat bahu. ”Aku tidak
mengharapkan siapapun di antara mereka akan
menang! Kalau dapat biarlah Gusti
Allah membuat mereka mampus semua. Kalingundil dan
Bergola Wungu tiada beda bagiku!
Sama-sama jahat! Sama-sama tidak bayar kalau makan
apa-apa di sini!”
Wiro Sableng tertawa. Diteguknya teh
manis dalam gelas kaca itu. Lalu dia berdiri.
”Meski hari ini aku tidak bayar
harga pisang dan teh manis itu, tapi jangan samakan aku
dengan Bergola Wungu atau
Kalingundil….” Habis berkata demikian Wiro segera tinggalkan
kedai.
Si orang tua mengangkat gelas bekas
minuman pemuda itu. Tapi sesuatu menarik
perhatian matanya yang sudah agak
mengabur itu. Pada kaca gelas dilihatnya sederetan
angka. Diperhatikannya lebih dekat.
Tidak salah, itu memang deretan angka 212. Tak habis
mengerti orang tua ini bagaimana
angka ini bisa tertera di sana. Disekanya dengan ujung
pakaiannya. Disekanya lagi…. lagi….
Tapi angka 212 itu tetap saja tidak mau pupus!
”Ah…. semakin tua umur dunia ini
semakin banyak terjadi keanehan….” katanya
dalam hati.
TUJUHBELAS
Dari jauh telah terdengar suara
beradunya senjata serta bentakan-bentakan hebat. Wiro
Sableng percepat jalannya. Dan bila
dia sampai di halaman rumah yang agak kegelapan itu
maka dilihatnyalah bagaimana halaman
rumah itu kini berubah menjadi sebuah medan
pertempuran. Enam manusia, sepasang
demi sepasang tangah bertempur hebat dan cepat. Di
tangga rumah besar dilihatnya
berdiri Nilamsuri.
Di bawah tangga, dengan bersedekap
tangan berdiri seorang laki-laki berbadan tinggi
langsing.
Wiro tak pernah melihat orang ini sebelumnya. Tapi dia yakin betul bahwa manusia
ini pastilah Kalingundil.
Di ujung halaman sebelah kiri
berdiri pula Bergola Wungu. Sebagaimana dua orang
yang terdahulu sepasang matanya
memandang ke tengah halaman, memperhatikan jalannya
pertempuran.
Tiga orang anak buah Kalingundil
yaitu Saksoko, Majineng dan Krocoweti
sebenarnya bukan orang-orang yang
berilmu rendah. Permainan golok mereka cukup lihay.
Tapi menghadapi anak-anak buah
Bergola Wungu yaitu Ketut Ireng, Seta Inging, dan Pitala
Kuning merak kalah gesit. Dalam
sembilan jurus Krocoweti terpaksa pasrahkan nyawa
dilanda ruyung berduri Pitala
Kuning! Krocoweti menggeletak di tanah dengan dada melesak!
Tiga jurus kemudian menyusul
Majineng. Lehernya hampir kutung terbabat kelewang
Seta Inging. Pertempuran yang agak
lama berlangsung ialah antara Ketut Ireng dan Saksoko.
Kedua orang ini mempunyai tingkat
kepandaian yang sama dan sama-sama bersenjatakan
golok. Namun oleh kemenangan kedua
kawannya Ketut Ireng mendapat semangat dan nyali
besar. Lima jurus di muka sambaran
goloknya tiada tertahankan. Akhirnya Saksoko yang
berbadan gemuk pendek itu menjerit
mengerikan ketika perutnya yang buncit terbabat ujung
golok! Ususnya membusai dan
menjela-jela di tanah!
Rahang-rahang Kalingundil kelihatan
mengatup rapat dan bertonjolan. Kedua kakinya
terpentang. Saat itu karena gelap
tak seorangpun yang melihat bagaimana kedua lengan
Kalingundil menjadi hitam samapi ke
jari-jari tangannya. Didahului dengan suara bentakan
yang bukan saja dahsyatnya
menggetarkan dada tapi juga menggetarkan tanah maka
melompatlah Kalingundil ke tengah
halaman di mana tiga anak buah Bergola Wungu berada.
Tujuh belas tahun yang lampau
kehebatan pukulan lengan baja itu sudah mengagumkan. Dan
kini dapat dibayangkan bagaimana
keampuhannya!
Tiga pekik kematian merobek
kegelapan malam! Ketut
Ireng, Seta Inging dan Pitala
Kuning
terlempar sampai lima-enam tombak dan menggeletak di tanah tanpa nyawa!
Bergola
Wungu saksikan kematian yang mengenaskan ketiga muridnya itu dengan
tubuh
bergetar.
”Bergola
Wungu! Kau tunggu apa lagi! Majulah jika kau benar-benar
ingin
membalaskan dendam kesumat seribu
karat!”
Meski bagaimana kobaran amarahnya
namun Bergola Wungu menyahuti, ”Jangan
bicara terlalu keren, keparat! Aku
masih berbaik hati untuk membiarkan kau bernafas
beberapa jam lagi! Aku Bergola Wungu
menunggu kau besok pagi waktu matahari terbit di
pekuburan Jatiwalu! Aku ingin
nyawamu terbang ke neraka disaksikan makam ayahbundaku!”
Habis berkata demikian, Bergola
Wungu putar tubuh. Tapi saat itu Kalingundil sudah
menyerbunya dengan kedua tangan
terpentang!
Bergola Wungu yang tahu kehebatan
lengan baja itu tak berani menyambuti. Dia
berkelit ke samping dan lambaikan
tangan kanannya. Serangkum angin menyambar ke dada
Kalingundil.
Kalingundil melompat ke samping dan hantamkan lengannya kembali. Tapi ini
juga
dapat dielakkan Bergola Wungu. Dalam sebentar saja kedua orang ini sudah
terlibat
dalam
tiga jurus. Memasuki jurus keempat tiba-tiba dari bagian yang gelap di bawah
pohon
mempelam terdengar suara memaki.
”Kalingundil edan! Orang sudah kasih
kesempatan untuk bertempur besok pagi masih
saja beringasan! Gelo betul!”
Kalingundil keluar dari kalangan
pertempuran. Segera dia hantamkan lengannya ke
jurusan datangnya suara.
”Jangan memaki saja kunyuk!
Keluarlah unjukkan diri!”
Angin dahsyat melanda ke tempat
gelap, menghantam pohon mempelam sampai
pohon itu tumbang. Tapi orang yang
memaki sudah kabur. Dan ketika menoleh ke samping,
Bergola Wungu pun sudah lenyap!
Akan Nilamsuri begitu mengenali
suara yang memaki tadi tanpa tunggu lebih lama dia
segara mengejar ke tempat gelap.
Beberapa puluh meter kemudian, di pinggiran kampung
dekat pematang sawah, orang yang
dikejar tahu kalau dirinya dikuntit. Dengan pergunakan
ilmu meringankan tubuh yang sudah
sampai ke puncak yang sangat tinggi dia melompat ke
satu cabang pohon dan menunggu.
Nyatanya yang mengejar adalah si
gadis baju biru itu. Segera dia lompat turun
kembali.
”Kita berjumpa lagi, Nilamsuri….”
”Eh, dari mana kau tahu namaku?”
gadis itu tanya dengan heran.
Wiro Sableng tertawa dan menjawab,
”Terlalu banyak manusia tempat bertanya.
Terlalu banyak mulut yang bisa kasih
keterangan! Ada apa kau mengejar aku?!”
”Ada apa kau ikut campur urusan
ayahku?!” balik menanya Nilamsuri.
Wiro Sableng melangkah mendekati
gadis itu. Matanya yang memandang tajam
membuat hati si gadis menjadi
berdebar. Wiro semakin mendekat juga. Nilamsuri menyurut
mundur namun badannya tertahan oleh
batang pohon.
”Ayahmu
Kalingundil, bukan….?” desisnya.
Gadis
itu mengangguk.
Wiro
menyeringai. Dipegangnya bahu gadis itu. Nilamsuri hendak menyibakkan
tangan
itu tapi tak jadi karena saat itu Wiro membungkukkan kepalanya. Rasa panas menjalari
darah ditubuhnya ketika bibir pemuda
itu berani mengecup bibirnya. Kemudian tangan yang
lain dari si pemuda mengusap
mukanya. Dia diam saja. Juga masih diam ketika tangan itu
meluncur turun ke bawah lehernya.
”Wiro…. kau ini ceriwis sekali….
ceriwis sekali,” bisik gadis itu setengah merintih.
Pemuda itu menyeringai.
”Kenapa kau ikuti aku….?”
”A…. aku suka padamu Wiro….”
Wiro
tak banyak tanya lagi. Dipanggulnya tubuh yang montok itu lembut itu dan
dilarikannya
ke tengah sawah dimana terdapat sebuah dangau. Angin malam terasa sangat
dingin di udara yang terbuka itu.
Tapi tubuh mereka dilanda keringat panas dalam melakukan
apa yang belum pernah mereka alami
sebelumnya, dalam merasakan apa yang mereka tak
pernah rasakan sebelumnya!
*****
Sinar matahari pagi memerak
kekuningan. Udara segar sekali. Namun kesegaran itu
tiada dirasakan oleh tiga manuisa
yang berada di pekuburan Jatiwalu. Yang dua adalah
Bergola Wungu dan musuh besarnya
Kalingundil. Yang ketiga Nilamsuri. Paras gadis ini
agak pucat.
Bergola Wungu hentikan langkahnya
beberapa tombak di hadapan Kalingundil.
”Keluarkan senjatamua Kalingundil!”
Kalingundil tertawa bergelak dan
meludah ke tanah. ”Untuk menghadapi manusia
macam kau tak perlu pakai senjata
segala! Mulailah!.” Mulut Kalingundil komat-kamit dan
sebentar kemudian kelihatanlah kedua
lengannya menjadi hitam!
Tergetar juga hati BergolaWungu
melihat dua lengan lawan itu. Tapi tentu saja tak
diperlihatkannya. Malahan dia
berkata, ”Bagus kalau tak mau pakai senjata. Itu mempercepat
aku mengirimkan kau ke neraka!”
Bergola Wungu mencabut golok
panjangnya. Dengan ujung senjata itu dia menunjuk
ke arah dua buah makam di bukit
pekuburan.
”Kau lihat dua makam di lereng sana,
Kalingundil?!”
Kalingundil tak berani mengalihkan
pandangannya karena khawatir ini hanya tipuan
belaka.
”Itu adalah makam ayah bundaku.
Roh-roh penghuni makam itu akan bersorak
gembira bila menyaksikan sesaat lagi
kepalamu kubabat menggelinding!”
”Tak perlu jual bacot manusia hina!
Terima lenganku!”
Disertai angin yang dahsyat maka
kedua lengan Kalaingundil memukul susul
menyusul. Bergola Wungu kiblatkan
golok memapas salah satu lengan lawan! Betapa
terkejutnya dia ketika goloknya
tidak mempan membabat lengan lawan malahan mata
goloknya menjadi sumplung!
Dengan segera Bergola Wungu
keluarkan jurus terhebat dari ilmu goloknya yaitu jurus
”merobek langit.” Sesaat saja
terbungkuslah tubuh Kalingundil oleh sinar golok! Dan satu
jurus dimuka Kalingundil terdesak
hebat. Berkali-kali dia hantamkan lengannya ke arah
lawan namun Bergola Wungu berkelit
sangat cepat. Dengan penasaran Kalingundil coba
menyampoki senjata lawan dengan
kedua lengannya.
Tapi Bergola Wungu tidak bodoh. Mana
dia mau adu senjata dengan lengan yang
kerasnya macam baja itu!
”Ha... ha... lekaslah minta tobat
pada Tuhan atas kesalahan-kesalahanmu, Kalingundil!
Sebentar lagi kepalamu akan
menggelinding!” ejek Bergola Wungu.
Geram Kalingundil bukan alang
kepalang. ”Kita akan lihat siapa yang bakal meregang
nyawa lebih dahulu kunyuk berewok!”,
balasnya mengejek.
Kalingundil berseru keras, ”Terima
senjata rahasiaku ini, kunyuk!”
Ratusan jarum hitam kemudian
menggebubu menyerang Bergola Wungu tapi dengan
satu kali putaran golok saja senjata
rahasia itu gugur semua ke tanah!
”Hebat! Hebat…. hebat!” terdengar
suara dari jurusan barat. Orang yang bicara itu
jauhnya masih sekitar seratus
tombak. Namun begitu suaranya berakhir serentak itu pula dia
sudah berada di tempat pertempuran
itu! Dapat dibayangkan hebatnya ilmu lari orang itu.
”Hebat
memang hebat, Bergola Wungu! Tapi mungkin kau tidak tahu bahwa manusia
itu
adalah bagianku!”
Baik
Bergola Wungu maupun Kalingundil sama lompatkan diri dari kalangan
pertempuran.
Bagi Kalingundil ini adalah satu keuntungan karena saat itu dirinya terdesak.
Keduanya
memandang pada orang yang berdiri di bawah pohon. Kalingundil kerutkan kening
sedang
Bergola Wungu katupkan rahang rapat-rapat begitu kenal pendatang baru itu!
”Kalingundil!
Kau tak perlu pandang aku dengan kerut jidat segala! Dimana manusia
bernama Mahesa Birawa?!”
”Orang muda bermulut besar, kau
siapa?!” bentak Kalingundil.
”Ditanya malah menanya! Sialan betul!”,
gerendeng Wiro Sableng. ”Tujuh belas
tahun
yang silam kau bersama Mahesa Birawa telah membunuh Ranaweleng, bapakku! Juga
membunuh
ibuku dan Jarot Karsa! Apa kau punya otak masih sanggup mengingatnya?!”
Kalingundil merutuk dalam hati.
Apakah manusia ini juga hendak membalaskan
dendam kesumatnya seperti Bergola
Wungu? Melihat kepada tenaga dalam yang menyertai
suaranya tadi Kalingundil sudah
dapat mengukur kehebatan manusia ini. Hatinya mengeluh!
Melayani Bergola Wungu saja dia
sudah kepepet, apalagi menghadapi dua lawan sekaligus!
”Apa maumu orang muda?!”
”Apa mauku….?!” Wiro tertawa
bergelak.
Nilamsuri yang merasa cemas segera
mengetengahi dengan berkata, ”Wiro…. dia
adalah ayahku!”
”Aku tahu adik manis…,” dan si
pemuda tertawa lagi. Dalam tertawanya itu masih
bisa dia mengingat kemesraan dan
kebahagiaan hidup yang dirasakannya bersama gadis itu di
dangau di tengah sawah tadi malam.
”Karena itulah aku berbaik hati datang ke sini hanya
untuk meminta tangan kanannya saja!”
”Wiro!” muka Nilamsuri menjadi
pucat.
Bergola Wungu sendiri tahu bahwa apa
yang dikatakan oleh Wiro Sableng bukan
omong kosong belaka. Dia telah
melihat kehebatan pemuda rambut gondrong ini!
Sebaliknya Kalingundil keluarkan
tertawa membahak. ”Kurasa kau masih pantas
untuk menetek sama kau punya ibu!”,
ejeknya.
”Kata-kata itu cukup lucu,
Kalingundil! Aku senang pada manusia-manusia yang suka
bicara lucu!” Wiro Sableng melangkah
mendekati Kalingundil.
Nilamsuri melompat ke muka hendak
menahan si pemuda tapi pada saat itu pula dari
samping Bergola Wungu yang sejak
lama menahan kegeramannya terhadap Kalingundil,
maka ketika melihat anak musuh bebuyutannya
itu melompat ke muka, tanpa tunggu lebih
lama segera ditebaskan golok
panjangnya!
Nilamsuri melengking! Tubuhnya
tercampak ke tanah. Dadanya robek besar. Darah
menyembur! Bergola Wungu yang
melihat tidak adanya kesempatan baginya untuk turun
tangan
terhadap Kalingundil segera lari ke lereng bukit pekuburan dan berseru:
”Manusia bernama Wiro Sableng!
Antara kita masih ada sedikit urusan! Kalau kau merasa punya nyali untuk
meneruskan, aku tunggu di Gua Sanggreng!”
”Setan
alas betul!” maki Wiro Sableng. Dipukulkannya tangan kanannya ke arah
lereng
bukit pekuburan. Angin laksana badai menderu dahsyat. Batu-batu nisan dan tanah pekuburan beterbangan. Pohon-pohon bertumbangan.
Semak belukar diterabas gundul! Tapi Bergola Wungu sudah lenyap dibalik bukit!
Wiro Sableng putar kepala dan dia
memaki lagi ketika melihat Kalingundil melarikan
diri. ”Boleh saja lari Kalingundil!
Tapi tinggalkan lenganmu dahulu!”
Sekali pemuda itu melompat ke muka
maka dia berhasil menyusul Kalingundil. Tibatiba
Kalingundil berbalik, cabut keris di
pinggang dan tusukkan ke perut Wiro Sableng!
Serangan yang dilancarkan dengan
kalap serta karena ketakutan itu tidak mengenai sasarannya. Sebaliknya yang
diserang cepat gerakkan tangan kanannya.
”Kraak”!
Kalingundil meolong. Tangan kanannya
sebatas bahu tanggal. Tulangnya copot!
Daging dan otot seta urat-urat
berserabutan mengerikan sekali!
Laki-laki itu macam babi celeng
seradak seruduk kian kemari. Dia hendak lari lagi.
”Eee…. tunggu dulu Kalingundil!
Kenapa terburu-buru kabur?! Terima dulu angka kenang-kenangan ini!” Habis berkata begitu
Wiro Sableng benturkan tapak tangan kanannya ke jidat Kalingundil! Pada kulit
jidat laki-laki ini maka terpampanglah lukisan telapak tangan berikut lima jari
dengan angka 212 pada baigan tengahnya!
Kalingundil seradak seruduk lagi
macam babi celeng! Darah berceceran dari luka di tangannya. Wiro Sableng
tertawa mengekeh. Diperhatikannya laki-laki itu berlari macam dikejar setan!
Tangan kirinya memutar-mutar lengan Kalingundil yang masih dipegangnya.
Tiba-tiba
dilemparkannya potongan lengan itu. Laksana anak panah potongan lengen itu
melesat dan menghantam punggung Kalingundil, membuat laki-laki itu
tergelimpangmenelungkup di tanah, tapi segera bangkit lagi dan lari lagi!
Wiro
Sableng hentikan gelaknya ketika telinganya mendengar suara gerangan Nilamsuri.
Cepat didekatinya tubuh gadis itu. Dia berlutut di tanah.
Matanya menyipit melihat luka besar di dada si gadis. Nyawa Nilamsuri tak
mungkin di tolong lagi. Dibopongnya gadis itu, dibawanya ke tempat teduh dan
dibaringkannya.
”Wiro….” Nilamsuri membuka kedua
matanya yang telah menjadi sayu itu. ”Wiro…. peluk aku….,” pintanya.
Wiro Sabelng merangkul gadis itu.
”Cium
aku…. Wiro….”
Si pemuda mencium pipi Nilamsuri.
Lalu mengecup bibirnya. Bibir itu kesat dan dingin kini, tidak basah dan hangat
seperti malam tadi. Nafas Nilamsuri lambat dan
satu-satu. Sinar matanya semakin pudar.
”Umurklu untuk mengenalmu hanya
sampai di sini, Wiro….” bisik Nilamsuri.
”Aku akan obati lukamu, Nilam. Kau
akan sembuh….” kata Wiro pula menghibur.
Nilamsuri tersenyum. Bersamaan
dengan memberkasnya senyum itu di bibirnya maka
saat itu pula rohnya lepas
meninggalkan tubuh.
Pendekar muda dari Gunung Gede hela
nafas panjang. Hatinya beku menyaksikan kematian gadis itu. Semalam Nilamsuri
masih dirangkulnya, masih dirabanya…. tapi kini tubuh itu tiada akan memberikan
apa-apa lagi kepadanya. Bahkan kehangatanpun tidak karena saat itu tubuh
Nilamsuri berangsur menjadi dingin.
Wiro mennghela nafas panjang sekali
lagi. Disibakkannya bagian pakaian yang robek di dada gadis itu. Pada bagian
kulit dada yang masih utuh, tepat di atas buah dada sebelah kiri si gadis,
dengan pergunakan ujung telunjuk jari tangan kanannya, Wiro menggurat tiga
barisan angka: 212.
Disandarkannya tubuh tanpa nyawa itu ke batang
pohon dengan hati-hati. Lalu melangkahlah pendekar ini meninggalkan tempat itu.
Dan seperti tak pernah terjadi apa-apa, seperti tak satupun yang barusan
dialaminya, dari sela bibir pemuda ini terdengarlah suara siulan. Siulan
melagukan nyanyi tak menentu….TAMAT
--------------
Dan saya pun menghela nafas panjang karna sudah selesai membaca episode 1 haha
BalasHapusKembali ke 33thn lalu pertama kali baca buku ini
BalasHapusNostalgia 25 thn lalu.. mantaap.
BalasHapus